Marriage In Lost Memories

Marriage In Lost Memories
Tujuh Puluh


__ADS_3

Nafas ku tercekat. Suara erangan, minta tolong dan rintihan rasa sakit menggema di pendengaran ku. Tangan ini terasa lengket dan saat ku angkat cairan kental dengam bau amis melekat disana. Bukan nya tangan ini tapi juga gaun kebaya yang tadi melekat indah di tubuh ku. Gaun yang akan menjadi saksi pernikahan ku dengan kekasih ku-Devan. Tapi malah jadi saksi bisu kejadian mengerikan disini. 2 menit sebelumnya. Ruangan tamu yang sudah dipenuhi dengan bunga cantik dan dekorasi pengantin di serang orang tak dikenal dan menembak membabi buta.


Sejauh mata memandang dilantai penuh dengan simbahan darah dan orang-orang yang tadi malam masih tertawa bersama, bergurau dan saling berpelukan mereka terbaring disini. Dilantai yang akan jadi tempat sakral ikatan ku kembali dengan Devan.


Jantung ini terhunus dengan rasa sakit luar biasa saat melihat sosok wanita dengan kebaya biru laut membalut tubuh nya. Rambut panjang nya terurai berkabut dengan darah yang menggenang disana. Matanya terbuka dengan mulut keluar darah, Susan! Sahabat ku itu tampak sudah kaku dengan luka tembak disekujur tubuh nya bahkan di pelipisnya berlubang oleh peluru.


Tubuh ku lemas saat mengangkat kepala Susan yang terasa ringan. Jari ini juga gemetar hebat saat memastikan nafas di hidung nya.


Terasa ada lobang menganga didalam sini merasakan Susan sudah tidak bernafas. 


Kepala itu aku rengkuh dengan tangis yang terasa kering.


" Susan. Plis..bangun.. Banguuuun" Jerit ku menggema disana. Tapi Susan tak juga bergerak.


" Alena.. Alena...


Suara panggilan nama ku terdengar.


Aku segera menutup mata Susan yang terbuka. Dan melihat kesekitar ada suara nafas terputus-putus.


Kulihat sosok Papa yang juga terbaring dengan suara terputus. Tangan nya menggapai gapai.


" Pa...


Aku berlari cepat ke arah Papa yang juga bersimbah darah. Papa terbatuk dan cairan kental merah juga keluar dari mulutnya, Nafas nya terus naik turun seakan oksigen disana sudah habis.


" Ga.. Ga pa.. Jangan tinggalin Alena.. Plis... " Tangis ku mencoba kuat juga marah.


Papa menatap ku dalam airmatanya bercampur dengan darah di sana. Lalu tangan Papa menggenggamku erat. Beliau nampak menahan sakit saat ingin bicara. Aku terus menggenggam tangan nya dengan kuat. Hingga ku lihat didepan mataku sendiri Papa menarik nafas dengan berat dengan mata keatas dan kulihat matanya meredup. Tangan nya pun melemah dan Papa juga menghembuskan nafas terakhir.


Aku semakin meraung Menangis sejadi-jadinya. Bersamaan suara angin deras disana menerobos masuk membuat tirai-tirai menari nari disertai hujan deras dan petir yang mengerikan.


Aku berdiri perlahan dengan mata sudah tak sanggup melihat lantai itu penuh darah.


Tak hanya Susan dan Papa, ada Nita. Mami serta Jeremy.  Mereka semua jadi korban penembakan massal yang terjadi begitu saja saat pernikahan ku hendak di gelar.


Ini seharusnya tidak terjadi andai saja aku mengundur keinginan Devan. Semua orang-orang yang aku sayangi tidak mungkin kehilangan nyawanya.


Semua nya tampak berputar putar wajah wajah Susan, Papa, Mami, Nita dan Jeremy yang tewas mengenaskan didepan mata ini berkeliaran ke mataku seperti rollercoaster. Aku terperosok kedalam jurang gelap yang penuh penderitaan.


Aku tak bisa mehadapi kejadian ini. Otak ku menolak untuk menerima kenyataan yang ada disini, Hingga kurasa semua nya menggelap dan hilang ditelan suara suara yang memanggil ku dengan keras. Tubuh ku terguncang hebat.


" Alena..


Alena...


Alenaaaaaa


Spontan aku bangun dengan nafas tersengal. Mata ku melotot tajam. Bahkan rasa panas menghinggap di sekujur tubuh ku.


Kulihat aku berada di dalam kamar yang masih bersih.


" Kenapa aku masih hidup, aku seharunya mati saja!!! " Teriak ku histeris dan ketakutan bahkan ada kemarahan dengan kenyataan aku masih hidup.


"Pluk..


Tiba-tiba kepala ku di pukul dengam bantal, aku kaget dan makin kaget melihat pelaku nya.


Wajah tirus Susan dengan kulit eksotis nya terlihat disana. Ia masih mengenakan baju tadi malam.


Susan dia yang memukul kepala ku. Sekali lagi dan sekali lagi. Sampai 3 kali!!


" Ngigo ya kamu Len... " Kata sahabat ku itu dengan kening berkerut dan tangan di pinggang nya.


" Sus.. Kamu masih hidup"racau ku lalu tubuh semampai itu aku peluk erat dan tangis ku pecah. Aku harap aku tidak bermimpi sekarang.


Aku semakin menangis sejadi jadi nya hingga kulihat pintu kamar itu didorong. Nongol Bocah laki laki dengan stelan jas yang tampan. Tapi stelan itu sangat mirip dengan yang kulihat didalam mimpi. Sama seperti saat Jeremy terbaring bersimbah darah.


Aku melepas Susan dan mengarah pada Jeremy. Menciumi nya bertubi tubi sambil teriak ingin meloloskan diri.


" Alena. Aku tau ini mendadak tapi jangan gila sekarang dong..." Sungut Susan dibelakang ku.


Aku menatap nya bingung " Gila.. Sus.. Aku melihat mu tertembak, Papa, Mami, Nita dan Jeremy... " Pekik ku masih kebingungan tentu yang kulihat sekarang ini terasa nyata.


Susan menghela nafas " Kamu mimpi buruk Alena... Heduuuuh... Aku pikir kamu dah jadi gila sebelum merried!! " Jerit sahabat ku itu heboh.


" Mimpi?


Kupukul pipi ku dan terasa sakit. " Jadi aku hanya mimpi? " Pekik ku lagi bikin Jeremy kaget.


Susan mengangguk. " Kamu sih terlalu banyak pikiran! Jadi kebawa mimpi kan..


Aku merasa sangat senang dan langsung jingkrak-jingkrak memeluk Susan dan juga Jeremy. Menciumi mereka dengan suka cita.


" Aiiish.. Liur mu.. Belum sikat gigi lagi.. Aku kan sudah cuci muka" Seru Susan disana risih dengan air liur ku di pipinya. Tapi aku tak peduli. Aku makin nyosor ingin mencium pipinya.


" Mommy hentikan Mommy... " Teriak Jeremy disana melihat ku dengan takut, apa dia pikir aku menyimpang dengan menciumi seorang wanita juga. Lalu aku balik menyerang bocah kecil itu lagi sampai ia memekik kegelian. Aku sangat senang mendengar tawa Jeremy.


Ku menarik nafas dalam dalam dan melihat kekiri kekanan. Tempat ini masih rapi tidak hancur seperti dalam mimpi. Meski tadi aku bermimpi tapi memberikan rasa nyata dan ketakutan besar. Bagaimana kalau ini sebuah pertanda??


Aku bermimpi mengerikan itu karena tadi malam tidak sengaja aku mendengar Dave ngomong ke Devan tentang Sniper yang hendak menyerang Devan.


Aku tak sengaja mendengar nya. Tadi malam setelah aku balik dari kamar Devan. Aku langsung ke kamar lagi dan ponsel ku tertinggal disana. Aku kembali ke kamar Devan. Tidak tau nya ada Dave didalam. Suara nya jelas terdengar


" Terus.. Apa sudah ketemu sniper yang mau nembak kepala loe tadi siang?? "

__ADS_1


Sontak aku mengurungkan niat mendorong pintu. Hal itu tentu membuat ku kaget juga syok.


Dan karena itu aku memimpikan penembakan diacara pernikahan ku.


" Ini sudah jam 7 Alena. Kamu harus extra siap-siap untuk menikah live nanti malam! Jeremy saja bangun pagi sekali minta di pakaian tuxedo duluan" Tawa Susan disana membuyarkan lamunanku.


Aku jelas kaget dengan perkataan Susan barusan jam 7 malam. Devan sungguh akan menikahi ku dalam 24 jam hari ini??? Dan benaran secara live!! Kepala ku kembali pening. Jujur aku merasa takut dengan Mimpi dan fakta tentang sniper itu.


Musibah tidak ada yang pernah mengetahui nya kan. Apa yang akan terjadi beberapa jam berikut nya. Dan aku bukan takut dengan Jordan aku hanya tak ingin orang-orang tersayang ku jadi korban.


" Gila.. Mantan suami mu itu! Dalam sehari mau nikah! Kalian ini kayak pasangan mesum yang kepergok warga aja tau ga!!!main nikah langsung " Cengir Susan ketawa disana.


" Pasti habis banyak kocek itu! Dalam sehari harus melakukan resepsi Nikah, WO nya pasti kelabakan terus harus ngundang acara TV lagi. Busyet dah.. Aku aja tadi saat dengar dari Dave langsung lari ke kamar kamu!!


Aku hanya mendengarkan celotehan Susan sedang kepala ini pusing memikirkan nya. Meminta Devan mengundur nya. Sikeras kepala itu hanya akan menuding ku dengan tuduhan nya yang tak mendasar seperti tadi malam. Dan ia tak berpikir panjang, nyawa orang lain bisa saja terancam dengan keegoisan nya.


" Kenapa bengong sih!"


Susan hendak mengatakan sesuatu lagi namun terhenti saat ponsel nya berbunyi. Mata nya sedikit berbinar. Aku mengintip nama penelepon. Ada nama Eric.


" Sebentar ya... "


Ia lalu mengangkat telepon itu


" Hallo...


Susan mendengar kan perkataan Eric. Kemudian ia melirik ku dan terlihat tegang.


" Oke.. Makasih sayang info nya bye" Kemudian Susan memutuskan telepon. Tangan nya kembali menekuri ponsel. Tampak gelisah.


Hingga ponsel ku juga bebunyi Siapa pagi-pagi ini menghubungi ku. Kucari benda itu di nakas.


Ada panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Lalu ada sebuah pesan masuk.


Aku segera membuka nya.


Ada kiriman video dari nomor asing tersebut.


Walau ragu membuka nya. Tangan ini terlanjur menekan tanda segitiga di sana. Disana tampak pergumulan pria dan wanita. Seketika aku enggan meneruskan melihatnya. Sudah ketebak kalau video ini video mesum. Hanya saja saat hendak menghentikan video itu mataku menangkap wajah wanita disana. Seketika saja mata ini nyaris jatuh. Wanita disana berambut cokelat dengan wajah bule yang jelas aku mengenal nya lalu tubuh pria yang sedang menyetubuhi nya itu!!!!


" Kamu juga melihat nya!! " Pekik Susan disana dengan wajah tegang 


Kulihat ia memutar video sama tapi beda media.


" Eric memberitahu kalau video ini disebarkan. Aku segera mencek nya dan... " Suara Susan terdengar getir.


" Disebebarkan??? "


Ponsel Susan aku rebut dan melihat penggalan video itu langsung menjadi trading topic panas.


"Ayolah Alena.. Tenangkan pikiran mu dulu" Sisi diriku mencoba menenangkan otak ku yang mulai beku.


Seketika pintu kamar ku di terobos.


Devan muncul di sana dengan piyama masih menempel di tubuh nya. Ia seperti kemalingan dengan nafas tersengal, cemas juga marah mendominasi.


Matanya langsung menuju ponsel yang aku pegang. Saat itu juga ia merebut nya dan melempar ponsel Susan itu ke dinding. Membuat aku maupun Susan tersentak. Terlebih yang empu nya langsung syok dan melemah disana. Ponsel tak bersalahnya jadi peyek seketika.


" Alena... Itu video lama! Video yang dijadikan Jessy untuk mengancam ku! Setelah ia memberikan minuman yang ada obat nya!! Dan karena itu Jeremy ada!!! Ini pasti ulah Jordan! Dia ingin meracuni kepala mu!! " Kata Devan dengan suara keras. Kulihat Jeremy disana langsung berlari kearah Susan. Memeluk Susan dengan takut.


Aku meminta Susan membawa Jeremy keluar. Susan mengangguk dalam bahasa tubuh nya. Dan ia segera menggendong Jeremu keluar dari kamar ku.


Devan tampak kebakaran jenggot. Ia lalu mengambil ponsel nya.


" Bagaimana... Apa sudah di tarik video nya! " Teriak nya disana dengan bahasa Inggris dan nadanya sangat marah. Urat leher nya sampai mencuat.


" Segera hapus semua video yang beredar, semua yang berhubungan dengan topic itu!!! " Teriak Devan lagi, aura nya sangat mengerikan. Ia lalu mematikan ponsel nya. Nafas nya naik turun. Lalu melihat kearah ku. Kemarahan nya tadi berubah jadi keresahan.


" Alena...


Aku bangkit dari kasur. Lalu berjalan masuk kamar mandi.


" Len..


Tangan ku malah di cekal. Nafas nya tak beraturan lagi. Panik mendominasi nya lagi.


" Lepas Dev.. Aku mau pipis" Cicit ku yang memang juga ingin pipis. Kulihat Devan dengan tenang. Walau wajah disana sangat tegang. Tangan nya lalu mengendur. Dan aku segera masuk kamar mandi.


Aku memang kebelet pipis dan juga ingin mencuci muka ini. Ingin menetralkan isi kepala ku sejenak.


Selesai mengeluarkan isi kendung kemih. Aku mencuci muka dan menggosok gigi ku dengan normal.


Kutarik nafas berulang ulang menghembuskan nya lewat mulut.


Kali ini aku harus bersikap dewasa dan tenang. Itu lah yang aku sematkan. Karena ini berhubungan dengan Jo. Ia ada karena aku!!


Dan teror yang 2 hari ini terjadi.


Pelaku tindakan penembakan untuk Devan, penculikan Nita dan sekarang ia menyebarkan video panas Devan. Jelas sekali Jordan berupaya ingin melakukan segala rencana untuk membalas Devan dan menggagalkan pernikahan ku.


" Jordan..


Kepala ku kembali sakit! Kenapa serumit ini.


Baru aja diatas awan harus balik lagi ke tanah gersang.

__ADS_1


Sambil menggosok gigi aku kembali memutar video yang dikirim nomor asing itu.


Disana memang tampak Devan dengan tubuh agak kurus, rambut nya juga versi 5 tahun an yang lalu. Aku mengingat betul perawakan nya saat itu.


Dulu dia pernah mengatakan kalau mereka menikah karena Jessy memberikan tawar menawar saat ingin menyerahkan jantung Devi untuk ku dengan syarat menikahi nya. Dan Devan juga bilang kalau Jessy memberinya minuman hingga melakukan hubungan badan itu. Dan itu proses Jeremy tumbuh di perut Jessy.


1 fakta kalau yang di katakan Devan tadi seperti nya yang sebenarnya.


Kuurut lagi pangkal hidung ku. Penjelasan yang dulu sekarang masuk akal. Aku sempat mencemooh Devan dan menganggapnya mengarang cerita saja. Aku tak percaya dia bilang kalau Jessy menjebak dan mengancam nya. Secara tidak langsung video ini memberikan jawaban dari luka dulu yang belum terjawab. Tapi kiriman video ini memang memberikan rasa jijik dengan Devan apalagi disaat menjelang pernikahan. Ooh cobaan apa lagi sih ini..!! Plis Alena.. Enyahkan sisi itu. Ini upaya Jordan untuk memisahkan kamu dengan Devan!! Bisik otak nalar ku kembali mengatakannya.


Lalu selesai keluar dari video itu aku mencoba ke youtube melihat perkembangan penyebaran video itu.


Tau tau video tadi seperti ditelan bumi. Hilang tapi ada frame wajah Jessy yang seperti nya baru di unggah beberapa menit yang lalu.


Tayangan itu aku putar.


Tampak disana Jessy seperti sedang sengaja merekam dirinya sendiri " Itu memang video ku dengan Alex. Pengusaha ternama itu. Kami memang berhubungan lebih 5 tahun. Dan sekarang pun masih" Kata Jessy disana.


Lalu perempuan ini terisak.ia mehapus sendiri airmatanya.


" Aku bersalah karena jadi simpanan nya selama ini. Hiks...


Aku menyebarkan nya agar tidak ada wanita yang terpedaya seperti ku lagi. Aku tau wanita Alex diluar sana banyak tapi aku harap kalian semua lihat bagaimana nasib ku sekarang. Dia mencampakkan ku setelah semua yang aku berikan"


Tayangan itu aku jeda.


Nafas ku memburu tajam. Rasanya ini seperti api yang sudah padam lalu di siram lagi dengan bensin.


Jordan kamu orang yang mengerikan....


" Alena..


Terdengar suara Devan, ternyata dia masih menunggu ku diluar.


Dengan cepat aku membasuh muka lagi dan mengeringkan nya.


Ku tarik pintu yang terasa berat, ternyata Devan bersandar disana. Nyaris saja pria itu jatuh masuk kedalam.


Bisa kulihat wajah Devan saat ini yang sangat gelisah. Bahkan sorot matanya melengkung. Rambut nya semakin kusut dan bibir tipis nya juga memucat.


" Sumpah demi Tuhan Alena! Itu video lama! Kamu ingat kan saat aku bilang Jessy memberi ku obat tidur. Itu dia video nya. Dia juga merekam nya dan selalu menjadikan ancaman nya kalau aku tidak memberi nya uang. Video itu seharus nya sudah lama hilang tapi tidak tau kenapa sekarang malah muncul di media. Ini perbuatan Jordan. Mungkin dia sudah mendengar berita untuk malam ini! Aku yakin dia ingin meracuni pikiran mu!! "


Aku mendengarkan perkataan Devan dengan seksama. Aku sedikit lega kalau pikiran ku barusan sama dengan yang ia umbarkan.


Aku menegakkan kepala ku padanya.


" Benarkah. Lalu apa menurut mu dari pernyataan nya berikut nya"


" Pe pernyataan apa..


Devan segera melihat ponsel nya dan membuka tayangan yang tadi aku lihat. Wajah nya kembali menggelap.


" Ini fitnah!! Aku tak pernah lagi berhubungan dengan nya selain anak!! Ucap nya tampak marah juga frustasi.


Sebenarnya aku percaya dengan Devan.  Hanya saja aku memanfaatkan situasi ini untuk menghentikan Jordan. Bersikap seolah Jordan sudah berhasil meracuni ku.


Kulihat ia dengan sinis" Benarkah?? Aku tak percaya itu" Kataku dengan tajam membuat pria didepan ku ini kebingungan harus menyakini ku seperti apa.


" Alena.. Pliss... Aku bukan orang seperti itu! Aku tidak mungkin berhubungan dengan wanita rubah itu! Apa kamu tidak memikirkan video video ini muncul saat kita akan menikah. Ini semua hanya untuk meracuni kepala mu...


Devan memegang tangan ku. Kurasakan kehangatan nya sesaat sebelum aku tepis.


" Dev... Aku tidak bisa menikah dengan mu" Ucap ku tajam. Bahkan matanya ku tatap sedemikian rupa.


Aku harus menyelesaikan dulu semua nya sebelum Jordan  akan menggila, itu yang aku pikirkan saat ini.


Perubahan matanya telak didepan ku. Yang tadi sorot memohon sekarang menjadi gelap.


" Kamu bercanda kan Len.. Sayang.. Tatap aku!! " Devan menangkup rahang ku. Matanya menatap ku dalam. Aku menguatkan diri agar terlihat membencinya.


Tangan besar ini mengusap usap wajah ku. Ia bahkan mencium bibir ku. Aku tak membalas nya sebagai bentuk perlawan ku.


Devan mengurai ciuman nya.


" Alena.. Aku mohon.. Kamu mempercayai ku. Jangan dengarkan perkataan sampah Jessy. Aku akan membuat Jessy berlutut di kaki mu...aku janji itu!!Dengarkan aku.. Plis..


Tangan nya ku tepis dan ia kudorong.


" Keluarlah.. Aku perlu sendiri" Pinta ku dengan nada memohon.


" Alena..


" Keluar lah Devan.. " Teriak ku kali ini murka.


Ia mundur beberapa langkah.


" Nanti malam...


" Aku bilang keluaaar" Kali ini aku memgambil make up ku. Dan melempari nya bertubi-tubi.


" Okey.. Okeey aku keluar aku harap kamu bisa berpikir jernih dan menarik keputusan mu... " Kata Devan disana lalu perlahan ia keluar dari kamar ku.


Aku segera lari kesana dan menguncinya.


Nafas ku kembang kempis karena bentrokan emosi yang ada. Setidak nya aku sudah mengundur rencana untuk malam ini. Ini lebih baik dari pada Jordan akan membuat orang-orang terdekat ku jadi korban balas dendam nya. Dan yang akan kulakukan adalah rencana kedua. Aku harap ini keputusan yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2