Marriage In Lost Memories

Marriage In Lost Memories
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Alena membersihkan sisa jerami yang nempel di baju nya. Ia sudah berada di dalam mobil yang dikemudiman Dave.


" Loe kalau mau sengsara ajak ajak sih Len.. Duuuh ini sama aje gue berhianat sama sodara sendiri. " Keluh Dave disana mengomel sambil mengemudikan mobil nya.


" Kamu kan sayang aku sebagai adek mu Dave  jadi mending pilih adek dulu " Cengir Alena menepuk bahu Dave dengan keras.


Dave manyun manyun sendiri.


" Jadi kita kemana ini?? " Tanya nya kemudian setelah mantab mendumel.


" Jalan aja terus. Nanti kamu juga tau kok" Jawab Alena sudah melihat pergerakan dibelakang. Tampak sebuah mobil tak jauh mengikuti mereka sejak ia keluar dari gerobaknya Max.


Ia mengenal Jo dan Jo juga pasti mengenal Alena. Ia yakin Jordan bisa menebak kalau ia akan kabur dari sana setelah melihat kiriman video itu. Jordan punya rasa percaya diri yang besar ia yakin kalau kiriman video nya akan berhasil meracuni pikiran nya. Dan menyiapkan seseorang untuk menjemputnya diluar sana.


" Aku rasa ide loe ini akan berisiko Len. " Seru Dave disana mengusap dagunya.


"Ini satu-satunya cara agar jordan tidak melukai orang lagi! Aku sudah tau ada sniper yang nyaris membunuh Devan kemaren. Dan Nita juga jadi korban penculikan lalu tadi pagi!! Ia akan membuat image Devan buruk! Dan aku harus menemui nya sendiri! Sebelum ia melukai salah satu dari kalian lagi"


" Tapi... Bagaimana kalau dia malah menyakiti loe! Menculik loe dan membawa loe jauh dari sini! Apa loe pikir ini akan menyelesaikan masalah!! " Cecar Dave.


" Karena itu aku mengajak mu! Kamu kan prajurit. Aku mengandalkan mu agar melindungi ku bro" Sahut Alena kembali mengumbar senyum menepuk otot lengan Dave.


Dave membuang nafas dari mulut dengan berat.


" Loe ngajak mati bareng-bareng nih Len.. Gue kan belum merried juga punya anak..


" Cemen banged sih Dave!  Belum apa apa udah berwasiat" Sungut Alena kesal.


" Cemen, engga tuh. Jordan sih kecil! Gue patahin leher nya nanti...


" Itu baru sahabat gue" Puji Alena mengacungkan jempol nya.


" Aduuuh. Mimpi apa aku tadi malam Len.. Sekarang harus jadi pemeran india yang bertarung melawan penjahat!! " Sungut Dave disana kembali mengeluh dengan suara pelan.


Alena hanya tersenyum tipis. Walau sebenarnya ia juga tidak bisa memastikan rencana nya berhasil untuk membujuk Jordan. Tapi setidak nya orang-orang terdekat nya akan aman di sana.


" Hmmm dibelakang ada mobil aneh!!! Dia mengikuti kita" Kata Dave lagi.


" Ya.. Aku sudah melihat nya dari tadi. Pelan kan Dave. Kita tunggu dia" Pinta Alena lagi.


Dave tidak punya pilihan dan mengikuti saja sang ratu disebelahnya ini mengomando.


Mobil yang ia kemudikan melambat hingga mobil dibelakang sana menerobos lalu benaran berhenti didepan mobil Dave dan Alena.


" Shit!!! Siapa mereka" Runtuk Dave kesal dan menyiapkan pistol di pinggang nya juga pisau di beberapa titik.


Pintu mobil itu terbuka.


Tampak pria bule yang sudah lama tak Alena lihat. Pria berperawakan besar dengan wajah khas spanyol. Diego!


Ia pun menurunkan kaca mobil membuat Dave kelabakan.


" Nona Alena. Tuan Jordan ada didalam. Silahkan anda ikut bersama kami" Kata Diego disana sambil melihat Dave dengan waspada.


Alena tak mengira kalau Jordan sendiri yang akan menjemputnya.


" Apa baj*ngan itu ad-" Pekik Dave langsung terpotong saat Alena melirik nya pedas.


" Katakan dengan nya. Aku tidak akan masuk! Aku membawa sodara ku! Untuk jaga jaga! Jadi kami akan mengikuti kalian" Kata Alena dengan tenang walau ia gugup juga.


Diego diam sebentar. Tapi wanita didalam sana melihat nya tajam. Bahkan matanya seperti mengundang amarah. Ia pun mengerti kalau wanita ini tak ingin dibantah.


" Baik, saya akan sampaikan" Kata Diego menarik diri lalu kembali ke mobil itu lagi


" Dia ada disana. Len. Baj*ngan yang mau ngebunuh simerah dan sodara gueeeeh" Jerit Dave kebakarangan jenggot. Memukuk mukul setir dengan kepalan tangan nya.


" Iyaaa aku tau. Diam bisa ga sih. Kamu ini prajurit ga ada sangar sangar nya sih..malah mengolel kayak emak-emak " Omel Alena keki juga dengan kehebohan Dave.


Tadi nya ia sudah berakting keren dengan melihat Diego sedemikian rupa. Tapi Dave malah berteriak teriak merusak suasana.


" Iya Len.. Tapi tangan ku gatal mau jambak rambutnya"


" Jangan bar-bar Dave! Yang kita hadapi sekarang Jordan dengan niat balas dendam nya. Kalau kamu bar-bar nanti semua nya akan kacau. Kalau kamu kenapa-kenapa aku bagaimana dong" Giliran Alena mengomel. Hingga ia mengintruksi kan agar tenang kembali. Saat Diego kembali menuju mobil nya.


" Tuan setuju" Kata Diego disana lalu ia kembali lagi ke mobil disana.


Alena kembali menaikan kaca mobil dan Dave menjalankan mobilnya.


Perjalanan memasuki kota dan mereka terus beriringan bahkan di belakang Dave ada mobil lain mengawal.


Hingga 1 jam lamanya mobil Jordan memasuki sebuah gerbang tinggi. Dengan banyak laki laki berbadan besar disana.


Saat masuk disana juga terlihat pasukan prajurit dengan aura mengerikan. Seperti sarang pembunuh saja auranya sangat mengintimidasi


" My god! Gue pernah liat ini di film barat! Ya ampun Len.. Ini sih masuk kandang mafia! Aduuh.. Dari perawakan nya ini orang Rusia Len. Jangan-jangan Jordan meminta para Mafia Rusia!! Huaaa ! Gue sendirian! Loe aaah" Keluh Dave kumat lagi. Sekarang ia mengacak acak rambut nya.


" Ya sudah kalo kamu takut  aku izinkan kamu pulang! Aku bisa hadapi Jo sendirian" Sungut Alena.


" Eh ga gitu juga kali. Balik sama aja gue di bunuh Devan" Cicit Dave maju mundur kena.


Tapi diam diam Dave mengambil ponsel nya dan mehidupkan gps nya. Ia juga mengirimi Devan pesan.


" Sorry Alena. Gue ga mau gempor sendirian. Harus ada bala bantuan juga" Kekehnya dalam hati.


*


*


*


" Semua berita sudah ditarik! Dan untuk membuat pengalihan publik menyerang balik Jessy! Saya mengunggah pengakuan teman semasa sekolah nya untuk menyebarkan hubungan gelapnya dengan kepala sekolah waktu itu, dia juga pernah menggugurkan kandungan saat masih sekolah! Juga Semua persiapan pernikahan anda sudah diundur tuan" Kata Rudy memberi laporan tindakannya.


Devan hanya melihat ke jendela dalam diam... Ia tak peduli dengan Jessy atau keributan media saat ini. Pikiran nya bercabang entah kemana. Disisi lain ia kesal Jordan masih bisa bersembunyi dan selalu melancarkan aksi nya. Rupanya pria itu sudah menyiapkan semua nya sejak lama hingg perthanan nya kuat.


Ponsel nya lalu berbunyi ada telepon dari Paul.


Devan segera menekan speaker.


" Sir! Tadi malam dapat laporan banyak  orang-ormg Rusia datang ke Bandara! Dan dari cctv menangkap pria yang wajahnya mirip dengan Jordan


" Oke" Jawab Devan lalu mematikan telepon itu.


" Dia memanggil preman Rusia!! Rupanya dia ketakukan jadi meminta bantuan sama mereka, ckck!! Aaah...

__ADS_1


Tawa Devan hanya sebentar.


" Alena. Apa dia sudah keluar dari kamar? " Tanya Devan pada Rudy


Rudy menggeleng. " Tidak ada tuan"


Devan lalu beranjak dari sana. Ia ingin bertemu Alena. Melihat Alena bisa membuatnya lebih tenang.


Saat diluar ia kaget ada wajah Mami dengan pandangan horor. Tapi Mami saat ini sedang duduk di sebuah kursi layaknya seorang Ratu sejagat. Memicingkan mata pada Devan.


" Kalau kamu gagal membujuk Alena. Jangan harap kamu ketemu Jeremy atau Adela! Mami akan bawa mereka ke Jakarta" Ancam Mami disana terdengar mengerikan ditelinga Devan. Lebih mengerikan daripada di coret dari warisan. Toh kerajaan nya sendiri lebih dari cukup dari warisan Papinya.


Devan hanya mengangguk lalu kembali melewati Mami. Ia menuju kamar Alena.


Disisi lain ada Susan dan Nita yang langsung pasang badan. Nita sendiri segera menyerahkan Adela ke tangan pengasuh. Mereka agak gugup. Sebentar lagi mereka akan mendengar auman singa yang marah dari kamar itu.


Sesekali Susan melihat jam tangan nya  ini sudah 1 jam lebih Alena kabur. Ia berharap sahabat nya itu akan baik-baik saja.


Devan membuka kunci kamar Alena ia memang mengurungnya.di kamar agar wanita itu tidak berpikir kabur. Lalu ia pun masuk. Berniat ingin melihat emosi Alena apakah sudah redup atau belum.


Ia mengedarkan pandang ke sisi kamar itu tapi tak ada siapa siapa.


" Alena..


Panggilnya sambil berjalan pelan menelusuri ketempat yang ada disana.


Tak ada sahutan.


" Apa dia mandi...


Devan lalu duduk di sisi ranjang. Tangan nya meraba ke bantal disana. Hingga tangan nya menyentuh kertas.


Ia pun mengambil kertas itu.


Dev.. Aku pergi bukan karena tidak mempercayai mu.


Aku mencintaimu mu segenap jiwa dan ragaku.


Aku akn segera kembali setelah menyelesaikan permasalahan yang ada.


Alena


Yang mencintai mu


Setelah membaca itu Devan menggumpal kertas itu.


" Bagaimana bisa... " Geram nya lalu membuka kamar mandi. Disana tampak lorong persegi yang kaca nya sudah di bobol Alena.


*


Bruk


Prang..


Bruk..


Terdengar suara barang-barang berjatuhan menggema di seluruh ruangan.


" Duuuh... Singanya udah mengamuk nih Sus. Aku takut" Cicit Nita gemetaran.


" Kamu punya Eric yang bisa membedah luka mu kalau kita di siksa Devan.."


Pluk


Susan menjitak kepala Nita "sembarangan.. Aku ogah di siksa..!!"


"Ya sudah. Kita ngumpet aja yo Sus.. " Ajk Nita segera menarik Susan sebelum singa dari sana keluar kandang.


" CARI ALENA.. DIA MUNGKIN TIDAK JAUH DARI SINI" Teriak Devan marah besar.


Beberapa ketua penjaga disana segera angkat kaki.


Pencarian  Alena pun dilakukan dengan besar-besaran.


" Rudy. Segera cek di cctv seluruh perkarangan disini dan juga cctv di jalanan di luar sana" Teriak Devan lagi dengan atmosfer mengerikan.


Rudy segera melakukan tugas nya.


Dan Devan sendiri merasa tubuh nya tidak berpijak disana. Rasanya ingin sekali ia mematahkan orang sebagai bentuk kekesalan nya. Semua penjaga disana jumlah nya puluhan. Bagaimana mungkin bisa kecolongan dari wanita seperti Alena.


Hingga ponsel nya bergetar. Emosi nya meredup sebentar, lalu membuka pesan dari Dave.


Rahang nya kembali mengeras. Membaca pesan dari adik nya sendiri yang mengatakan kalau Alena bersama nya.


Marah, murka tentu saja. Devan berpikir Dave mengkhianati nya. Tapi itu bukan yang utama. Isi pesan Dave lainnya adalah kalau mereka sedang berada di sarang nya Jordan.


Dave juga mengirimi titik lokasi nya saat ini


*


*


Mobil didepan berhenti. Mobil yang di kemudikan Dave juga persis dibelakang nya.


" Dave.. Kalau dia macam-macam gunakan saja nyawa ku"


Kata Alena membuat Dave kaget.


" Kamu gila...


Alena menoleh dengan sorot serius " Aku tau kelemahan nya. Percaya saja dengan ku" Sahut Alena lalu membuka pintu dan keluar dari sana tanpa aba-aba membuat Dave jadi kelabakan.


Alena turun dari sana. Sejajar itu juga banyak orang-orang nya Jordan disisi kanan dan kiri. Dave segera menyusul dibelakang Alena. Dengan sigap memasang badan di sana untuk Alena.


Di sisi sana Alena bisa melihat pintu mobil di belakang di buka oleh Diego. Lalu kaki yang menjulang keluar hingga sosok Jordan yang cukup lama tak ia lihat benar-benar ada disana. Beda nya Jordan terlihat lebih kurus dan ia mengubah stlye rambut nya yang agak ikal gelombang. Sekarang lurus hitam memgkilat dan tersisir apik kebelakang. Membuat Aura yang yang dulu terlihat lebih bijaksana sekarang tampak mengeluarkan aura gelap nya. Seolah ada yang berubah dari pria itu.


Mata mereka bertemu. Alena dengan tatapan tanpa ekspresi.


Di sisi sana tampak Dave juga melihat nya dengan pandangan siaga juga tak bersahabat. Bibir nya tersungging melihat Alena ataupun Dave  ia lalu melangkah lebih dulu. Diikutin Diego.


Dan Alena sendiri di pandu seorang pria dengan pakaian hitam tapi wajah nya sedikit sangar. Ada bekas luka di pelipisnya. Seperti seorang Mafia. Badan nya lebih besar dari Dave .


Mereka memasuki sebuah Rumah besar berwarna putih gading. Dan seperti bak seorang Raja Jordan di sambut mereka yang ada disana.

__ADS_1


Alena berhenti di belakang Jordan sekitar 3 meter. Ia melirik ke kiri dan kanan yang begitu banyak penjaga dan orang-orang Jordan.


Kemudian tiba-tiba saja dua pria seperti mafia datang menggeledah di tubuh Dave. Menggeledah semua di tubuh Dave dan menemukan pistol Dave juga pisau-pisau nya yang lain. Dave sendiri tampak gusar di perlakukan seperti itu. Ia menatap sengit semua perlengkapan nya di ambil beserta ponsel nya dan semua barang itu dilempar ke lantai.


Lalu belakang kaki Dave di tendang hinga Dave terjatuh dengan lutut menumpu lantai. Membuat Alena menaikan nafas nya ia lalu berbalik dengan cepat dan  menendang ************ pria yang menendang Dave itu dengan keras.


Kraaak  cit cit cit petok petok..


Tendangan Alena tepat mengenai 2 telor pria itu. Rasa ngilu langsung mendenging di telinga yang lain yang semua nya pria disana. Jelas hancur sudah aset teman nya itu di tangan Alena.


Pria itu langsung bungkam tanpa suara dengan bibir mengerucut dan rasa sakit tak terhingga membuat nya berlutut di lantai dengan wajah merah padam. Nyawa nya seolah langsung terbang ke langit ketujuh.


Sontak yang dilakukan Alena memancing kemarahan yang lain. Mereka melakukan gencatan senjata dan salah satu nya langsung meruncing di depan hidung Alena. Dave sendiri ingin melawan tapi punggung nya di tahan dengan Booth hitam dibelakang nya. Semakin ia bergerak. Tekanan sepatu itu semakin membuat nya nyaris mencium lantai.


Perubahan atmosfer disana terasa sangat mencekam tapi Alena tidak merasa takut sama sekali. Ia tau ia masih memegng kunci nya.


Jordan menyunggingkan senyum melihat hal itu apa yang dilakukan Alena terlihat seperti hiburan  wanita itu memang nekat dan kadang tak berpikir jernih.


Ia lalu melangkah kearah Alena dan mengendikan jarinya memerintah pria-pria disana agar menurunkan senjatanya.


Dugaan Alena benar ia masih memegang kunci. Kunci nya jelas adalah Jo. Karena itu ia berani bertindak implusit.


Alena melihat Jordan dengan tajam " Kamu kenapa jadi banci begini? Aku hanya membawa Dave dan dia sendirian. Sedangkan kamu membawa kami ke sarang mu dengan banyak orang yang siap menembaki kami.. "


Jordan terlihat kesal di bilang Alena banci. Harga dirinya seolah melorot dengan kalimat itu dari wanita yang ia cintai.


Lalu ia memerintahkan pria yang menginjak punggung Dave itu agar berhenti.


Pria itu segera menurut. Dengan marah Dave ingin sekali menghancurkan gigi pria itu. Kalau saja Alena tidak melototinya juga. Ia pun tunduk dengan sang ratu ini.


" Kenapa kamu membawanya juga"


" Tentu aku membawa nya! Kamu sudah pernah ingin membunuh anak ku. Bisa saja kamu juga akan membunuh ku" Cecar Alena sengaja mengungkit hal itu. Ia sudah membaca pesan yang Jo kirim bersamaan cincin itu sehingga ia yakin Jordan tidak nyaman dengan ungkitan Alena.


Bisa ia lihat dari tatapan Jordan yang berubah dari pertama ada tatapan siaga dan sekarang pria ini seperti tatapan rasa bersalah.


" Berikan kembali senjata Dave padanya" Perintah Alena pada pria tinggi berkepala plontos itu.


Pria ini segera melihat atasan nya. Dan Jo mengiyakan.


Segera kembali senjata Dave di kembali oleh pria itu.


" Aku haus! Aku mau kita bicarakan ini sambil minum susu cokelat" Ucap Alena lagi seolah membuat lelucon disana yang sedang dalam kondisi pelik ia malah minta minum dan minuman nya susu cokelat.


" Kamu bahkan membuat kekacauan di dunia maya sepagi itu! Apa kamu pikir aku sempat sarapan?!!! " Alena kembali memaki seolah didepannya ini bukan Boss yang memiliki kekuasaan semua mafia di sana. Yang dengan mudah nya langsung melubangi kepalanya dengan 1 peluru saja.


Dave sendiri kaget dengan  keberanian Alena. Tapi ia yakin Alena punya trik sendiri. Apalagi Jordan begitu menurut. Ia kagum pengaruh Alena masih nampak di mata Jordan. Pantas saja sodaranya tergila-gila padanya juga.


"  Kenapa hanya diam! Apa ini sambutan mu karena sudah menggagalkan pernikahan ku malam ini" Kata Alena lagi dengan kedua tangan di dada. Ia terus mengungkit apa yang Jordan lakukan.


Jordan melihat Alena seperti menelaah lalu ia mengarah pada Diego.


" Siapkan susu Cokleat dan juga makan siang untuk kami" Katanya disana,memprokpandakan situasi mencekam tadi hanya menuruti kemauan si wanita.


Dan dalam singkat sekarang Alena, Dave dan Jordan berada 1 meja oval besar dengan ornamen tekstur gaya eropa barat. Gaya khas Jordan tampak masih melekat. Dan beberapa pelayan memberikan Alena juga Dave jamuan khusus. Banyak makanan enak terhidang disana dan juga susu cokelat kesukaan Alena ataupun Dave.


Alena memakan dengan santai berbeda dengan Dave yang terus siaga, ia pun hanya meminum susu cokelat saja tanpa mau ikut makan.


" Jadi.. Apa kamu sudah memaafkan aku?? " Tanya pria diseberang sana. Jordan yang memperhatikan Alena makan dengan lahap seperti wanita yang sudah kembali ia kenal. Bukan siluit wanita yang pernah menatap nya penuh kebencian.


" Memafkan mu! Setelah mau membunuh Adela. Hah jangan mimpi!!! " Jawab Alena dalam hati tapi berbanding terbalik dari senyuman yang ia ulas.


" Kamu sudah mendapat balasan nya kan. Jadi aku tak berhak menghukum orang yang sudah menyesal" Jawab Alena sambil mengambil potongan daging dan melahap nya. Mata nya juga terus melihat kearah Jordan. Ia bisa melihat sepintas ada bekas luka di pipi Jordan. 6 bulan yang lalu luka itu tak ada. Bisa ia tebak itu pasti jejak peninggalan Devan yang pria itu ceritakan.


" Aku sudah tau kamu mendapat penyiksaan dari Devan. Apakah karena itu kamu ingin membunuhnya kemaren??? "


Tentu yang Alena ucapkan membuat Jordan sedikit terkejut. Pertama Alena mengetahui penyiksaan yang ia alami dari Devan. Kedua Alena tau ia balas dendam karena hal itu.


" Kamu membunuh nya sama saja menambah kesalahan mu Jo! Aku tidak akan memaafkan orang yang membuat puteri ku yatim!! " Kata Alena lagi sambil menyelesaikan makanan nya. Lalu ia mengambil susu cokelat nya. Perut nya sudah terisi itu lebih baik dari pada menghadapi Jo dengan perut kosong.


" Dia harus mati Alena!! " Teriak Jordan dengan kemarahan.


Alena menahan kaki Dave yang hendak menedang meja.


" Aku tidak ingin hidup dengan seorang pembunuh. Apa itu cukup! " Ucap Alena seolah memberikan kan penawaran dari kosa kata dan tatapan nya terdengar serius.


Dave sendiri sampai menoleh sengit. Memberi peringatan. Ia juga tak setuju Alena malah menyerahkan diri. Ini tak sepertu rencana diawal.


Jordan menarik nafas. Tentu ini yang ia harapkan. Rasa bahagia seolah menyelingkupi nya. Seakan akan semua mimpi nya yang terpupus kembali tersambung lagi.


" Apa kamu serius? " Tanya nya tak bisa menyembunyikan lengkungan senyuman nya.


" Apa kamu meragukan ku??? "


Tanya Alena balik. Membuat getir senyum Jordan seperti mehapus aura kegelapan nya. Ia merasa sangat bahagia. Rasanya ingin ia merengkuh wanita itu saat ini saja.


" Aku sangat benci kekerasan. Bisa kan kamu utus orang-orang mu pergi!! Sisakan beberapa penjaga saja kalau kamu meragukan ku!! " Pinga Alena disana sambil mengambil 1 butir anggur dan memasukan nya kedalam mulut dari atas.


Jordan yang sedang dilingkupi rasa senang segera meminta Diego mendekat.


" Ikuti kata-kata Alena. "


Diego segera mengangguk dan keluar dari ruangan itu.


Sesuatu terasa mnyekit di kepala Jordan. Ia merasa perlu obat nya. Dengan sedikit berkeringat ia bangun dari kursi.


" Aku akan kembali sebentar lagi" Katanya disana susah payah berdiri. Tapi pria itu tetap berusaha terlihat baik baik saja apalagi didepan Alena.


Setelah Jordan keluar dari ruangan itu  Dave menatap Alena dengan intimidasi. Diruangan itu masih ada 2 penjaga mereka tetap harus jaga sikap dan suara.


" Apa yang kamu rencana kan! Kenapa malah menyerahman diri! Bukan nya tujuan mu untuk bicara dengan dia" Tanya Dave dengan suara pelan tapi badan menghadap ke makanan disana.


" Kamu pikir kita bisa keluar hidup-hidup dari sini setelah melihat banyak preman yang siap mencabik kita?? Aku mengupayakan mengurangi beberapa! Ini plan B. Setelah mendapat keyakina dari Jo. Aku akan membawa nya keluar dari sini. Dan akan mengatakan semua nya!!


" Tapi aku sudah mengirimi gps pada Devan. Dia akan muncul disini!!


Mendengar itu Alena kaget. Kepala nya mendadak pening. Rasanya mau ia udel udeh Dave saat ini juga.


Dave merusak rencana nya. Ia tak ingin ada yang pergumu yg lplan darah. Apalagi langsung melibatkan kan Devan dengan begitu banyak preman mengerikan disana tak bisa ia bayangkan bagaimana lelaki nya itu akan berkelahi. Tapi nasi sudah menjadi bubur tinggal di kasih suwiran ayam biar tetap enak.


" Kapan kamu mengirimi Devan lokasi disini?? "


" Sekitar 40 menit yang lalu"

__ADS_1


Alena memejamkan mata. Ia harus cepat. Sebelum Devan datang.


__ADS_2