MAWAR PUTIH

MAWAR PUTIH
(BAB - 01 B)


__ADS_3

Kami bergegas cepat menuju ke sana sebelum hari mulai gelap. Menyusuri lorong-lorong kelas dan meninggalkan lingkungan sekolah. Karena jarak tempat yang kami tuju tak begitu jauh, tak butuh waktu lama untuk tiba. Saat hampir sampai di Taman Mustika, kami berhenti sejenak untuk sedikit mencari mereka.


"Rencananya ketemu di mana?"


"Di dalam taman, Kak. Tepatnya bagian tanaman bunga mawar," jawab Kinara.


"Oh, berarti agak ke tengah. Ayo kita ke sana!"


Kami langsung masuk ke taman menuju tempat yang akan dituju. Namun, entah kenapa aku merasakan hal yang aneh saat hendak masuk ke dalam taman. Seperti mengingat sesuatu yang samar. Tubuhku sejenak berhenti melangkah seraya menoleh ke belakang melihat lingkungan luar taman.


Atas reaksiku ini, Kinara menghampiriku. "Ada apa, Kak?"


"Ah, tidak. Tidak apa-apa," jawabku seraya berbalik menghadapnya perlahan. Mungkin hanya perasaanku saja.


Kami langsung menuju tempat yang khusus ditanami bunga mawar. Menyusuri jalan setapak yang tersusun oleh batu-batu kerikil namun tersusun rapi. Biasanya setiap pagi, terutama hari libur, jalan ini sering dilalui oleh orang-orang dewasa tanpa menggunakan alas kaki. Sebagai terapi alami untuk menekan telapak kaki mereka. Terasa seperti terpijat saat kami melintasi jalan tersebut.


Tempat khusus ditanami bunga mawar terletak di bagian tengah taman namun sedikit ke barat. Biasanya tempat ini sering ramai saat pagi hari. Karena bau wangi dari mawar lebih kuat di pagi hari daripada sore hari. Terlebih lagi nuansa pagi yang dikelilingi bunga yang harum sangat cocok untuk memanjakan mata dan tubuh.


Tak lama kami menyusuri jalan, terlihat gadis bergaun putih duduk di atas kursi roda. Pada dekapannya, terlihat buket bunga mawar putih. Dari kejauhan dia terlihat mirip dengan Kinara. Di sampingnya ada wanita dewasa duduk di bangku taman yang sesekali membelai rambut gadis itu. Namun, saat kami sampai sekitar tiga langkah dari mereka, entah kenapa perasaan anehku yang tadi muncul kembali. Tapi aku masih bisa mengendalikannya.


"Dewi! Bibi Yuli!" teriak Kinara memanggil mereka. Begitu mereka melihat kami, Kinara langsung memeluk mereka.


"Maaf aku terlambat. Ada sesuatu tadi yang membuatku lama untuk datang," ucap Kinara seraya memeluk Dewi sejenak.


"Sesuatu?" tanya Dewi. Wajahnya yang penasaran menatap Kinara kini berganti menatapku yang berdiri tak jauh di belakang Kinara. Bu Yuli juga memasang wajah yang sama.


"Kinara, Kakak ini siapa?" tanya Dewi sedikit berbisik kepadanya.


"Heh? Ah, dia... " jawab Kinara semakin pelan seraya sedikit menundukkan wajahnya. Raut wajahnya sedikit memerah. Membuat Dewi semakin bertanya-tanya. Melihat reaksi Kinara aku mencoba menengahi.


"Ah, maaf. Namaku Andy. Kebetulan tadi aku melihat Kinara terjatuh. Kulihat bunga yang dia bawa rusak berantakan. Lalu aku membantunya untuk mencari dan membuat rangkaian bunga mawar merah lagi," ucapku menjelaskan. Nampak wajah Dewi sedikit mengerti seraya melihat Kinara yang memasang wajah mulai menyesal.


"Maaf Dewi. Aku tidak bisa memberikan bunga hasil kerja kerasku sendiri," ucap Kinara dengan nada sayu. Dewi pun tersenyum seraya membelai pipi Kinara dengan lembut.


"Tapi setidaknya dia mau berusaha. Bahkan dia sempat terluka lagi saat merangkai bunga bersamaku tadi," ucapku mengalihkan suasana.


Terlihat Bu Yuli dan Dewi sedikit tertawa mendengarnya. Dugaanku memang benar, Kinara sebenarnya gadis yang kikuk dan mudah ceroboh. Meskipun begitu mereka bisa mengerti. Dewi melirik ke arah jemari Kinara yang terbalut plester luka. Meraihnya dengan lembut dan mengusapnya dengan jarinya.


"Jemari itu sebagai bukti bahwa dia tidak berbohong," ucapku saat kulihat Dewi meraih jemari Kinara.


"Benar. Tapi, kenapa kau masih saja sempat terluka saat merangkai bunga mawar? Padahal kau sendiri yang mengajariku membuat buket bunga mawar," ucap Dewi sedikit menggoda Kinara.

__ADS_1


Mendengar apa yang diucapkan Dewi aku sedikit tertawa. Meskipun sudah kucoba untuk menahannya tapi aku tidak bisa. Terlihat Kinara hanya terdiam dan wajahnya semakin memerah karena malu.


"Sudah-sudah. Yang penting kita bisa bertemu. Itu sudah lebih dari cukup," ucap Bu Yuli mencoba menengahi pembicaraan.


Setelah itu Dewi memberikan bunga mawar putihnya kepada Kinara. Kinara juga melakukan hal yang serupa pada Dewi. Terlihat mereka begitu bahagia mendapatkan hadiah dari orang yang mereka cintai. Tak lama kemudian merekapun saling berpelukan kembali. Sempat air mata menetes pada mata mereka. Akupun mulai terbawa suasana. Ditambah lagi teringat Kinara tadi yang sempat sangat sedih dan putus asa ketika bunga yang dia bawa rusak berantakan karena terjatuh.


"Semangat ya Dewi. Jangan menyerah. Aku selalu mendoakanmu agar kau bisa sembuh," ucap Kinara yang masih memeluk erat Dewi.


"Iya. Aku akan berusaha sekuat tenaga," jawab Dewi yang tersenyum seraya air matanya yang menetes.


"Jangan khawatir. Kita pasti akan bertemu kembali di tempat ini. Karena tempat ini adalah tempat istimewa kita," kata Dewi seraya membelai tubuh Kinara yang masih memeluknya.


"Iya, aku akan menunggumu di sini," ucap Kinara seraya melepaskan pelukannya. Mencium dan menempelkan dahinya pada dahi Dewi serta tersenyum menatap Dewi. Dewipun mengusap air mata Kinara dengan lembut.


"Baiklah kalau begitu. Aku harus kembali ke Rumah Sakit Mustika dulu. Sebentar lagi operasinya akan dimulai," ucap Dewi seraya mengusap air matanya dan tersenyum menatap kami.


"Iya, hati-hati," ucap Kinara yang masih tersendat-sendat karena tangisannya.


Kulangkahkan kakiku sedikit maju ke arah mereka. "Aku juga ikut mendoakan kesembuhanmu. Bunga yang kau genggam itu juga mewakili dukunganku untukmu. Jangan menyerah."


Dewi menatapku tersenyum, "Iya, aku akan berusaha. Terima kasih, Kak."


Dan juga siapa lagi yang bisa mengawasi Kinara dengan keteledorannya kalau bukan kau, Dewi?" ucapku sedikit membawa suasana lucu. Terlihat Dewi tertawa akan apa yang aku ucapkan.


"Iya. Hati-hati," Kinara pun juga melakukan hal yang serupa.


Perlahan tubuh Bu Yuli dan Dewi mulai menjauh dari kami yang kini berdiri tersenyum ditemani dengan tangis haru yang tersisa dari Kinara. Mawar merah yang kami rangkai kini berganti dengan mawar putih dari pemberian Dewi. Kinara memeluknya dengan lembut seraya memandang kepergian Bu Yuli dan Dewi yang kini sudah menghilang di hadapannya. Menciumi aroma wangi dari bunga tersebut. Seolah aroma dari mawar tersebut adalah simbol dari kasih sayang Dewi.


"Kau beruntung mempunyai saudara sekaligus sahabat seperti Dewi. Begitu juga dengan Dewi. Yang juga beruntung memiliki saudara sekaligus sahabat sepertimu," ucapku yang masih menatap ke depan kepergian mereka. Kinara hanya menatapku setelah mendengarnya. Tak lama kemudian wajahnya kembali menatap kedepan.


"Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak sudah mau menolongku," ucap Kinara seraya tersenyum dan menyeka bekas air matanya.


"Sama-sama. Lagipula aku juga ikut merasa bahagia saat ini."


Kinara kembali menatapku dengan wajah sedikit penasaran atas jawaban yang aku tujukan. Bibirnya bergerak dengan perlahan.


"Kenapa... Kakak mau menolongku?"


Pertanyaan membuat pikiranku terhenti sejenak. Seolah-olah tak mengetahui jawabannya.


Benar juga, kalau diingat kembali kenapa aku mau membantunya? Kenapa aku repot-repot harus kembali ke sekolah, memotong bunga mawar di taman kelas, dan membuat rangkaian bunga untuknya?

__ADS_1


Aku mencari alasan yang tak ku ketahui, tentang penyebab aku mau membantu sejauh ini. Namun malah hati kecilku yang justru menjawab dengan senyum puas. Tanpa memalingkan wajahku sedikitpun aku berkata dengan tersenyum.


"Menolong orang dengan alasan karena kita menyayanginya, itu hal yang wajar. Tapi, tak perlu alasan untuk menolong seseorang meski kau tak mengenalnya sekalipun."


Mendengar jawabanku tubuh Kinara membeku sesaat, begitu tertegun menatapku. Mata yang terpaku seolah dia hanya sebuah boneka cantik nan indah yang terdiam. Meski angin senja berembus sempat membuat rambutnya melambai dan mengganggu pandangannya, ia tak begitu menghiraukan. Wajah Kinara tertunduk sesaat dengan senyum yang begitu bahagia. Hatinya seperti terasa sangat lega. Seperti beban yang dialami sudah terlepas.


Selang beberapa saat aku mulai menyadari saat aku melihat cahaya mentari kini sudah mulai meredup. Sesuatu yang sangat aku lupakan hingga membuatku langsung panik kebingungan.


"Astaga! Aku lupa! Aku harus cepat-cepat pulang untuk membuat makan malam! Argh! Ayahku mungkin sudah dirumah," ucapku dengan panik. Melihat reaksiku Kinara tertawa kecil.


"Hahaha. Maaf, Kak. Gara-gara aku Kakak jadi lupa," ucap Kinara yang masih tertawa.


"Ah, tidak. Ini memang salahku karena tidak memperhatikan waktu," jawabku seraya tersenyum masam kepadanya. Dia hanya tersenyum menatapku.


"Ya sudah. Aku pulang dulu, ya. Ayah Kakak mungkin sudah lama menunggu," ucapku yang hendak melangkah pergi.


"Oh ya, aku lupa. Aku boleh minta nomor telepon Kakak?" tanya Kinara seraya mengambil ponsel dari tas kecilnya.


"Nomorku? Boleh," jawabku seraya menunggu. Nampak dia sedikit terkejut melihat ponselnya.


"Ah, maaf, Kak. Ponselku mati kehabisan batrei," ucapnya dengan nada menyesal.


"Ya sudah. Sebut saja nomormu," ucapku dengan tergesa-gesa.


"Eh, iya, Kak."


Di saat Kinara mendektekan nomornya, dia terlihat heran karena aku sama sekali tak mencatat nomornya di ponselku atau lainnya, dan hanya mendengarkan saja. Hal itu semakin membuat wajahnya mulai kesal dengan tindakanku.


"Kenapa Kakak malah tidak mencatatnya? Apa Kakak ingat?!"


"...!"


Duh... imut sekali melihatnya yang sedang cemberut.


Aku langsung menyebutkan nomornya kembali sebanyak dua kali. Dan raut wajah Kinara terlihat terkejut mendengarnya. Memang sebenarnya aku memiliki daya ingat yang tinggi. Sehingga mengingat hal kecil seperti nomor telepon sangat mudah bagiku meskipun aku tak menyimpannya sekalipun.


"Heh? Eh, baiklah kalau begitu," jawab Kinara lirih terheran.


"Ya sudah. Aku pulang dahulu. Nanti aku telepon. Sampai jumpa!" pamitku seraya meninggalkannya dengan melambaikan tanganku.


"Iya, Kak. Sampai jumpa!" ucapnya seraya melambaikan tangannya padaku.

__ADS_1


Dengan senyuman bahagia, seolah ia membalas ucapan terakhirku, seraya kedua tangannya yang masih memeluk lembut mawar putih itu, bibirnya berucap lirih.


"Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak. Terima kasih sudah membantuku menepati janjiku yang terakhir sebelum aku pergi."


__ADS_2