
Aku terbangun dari tidur nyenyakku, mungkin karena kami berangkat terlalu pagi. Begitu jelas bising dari roda baja sedang berlari di atas rel. Namun rasa kantukku masih tak mau pergi.
Kereta mengantar kami untuk pulang menuju ke kota kami hari ini. Selagi aku terbangun, sebuah suara tak asing datang dari arah tempat duduk di sampingku.
"Kau kebanyakan tidur."
Membiarkan wajah tertidurku dilihat oleh orang lain, itu benar-benar memalukan. Aku secara naluriah menyapu mulutku.
Seakan sedang melakukan sesuatu yang aneh, Hary menertawaiku. "Jangan khawatir. Kau tidak ngiler, 'kok."
Menutup mulutku dengan tangan untuk menutupi uapan kecil, aku melirik ke sekeliling untuk memahami situasinya. "... Masih belum sampai, ya?"
"Ya belum, 'lah! Makanya jangan tidur terus."
"Mau bagaimana lagi. Setelah bertemu dengan Bu Sartika kemarin, aku selalu memikirkannya. Aku jadi tidak bisa tidur nyenyak semalam."
"... Terus ... bagaimana selanjutnya? Kau masih ingin menyelidiki?"
Sejenak aku terdiam. Memalingkan wajah ke arah jendela sampingku. Melihat pemandangan luar yang begitu terang, saat kereta ini melaju melewati hamparan sawah yang sangat luas. Bibirku berucap lirih, "Sepertinya begitu."
Hary tersenyum mendengar jawabanku. "Jiwa wartawan dari ayahmu ternyata sudah menurun padamu, ya? Meskipun kau lebih tertarik di bidang kedokteran"
Aku langsung menatapnya kesal. "Apanya yang jiwa wartawan?!"
"Karena melihat Dewi yang sedang sakit, kau semakin ingin menjadi dokter, 'kan?"
"Berisik!" ucapku semakin kesal seraya memalingkan wajah. Namun tak kudengar suara tawa lagi darinya. Aku sedikit melirik, kini wajahnya juga melihat ke arah jendela dekatku.
"Setelah mengetahui penyebab kau bisa ikut dalam kemampuan itu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Hary dengan tenang tanpa mengalihkan pandangan.
Pertanyaannya membuatku terdiam sesaat. Seakan aku tak tahu harus menjawab seperti apa. Mataku kini berpaling. Memandang bayangan wajah suramku yang memantul samar pada kaca jendela.
Dengan tenang aku menjawab, "Jika sudah tidak ada yang bisa aku lakukan, mungkin aku akan berada di samping Dewi untuk selanjutnya."
Hary tersenyum menatapku. "Jika seperti itu, kau harus tetap menjaganya, Andy. Dia begitu membutuhkanmu. Mungkin saat ini dia sedang menunggu jawaban darimu."
Aku hanya terdiam mendengar. Masih menatap luar dengan sayu. Tak ada alasan untuk berbicara. Memang seharusnya aku begitu. Saran dari Hary tak begitu buruk. Tak ada yang salah. Meskipun nanti hasilnya akan sia-sia dari pencarianku ini. Tapi setidaknya, aku hanya ingin berjuang memecahkan teka-teki yang tersisa. Seraya menunggu tanggapan dari beliau, yang seperti sengaja memberiku sedikit petunjuk.
Perjalan kira-kira dua jam untuk sampai di kota Mustika. Kami turun di Stasiun Mustika dan berjalan keluar dari stasiun, sambil terbenam ke dalam hawa dingin. Entah kenapa hawa ini masih terasa. Dan juga kelihatannya cuaca akan bertambah dingin selama musim ini. Wajar saja, musim penghujan akan segera tiba.
Saat kami keluar beberapa langkah dari stasiun, Hary melirik jam tangannya. "Maaf Andy, sepertinya aku harus pergi ke sekolah dulu."
"He? Sekarang?"
"Iya. Sebentar lagi ada rapat untuk membahas Dies Natalis nanti."
"Begitu, ya? Kau tidak merasa lelah?"
Melihatku yang merasa kasihan Hary menunjukkan senyum khasnya padaku. "Tenang saja. Aku sudah bilang, 'kan? Kalau aku begitu menikmatinya."
"... Heh, maaf sudah merepotkanmu."
"Hahaha, tidak usah dipikirkan. Lagian, aku sangat senang bisa membantumu."
"... Terima kasih," ucapku lirih. Tapi Hary hanya mengangguk tersenyum.
"Ya sudah. Aku pergi dulu," ucap Hary seraya beranjak pergi.
"Oke, hati-hati."
Aku hanya terdiam menatap kepergian Hary. Mataku terpejam sesaat dan memandang langit setelahnya. Mendapati mentari yang tengah bersembunyi di balik awan tebal. Hari ini begitu mendung. Menandakan bahwa hujan akan segera turun suatu saat nanti.
Setelah puas menatap langit, aku melangkah kembali untuk beranjak pulang. Sesekali melirik ke arah jalan raya yang lumayan sepi. Tumben sekali hari Senin ini jalan raya tak begitu padat. Apa karena sudah memasuki masa-masa libur, sehingga banyak orang yang pergi ke luar kota?
Entahlah. Yang lebih penting aku harus segera ke rumah. Pikiranku selalu terbayang dengan kamarku. Serta rasa kantukku masih belum hilang.
Namun, saat berjalan kantukku terbuyar oleh suara klakson mobil dari belakang. Seperti ada yang sedang memanggilku, aku berbalik melihat siapa orang itu. Namun belum sempat sepenuhnya menoleh, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingku. Lebih tepatnya sejajar pada pintu belakang mobil tersebut. Aku sempat terpaku pada mobil yang tak biasa kulihat dalam keseharian. Mobil yang begitu mewah dan terlihat elegan.
Sebuah mobil Rolls-Royce Ghost 2015 dengan empat buah pintu. Mobil sedan yang tersedia dengan lima buah kursi ini, juga dilengkapi dengan 6.6L standar, 12-silinder, mesin yang mencapai 13-mpg di kota dan 21-mpg di jalan raya. Eh ..., tunggu dulu. Apa mataku ini tidak salah? Baru pertama kali ini aku melihat sebuah mobil mewah secara langsung.
Ketertegunanku tidak berhenti di situ. Setelah kaca pada pintu belakang mobil perlahan terbuka. Menunjukkan seorang yang sedang duduk di dalam dan tersenyum menatapku.
"Nak Andy," Bu Sartika dengan ramah memanggil.
"Nenek?"
"Ayo masuk. Nenek akan mengantarmu pulang."
Aku tak langsung menjawab. Masih terdiam sesaat menyadari beliau. Hanya anggukan yang mewakili tanda setujuku. Melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam.
Duh, mimpi apa aku semalam? Saat ini aku tidak hanya melihat sebuah mobil mahal dan mewah. Melainkan juga masuk ke dalamnya. Mataku masih menyisir isi mobil ini setelah menutup pintu dan mobil mulai melaju perlahan dengan anggun. Seperti tidak bisa mengendalikan perilaku kampunganku ini.
"Baru sampai?" tanya Bu Sartika. Membuyarkan tindakanku dengan seketika.
"He? Eh, i-iya," ucapku terbata.
Bu Sartika tersenyum dan mengalihkan wajah ke depan. Membuatku mulai menyadari sesuatu.
"Maaf, Nek. Kalau boleh tahu, kenapa Nenek bisa tahu saya sedang pulang dan masih di stasiun?" tanyaku penasaran.
"Menurutmu, darimana Nenek bisa tahu?" tanya balik beliau dengan tenang tanpa mengalihkan pandangan dan senyumnya.
Sejenak aku terdiam untuk berpikir. Hingga akhirnya aku menyadari dan berkata dengan lirih, "Bu Yuli?"
"Benar. Yuli memberitahu pada Nenek bahwa kamu akan pulang hari Senin pagi-pagi. Dan juga temanmu yang anggota OSIS itu, hari ini dia ada rapat jam 9 nanti, 'kan? Jadi Nenek langsung ke sini sebelum jam 9 untuk menjemputmu," ucap beliau yang masih tersenyum. Membuatku semakin bertanya-tanya.
__ADS_1
"Darimana Nenek bisa tahu, kalau Hary itu anggota OSIS- ...? Ah, benar juga. Bu Yuli lagi," tanyaku yang sempat berhenti setelah langsung mengetahui jawabannya. Bu Sartika tertawa kecil mendengar ucapanku.
"Lagipula Nenek baru saja mengunjungi makam Kinara hari ini. Setiap seminggu sekali, Nenek selalu datang ke sana."
Mendengar nama Kinara aku kembali terdiam. Wajah suramku muncul kembali. Sesaat aku berpaling ke arah jendela. Tanpa melihatku sepertinya Bu Sartika bisa mengetahui reaksiku.
Eh, tunggu dulu. Aku sama sekali tak mencium bau itu.
"Sekarang, bisa kamu ceritakan lebih detail tentang kejadian itu?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan beliau. Mataku langsung menatapnya. Namun beliau dengan tenang mengatakan, "Nenek akan membantu semampu Nenek."
Sepertinya beliau menyadari pesanku kemarin. Bu Sartika yang langsung menanyakan ke topik utama membuatku sedikit terkejut. Sejenak bibirku merapat. Melihat ke arah depan, pada seorang laki-laki dewasa yang mengemudikan mobil ini. Aku takut jika orang itu mendengar juga.
"Jangan khawatir. Dia adiknya Sinta."
Mendengar ucapan beliau aku memperbaiki posisi dudukku agar lebih nyaman. Jujur saja aku sudah mulai merasa gugup entah kenapa.
"Sesuai dengan yang saya ceritakan kemarin. Saya menyaksikan kematian mereka yang bergantian pada berita di TV. Awalnya saya melihat berita tentang kematian Bu Yuli dan Dewi. Setelah itu saya bertemu dengan Kinara. Dia sedang terjatuh dan bunga-bunga mawar yang ia bawa berhamburan."
"Bunga mawar?"
"Iya. Bunga itu sebagai hadiah untuk Dewi. Saat itu, Kinara terlihat sangat sedih sambil memunguti bunga tersebut. Merasa kasihan, saya membantunya untuk membelikan sebuah bunga. Tapi dia menolak dengan alasan tidak ingin membawakan bunga yang bukan hasil dari kerja kerasnya. Saya mencoba membujuk dan akhirnya dia setuju. Karena waktu itu toko bunga di sekitar sudah tutup, kami mengambil bunga di sekolahku dan merangkai bersama."
"Begitu, ya? Lalu, ada keanehan lain sebelum kamu bertemu dengan Kinara?"
"Oh ya, sebelum bertemu dengannya, saya sempat menemukan sebuah liontin berbentuk mawar putih, yang terjatuh tak jauh dari Kinara berada. Dan anehnya, tiba-tiba waktu seolah terhenti beberapa detik."
Aku melirik. Sejenak beliau seperti memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat begitu serius dan bertanya, "Apa kamu membawa liontin itu?"
"Eh, iya."
Aku langsung mengambil liontin tersebut di dalam tas. Terlihat beliau begitu memperhatikan saat aku menunjukkan liontin itu. Meski aku bermaksud agar Bu Sartika mengambil dan memeriksanya, tapi beliau hanya menatap dengan serius seraya menyentuh liontin tersebut dengan ujung jemari. Cukup lama beliau menepelkan jemarinya. Membuatku semakin terheran. Hingga akhirnya senyum kecil muncul di bibir beliau seraya melepas sentuhan jemarinya.
"Jagalah benda itu, Nak Andy. Mawar putih itu akan menyelamatkanmu suatu saat nanti."
Aku tak begitu mengerti maksud dari ucapan beliau. Yang aku ketahui, mungkin benda ini ada hubungannya dengan masuknya diriku ke dalam semua ini. Aku kembali memasukkan liontin itu ke dalam tas.
"Lalu, sebenarnya apa yang terjadi kepadaku, Nek?"
Beliau hanya memalingkan wajah ke depan dan mengatakan tanpa ekspresi. "Sebenarnya Nenek juga belum tahu pasti soal itu. Tapi yang jelas, kamu sudah dipilih olehnya."
"Dipilih?"
"Benar. Orang yang bisa menjaga keturunan kami, yang memiliki kemampuan itu."
"Maksud Nenek?"
"Memang, kami yang memiliki kemampuan itu bisa menggunakannya dengan leluasa. Tetapi di lain sisi, kami juga tidak bisa menggunakan kemampuan itu, tanpa adanya orang yang dipilih sebagai penjaga."
Aku menatap tajam. "Alasannya?"
"Karena si penjaga, juga digunakan sebagai wadah untuk menampung kemampuan itu."
"... Wadah?" ucapku lirih terkejut.
"Benar. Saat memasuki masa remaja, kemampuan itu akan muncul. Tetapi, jika tak ada orang sebagai wadah, kemampuan itu tidak bisa digunakan. Seperti tersegel dalam tubuh. Harus ada orang lain yang menjadi wadah sekaligus penjaga. Tubuh si penjaga dan si pemilik akan saling terhubung berkat kemampuan itu. Intinya, jika tidak ada orang yang dipilih, si pengguna tidak akan bisa menggunakan kemampuannya."
"Lalu, apa fungsi dari wadah tersebut?"
"Seperti sebuah brankas untuk menyimpan kemampuan itu. Makanya, ketika kamu mengambil liontin Kinara, kamu seperti mengalami sesuatu yang aneh, bukan? Itu adalah pertanda, bahwa Kinara sedang menggunakan kemampuan itu. Karena sebelumnya, tubuh kalian sudah saling terhubung."
Aku masih belum mengerti dengan betul dari penjelasan beliau. Tapi di lain sisi, aku merasa ada yang ganjil dengan yang dikatakannya. Kalau memang seperti itu, lumayan berbahaya berhubungan atau bahkan mendekati keluarga yang dikutuk ini.
Aku mencoba menggali lebih dalam lagi. "Lalu, apa syarat menjadi penjaga? Dan kenapa saya bisa dipilih oleh kemampuan itu?"
"Bukan kemampuan itu yang memilihmu. Tapi Kinara sendiri."
"... Kinara?"
"Benar. Sebelumnya, Nenek akan menjelaskan sesuatu. Untuk menjadi penjaga, hanya si pemilik kemampuan yang bisa menentukan. Misalnya saja, Nenek. Nenek akan memilih orang tersebut secara tidak langsung. Karena dalam hati Nenek, merasa dia bisa menjaga dan membimbing Nenek. Setelah itu, orang yang dipilih selamanya akan terus terikat."
"... Selamanya terikat?" tanyaku lirih seraya menyadari sesuatu.
"Benar. Misalnya seperti suami Nenek. Atau suami dari Sinta. Dengan berarti, Kinara memilihmu seolah sebagai pendamping hidupnya. Tapi berbeda dengan orang sebelum dirimu. Kamu begitu spesial, Nak Andy," ucap beliau tersenyum.
Bibirku terkunci rapat. Wajahku sedikit merona. Entah kenapa hatiku begitu berdebar.
Kenapa ini harus terjadi kepadaku? Kenapa aku harus masuk ke dalam semua ini? Dan juga, padahal Kinara dan aku hanya sebentar bertemu. Kenapa aku langsung dia pilih? Apa karena aku membantunya- ... Tunggu dulu. Aku merasa ada yang janggal.
"Jika saya dipilih saat bertemu dengannya, kenapa dia bisa menggunakan kemampuan itu pada liontin tersebut? Padahal, aku pertama kali bertemu dengannya, sesudah Kinara menggunakan pada liontin itu, 'kan?"
Bu Sartika tersenyum dan mulai menatapku. "Kamu saja yang menganggap baru pertama kali bertemu. Kalau Kinara, dia sudah pernah menemuimu sekitar 5 tahun yang lalu."
"... 5 tahun yang lalu?"
"Benar, 5 tahun yang lalu kamu pernah menolong seorang gadis di sebuah taman, 'kan?"
Aku mulai menggali memoriku. Namun semua masih teramat samar.
"... Lantas, kenapa dia tidak mengingatku juga?"
"Entahlah. Kalau itu Nenek juga tidak tahu. Atau bisa saja dia tidak mengenalmu."
Aku terdiam sejenak. Dengan lembut beliau mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Terkadang, ketika kita berkunjung ke beberapa tempat yang baru, kita seolah tidak merasa asing dengan tempat tersebut. Percaya atau tidak, semasa di kandungan, kita diperlihatkan perjalanan hidup kita, mulai dari lahir sampai mati."
Mendengar ucapan beliau barusan, aku merasa seperti mengingat sesuatu. Tapi entah kenapa memoriku masih saja samar-samar. Tak seperti biasanya. Padahal daya ingatku cukup tinggi. Apalagi hanya sekitar 5 tahun yang lalu. Minimal aku ingat wajahnya meski sedikit. Tapi kali ini kenangan itu benar-benar menghilang.
Aku berusaha keras memeras memori otakku. Seakan kejadian itu seperti terhapus dalam hidupku.
Kenapa aku ... bisa lupa?
Aku memegang kepala seraya memikirkannya. Terasa begitu berat dan sangat mengganggu. Gigiku menggerat seperti menahan sesuatu.
"Ada apa, Nak Andy?" Bu Sartika langsung menepuk pundakku dan menatap heran.
"Ah, tidak, Nek. Cuma sedikit pusing," ucapku.
Setelah menatap beliau, entah kenapa seketika pusingku langsung sirna.
Aku memejamkan mata seraya mengembus napas perlahan. Mencoba menenangkan perasaan tak nyaman. Kemudian membuka mata secara perlahan dan melihat ke arah jendela samping. Hujan mulai turun secara perlahan dan semakin deras.
"Apa itu sebabnya, Nenek begitu terkejut melihatku, waktu kami mengunjungi rumah Nenek? Karena menyadari, anak yang membantu Kinara dulu, kini kembali menemui Nenek dan terjebak dengan semua ini."
Tak ada jawaban atas pertanyaan ini. Sebenarnya aku juga tidak butuh. Meskipun beliau tak menjawab, aku bisa tahu bahwa yang aku ucapkan itu benar.
Di saat kami terdiam, pagar besi rumahku sudah mulai terlihat dekat sekitar 20 meter lagi.
Meski masih tak mendapat jawaban atas teka-teki yang terakhir dari perbincangan ini, aku seperti merasa tak membutuhkannya lagi. Setelah mendapat sebuah kenyataan baru yang lumayan mengejutkan, sepertinya aku harus berhenti dari semua ini. Lagipula semua sudah berlalu. Aku harus lebih fokus dengan yang aku punya saat ini.
Beberapa detik mobil berhenti tepat di depan pagar rumahku. Terlihat dalam carport tak ada mobil, membuatku sedikit murung. Apalagi hujan yang begitu deras ini semakin menambah rasa lesu.
"Ayahmu belum pulang?" tanya beliau yang juga melihat ke sana.
"Iya, Nek. Oh ya, Nenek tidak mampir dulu?"
"Tidak. Nenek harus pulang hari ini."
"Oh. Baiklah kalau begitu, Nek. Terima kasih sudah-... eh?"
Tiba-tiba, deringan suara ponsel di dalam saku celana memotong ucapanku barusan. Namun aku tak langsung mengambilnya karena merasa tidak enak dengan beliau.
"Tidak apa-apa. Angkat saja."
"Eh, maaf, Nek."
Aku mengambil ponselku untuk melihat siapa yang menelpon. Terlihat nama Bu Yuli tertera pada layar ponsel. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangkat.
"Halo?"
"Assalamu'alaikum, Andy?" salam Bu Yuli. Namun dari suaranya terdengar seperti tersendat-sendat oleh tangisan.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Bu?"
"Bisa datang ke rumah sakit sekarang? Dewi tidak sadarkan diri. Kondisinya semakin memburuk," ucap beliau terdengar begitu panik di balik tangisannya.
Seketika tubuhku membeku. Membuat pikiranku yang sudah terang kini seolah kacau kembali.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? Bukannya Dewi sudah membaik dan bisa meninggalkan rumah sakit sebentar lagi? Tapi kenapa firasatku seperti mengatakan bahwa semua ini masih belum berakhir?
※ ※ ※
Aku merasakan napas yang mulai tak teratur. Sesuai dengan pikiran yang kacau balau ini. Bersama dengan Bu Sartika dan anaknya, kami berlari menuju ke bagian rawat inap yang telah kulewati berkali-kali sebelumnya, dan memaksa kaki untuk berlari.
Kami langsung menuju ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Bu Yuli.
Liftnya berhenti di lantai 1. Saat menekan tombol, pintu terbuka dengan bunyi lonceng yang pelan. Aku bersandar lelah pada dinding dan menekan tombol untuk ke lantai 3. Meski percepatannya lambat untuk lift sebuah rumah sakit, lututku seperti hampir patah karena tambahan rasa gemetar. Seperti mati-matian mempertahankan tubuhku untuk tetap berdiri.
Setelah apa yang kurasakan beberapa detik yang panjang, lift berhenti dan pintu terbuka. Aku hampir terjatuh saat keluar dan berdiri ke koridor depan.
Saat jarak yang tersisa semakin mengecil, bermacam perasaan tumbuh dengan cepat dalam hati. Napasku menggebu. Ujung penglihatanku mulai memucat. Meski begitu, aku harus bisa mengendalikan perasaan ini.
Aku kembali berlari. Dengan sepenuh hati, menaruh kaki di depan. Tidak menyadari ada di mana aku sampai, kami tiba di depan sebuah pintu. Aku berhenti tepat sebelum menabraknya. Dengan mereka berdua yang berada tepat di belakangku.
Aku langsung membuka pintu itu tanpa mengetuknya. Seperti biasa, aroma kuat dari bunga di ruangan ini mulai tercium. Namun hal itu malah menambah rasa gelisahku. Dengan apa yang terlihat tepat setelah aku membuka pintu ini.
Sang putri kini tengah tertidur kembali. Dengan alat bantu pernapasan yang sudah terpasang, aku bisa melihat embusan napasnya yang begitu jarang. Tepat di sebelah Dewi, Bu Yuli berlinangan air mata. Memandangi putrinya yang kini tengah terbaring memejamkan mata.
Terlihat dokter sempat memeriksa Dewi. Saat Bu Yuli menyadari kedatanganku dan Nenek, beliau langsung memeluk Bu Sartika yang segera menghampiri dibalut dengan tangisan.
Yang aku lakukan kali ini hanya terdiam sayu menatap Dewi yang tengah berbaring lemah kembali. Sesaat aku menanyakan apa yang tengah terjadi pada Dewi kepada Dokter yang hendak pergi.
"Maaf, Dok. Sebenarnya Dewi kenapa?"
"Sepertinya Dewi mengalami sebuah guncangan pada otak. Itu membuat tubuhnya menjadi semakin lemah. Saat ini, kami belum tahu apa penyebabnya."
Setelah itu aku hanya tertunduk. Melihat reaksiku, beliau menepuk pundakku dengan lembut, mencoba untuk menghibur.
"Jangan khawatir. Kami akan segera menangani ini."
"Iya ..., mohon bantuannya, Dok."
Beliau tersenyum mengangguk. Melangkahkan kaki kembali dan pergi meninggalkan ruangan ini. Perlahan aku berbalik. Melihat Bu Yuli pada dekapan Bu Sartika yang tengah menangis. Serta Dewi yang kembali terlelap tanpa sebab.
Ada apa ini? Bukannya semua sudah berakhir? Semua tentang penerus maupun orang yang masih memiliki kemampuan itu, mereka sudah tak ada lagi. Apa mungkin ini diluar dari ulah kutukan tersebut? Jika tidak, lalu apa?!
Pikiranku berdebat dengan keras. Mencari sesuatu yang begitu samar. Ada sesuatu yang sepertinya telah terlewatkan. Membuat pandanganku semakin buram. Sama seperti yang ada pada isi kepalaku.
Seperti menyadari sesuatu yang mengganjal. Seolah ada satu hal lagi yang tertutup, dan sengaja untuk tidak diperlihatkan. Entah benar atau tidak aku seperti merasa semua ini disembunyikan entah apa alasannya.
__ADS_1
Seraya menyadarinya, mataku tertuju pada Bu Sartika. Menatap beliau begitu tajam dan bergumam dalam hatiku.
"Orang ini ...,sepertinya ...."