
Pov Alena.
" Rudy.. Dia ada di Worthington, aku kirim lokasi nya ke ponsel mu, cari tau"
Lalu Devan kembali berkutat di laptop nya mata nya yang tajam nampak serius menarikan jari-jarnya disana, saat ini ia sedang di dalam ruang kerja nya dirumah. Aku mendengar percakapan nya dengan Rudy barusan. Tapi masih bersembunyi di balik pintu. Rasanya enggan sekali mengakui kesalahan ku dan minta maaf. Eh tapi aku tidak bersalah. Dia yang asal menyimpulkan asumsi. Aku hanya kaget saat ia bilang Jo harus nya mati. Siapa yang tidak kaget saat mengetahui orang yang dikenal melakukan pembalasan yang keji. Ya walau perbuatan Jordan memang seharus nya mendapatkan balasan, hanya saja rasanya terlalu keji dia melakukan nya pada Jordan. Memang Jordan sudah sangat tercela juga nyaris membunuh Adela tapi bagaimana ya ngejelasin nya, Jordan juga orang terdekat ku dulu dan aku sudah memberikan nya balasan yang menurut ku sudah cukup wajar dengan menyakiti perasaan nya itu sudah cukup untuk menghentikan kegilaan di kepalanya yang penuh rasa obsesi nya.
Membatalkan pernikahan dengan nya yang tepat di hari nya menurut ku itu sudah sangat menyakitkan. Lebih kejam daripada hanya menjobloskan dia kepenjara. Secara langsung aku membunuh mental kejiwaan nya. Membunuh rasa obsesi besar nya. Aku juga tau bagaimana Jordan dia pasti kembali. Dia sudah mengatakan nya sewaktu di pembatalan pernikahan nya dulu. Dia bilang kami akan bertemu lagi. Maka nya aku langsung kabur dan menetap mencari Adela di Negara ini. Meminta Randy untuk melindungi akses keberadaan ku. Tapi ternyata dia cepat juga menemukan ku.
Aku berpikir kalau sebaiknya menemui Jo sendirian dan bicara padanya dari hati kehati. Walau bagaimana pun aku tau dia sudah menyesali perbuatan nya. Tapi aku juga tak ingin menutupi nya dari Devan apalagi setelah ia mengatakan kalau ia dan Alea hanya sandiwara. Aku merasa memang hubungan kami akan segera membaik dan aku ingin tak ada yang ditutup-tutupi lagi mengenai Jo.
" Keluarlah.. "
Aku kaget suara berat nya mengintruksi ku keluar, jadi dia tau aku bersembunyi di balik pintu.
Padahal aku memang tak bersembunyi tadi hanya kebetulan dia sedang menelepon Rudy jadi aku diam dulu di belakang pintu.
Aku mendorong pintu dan melihat nya sekilas. Devan masih menekuri laptop nya, dia masih marah dengan asumsi nya sendiri.
" Ada apa?! Mau kabur setelah Jordan menjemput mu? " Ucap nya disana kembali seenak nya bicara dan siap berdebat dengan ku. Lihat saja matanya siap melumpuhman lawan dengan sekali tatap.
Aku berjalan mengitari meja kerja nya disana, dengan pelan. Devan masih bersikukuh menetapkan wajah arogan nya, dari sampinh bisa ku lihat wajah tampan nya yang sedang marah, sikum rahang nya tampak mengeras dan bibir nya mengerut seolah tak ingin digoyakah. Diam diam aku tersenyum melihatnya sebegitu cool. Ingin sekali aku uyel-uyel tampang nya seperti itu. Lalu aku menyusup diantara laptop dan ia di sana yang duduk. Aku sengaja mencondongkan kepala untuk memperhatikan ekspresi dingin nya da berkabut yang nama nya cemburu buta.
Ya kalau boleh besar kepala aku menangkap ia maran karena cemburu buta. Semoga saja!!
" Ciyeee cemburu ya...? " Goda ku sambil meringis tertawa geli.
Wajah itu tak bergeming ia melirik ku dengan sorot tajam.
" Siapa yang cemburu" Elak nya disana.
" Ooh berarti aku salah kira, aku pikir kamu juga cemburu ternyata tidak. Ya sudah aku kembali kekamar" Kata ku mengehela nafas panjang pura pura kecewa. Aku menggeser tubuh ku untuk keluar dari sana sambil berhitung dalam hati.
Satu
Dua
Tiga
Pinggang ku kemudian ia tarik dan kembali berada di atas pahanya.
Aku tersenyum dalam hati. Mudah saja memprovokasi Devan.
Ku kalung kan tangan ku ke leher nya kulihat jakun nya naik turun disana. Matanya yang tadi tajam berangsur manis kembali. Ia melirik tangan ku yang denga. Berani bergantungan di leher nya.
" Kamu kesini untuk menggoda ku kan" Tuduh nya disana menatap lurus mata ku. Matanya sangat indah kalau menggeriyang seperti itu. Aku mencebikkan bibir. " Tidak aku hanya ingin melihat mu marah marah saja" Kata ku tertawa kecil.
" Kamu menjadi sexy kalau marah..
Ia menempatkan kedua lengan nya di pinggang ku " Oooh jadi aku marah-marah sudah tak ada rasa takut nya padamu hmmm.. "
Aku berpikir panjang " Hmm.. Aku takut kalau kamu mencoba mengeyahkan ku lagi dalam hidup mu! Rasanya itu yang lebih menakutkan" Kata ku memang benar adanya. Aku menatap lurus mata nya dan memasuki sorot mata itu dengan dalam. Rasanya harga diri ku sudah turun dratis entah sejak mulai menyukai nya diam diam. Mau diperlakukan semena-mena oleh nya dan tetap mencintai saai masih mengira ia punya wanita lain.
Devan menekan pinggul ku kearah nya lebih dekat. Aku sedikit kaget tapi membiarkan nya. Ada gelembung-gelembung sendiri yang memenuhi perut ku.
" Benarkah... Kata nya dengan lurus menatap mata ku menyelami tatapan memuja yang aku serahkan padanya.
" Aku mencintaimu mu Dev... " Ucap ku dari perasaan yang terdalam.
Ia tak bergeming beberapa detik. Kemudian bisa kulihat ia kembali bernafas.
Aku mengatakan nya karena hanya ingin dia tahu walau aku sekarang juga tidak tau bagaimana perasaan nya lagi padaku. Meski sudah ada pengakuan sandiwara nya dengan Alea tapi dia tidak ada lagi mengatakan arti semua itu.
" Jadi apa kamu menyesal sudah bercerai dengan ku? " Tanya nya disana menaikan dagunya. Ia masih saja mau bersikap angkuh. Aku tertawa kecil.
" Tidak! Aku tidak pernah menyesal apa yang menjadi keputusan ku! Seperti sekarang ini aku mencintaimu "
Bisa kulihat garis bibir nya yang datar menyembik dan ia tersenyum. Aku rasa kata-kata ku cukup membuat nya yakin dengan yang aku utarakan.
" Bagaimana ya.. Perasaan ku sama kamu sudah-
" Oh- " Aku menundukan kepala, ya aku memang serakah menginginkan nya lagi apalagi ia berperilaku seperti ini. Jadi aku salah paham?? Itu ya intinya!!
Rasanya ada yang menghantam dada ku, sakit! Tentu saja.
Dagu ku malah di angkat dengan jari nya " Perasaan ku sama kamu sudah tak tergantikan. Aku mencintai mu dari dulu sampai sekarang "
Aku kaget dan kembali Menyelmi sorot matanya. Ia dengan senang hati ku tatap seperti itu. Matanya hitam pekat dengan kabut berkilau seperti bintang dilangit yang gelap. Mata itu mengatakan apa yang sama ia ucapkan. Tak ada kebohongan disana.
Aku mengulum senyum dengan rasa panas di kedua sisi pipi ku, rasa bahagia rasanya seperti ini.
__ADS_1
Ada desiran hebat dibenak ku. Ungkapan nya memang membuat nya seperti memberikan matahari padaku. Sudut bibir nya terangkat. Dan bisa kurasakan jari nya malah bermain di punggung ku. Mengitari dengan gerak lambat dan penuh rasa gelitikan hebat di rahim ini. Aku bahkan menaruk nafas panjang dan kesusahan melepaskan nya. Ia memang pintar menggoda ku seperti ini.
" Kamu tau Dev..
Hmmm
" Kamu itu eks husband yang mesum"
Kata ku langsung ditertawakan nya.
" Benarkah. Aku bahkan belum ngapa-ngapain kamu! Bagaimana aku bisa mesum?? " Ia menyeringai lalu mengusap punggung ku dengan lembut lagi kali ini sedikit cepat, setiap sentuhan nya membuat ku merasa geli juga sensasi yang seperti sengatan listrik. Bahkan ingin sekali ku tarik leher nya untuk memelukku erat.
Aku mengenyahkan pikiran kotor itu sesaat.
" Dev.. Jo kembali. Dia pasti akan membuat kekacauan. Aku berencana ingin menemui nya dan bicara baik-baik dengan nya. Apakah kamu mengizinkan ku? " Pinta ku baik-baik.
" Hmmm.. Kamu merusak suasana saja Alena. Menyebut nama cecunguk itu disaat sekarang... "
Ia melihat ku dengan tatapan tidak suka. Lalu kurasakan bra ku melonggar, shitt ia melepas pengait nya. Aku berangsur turun dari sana. Tapi tangan nya menahan ku.
" Aku tidak akan membiarkan mu bertemu dengan dia lagi!!! Aku yang akan mengurus nya! Kau paham.. "
Perkataan nya lebih dari titah yang wajib aku turuti. Aku mengerti dimana batas aku harus melanggar.
Aku mengangguk patuh. Meski bisa kulihat ia meragukan ku.
Lalu ku tarik tangan nya yang masih menahan ku. " Kamu mau apa? Kita bukan suami istri lagi loh" Kata ku mengingatkan. Walau sebenar nya otak ku mencoba berkata lain.
Devan terkekeh. " Ga! Aku tau batasan ku Alena.. Aku hanya mau mengukur apakah buah melon ku masih besar seperti dulu atau sudah jadi buah chery! Siapa tau jadi chery mau aku beri vitamin sedikit biar gede lagi"
Mendengar itu aku langsung memukul bahu nya. Apa maksud nya melon dan chery.
Devan tertawa lepas. Aku makin gencar mencubit pinggang nya tapi ya ampun ini kulit apa jok mobil bisa keras begini. Susah sekali mengambil daging nya biar di plinter-plinter.
Tapi bukan nya kesakitan ia malah tertawa lagi.
Tau-tau kursi kerja nya ini yng kami duduki terdorong ke belakang aku terhuyung dan tubuh ku terperosok ke tubuh nya. Rasanya seperti mau jatuh saja. Aku rasa kursi ini bis ambruk kebelakang.
" Kamu bahkan yang tak sabaran kan.. " Katanya lagi rasanya mau aku sumpe mulut vulgar nya dengan laptop. Aku ingin bangun tapi ia berusaha menyulitkan ku.
Kemudian ia menatap ku lagi lebih dalam. Mata mutiara hitam nya kembali menarik ku ke jiwa nya. Aku bahkan tak merasa cemas lagi saat jari nya menelusuri punggung belakang ku. Bahkan ini memberi efek candu dan minta lebih. My god Dev... Ini gila!! Your devil's touch!!
" Love u to.. dev...
Kami sama-sama tersenyum lalu bibir ini sudah bertautan satu sama lain. Lidah nya menelusuri rakus rongga mulut ku. Menjelajah seperti yang sudah sudah. Aku merasakan hawa panas mulai naik ke permukaan. Lidah panas nya kini membelit lidah ku mengecap dan mencumbu. Membuat ku merasa menggelinjang. Jari ku menelusuri rambut nya dengan kasar.
Devan kini melancarkan aksi nya ia tau daerah sensitif ku yang mudah terbakar. Di leher dan telinga dan tempat itu ia cumbu nya dengan rakus. Dengan kasar juga lembut bersamaan. Aku merasa berada di zona bahaya.
Dheeeev...
Aku menarik baju nya memperingatinya.
Kulihat ia menyeringai disana.
Kuping ku lalu di gigit nya lembut. aku kembali merasa waspada. Apalagi ada yang menggendut di bawah sana. Bergerak gerak ingin meloloskan diri.
Dan mata pemilik nya sudah berkabut gairah. Apalagi tangan nya sudah menjalar ke bagian atas.
" Ini nama nya penyiksaan" Katanya disana dengan suara parau dan frustasi.
" Ya penyiksaan. Tunggu kita halal lagi! Kamu sepuas nya memasuki ku. Okey" Kata ku berbisik lalu mencium bibir nya sebentar.
Devan menggeram lalu membantu ku turun dari sana. Ia tampak seperti hilang fokus.
" Aku ingin yang manis. Buatkan aku teh Alena.. Aku mau mandi sebentar" Pinta nya dan mencium pipi ku sebelum ngacir dengan buru buru. Melihat itu kembali tertawa. Dan agak terengah. Tapi kebahagian menyelimuti ku. Aku terus tersenyum lebar. Hati ini hangat dan berdebar. Aku sudah terepedaya dengan cinta nya Devan.
" Kita akan bertemu, tunggu saja" Terlintas ucapan Jo tadi pagi membuat senyum ku memudar. Entah kenapa aku merasakan firasat buruk. Aku takut Jo akan gelap mata dan melukai keluarga ku saat ini, orang-orang yang aku sayangi.
Anak-anak dan Devan.
*
*
*
Jordan Pov....
Tusukan jarum kecil ini tak begitu sakit tapi cairan yang masuk memberikan efek yang sungguh menyiksa. Seperti kulit yang di iris dengan pelan dan ditarik secara cepat. Sensasi obat ini pun sangat keras nafas ku sampai sesak tapi beberapa detik kemudian..berangsur rasa cemas, sakit dan ketakutan ku mereda. Nafas ku kembali normal.
__ADS_1
Penderitaan ini gara-gara bedeb*h itu.
Dia harus membayar nya. Aku bersumpah ia akan membayar semua penderitaan ku. Aku ingin nyawanya dan juga Alena tentu nya.
Terdengar suara ketukan kaca. Kubuka mata perlahan. Diluar mobil ada James, orang ku.
Kaca mobil segera ku buka.
" Mereka akan tiba sebentar lagi Tuan" Katanya memberi laporan.
Aku tersenyum singkat lalu kembali menutup pintu mobil.
Dari dashbord ku ambil masker hitam dan topi hitam.
Kaca di sana aku tarik. Dari sana tampak pantulan wajah ku yang sudah membaik dari sebelum nya.
Insiden malam itu menyisakan luka parah di bagian wajah tepat nya di pelipis ku, pipi dan dagu Ini hantaman keras dari besi sewaktu mereka melumpuhkan ku juga ada goresan saat benda tajam itu mehujam di muka ini. lukanya terkoyak dalam dan harus di operasi beberapa kali agar menghilangkan bekas luka nya. Ini pun masih terlihat kalau di perhatian dengan detail.
Sesaat terbayang bagaimana bed*bah itu menyiksa ku. Lalu melempar ku kelaut penuh luka. Beruntung aku menanam chip gps di tubuh ku, mengingat sudah beberapa kali Hitler berusaha melenyapkan ku. Aku selamat sebelum serbuan hiu datang mencium darah di laut itu.
Didepan sana terlihat beberapa mobil datang dari depan. Menurut informasi yang kudapatkan itu mobil yang ditumpangi Alena dengan b*debah itu.
Mereka melintas memasuki Fakultas ini.
Aku pun mulai bergerak. Menyalakan mesin mobil dan memutar arah.
Dihalaman sana tampak mobil rombongan Devan berhenti. Ternyata dia tetap menjaga keamanan nya dengan beberapa pengawal disana. Mata ku fokus kearah mobil Mustang hitam di tengah. Hingga pintu tengah terbuka. Heel hitam runcing dengan kaki putih ramping yang kukenal menjulur keluar Aku merasa gugup sendiri, detik detik ini terasa lambat. Dan disana muncul Alena dengan anggun. Rambut nya di cepol kebelakang dengan sangat rapi. Hitam dan bekilau, Ia mengenakan blazer kuning mustard dipadu rok span hitam membalut tubuh nya. Kuteguk air liur ku. Melihat sosok Alena yang seakan lenyap ditelan bumi beberapa bulan ini dan akhirnya aku bisa melihat nya lagi. Nafas ku sampai terasa berat. Rasanya ingin sekali turun dari mobil ini dan menarik nya untuk ikut bersama ku. Tapi aku juga sadar kalau ia masih marah dengan ku. Dan juga ini bukan waktu yang tepat. Ada b*jingan itu dengan pengawal nya.
" Wait for me sweety "
Setelah menunggu beberapa menit aku turun dari sana.
Aku memasuki Aula besar Fakultas ini. Dan berbaur dengan mahasiswa-mahasiswi disini yang cukup banyak. Aku duduk di pojok tak jauh dari padium yang megah disana.
Dan tak lama kemudian B*debah itu muncul di podium dengan wajah angkuh nya. Ia memberikan kisi-kisi dimuka publish bahkan kudengar suara eluan dari mahasiswi disini. Pria itu seperti selebriti saja di sanjung-sanjung mereka disini, tapi aku tak peduli. Aku hanya meihat Alena yang berdiri di samping sana. Ia terlihat sangat disiplin disana. Aku sudah tau dia dijadikan b*debah itu sebagai sekretaris nya dan mereka 1 rumah bersama anak anak nya.
Kalau hubungan mereka aku tak peduli. Selama aku masih ada aku akan berusaha merebut kembali apa yang harus jadi milik ku.
Aku menunggu mereka hingga 1 jam. Sampai kulihat mereka kembali di kerumungi berbeda mahasiswi disini dan Devan menjadi bak selebriti lagi. Bahkan b*debah itu terlihat sangat angkuh dan bangga ia di kerumungi wanita-wanita disana. Rasanya menjijikan melihat pria macam dia bertingkah seperti itu. Aku yakin Alena pun pasti juga merasakan hal yang sama. Ia juga membenci Devan sama seperti ku.
Tapi
kulihat Alena menyusup masuk di sana. Aku mulai merasa risih melihat nya bicara sinis dengan wanita yang tadi bicara dengan Devan. Yang tampak menggoda Devan. Kemudian ia menarik Devan menjauhi wanita-wanita itu.
" Apa maksud nya ini??? "
Rasanya kesal Alena seperti itu. Apa dia marah Devan dikelilingi perempuan-perempuan?! Ini tidak mungkin.
Ini pasti hanya Devan harus kembali bekerja! Ya pasti begitu!!
Wanita ku tak mungkin cemburu dengan wanita tadi kan!!!
Aku kembali mengikuti mereka dari jauh. Kulihat Alena yang masih cemberut meninggalkan Devan. Sedangkan pria itu tertawa tawa tanpa suara dan pergi dengan orang-orang nya.
Aku berbalik arah menuju jalan satu nya yang mengarah ke Taman tempat Alena duduk seorang diri.
Wanita-ku itu sedang terlihat kesal ia memaki dengan suara yang tak begitu aku dengar, kaki nya pun dihentak-hentakan seperti anak kecil.
Aku tak suka melihat nya seperti wanita yang sedang merajuk ini.
Segera aku ambil ponsel dan menekan nomor nya.
Ia terlihat mengenali dulu nomor ku disana. Kemudian mengangkat nya juga.
" Hallo...
Kitarik nafas dan ku hembuskan dengan teratur seperti meresapi suara nya yang sudah lama tidak aku dengar langsung.
" Hey. Alena apa kabar" Sapa ku berusaha tenang.
Kulihat senyum nya disana memudar, tampak syok. Wajah nya sangat menggemaskan. Bahkan tangan nya menggenggam dan sedikit gemetar. Ia tak berusaha lagi setelah menyadari yang menelepon adalah aku. Jadi dia masih mengingat suara ku dengan baik. Good Alena aku tau kamu masih mencintai ku.
Aku tersenyum bahagia memikirkan itu.
" Kau ingat kan kubilang kita akan bertemu lagi" Kataku mengingatkan pesan ku saat polisi memborgol ku didepan nya, aku harap ia ingat kata-kataku.
Alena langsung mematikan telepon. Ia tampak terburu-buru disana. Dan segera beranjak dari sana.
Saat aku hendak mengikuti nya. Kepala ku kembali sakit. Berdenyut sangat dalam. Harus nya obat nya bereaksi lebih lama. Dengan tangan gemetar aku mengambil suntikan itu dan langsung menusukannya kedalam urat ditangan ku keringat dingin kembali menetes. Mataku juga goyah bisa kulihat Alena sudah lenyap terhalang beberapa orang yang lalu-lalang disana. . Nafas ku kembali berangsur tenang. Seperti nya aku perlu obat dengan dosis lebih tinggi. Aku tak bisa terlihat lemah didepan nya nanti!!!
__ADS_1
*