
Kinara melanjutkan langkahnya lebih cepat lagi. Seolah sudah terhipnotis olehku dan hanya mereka yang ada di pikirannya. Derap kakinya sempat terganggu dan hampir membuat ia jatuh kembali. Tapi dia masih mampu menyeimbangkan tubuh mungilnya.
Setelah beberapa meter dia berlari meninggalkanku, ada sesuatu yang samar menimpa di dalam ingatannya. Membuat langkah yang cepat kini mulai melambat. Hingga akhirnya dia berhenti dan berdiri termenung untuk mencari ingatan apa itu.
"Siapa dia? Kenapa aku merasa seperti pernah bertemu dengannya?"
Pertanyaan itu begitu menggeluti di kepala Kinara. Terlintas kejadian di mana aku membantu memunguti bunga mawarnya saat pertama kali bertemu. Namun, entah kenapa wajahku yang dia ingat kini mulai memudar dan terkikis dari ingatan. Membuat ia sedikit khawatir dan begitu gelisah tentang hal itu.
Kinara langsung menghadap ke belakang. Matanya tertuju pada tempat di mana aku berdiri menatap sebelumnya. Namun, dia hanya melihat orang berlalu lalang di belakang kali ini. Dia tak menemukanku karena kini sudah menghilang dari tempatku berdiri tadi. Nampak raut wajah Kinara sedikit sedih dan gelisah. Matanya masih belum puas mencariku tapi tetap saja dia tak menemukan. Seolah-olah pertemuan kami tadi hanyalah sebuah imajinasi. Namun dia yakin bahwa dia baru saja bertemu denganku karena bunga mawar yang dia bawa itu.
"Aku bahkan tak sempat menanyakan namanya. Dan juga, aku juga tak sempat mengucapkan terima kasih padanya," ucap Kinara lirih seraya memeluk lembut bunga mawar yang aku berikan tadi.
Dia kembali mengarahkan tubuh ke depan dan melanjutkan kembali untuk berlari menuju taman. Semakin cepat dan semakin cepat langkah kakinya menyusuri jalan trotoar.
Hingga akhirnya dia sampai di Taman Mustika yang tak jauh dari tempat kami bertemu dan masuk ke dalam taman. Mencari sebuah tempat yang khusus ditanami bunga-bunga mawar. Tak perlu banyak waktu nampak orang yang hendak ia temui sudah menunggunya di bangku taman depan hamparan kecil bunga-bunga mawar. Seorang ibu dan seorang gadis seusianya yang tengah duduk di atas kursi roda. Mereka tak segan memasang senyuman untuk menyambut kedatangan Kinara setelah menyadari ia telah tiba.
Sama seperti sebelumnya. Merekapun langsung saling berpelukan. Memberikan mawar mereka masing-masing dengan perasaan bahagia dan haru. Begitu persis dengan waktu itu. Seperti melihat tayangan ulang. Bedanya hanyalah, aku yang tak ada di antara mereka. Dan juga kali ini, ia mampu mengatakann bahwa dia tadi sempat terjatuh. Bunga yang ia buat sebelumnya kini telah rusak. Dan juga bunga yang ia berikan itu hasil pemberian seseorang. Tetapi, melihat jemari Kinara yang terbalut plester luka, Dewi tersenyum dan bisa memaklumi.
Dewi begitu tahu tentang sahabatnya yang sedikit ceroboh dan kikuk tersebut. Tapi di lain sisi dia sudah senang bahwa Kinara sudah berusaha keras untuk merangkai bunga mawar untuknya.
"Tidak apa-apa. Aku sudah tahu kau sudah berusaha keras. Karena jemari yang ada di tanganmu itu tidak akan berbohong," ucap Dewi seraya melirik ke arah jemari Kinara yang terbalut plester luka. Nampak wajah Kinara semakin terkejut dengan apa yang dikatakan Dewi. Ia seperti menyadari suatu hal.
"Ada apa Kinara?" tanya Bu Yuli penasaran setelah melihat reaksi Kinara.
"Ah, eh, tidak. Aku hanya teringat ada seseorang yang mengatakan kalimat yang sama kepadaku," ucap Kinara terbangun dari lamunan oleh Bu Yuli.
"Heh? Kalau diingat lagi memang benar. Aku juga pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Dan juga entah kenapa aku mengatakan itu," ucap Dewi dengan dahi sedikit berkerut mengingat sesuatu. Mendengar apa yang dikatakan Dewi membuat Kinara semakin bingung.
"Siapa orang yang mengatakan kalimat itu? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya?" kata-kata itu yang selalu berada di pikiran Kinara.
Selang beberapa waktu, jam sudah hampir menunjukkan angka empat. Cahaya matahari sudah mulai meredup dan berwarna jingga. Udara mulai sedikit terasa dingin. Anginpun berembus lembut. Membuat mawar di sekeliling menari-nari indah. Seperti memberitahukan kepada mereka bahwa waktu pertemuan mereka hari ini hampir berakhir.
Bu Yuli mengatakan kepada Kinara bahwa mereka harus segera kembali ke rumah sakit. Mendengar hal itu Kinara langsung memeluk erat Dewi. Air matanya mengalir deras. Tanda bahwa dia begitu mengkhawatirkan Dewi karena setelah ini dia harus menjalani operasi.
"Jangan khawatir. Kita pasti akan bertemu kembali di tempat ini. Karena tempat ini adalah tempat istimewa kita," kata Dewi seraya membelai tubuh Kinara yang masih memeluknya.
"Iya, aku akan menunggumu di sini," ucap Kinara seraya melepaskan pelukan. Menempelkan dahinya pada dahi Dewi serta tersenyum menatapnya. Dewipun mengusap air mata Kinara dengan lembut.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa, Kinara," ucap Dewi setelah itu seraya melambaikan tangan. Kinara pun juga melakukan hal yang serupa.
Tubuh Bu Yuli dan Dewi mulai menjauh dari Kinara yang kini berdiri tersenyum dengan tangis haru yang membekas di pipi. Mawar merah yang kubuat kini berganti dengan mawar putih dari pemberian Dewi. Kinara memeluk dengan lembut seraya memandang kepergian Bu Yuli dan Dewi yang kini sudah menghilang di hadapannya.
__ADS_1
Sambil mengusap air mata, Kinara melangkahkan kaki untuk kembali pulang. Di bibirnya masih nampak senyum bahagia. Ia tak henti-hentinya menciumi aroma dari bunga mawar putih yang ia dekap. Aroma harum yang khas dari bunga mawar itu, seperti malambangkan kasih sayang yang Dewi berikan kepadanya.
Jam sudah melewati angka empat. Perasaan Kinara begitu bahagia karena dia sudah berhasil merubahnya. Kecelakaan itu tak menimpa Bu Yuli dan Dewi karena mereka sudah meninggalkan tempat itu sebelum tepat jam 4 sore. Rasa lega terpancar di wajah Kinara.
Ia menyusuri jalan untuk menuju ke luar taman. Langkahnya terhenti di trotoar taman setelah melihat tanda lampu merah untuk menyeberang.
"Pergilah Kinara! Cepatlah pergi dari sana!"
"...!"
Terlintas dia seperti mendengar ada yang memanggilnya. Wajah Kinara sedikit terkejut dan gelisah. Senyum yang terpasang tadi kini berganti. Sepertinya dia mengingat sesuatu. Ia teringat tentang permohonanku. Namun tetap saja dia tidak bisa mengingatku. Hatinya bertanya-tanya 'siapa orang yang mengatakan hal tersebut?'.
Hingga akhirnya Kinara menyadari ia pernah menerima dua buah pesan tadi. Kinara langsung mengambil ponsel yang berada di dalam tas. Menyalakan dan membuka kotak pesan.
Memang benar, terdapat dua buah pesan baru. Di sana tak tercantum namaku. Hanya sebuah nomor baru yang tak dikenal. Dan akhirnya dia menyadari bahwa aku pernah membantunya. Meskipun ia tak ingat membantu apa. Dan juga memberikan alasanku melalui pesan yang ia kirim. Kinara langsung membuka pesan pertama dan membacanya.
Pesan baru diterima
Pengirim: +6281 XXX XXX XXX (nomor disamarkan)
Menolong orang dengan alasan karena kita menyayanginya, itu hal yang wajar. Tapi, tak perlu alasan untuk menolong sesorang meski kau tidak mengenal sekalipun.
Membaca pesan pertamaku, Kinara sedikit termenung. Ia seperti tertimpa ingatan baru lagi dalam pikirannya. Teringat dia merangkai bunga mawar bersama seorang laki-laki, uluran tangan yang ia berikan untuknya, dan juga pernah meraih kedua tangannya dengan lembut. Entah kenapa dia merasakan kebahagian begitu mengingat kembali. Padahal dia tak pernah merasa pernah mengalami kejadian itu sebelumnya.
Hingga tiba-tiba ada sesuatu yang mengejutkan.
"Lisaaa!"
Terdengar teriakan keras dari belakang sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Kinara langsung mencari di mana sumber suara itu. Nampak terlihat sesosok ibu sedang berlari dari dalam taman menuju keluar dengan wajah yang takut dan panik. Pandangannya menatap ke depan dan tak terpengaruh dengan sekelilingnya. Melihat hal itu Kinara mencari tahu apa yang dilihat oleh ibu tersebut hingga membuatnya seperti itu.
Setelah menemukannya, Kinara sangat terkejut. Seorang gadis kecil sedang berlari mengejar bola karet yang memantul dan menggelinding menuju ke jalan raya. Sementara dari kejauhan terdapat sebuah mobil yang berjalan cepat.
Kinara langsung bergegas lari menuju ke arah gadis kecil tersebut. Mawar putih yang terdekap itu kini terlepas. Namun tangan kanannya masih menggenggam ponsel.
Begitu menyadari ada seorang gadis kecil melintas dengan cepat hampir di tengah jalan, mobil itu seperti kehilangan kendali. Mungkin karena terkejut akan kemunculan gadis itu secara tiba-tiba. Dan begitu Kinara berada hampir sekitar selangkah, ia langsung melompat dan mendekap tubuh gadis kecil itu. Berusaha membawa dan mengarahkan ke pinggir jalan.
Namun, karena sedikit terlambat, sudut kiri depan dari mobil tersebut menabrak tubuh Kinara yang mendekap untuk melindungi tubuh gadis kecil itu dari benturan.
Dengan cepat tubuh mereka terpental ke trotoar. Gadis yang ia dekap tadi kini terlepas darinya karena benturan tersebut hingga terperosok di sebuah tanaman-tanaman kecil. Namun tubuh Kinara terpental di bebatuan samping. Kepalanya membentur di salah satu batu yang lumayan besar. Hingga darah segar mengucur deras di kepalanya.
Keheningan muncul sesaat ketika kesadarannya mulai menghilang. Namun, sebuah tangisan dari gadis kecil tersebut sempat membatalkan. Pandangan Kinara begitu kabur. Ia tak bisa merasakan tubuhnya. Namun yang ia rasakan hanyalah kehadiran dan gerakan seseorang. Kinara mengetahui bahwa gadis yang ia selamatkan itu sepertinya tidak kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Ya Allah, anakku!" terdengar suara dari ibu tadi yang begitu lega.
"Hey, cepat panggil ambulans! Gadis ini masih bernapas! Dia masih hidup!"
"Woy, di sana juga ada beberapa orang yang tertabrak!"
Terdengar sayup-sayup kepanikan orang-orang mulai memenuhi di sekitar Kinara yang sedang terbaring. Namun pandangannya masih samar. Tubuhnya lunglai tak berdaya. Matanya masih sedikit terbuka. Namun napasnya kini berpindah di bibir. Dia seperti tak bisa merasakan tubuhnya lagi. Hingga akhirnya, mata Kinara terpejam secara perlahan.
"Mungkin ini yang dimaksud oleh orang itu. Sepertinya aku tidak bisa memenuhi permohonannya. Tapi setidaknya, aku bisa menyelamatkan orang yang aku cintai," ucap Kinara dalam hati seraya dia menyadari bahwa dia sudah tak bisa merasakan tubuhnya kembali.
Namun, di saat matanya hendak terpejam, terlintas sebuah ingatan samar.
"Hadapilah takdirmu yang sebenarnya. Tetap hadapilah meskipun terasa pahit. Aku yakin kau pasti bisa. Kau gadis yang sangat lembut, tapi kau begitu kuat."
Kesadaran Kinara mulai kembali secara perlahan. Matanya sedikit terbuka kembali. Napasnya yang jarang kini mulai muncul dan teratur. Tapi, ia masih belum bisa merasakan tubuhnya.
"Kenapa... Kakak mau menolongku?"
Sebuah pertanyaan di benak Kinara muncul tanpa sadar. Namun, yang ia bayangkan hanyalah sesosok laki-laki yang pergi memunggunginya. Setelah orang itu memberikan mawar merah kepadanya. Dari situ, dia menyadari bahwa ada satu hal yang belum tersampaikan kepadanya.
Perlahan dia mulai merasakan sesuatu pada jemari di tangan kanannya. Sebuah benda keras namun sedikit licin karena darah yang menetes dari kepala. Sesuatu yang terasa hangat. Ia menyadari bahwa bukan sebuah batu yang ia sentuh. Matanya melirik perlahan ke arah apa yang ia sentuh itu.
Terlihat dengan samar sebuah ponsel yang masih ia genggam tadi. Benda itu masih tak berpisah dari telapak tangan itu. Nampak ponsel itu masih memancarkan cahaya, tanda bahwa dia masih menghidupkannya.
Di balik jarinya yang menutupi layar , ia melihat ada pesan baru yang belum dibuka. Teringat sebelumnya dia membaca pesan pertamaku. Mengingat kembali apa yang aku tulis pada pesan pertama. Secara perlahan Kinara merasa begitu bahagia. Jarinya kembali membuka pesan satunya yang belum dia baca.
Hal yang begitu mengejutkannya pun muncul. Hingga ia seperti tertegun dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya merapat perlahan serta air matanya mulai mengalir. Setelah membaca pesan kedua yang kuberikan.
Di balik jarinya yang mulai dipenuhi darah. Terdapat sebuah kalimat singkat yang tertulis dari pesan tersebut namun begitu membuatnya sangat bahagia. Sebuah kalimat yang memberikan alasan utama kenapa aku mau menolong dan menyelamatkannya.
Pesan baru diterima
Pengirim: +6281 XXX XXX XXX
Karena aku mencintaimu.
(Andy)
Bibir Kinara tersenyum bahagia. Air mata yang tak terbendung di kelopak matanya kini jatuh dan mengalir perlahan. Tangannya kini mulai semakin erat menggenggam ponsel tersebut. Perlahan matanya terpejam dengan wajah yang begitu bahagia. Tubuhnya seperti merasakan ketenangan yang begitu menyejukkan. Rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya telah sirna. Hanya rasa bahagia yang ada pada hatinya.
Hingga akhirnya mata Kinara terpejam sempurna dan tubuhnya mulai tak bergerak sama sekali. Dengan bibir yang masih tersenyum bahagia.
__ADS_1
Senja yang penuh dengan kehangatan. Disertai bunga-bunga yang melambai lembut oleh angin kecil. Seperti sudah mengetahui peristiwa hari ini. Peristiwa di mana sang mawar merah dan mawar putih saling gugur bergantian sebelumnya. Namun, yang aku lihat kali ini berbeda. Kedua mawar tersebut telah menemukan kebahagiaan yang sebenarnya.
Saatnya aku untuk pergi. Karena terpaksa... harus mengorbankan diriku juga.