Marriage In Lost Memories

Marriage In Lost Memories
Tujuh Puluh Satu


__ADS_3

Author Pov....


Jadi mereka akan menikah....


Rasa sakit dari suntikan itu tak seberapa daripada rasa sakit hatinya. Genggaman tangan Jordan bahkan membuat suntikan itu patah.


Urat leher nya mencuat mengerang menikmati rasa sakit bertubi yang ia rasakan. dan auranya menjadi  sangat gelap.


Semua barang-barang yang ada di meja berhamburan dan pecah berkeping-keping saat Jordan menyapu semua yang ada dimeja. Bahkan semua obat yang ia konsumi juga berhamburan. Membuat aroma maks di ruangan itu berubah jadi bau obat-obatan kimia.


Diego melihat tuan muda ini dengan rasa cemas, takut dan ikut merasakan kesedihan. Tentu ia tau bagaimana terpukulnya pemuda itu saat ini. Sejak remaja cinta nya sudah jatuh pada wanita itu dan rela melakukan apa saja hanya untuk memilikinya bahkan mengalami kejadian pahit saat pernikahan didepan mata wanita itu malah memberikan hadiah pertunjukan yang membuat nya nyaris depresi. Keadaan keluarga besar Collison juga kemaren di guncang dengan anjlok nya harga saham mereka. Tentu ini membuat Jordan menjadi jiwa pembunuh. Mengutus seorang penembak jitu untuk membunuh pria yang merebut wanitanya.


" Jadi dia kembali memaksa mu untuk jadi istri nya.... " Suara getir itu berubah jadi tawa yang lepas hingga tawa itu membuat nya juga merasakan pedih. Kepala nya terasa sangat sakit.


" Harus nya peluru itu berhasil mengambil nyawa b*jingan ini"


Geram nya dengan menumpu kedua tangan di kursi itu.


" Lakukan rencana berikutnya. Kita lihat bagaimana Alena akan bertindak kali ini" Suara Jordan terputus putus sebelum ia menjatuhkan dirinya di kursi  kerja disana.


Diego mengangguk dan segera keluar dari sana.


Hanya suara nafas Jordan yang menipis.


" Aku akan menyelamatkan mu dari predator itu Alena..


*


*


" Devaaan


Teriak Mami membahana disana. Mami dengan roll rambut dikepala baru saja tadi malam senang dengan kabar menantu kesayangan nya akan resmi lagi dengan Putera sulung nya  tau tau ia dapat kabar kalau Alena menunda acaranya dan Mami juga tau alasan Alena menunda hal itu setelah Susan menjelaskannya.


Mami segera melihat video Percintaan panas putera nya dengan wanita lain yang tidak pernah ia kenal.


Kamar Devan  terkunci dari dalam.


" Buka.. Devan... Jelaskan ke Mami... " Teriak Mami disana dengam amarah sudah diubun-ubun.


Dave yang melihat segera mendekati Mami nya.


" Mami.. Tenang Mami.. Devan lagi ingin sendiri.


" Sendiri kepala mu..  Dia harus jelaskan ke Mami. Apa yang terjadi! Kenapa dia bikin ulah lagi sih... Yaa Devaan.. Keluar kamu. Kalau tidak Mami coreng nama mu di KK" Gedor Mami lagi sampai menendang nendang kamar Devan.


" Itu semua hanya video lama Mami. Wanita itu ibunya Jeremy!! Adik nya Devi mantan tunangan Devan yang meninggal itu. Alena juga tau  jadi Mami jangan khawatir... " Kata Dave menenangkan Maminya ini.


" Jadi kamu kenal dengan wanita di video itu?? "


Dave mengangguk ragu.


Dengan geram bibir Mami mengerucut. " Bagus... Mami akan buat wanita itu menyesali perbuatan nya... "


Dengan marah tersulut Mami segera beranjak dari sana menuju kamar nya. Dan mengambil ponsel nya. 


" Papi!!! Mami ga mau tau bantu Mami Cari wanita dalam video itu! Buat dia dan seluruh keluarga nya merangkak mohon ampun ke keluarga Humours...!!."


Mami langsung memutuskan  telepon dan kembali menjerit kesal.


" Siapa yang disini main main dengan keluarga ku! Aku akan buat mereka menangis darah!!!"


Dave hanya geleng-geleng kepala melihat kemarahan Mami disana.


" Sssst sssst"


Ada suara mendesis dari belakang.


Dave menoleh ada Susan  di dekat aquariun besar. Tangan nya meminta Dave untuk mendekat.


Dave pun segera berjalan menuju Susan. dan Susan juga melangkah. Mereka bersisian.


" Jangan sampai keliatan penjaga apalagi Devan" Bisik Susan menyelipkan secarik kertas di tangan Dave.


Rumah itu sudah seperti tawanan apalagi saat Alena mengumumkan pernikahan di tunda. Devan segera memperketat penjaga takut Alena akan kabur.


Dave mengangguk dan menyembunyikan kertas itu di sakunya. Sebelum salah satu penjaga disana melihat kearahnya.


Ia sendiri jadi gugup dan penasaran dengan kertas itu.


Segera Dave masuk kesalah satu kamar mandi dan membuka kertas polio yang terpotong dan ada tulisan  Alena disana.


Tentu Alena menggunakan  kertas. Toh ponsel nya sudah di retas Devan. Ia takut kalau rencana akan ketahuan Devan.


" Aduuh duuh nih anak. Gemar sekali melibatkan gue.. " Ringis nya menggaruk tekuk yang tak gatal.


Susan menuju tujuan berikut nya, ia berjalan menuju sela perkarangan yang masih ketat dengan para penjaga. Jantung nya terasa gugup berkali kali melangkah serasa setiap melangkah beberapa pasang mata disana menatap nya. Hingga nyaris ia keluar dari zona penjagaan seorang penjaga menghadang nya dengan senjata laras panjang.


" Permisi Nona. Anda tidak boleh keluar dari tempat ini" Kata penjaga ini dengan wajah sangar.


" Tapi aku mau liat kuda" Kata Susan memelas menunjuk tempat kuda-kuda Max berada. " Tetap tidak diperbolehkan Nona. " Kata penjaga ini ngotot.


Susan meringis kesal ia pun melirik kiri-kanan penjaga disana makin intens melihat nya penuh waspada.


Rencana gagal. Ia tak bisa menemui Max. Rencana B. Ia harus menggunakan Nita. Sahabat nya itu belum kembali sejak semalam. Dan Nita bisa menuju gubuk Bob atau Max untuk memberikan pesan Alena pada Max. Ia kembali sebentar kedalam membuat surat.


Dan kebetulan saat keluar sebuah mobil hitam yang dibawa Rudy tadi malam terlihat masuk dari gerbang.


Susan segera menunggu kedatangan Nita.


Mobil hitam itu berhenti dan sebelum Nita keluar Susan lebih dulu menyelip masuk. " Nit.. Kamu bawa titipan aku kan... Aku menunggu mu sangat lama. Bocor banged niiih, aku perlu pembalut ku sekarang!!


Nita yang bengong jelas kaget Susan tiba tiba masuk kesana dan malah main peluk peluk segala tapi ia rasakan Susan menyelipkan sesuatu di tangan Nita. Nita segera menggenggam kertas itu sebelum Rudy melihatnya.


" Astaga aku lupa Sus.. ! Aa aku beli sebentar ya.. " Kata Nita gagap. Ia tak yakin apa kata-kata nya benar atau tidak. Tapi Susan menganguk pelan dan tersenyum penuh arti.


" Aku mengandalkan ku sahabat ku" Cicit Susan menarik dirinya keluar dan menutup kembali pintu mobil itu.


" Rud.. Aku perlu beli pembalut" Kata Nita sedikit kikuk.


" Pembalut? Kamu kan ga-


" Susan titip.! Dan aku lupa. Dia pasti kesusahan. Ayolah sebentar saja. Didekat sini kan ada supermarket " Rayu Nita dengan merengek


Rudy menimbang. Padahal dia diminta cepat menghadap Devan. Tapi wanita disebelah nya lebih merengek. Dan kebetulan tak jauh dari sini memang ada Supermarket. Mungkin 5 menit cukup. Ia lalu mengangguk  dan memutar arah.


Saat disupermarket Nita langsung menjauh dari Rudy. Pura pura mencari pembalut. Rudy tampak enggan mengikuti karena arah yang dibeli tentu semua banyak pembalutnya yang beragam ragan bentuk.


Sambil memilih Nita membuka surat yang diselipkan Susan.

__ADS_1


" Cepat berikan surat satunya pada Max. Dia ada di tempat kemaren kamu siuman. Kamu turun sebelum masuk ke penjaga didalam. Usahakan jangan sampai ketahuan! Harus berhasil ini menyangkut kedamaian dunia!!


"


Hidung Nita mengerinyit membaca surat tangan yang ia kenali tulisan Susan. Ini tugas yang sulit. Tentu ia melihat begitu banyak penjaga disana.


Tapi tak ada pilihan. Ia tau Alena sedang kesulitan sekarang. Dengan cepat ia mengambil asal pembalut disana. Dan meletakkan diam diam ponsel nya disela sana.


Segera ke kasir membayar kemudian pergi lagi dengan Rudy.


Tepat sebelum mobil masuk gerbang Nita melancarkan actingnya.


"  Ponsel ku.. Ya ampun Rudy. Aku lupa ngambil nya tadi aku taroh di rak" Pekik Nita heboh sambil meubek ubek tasnya.


Rudy ingin bersuara tapi ada suara Ponsel nya meraung minta di angkat.


Ia mengintruksi Nita agar diam setelah membaca sipenelepon.


" Kamu dimana" Terdengar suara lolongan Devan disana sampai kedengaran keluar.


" Sebentar lagi sampai" Kata Rudy lalu memutuskan telepon. Ia tampak bingung.


" Kamu langsung temui Devan deh Rud! Kayak nya dia perlu kamu banged. Aaa aku biar pakai mobil mu bentar. Balik ke supermarket tadi" Kata Nita memberi solusi padahal ini memang rencananya.


" Tapi..


" Ga usah khawatir. Kan dekat aja. Ga bakalan kenapa-kenapa kok" Kata Nita meyakinkan. " Kalau aku tak kembali selama 15 menit baru kamu cari aku. Oke!!! "


Ucap Nita dengan senyum lebar dan jari melingkar disana.


Rudy tak punya pilihan boss besar nya disana sedang berubah jadi monster yang sedang menunggunya.


Ia pun menyetujui nya dan berhenti ditepian. Turun dari san dan setir pun di kuasai Nita.


Gadis ini sampai mengurut dada bernafas lega karena sudah lolos dari rencana awal.


Ia pun segera kembali ke supermarket untuk mengambil ponsel nya.


" Kenapa ga langsung telepon Max aja sih. Aduhduh.. Ini lebih meneganggkan dari kencan pertama" Keluh nya saat menepikan mobil setelah masuk ke gerbang. Ia harus cepat sebelum ada penjaga yang melihat mobil itu disana.


Nita pun segera keluar dari sana mengendap endap dari pengawasan mata para penjaga di atas sana ataupun dari sisi sebelah timur dan utara. Jarak dari tempat nya sekarang tak terlalu jauh. Beruntung disana banyak pohon pohon jadi ia bisa lari dan bersembunyi dari satu pohon kepohon lain. Itu pun harus super duper hati-hati.


Hingga akhirnya tempat Ia di bawa oleh Max terlihat. Dan ia segera ngacir kesana dengan nafas menderu deru seperti dikejar Anjing.


Bruk..


Badan nya menabrak dada bidang pria. Spontan Nita terhuyung  tapi kemudian langsung menutup pintu kayu itu. Nafas nya masih memburu tajam dengan mata melihat Max ada di depan nya melihat nya bingung. Ia pun mengusap hidung nya yang menabrak dada pria barusan.


Aroma Max yang maskulin langsung memenuhi otak nya.


" Fokus Nita. Fokus" Ucapnya sambil menarik nafas dan membuang nya lagi.


Dilihatnya Max menatap nya gugup melihat tingkah konyol gadis asia ini.


" Hmmm emm sorry Max..menabrakmu. Ada hal yang harus kamu lakukan. Bantu Alena keluar dari sini!!! " Kata Nita yang memang sempat membaca isi surat Alena untuk Max.


Ia pun mengeluarkan surat Alena untuk Max.


Isinya disana Alena meminta bantuan dari Max untuk keluar dari kawasan itu  ia menyarankan menggunakan gerobak jerami dan kuda nya. Alena mungkin sudah mempertimbangkan nya masak-masak terlebih Max sudah dikenal dengan orang mension. Jadi penjaga tidak akan curiga dengan aktivitas Max.


" Semua aku serahkan pada mu Max.. " Kata Nita lalu mengintip keluar. Setelah merasa aman ia kembali keluar dan mengendap seperti semula. Ia harus kembali ke mobil dan datang di sana sebelum Rudy mencari nya.


Penjaga ini langsung menangkap tangn Nita dan memelintirnya ke belakang. Tubuh nya pun di hempas ke badan mobil


" Aaw Sakit pak!


" Kamu siapa!! " Teriak penjaga ini galak.


" Santai pak. Saya Anita! Teman nyonya Alex.


Tangan Nita kembali ditarik " Jangan bohong kamu! Kamu mata-mata disini ya...


" Bukan pak. saya Nita. Wanita yang tadi malam heboh mau di culik" Cecar Nita sambil menahan sakit tangan nya.


Penjaga ini memang ada mendengr berita itu tapi ia masih meragukan Nita.


" Lalu kenapa kamu lari Sembunyi-sembunyi! Katakan kamu dari mana.. "


" Saya baru ngambil gelang saya yang tertinggal di gubuk itu! Bapak ga keren masa ga tau cerita tadi malam. Kalau saya di tolong pangeran berkuda disana" Umbar Anita masih sempat saja bergurau.


" Aku tidak tau! Berikan bukti kamu teman nya Nyonya Alex"


Desak penjaga ini.


" Iya lepasin dulu donk. Emang ga sakit apa!! "


Penjaga ini tidak percaya ia lalu memamggil penjaga lain.


" Bongkar isi tas nya" Perintah penjaga 1.


Penjaga 2 segera menurut. Walau Nita mengomel mereka tak mengubris nya. Hingga isi tas nya tumpah ruah juga ada pembalut disana.


" Tidak ada yang mencurigakan" Kata penjaga 2.


" Emang! Aku bilang aku teman Nyonya Alex. Dan aku juga teman nya Rudy! Kamu kenal kan " Cicit Nita lagi.


Kedua penjaga ini saling tatap. Lalu si penjaga 1 malah mengeratkan cekalan nya.


" Jangan coba-coba menipu kami!! Kamu harus ikut kami' ucapnya membuat Nita tambah sebal juga pasrah.


" Apa yang kalian lakukan" Suara lain mengintruksi penjaga ini menoleh. Tampak Rudy disana dengan wajah marah.


Kedua penjaga ini tentu mengenal Rudy sebagai kaki tangan Boss di tempat itu.


" Sayaaaaang... Help me... " Ringis Nita sengaja. Dan membuat penjaga ini kaget. Tapi mereka belum mendapat kepastian dari Rudy. Mereka pikir bisa saja Nita mengarang


" Lepaskan dia.. Dia pacar saya" Tunjuk Rudy marah.


Kedua penjaga ini segera melepaskan Nita yang sudah senyam senyum sendiri. Ia segera berlari kecil kearah Rudy lalu menjulurkan lidah ke penjaga-penjaga itu.


" Maafkan saya Sir.. Saya pikir dia mata-mata karena mencurigakan" Ucap si penjaga 1 membela diri.


" Ya sudah. Kembali bekerja kalian" Suruh Rudy masih denga wajah tak bersahabat.


Dengan cepat penjaga-penjaga ini angkat kaki.


" Sebentar" Panggil Rudy lagi.


Penjaga ini sontak kaget dan berbalik.

__ADS_1


" Rapikan isi tas pacar ku"


" Ba baik sir...


Kedua penjaga ini memunguti isi tas Nita dengan cepat dan mengembalikan nya pada Nita. Dan kembali kabur dari sana.


Nita melepas tangan nya ia bisa bernafas lega. " Untung ada kamu! Aku nyaris diarak tadi" Sungut Nita merasa senang.


" Apa tangan mu sakit? " Tanya Rudy memgangkat lengan Nita. Nita kembali mengulum senyum. " Sakit sedikit. Tapi tidak apa apa"


Rudy kembali melepas tangan nya.


" Emang apa yang kamu lakukan disini! Sampai penjaga mencurigai mu?? "


" Aduh mampos" Kutuk Nita dalam hati.


" Ah itu. Gelang aku ketinggalan di tempat Max. Jadi aku mengambil nya sebentar! " Alasan Nita untuk kedua kalinya.


Alis Rudy berkerut dan melihat Nita dengan selidik. Dalam hati Nita berdoa panjang panjang agar mereka tak ketahuan.


" Hanya itu? " Tanya nya menatap curiga sambil melangkah maju menakuti Nita


Nita meneguk air liur dengan susah payah. Ia sampai mundur selangkah


" Ya hanya itu" Jawabnya lalu mengerjapkan mata.


" Aah.. Kenapa tadi kamu bilang aku ni pacar mu! Mereka bisa salah paham" Pukul Nita mengganti topic.


" Cepat lah masuk ke mension"


Rudy malah tak menggubris pertanyaan Nita. Ia sendiri sebenarnya juga gugup diberi pertanyaan itu.


Nita mengendik dan meringis. Sepintas ia melihat Max keluar dari tempatnya tadi.


*


*


Max segera memakai rompi kulit dan sepatu nya. Lalu keluar dari sana menuju kandang kuda. Mengeluarkan gerobak dengan sedikit memodif nya dan ia mengeluarkan Cicilia dari sana yang baru merem sampai-sampai Cicilia meringkih karena kaget Max datang langsung menarik talinya.


Max tak paham apa yang sebenarnya terjadi hanya saja ia perlu mengikuti petunjuk Alena.


Ia pun mulai mengaitkan gerobak ke kail yang ada di tubuh Cicilia. Lalu naik keatas nya.


Cicilia mulai berjalan pelan mendekati perkarangan mension itu.


Beberapa penjaga disana segera menghampiri Max dengan sorot mencurigai nya.


Max melepas topi koboi nya sambil teraenyum, Salah satu penjaga di sana mengenal Max yang menolong wanita tadi malam.


" Mau kemana?" Tanya nya dengan tegas.


" Aku mau mengambil jerami di gudang itu" Tunjuk Max ke arah Gudang yang tak jauh dari danau! Cicilia mau mengeram disana. " Kata Max santai


" Cicilia??


Max mengusap perut Cicilia yang gendut seperti sedang hamil. Aslinya tidak.


Penjaga ini ber-oh ria kalau Cicilia itu adalah seekor kuda yang ditunggangi Max.


Kemudian ia mengangguk dan memberikan jalan  pada Max.


Dengan tenang Max melewati beberapa penjaga sana.


Disisi lain


Alena sudah membongkar jendela di kamar mandi. Ia pernah membongkar nya sebelum nya saat malam ia mendengar percintaan panas Devan dengan Alea. Ia berniat kabur malam itu dengan Adela tapi ia mengurungkan niat nya karena yakin akan percuma Devan pasti menemukan nya. Dan ternyata sekarang ia bisa melancarkan rencananya saat situasi sekarang.


Ia naik keatas kursi dan menjulurkan tubuh nya ke jendela yang hanya berukuran sekitar 30cm panjang  50cm.


Nafas nya terpacu saat tubuh nya melorot keluar dari sana. Walau agak terganjal pinggul nya dan ia sempat menggantung di sana dengan posisi terbalik.


" Huffft... Ternyata mempraktekan nya lebih susah ketimbang nonton di tv" Runtuk nya berupaya memberatkan tubuh nya ke bagian atas dengan mencoba menggapai tanah, agar sisa badan nya lolos dari sana. Dan dengan spontan pinggul nya lolos tubuh nya langsung jatuh begitu saja dengan kepala lebih dulu. Alena sampai memekik tapi langsung menutup mulut nya lagi. Rasa sakit langsung menyekit di leher. Ia yakin leher nya keseleo. Tapi beruntung bukan gigi nya yang rontok karena mendarat secara tiba-tiba, namun ini bukan saat nya ia mengurusi sakit leher. Dengan cepat ia bangun dan jongkok mengendap. Dari jarak 2 meter terlihat kaki kaki penjaga yang berjalan kesana kemari jumlah mereka padat.


" Ya ampun Dev.. Bikin penjagaan ketat sekali!! " Ringis nya terpana. Lalu kembali mengendap endap seperti tikus.


Beruntung disamping kamar nya ini adalah tanaman bambu kecil yang menjalar dan cukup lebat.


Ia melihat situasi Max belum ada muncul. Ia pun menunggu


Lama disana.


Setengah Jam Alena menunggu Max tak kunjung datang. Ia pun terus beradu adrenalin setiap kali ada penjaga melintas dan terus merapatkan tubuh ke tanaman bambu disana.


Tak lupa ia berdoa dalam hati.!!


Hingga ada suara kuda dari kejauhan ia yakin itu Max. Dan benar saja Max sedang menunggngi Cicilia dan mengarah ke tempat persembunyian nya. Ia segera mengambil mainan Adela dari dalam saku nya. Pelan pelan ia melempar mainan Adela yang terbuat dari kain. Berupa boneka kecil. Agar di lempar tak menimbulka bunyi. Bentuk nya juga mudah di lihat Max nantinya. Dan itu sudah ada di surat yang diberikannya pada Max. Sebagai petunjuk kalau Max harus menunggu nya yang ada mainan anak kecil.


Max melihat boneka kecil tergeletak di sisi jalan. Ia pun melirik kiri kanan. Disebelahnya ada penjaga yang memperhatikan nya. Ia berhenti tepat di boneka itu.


" Ooops.. Apa gerobak ku eror lagi? " Pekik nya disana sengaja agar penjaga-penjaga disana dengar.


Dan salah satunya sedang menatap tajam pada Max.


" Tenang Cicilia aku akan membenarkan nya sebentar" Katanya disana seolah bicara dengan kudanya dan mengendikan bahu pada penjaga itu. Max lalu turun  dari Cicilia, bersiul-siul dengan nyanyian yang tidak jelas. Ia jongkok memeriksa roda gerobak nya. Dan sebenarnya tadi ia sudah melonggarkan lebih dulu roda itu.


Penjaga yang memperhatikan Max melihat semua itu. Dan ia tidak curiga sama sekali. Karena yang dilihat nya roda itu memang bermasalah. Penjaga itu melanjutkan patroli ke jalan lain.


" Aman" Bisik Max lalu bersiul lagi. Ia sambil mengencangkan baut roda gerobak.


Dibelakang Alena segera mencabik bambu dan menyelip masuk.


Sedangkan Max menyingkirkan  jerami agar Alena bisa masuk.


Dengan sempurna Alena berhasil menyelinap masuk kedalam gerobak. Dengan cepat Max menutup Alena dengan papan dan menimbun nya dengan jerami-jerami. Ia kembali bersiul siul saat ada penjaga lain didekat sana.


" Siip sudah beres roda nya Cicilia. Ayo kita bereskan tempat kamu melahirkan" Teriak Max disana dengan nyaring. Pria ini segera naik ke atas Cicilia dan beranjak dari sana.


Alena terus diam merasakan tubuh nya di angkut dengan gerobak. Cukup lama. Ia bisa melihat dari samping gerobak berarak menjauhi mension perkiraan nya gerobak itu akan melewati gerbang penjagaan.


Tiba-tiba gerobak itu berhenti ia mendengar sedikit percakapan diluar. Dan kaki kaki sepatu Booth tinggi dari penjaga disana juga terlihat. Ada beberapa orang. Tangan nya mendadak panas dingin lagi.


" Periksa saja" Kata Max yang ia dengar. Mata Alena melotot lebar. Ia merasa gugup dan memejamkan mata  berharap semua nya aman.


Diluar sana penjaga yang menjaga gerbang utama  mencabik-cabik jerami dan menghujamkan senjatanya ke dalam jerami. Berhubung Max sudah menutupi Alena dengan Papan jadi Max santai saja melihat aksi penjaga ini yang bar-bar.


Penjaga itu saling menatap satu sama lain dengan penjaga lainnya. " Aman " Katanya lalu Max kembali menarik Cicilia disana yang menarik gerobak itu. Keluar dari gerbang Utama.


Didalam sana Alena sudah ketar ketir. Dan menunggu gerobak itu di bawa lagi oleh Max dan Cicilia.

__ADS_1


Sedangkan diluar sana Dave sudah menunggu nya. Kali ini giliran Dave memainkan perannya.


__ADS_2