Marriage In Lost Memories

Marriage In Lost Memories
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

"Aku ingin masuk...


Penjaga yang didepan pintu itu saling lempar pandang. Sedangkan perempuan didepan mereka ini menatap nya kesal.


" Sebentar...


Salah satu dari mereka masuk. Lalu keluar lagi.


Pintu itu lalu dibuka. Alena segera menghambur masuk. Ia heran kenapa hanya ingin bicara dengan Jordan saja harus seribet itu. Biasanya Jordan sangat terbuka dengan nya.


Diego tampak menyemprot ruangan itu dengan aroma bunga sehingga bau obat kimia yang tadi memenuhi disana segera tersamarkan. sedangkan Jordan baru saja merasa keadaan nya pulih. Ia hanya perlu beracting agar tak tampak kesehatan nya bermasalah. Apalagi setelah melihat Alena semangat nya seolah terisi lagi.


Jordan meluruskan punggung nya. Ia lalu berdiri perlahan ada rasa ngilu di persendian nya efek obat yang ia suntikan tapi ia tahan.


Disisi lain Diego meninggal kan mereka berdua diruangan itu.


Ada rasa canggung yang Alena alami saat pria ini mendekati nya. Tapi ia berusaha bersikap natural.


" Aku ingin memeluk mu dulu Alena....


Deg..


Alena tersenyum pias, dan membiarkan tubuh Jo merekat di tubuh nya. Ia bisa mehirup aroma J yang khas. Tak ada perasaan sama yang pernah ia labuhkan ke pria ini. Ia pun tersenyum dengan hal itu. Perasaan nya memang sudah untuk Devan. Tidak plin plan lagi.


" Aku sangat merindukan mu.. " Suara J lebih kepada kesedihan yang mendalam. Dengan canggung Alena mengusap kepala J. Ia akan menganggap memeluk J sama seperti memrluk sahabat lama yang sudah tidak bertemu.


" Ya aku juga" Sahut Alena memainkan peran nya.


Ia melirik ke jam tangan. Waktu nya sudah sangat mepet. Seharus nya ia mengajak Jo keluar dari sana dan di luar ia akan menyekap Jo. Tapi karena Dave sudah mengacaukan rencana. Semua harus di lakukan disana secepat nya.


Terdengar suara tembakan membabi buta diluar sana. Itu tandanya Devan sudah datang.Dengan cepat Alena segera mengambil pistol Dave yang ia selipkan di kaki nya dan mengarahkan nya kekepala Jo


" Alena... Apa yang kamu lakukan...


Suara jo getir bukan karena takut tapi kaget dengan apa yang Alena lakukan.


Jordan menoleh tapi tangan nya malah di tarik Alena kebelakang dengan kuat. Ya walau bisa saja ia menarik ulang tangan Alena. Tapi ia enggan menyakiti wanita itu.


" Aku bisa saja menembak kepala mu kalau kamu macam-macam Jo...


Ancam nya terus menekan pistol itu di kepala Jordan.


Terdengar suara decakan Jordan. Ia tertawa masih menganggap Alena hanya bercanda.


" Kamu tidak akan berani menembak ku.. Kamu bilang tadi ingin hidup bersama ku!!


" Dor..


Alena melepaskan peluru keudara dan kembali mengacungkan pistolnya.


" Siapa yang takut membunuh mu! Kamu sudah berani menyentuh Adela dan juga ingin menyelakai orang-orang terdekat ku!! Aku tidak segan segan lagi ingin melenyapkan mu Jordan... Dan aku tidak ingin hidup dengan mu!!!


Suara Jordan tercekat. Ia baru menyelami penekanan kata dari Alena yang mengatakan ia serius dan mengartikan kalau sebelumnya ia hanya memanipulasinya.


Bersamaan itu Diego masuk mendengar suara tembakan dari sana. Wajah nya terkejut Alena menguasai Jordan dengan pistol dikepalanya. Ternyata wanita ini hanya berpura-pura pada tuan nya. Dan ia kecolongan.


" Perintahkan mafia-mafia kalian untuk mengumpulkan senjata nya... Dan mengikat mereka sendiri dengan tali" Suruh nya pada Diego dengan suara lantang " Atau kamu mau melihat tuan mu ini mati mengenaskan..


Ancamnya lagi lalu menarik pelatuk dengan siaga siap membocorkan kepala Jordan.


Keputusan ada ditangan Diego. Ia pun tak bisa berbuat apa apa selain menuruti kemauan Alena. Apalagi ia lebih peduli dengan nyawa Tuan Mudanya ini.


Setelah Diego kembali keluar Alena mendorong Jo keluar.


" Kenapa kamu melakukan ini?? "


" Untuk menghentikan mu! " Jawab Alena terus mendorong Jordan  keluar  hingga ia berada di atas di bawah sana tampak pergumulan  pria dan pria semua nya sangat kacau balau, dengan pihak berbeda  ada yang sudah tewas dengan darah menggenang ada juga yang masih bergulat saling baku hantam. Terlihat Dave, Rudy juga sudah disana mehajar salah satu lawan mereka disana.


Ini yang Alena takutkan. Akan ada korban lagi.


Dan Devan ia bisa melihat kekasih nya itu dengan sorot marah dan membabi buta memukuli seorang Mafia di hadapan nya.


Dorrr..


Diego menembakkan peluru ke udara. Sehingga kubunya tampak melihat nya apalagi dengan adanya Jordan yang sudah di tawan Alena. Dave tersenyum melihat Alena sudah berhasil menyandera Jordan.


" Kumpulkan semua senjata kalian, dan kalian berkumpul disana, ikat diri kalian sendiri" Teriak Dave dengan nafas tersengal. Ia mengambil laras panjang yang ia temukan di lantai. Lalu menjadikan nya sebagai ancaman.


Lawan disana tampak sangar melihat perintah nya tapi seruan Diego mau tak mau mereka ikuti.


Satu persatu senjata yang mereka pegang di lempar ketengah dan orang Devan juga membantu mengambil paksa senjata mereka. Lalu mengikat mereka ke tiang dengan cepat.


Jordan tersenyum getir melihat pasukan yang ia kumpulkan disana malah seperti anak kucing dalam karung.


" Alena.. Apa kamu tau yang kamu lakukan. Devan akan memaksa mu..


" Dia tidak memaksa ku Jo.! Aku yang ingin menikah dengan nya.. Aku mencintai nya"


Seperti ada sembilu tajam menusuk benak Jordan. " Apa kamu bilang?


Bahkan rasanya kata-kata itu seperti bisikan yang tidak jelas.

__ADS_1


" Karena ini aku datang menemui mu!! Ada yang harus aku luruskan dengan mu!!


Aku akan hidup dengan Devan. Dan anak anak kami. Kami saling mencintai. Titik. Itu saja!!! "  Perjelas Alena dengan sorot tajam. Dada Jordan tampak naik turun disana. Bibir nya mengerut dengan kaku, ia yakin Alena sedang terdesak" Dia mengancam mu apa lagi kali ini??? "


Alena mempertegas tatapan nya. " Tidak ada ancaman dari Devan. Aku yang meminta nya menikahi ku lagi Jo. Aku mencintai nya.. Sangat!!!"


Rasanya yang Alena tekan kan membuat hati nya semakin perih. Apalagi mata Alena sangat tajam tanpa kebohongan tentu nya. Ia benci melihat mata Alena seperti itu apalagi saat menyebut nama Devan ada kerlingan matanya yang berbinar dan rasa melindungi yang dalam.


Ia sudah kalah.


Sekarang Alena menyelami mata indah Jo yang berwarna biru. Ia yakin emosi disana sedang begejolak hebat.


" Aku ingin kamu melepaskan kami. Aku ingin menemukan bahagia ku Jordan. Pliss kamu yang paling mengerti aku kan. Kamu yang sudah mengenal aku sejak dulu. Aku mohon jangan rusak kebahagian ku lagi... " Kali ini Alena mengungkapkan nya dengan tangis. Ia merasa hidup nya teramat sulit dengan segala konflik yang ada dan kali ini ia sudah lelah ingin sekali hidup bahagia dengan orang-orang terkasih untuknya.


Jordan merasa apa yang Alena sampaikan tadi sama saja dengan memecahkan cermin kehidupan yang ia rancang yang ia mimpikan.


Mimpi nya sejak dulu yaitu hidup dengan Alena. Ia jatuh cinta pada Alena sejak ia masih sangat muda. Berumur 15 tahun, menjadikan Alena sebagai prioritas dikehidupan nya yang akan datang bahkan  saat Ia bangun dari koma juga untuk Alena. Semua yang ia korban kan semua untuk Alena. Dan ia memang melakukan kesalahan besar sampai wanita itu pergi tapi ia akan memperbaiki semua nya dan masih menginginkan wanita ininakan hidup dengan nya, tapi wanita ini malah memohon untuk tidak mengusik hidupnya!! Lebih dari tamparan keras apalagi ia lebih memilih pria lain dan itu Devan pria yang lebih banyak membuat nya luka.


" Tidak... Aku tidak bisa.. Alena... " Jerit Jordan disana dengan nafas tersengal sengal. Membuat Alena sedikit mundur dengam reaksi Jordan. Ia khawatir pria ini mengamuk.


" Alena yang tidak bisa dengan orang paranoid seperti mu"


Sebuah pistol lain menghujam di kepala belakangnya.


Suara baritton  ini terdengar indah di telinga Alena. Ia tersenyum melihat pria nya sudah ada di dekat nya. Apalagi dengan sandiwara yang ia lakukan lalu kabur dari pria itu. Ia yakin ada hukuma  yang akan ia terima dari Devan.


Devan segera menarik Alena kebelakang nya dengan erat.


" Kamu nakal sekali.. Sayang!! Aku akan menghukum mu nanti" Bisik Devan sempat-sempat nya menggoda Alena. Tapi memang segala kemarahan nya juga bentuk kerinduan nya pada Alena terlebih dengan Alena yang berhasil menipunya. Wanita liar nya ini memang tidak bisa ia anggap enteng. Memiliki bukan berarti berhasil mengetahui apa yang ia perbuat. Sudah 2 kali ia di permainkan Alena. Pertama saat Alena menjebak nya untuk mendapatkan rekaman bukti perceraian dulu. Sekarang kejadian ini.


" Dev... Jangan sakiti Jo..


Devan menatap Alena garang. Ia baru saja menggoda wanita itu, memuji kelakuannya! Tapi Alena malah membicarakan orang ketiga itu dengan nada serius. Ia sedikit cemburu. Bahkan tidak bisa kah Alena menanyakan keadaan nya sekarang yang memiliki beberapa cedera di wajah saat ini. Ada goresan cabikan luka dari senjata tajam di wajah nya.


" Kekerasan bukan cara memecahkan masalah. Kita perbaiki semua nya dengan kepala dingin. Plis.. " Mohon Alena dengan mata berkabut. Ia masih berharap Jordan akan mengerti dan tidak ingin ada pertumpahan darah diantara mereka terlebih ini bukan genre action! Atau film india yang harus ada acara heroik membasmi kejahatan dulu baru happy ending.


Devan tak bisa menjanjikan suatu hal pada Alena yang jelas semua sekarang bisa terkendali  di bawah sana orang-orang bawaan Jordan sudah Dave dan Rudy kuasai. Dan dengan Jordan ditangan nya tentu semua akan baik baik saja. Akar masalah bisa dicabut dari sana.


" Aku akan mengabulkan nya beri kan aku ciuman mu dulu" Tangan nya naik keatas dan menangkup rahang Alena dari samping mengarahkan nya ke wajah nya.


Alena sedikit melebarkan matanya  apa pria nya ini waras meminta nya menciumnya disaat sekarang apalagi ada Jordan.


" Aku ingin dia juga yakin kamu serius mencintai ku sayang!! " Ucap nya lagi lalu berjalan memutar kedepan nya Jordan.


" Bahkan kalau kamu mau kita bercinta live saja didepan dia. Agar otak paranoid nya itu sembuh total"


" Dev..


" Aku akan mencium mu setelah kita selesai oke!! " Ucap Alena mendapat sorot kecewa dari Devan. Tapi kalimat mereka lebih dari kenyata hidup yang Jordan dengar. Itu sudah cukup buat nya.


Tiba tiba saja Jordan mengerang kesakitan. Di kepala nya. Nafas nya tersengal dengan jarak pandang seolah menjadi kabut.


Ia menarik rambut nya seolah rambut itu ingin ia tarik paksa. Bahkan gertakan giginya juga akan meremukan semua giginya.


Alena dan yang lainnya yang disana kaget terlebih Diego. Tuan nya perlu pertolongan.


" Jangam menyentuh nya Alena. Dia hanya berpura-pura" Cegat Devan menarik kembali Alena di belakang nya. Mengunci nya lebih erat.


Jordan kembali menjerit. Kali ini ia membungkuk dan jatuh dilantai dengan erangan yang memekikan telinga. Wajah nya sangat jelas kesakitan. Alena melihat itu dengan benar tak ada yang dipura-purakan disana.


" Berikan dia suntikannya" Teriak Diego di sana yang sudah dalam keadaan di tahan seorang klan Devan.


" Suntikan??


" Aku mohon Nona. Tuan sedang sakit keras.. Coba lah kalian ke ruangan itu. Ada di dalam laci. Berikan dia suntikan itu" Minta Diego dengan memohon.


" Dev.. Aku akan mencari nya" Kata Alena mengusap lengan Devan yang juga sudah melihat Jordan memang sedang tak berdaya.


Devan hanya diam saja. Ia melonggarkan cekalan ny dan fokus terus mengawasi Jordan di sana yang masih mengerang. Bahkan wajah nya tampak sangat pucat. Rasanya ingin sekali ia menghajar pria ingin sekali lagi apalagi sudah membuat kekacauan 2 hari ini bahkan membuat pernikahan nya batal sisi kemanusian nya seolah tersingkir. Tak peduli Jordan sedang kesakitan.


Alena kembali dengan beberapa buah suntikan.


" Apakah ini? " Tanya nya pada Diego.


Diego mengangguk. " Suntikan di nadi nya"


Alena segera membungkuk dan melihat Jordan disana meringkih kesakitan. Seperti seekor serigala yang kesakitan *** juga siap menggigit saat di sentuh.


" Jo.. Aku akan suntik obat nya. Kamu tenang lah..


Nafas Jo tersengal ia melihat Alena disana dengan perasaan terluka dan berusaha menahan sakit nya ini agar ia tak melukai Alena.


Wanita ini segera menarik lengan pria itu dan menyuntikan nya di pergelangan Jordan.


Wajah Jordan yang pucat tampak mencuatkan urat nya semakin cairan itu masuk semakin ia merasa kesakitan. Bahkan suara erangan nya membuat siapapun mendengar merasa merinding. Bahkan sarat akan kepedihan yang mendalam seperti hati nya yang sudah kalah.


Cairan itu sudah masuk kedalam tubuh nya. Dan berangsur sakit itu membaik tapi Jordan masih terdiam disana. Ia merasa ini kesempatan nya untuk membalikan keadaan. Ia bisa melihat Alena masih membungkuk disana. Dan Devan juga ada di belakang itu. Seperti ada yang berbisik ditelinga nya untuk melakukan keberuntungan sekali lagi.


Ia bergerak meringkuk mengambil sesuatu didalam saku nya. Pistol kecil. Alena kecolongan seharus nya ia menggeledah senjata yang disembunyikan Jordan didalam saku.


Tapi semua sudah terlambat. Jordan tiba tiba menarik Alena dan bergulung hingga dengan tepat ia mengurung leher Alena dengan pergelangan tangan nya dan pistol nya di kepala Alena.

__ADS_1


Sekarang keadaan di balikkan.


Melihat Jordan menguasai lawan. Diego dan yang lain nya dengan gampang keluar dari cekalan disana kecuali pria-pria yang di ikat di bawah sana.


Suasana kembali mencekam. Devan tantu sangat marah. Pria itu ternyata masih bisa melakukan aksinya kalau tau begitu ia tak akan membiarkan Alena memberinya obat. Biar pria itu mati dengan sakit nya. Tap ia merasakan tak berdaya sekarang Jordan menyergap Alena.


Bahkan cekalan Jordan sangat erat dan  mencekik wanita nya itu.


Senjata yang ia pegang segera ia turun kan.


" Dia tidak akan berani melukai ku" Jerit Alena pada Devan berharap Devan segera melumpuhkan Jordan tanpa melihat nya.


Devan disana tampak bingung. Kekasih nya ada di sana. Peluru itu bisa saja di lepaskan Jordan begitu saja. Ia tidak mau mengambil keputusan yang salah apalagi menyangkut keselamatan Alena.


" Siapa yang tidak berani melukai mu... ! Kamu sudah mengatakan semua nya kan  jadi aku akan mengambulkan keinginan mu " Ucap Jordan lalu tanpa aba aba ia langsung melepaskan peluru bukan pada Alena tapi Devan. Peluru itu menembak perut nya. Dan jari nya makin intens mengarah pistol ke kepala Devan yang membungkuk. Siap melepaskan 1 peluru lagi.


Melihat itu Alena syok. Ia nekat merebut pistol Jordan sebelum  Jordan melepaskan peluru itu lagi.


" Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti Devan.. Jo.. " Dengan gesit Alena berusaha merampas pistol itu. Tapi ia sudah keburu menarik pelatuk. Tak mengira Alena lepas dari cekalan nya dan merebut pistol itu.


Sehingga suara tembakan lain terdengar meredam menembus sebuah daging!


Sunyi sesaat!


" Alena..


Suara wanita ini tercekat saat timah panas menembus perutnya disebelab kiri. Seperti ada tombak panas yang menghujam tubuh nya. Teramat sakit. Kepalanya mendadak pusing.


" Shiit...


Devan menepis rasa sakit nya ia segera menomang Alena yang jatuh kebawah. Di sana Jordan tampak syok ia sudah menembak wanita yang ia cintai dengan tangan nya sendiri.


Gelombang emosi bergejolak di kepala nya. Apalagi darah itu mulai merambat di seluruh baju yang Alena kenakan. Dan terus keluar seperti lahar api.


" Alena aku mohon bertahan.. " Pinta Devan merengkuh jemari kekasih nya ini. Alena mengangguk tapi ia juga tampak tak tahan dengan rasa sakit diperut nya.


Kemarahan menjarah ke kepala Devan ia meletakkan Alena di sana. Apalagi Dave sudah menaiki tangga dan menggantika posisi Devan.


Di depan nya Jordan yang tampak kaget juga syok persis seperti orang linglung.


" Aku tak melakukan nya.. Bukan aku..


" Teriak nya disana lalu menembak kembali ke tubuh Devan. Tapi tembakan itu tak membuat nya berhenti ingin mematahkan leher Jordan disana.


Jordan terus menembaki Jordan tanpa ampun hingga punggung nya berhenti di pagar pembatas  dan peluru disana sudah habis.


" Sudah selesai.  Brengs*ek. Apa hanya peluru andalan mu. .  . Bahkan kamu lebih dari pecundang menyakiti Alena...


Cengkraman Devan meraih leher Jordan. Mencekik nya dengan sangat kuat. Sampai darah di wajah Jordan berubah putih.


" Aku tidak akan membuat mu mati dengan mudah..


Devan menarik Jordan dan menghantam tubuh itu ke lantai hingga benturan keras terdengar. Jordan beringsut bangun tapi tubuh nya kembali di tindih dengan keras. Hingga tulang nya seperti remuk saat itu juga pikiran nya masih tertuju pada Alena. Ia ingin mendekti Wanita itu melihat keadaan nya. Tapi pria brutal ini malah terus menghajarnya. ia tak tinggal diam. Leher Devan ia jepit dengan lengan nya walau tubuh besar Devan berusaha memberi nya pukulan keras. Tapi Jordan punya andalan ia memukul bagian peluru di tubuh Devan hingga pria itu mengerang kesakitan. Dan baku hantam terus terjadi. Jordan yang berupaya keluar dari serangn Devan. Sedangkan Devan yang sudah penuh luka tembak tak henti-hentinya mencabik pria itu tanpa ampun.


" Aku sudah memanggil ambulance Alena. Bertahan lah... " Pinta Dave mencoba menjaga kesadaran Alena.


Alena mengangguk.


" Aku baik baik saja Dave, bantu mereka saja..


Ucap Alena tak sanggup melihat pergumulan didepan matanya ini. Devan dengan tubuh banyak tembakan dan Jordan yang juga tak kalah cedera. Tapi pria itu tampak melawan seadanya ia malah berusaha menuju kearah Alena. Alena bisa melihat pandangan Jordan yang tampak lari kearah nya. Ada tatapan penyelesalan dan kepedihan disana.


" Alena... Maaf kan aku.. " Ringis laki laki itu dengan luka di sana sini. Sedangkan pinggang nya sudah dibelit Devan.


Devan menarik kepala Jordan dan membenturkan nya ke lantai.


Membuat rasa ngilu yang melekat saat melihat nya.


" Dave bantu aku berdiri... " Pinta Alena dengan suara tertatih ia tak bisa diam saja melihat Devan siap menjadi pembunuh.


Dave segera membantu Alena berdiri. Dan ia mendekati pergumulan itu. Walau telak Jordan  sudah di bawah kuasa Devan bahkan memar di alami Jo terlihat tak sepedih memar di tatapan matanya.


Siapa yang tidak menangis melihat kondisi mereka saat ini. Kedua nya adalah pria yang sama sama penting baginya. Walau sekarang Devan adalah popularitas pertama. Tapi tetap saja baginya Jordan pernah mengisi hidup nya  dan selalu membantu nya, pernah menjadi sahabat nya dan pacar kesayangan nya! Walau sekarang pria itu sudah tertutup hatinya dengan obsesi nya. Alena tetap memandang baik pria itu.


Alena membungkuk ke arah Jordan yang melihat nya dengan tatapan sendu  bibir nya robek dan pelipisnya sudah berdarah seakan akan aliran darah dari matanya.


" Cukup hentikan Jo.. Sampai kapan pun keputusan ku tidak berubah.


I love you in another part of my heart. but my biggest love is only for him. please stop hurting me".


Nafas Jordan tersengal sengal. Matanya pias melihat Alena walau ia memang tau dia sudah kalah. Kalah jauh setelah Alena bilang perasaan nya bukan untuk nya. Apalagi setelah melukai Alena dengan tangan sendiri ia tau perbuatan nya hanya akan menyakiti perempuan itu.


Tiba-tiba Alena melorot beruntung Dave sigap menangkap nya. Bibir nya sudah pucat pasi.


" Tidak. Alena...


Jordan mencoba menggapai tangan Alena yang melihat nya dengan tangis. Rasanya itu teramat sakit. Rasa ingin memiliki nya sudah terbayar dengan nyawa Alena yang nyaris ia renggut.


Hingga tubuh itu beralih ke tangan Devan ia masih melihat Alena nenatap nya dan tersenyum pias seolah menyampaikan pesan yang dalam untuk nya kalau semua akan baik baik saja.


Disana Alena sudah di bawa Devan dalam gendongan nya, hanya tengan wanita itu yang terlihat di pandangan nya yang  mulai mengabur dan  peralahan semua nya menggelap.

__ADS_1


__ADS_2