
Angin senja berembus menggoda tubuh kami. Rasa dinginnya begitu menusuk ke dalam sukma yang terasa pilu. Cahaya mentari yang terlihat hangat. Tapi tak begitu terasakan pada tubuhku yang berjalan di samping mereka berdua. Yang hendak meninggalkan tempat pemakaman.
Seorang gadis duduk lemah di atas kursi roda. Serta di belakang, seorang ibu mendorong ringan putri tercinta. Sesekali aku melirik dengan sedikit tertunduk.
Kini, sebulan telah berlalu. Setelah kejadian yang begitu membuat hidupku cukup terguncang. Entah kenapa ingatanku masih saja membekas meski berusaha ingin melupakan setiap menjalani hari-hariku. Tentang kematian Bu Yuli dan Dewi yang telah berganti dengan Kinara. Dan juga tentang waktuku yang seperti kembali beberapa menit.
Namun, sampai saat ini aku masih tidak bisa menceritakan hal aneh tersebut.
Masih kuingat, setelah menemui dan memberitahu tentang kecelakaan yang menimpa Kinara pada beliau. Kami langsung menuju Unit Gawat Darurat di gedung sebelah. Mencari di mana letak Kinara berada.
Setelah memberitahukan kepada mereka bahwa Bu Yuli adalah keluarganya, kami ditunjukkan tempat Kinara berada. Tentu saja, di Ruang Jenazah. Tepatnya lantai dasar yang hanya butuh waktu 5 menit.
Setelah sampai di sana, salah satu petugas menunjukkan kami dengan sosok yang terbaring dengan kain putih menutupi sekujur tubuhnya. Bagian tengah terlihat noda merah besar yang merembes dari dalam sosok tersebut.
Selain itu seperti memberikan batas yang jelas. Hingga kusadari bahwa tubuh itu telah terpisah menjadi dua bagian. Aku teringat banyak darah yang melumuri ban mobil dan aspal di taman tadi. Sepertinya, tubuh Kinara terlindas dan terseret.
Kepalaku langsung terasa pusing tak karuan. Pikiranku mulai kacau kembali.
Perlahan Bu Yuli mencoba mendekati sosok yang terbaring tersebut. Memegang tepi atas kain putih itu dan membukanya dengan gemetar.
Sontak kami terkejut setelah mengetahui wajah dari balik kain putih yang terbuka sekitar 30 centimeter dari atas. Wajah yang sangat familiar bagi kami. Masih berhias bekas air mata di pipinya. Yang kini sudah berwarna putih pucat dan mulai kaku pada tubuhnya.
Langsung saja Bu Yuli menangis sejadi-jadinya. Memeluk tubuh Kinara yang terbujur kaku dan terasa dingin. Suara tangis yang menggema memecah keheningan malam. Menggetarkan hati setiap orang yang melihat. Jeritan hatinya begitu keras dan menyakitkan sehingga air mataku pun juga ikut menetes.
Sebuah kenangan sebulan lalu, yang sangat menyesakkan hatiku hingga saat ini.
"Andy?" Bu Yuli mengagetkan lamunanku kembali.
"Ah, maaf, Bu," balasku sedikit terkejut.
"Kau lagi-lagi melamun. Ada apa?" tanya Bu Yuli penasaran.
"Ah, tidak, Bu. Aku hanya teringat tentang Kinara dulu. Dan juga aku merasa kasihan terhadap Dewi," jawabku yang semakin lirih dan sedikit tertunduk.
Wajah Bu Yuli yang melihatku kini beralih ke depan seraya tersenyum. "Hmm. Maaf, ya, Andy. Ibu menyuruhmu untuk ikut merahasiakan kematian Kinara selama sebulan."
"Tidak apa-apa, Bu. Lagipula demi kesembuhan Dewi," jawabku. Tersenyum menatap sang putri yang tengah tertidur di atas kursi roda.
Setelah kematian Kinara, kami mendapat kabar bahwa operasi yang dijalani Dewi sudah berhasil dan Dewi dinyatakan bisa sembuh dari penyakitnya. Dan demi kesembuhan Dewi, dokter menyarankan agar tidak memberitahukan tentang kematian Kinara padanya. Agar dia bisa lebih fokus menjalani rehabilitasi selama sebulan dan mentalnya tidak terganggu. Kamipun akhirnya menyetujui dan mencoba untuk menutup mulut tentang Kinara.
Hari demi hari aku terus mengunjunginya. Selalu menemani di saat dia mulai bangun pasca operasi. Membawakan mawar merah, bunga kesukaannya. Yang terkadang membuatku teringat akan Kinara dulu. Aku mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari Kinara agar dia tak terlalu sering mengingatnya.
Saat menjalani rehabilitasipun aku juga selalu hadir. Melihat Dewi menggeretakkan gigi, dan air matanya mengalir saat ia berjuang dalam latihannya untuk dapat berjalan. Begitu menyakitkan seakan hatiku ditusuk-tusuk. Membayangkan perasaannya di saat berjuang untuk sembuh demi orang yang ia cintai. Namun orang itu justru telah pergi meninggalkannya lebih jauh lagi.
Sebulan setelah rehabilitasi, kami semua memberitahukan kenyataan yang telah terjadi. Di mana Dewi mulai merasa bahagia telah melewati masa rehabilitasi. Dan juga mulai sering menanyakan tentang Kinara. Kami memberitahukan tentang kematian Kinara. Menceritakan bahwa Kinara sudah meninggal sebulan yang lalu, saat dia menjalani operasi.
Syok, menangis, bahkan menjerit. Itulah yang kami dapatkan darinya setelah mendengar penjelasan kami. Tangisan itu, adalah tangisan dari orang yang sangat menderita. Reaksi yang sama dengan ibunya saat melihat tubuh Kinara yang terbujur kaku. Aku bisa merasakan hati yang hancur dari tangisan itu. Seperti semua yang dia perjuangkan selama ini hanyalah sia-sia. Bahkan kalau aku berada di posisinya, mungkin aku sudah berpikir lebih baik mati saja. Namun, Dewi begitu tegar menghadapi. Meskipun air matanya tak pernah berhenti mengalir karena luka yang terlalu dalam di hatinya.
Setelah itu, kami selalu mengunjungi makam Kinara. Dan setiap berada di sana, kami selalu disuguhi tangisan Dewi setiap detik. Bahkan sampai dia kelelahan dan tertidur bersandar di batu nisan. Membuat hatiku juga semakin sakit. Melihat adegan yang sama setiap mengunjungi makam.
※ ※ ※
Kusandar tubuhku pada dinding samping kiri pintu berwarna hijau pucat yang berada di sudut koridor. Pintu dari ruang kamar perawatan Dewi. Menghela napas keluhku karena suatu hal yang begitu mengesalkan. Kenapa hujan harus turun hari ini? Padahal ramalan cuaca yang kulihat di TV pagi tadi mengatakan hari ini akan cerah.
Aku langsung mengeluarkan ponsel di saku celana untuk melihat jam berapa sekarang.
"Huh... jam tiga," gumamku.
Merasa khawatir, aku mengirim pesan singkat kepada ayah bahwa aku tidak bisa pulang tepat waktu karena hujan. Bersamaan dengan tombol 'kirim' kutekan, terdengar pintu dari sebelah terbuka. Terlihat Bu Yuli hendak keluar dari ruang kamar perawatan Dewi dan menatapku.
"Bagaimana dengan Dewi, Bu?" tanyaku seraya menghampirinya.
"Ah, masih tertidur." Wajahnya berpaling ke kaca di pintu dan kembali menatapku. "Sepertinya dia kelelahan."
"Oh. Begitu, ya?" Aku memasukkan ponsel di dalam tas kecilku.
"Di luar masih hujan deras?" tanya Bu Yuli seraya melihat ke jendela.
"Eh, iya, Bu. Mungkin aku harus menunggu agak lama," jawabku tersenyum masam.
"Hmm, sambil menunggu hujannya reda, mau ikut Ibu ke kantin?" ajak beliau. Mendengar tawarannya aku terdiam sesaat dan menganggukkan wajahku tanda setuju.
Kami berjalan menuju kantin meninggalkan kamar perawatan Dewi. Melangkahkan kaki sekitar 15 meter di koridor kosong dan berhenti di depan sebuah pintu lift. Bu Yuli menekan tombol pada dinding sampingnya. Kami masuk ke dalam setelah pintu terbuka sekitar dua detik kemudian dan beliau kembali menekan tombol angka tiga, pintupun kembali tertutup.
Rumah Sakit Mustika, merupakan rumah sakit besar dan cukup mewah. Terbagi oleh dua gedung yang memiliki kelas yang berbeda. Tapi pelayanan keduanya juga sama-sama bagus. Masing-masing gedung memiliki 12 lantai. Meskipun begitu, tampak luar dari rumah sakit ini memiliki desain yang penuh dengan unsur vertikal. Membuatnya terlihat seperi dua buah gedung yang saling menjulang tinggi.
Sekarang, gedung tempat Dewi dirawat merupakan tempat intensif dan banyak dihuni pasien yang memiliki penyakit cukup serius. Lebih tepatnya berada di Gedung-A lantai 6.
Sekitar sepuluh detik pintu terbuka. Kami melangkahkan kaki pada lantai yang berbeda dari sebelumnya. Terlihat begitu terang dan nyaman karena ruangannya yang sangat luas. Di setiap mata memandang, pada setiap sisi tepi dari lantai ini tertutupi oleh kaca yang lebar. Berhiasi tanaman-tanaman kerdil berwarna hijau pada tepian bawahnya, menambah nuansa segar pada tempat ini. Di tengahnya terdapat void yang luas sampai lantai dua. Sehingga jika melongok ke bawah aku bisa melihat lantai satu dari sini. Terasa seperti di dalam sebuah Grand Mall.
Di lain sisi terdapat kantin dan kedai minuman kecil yang terletak pada setiap tepi, dan berjarak yang cukup renggang. Sehingga tempat yang di sediakan untuk pengunjung begitu luas. Sebuah tempat khusus yang sangat memanjakan untuk bersantai bagi para pengunjung rumah sakit.
Aku mengikuti Bu Yuli dua langkah dari belakangnya. Berjalan menuju salah satu kedai minuman dan menyapa penujual ketika sampai. Sebenarnya pemilik dari kedai yang kami tuju ini merupakan teman dari Bu Yuli. Beliau selalu berkunjung ke sini untuk sekedar mengobrol dan beristirahat setelah pulang kerja atau ketika Dewi sedang tertidur. Terkadang pemilik kedai juga sering mampir ke kamar Dewi untuk menjenguk.
Setelah Bu Yuli memesan teh lemon dan aku memesan kopi hitam, kami menuju ke tempat duduk yang dekat dengan jendela. Dari sini aku bisa melihat hampir seluruh kota. Meskipun terlihat begitu kabur karena tetesan dari jutaan air hujan yang terjatuh. Melihat suasana luar yang terhiasi oleh hujan dari balik jendela. Terkadang mataku sempat mengikuti aliran air mungil yang turun perlahan oleh percikan hujan yang menggumpal di kaca luar tersebut. Ditemani dengan minuman hangat terasa begitu nikmat dan nyaman. Meskipun sebenarnya kebiasaanku yang sering meminum kopi hitam ini cukup tidak baik untuk anak seusiaku.
... ...
"Andy?" panggil Bu Yuli membuyarkan lamunanku.
"Ah, iya, Bu," jawabku sedikit terkejut seraya menatap beliau.
"Hmm. Kau hari ini sering melamun. Apa ada sesuatu?" tanya Bu Yuli setelah beliau meminum teh lemonnya.
"Ah, tidak, Bu. Melihat keadaan Dewi yang seperti itu aku jadi teringat apa yang pernah Kinara ceritakan padaku, Bu," jawabku. Seraya menyilangkan jemariku dan menaruhnya di atas meja. Mataku kini tertuju pada bayangan wajahku yang memantul di kopi hitam, yang tepat berada di depan tanganku.
__ADS_1
Bu Yuli hendak meminum tehnya kembali. Namun sempat terhenti karena mendengar jawabanku. "Cerita?"
"Iya. Waktu itu Kinara menceritakan tentang kedua orang tuanya yang meninggal-, ah, maaf, Bu," jawabku yang langsung aku hentikan setelah aku menyadari sesuatu.
Merasa khawatir dan bersalah aku langsung menatap Bu Yuli. Nampak Bu Yuli sedikit terkejut mendengarnya. Ah, sial! Kenapa aku bisa keceplosan?! Beberapa detik terdiam, beliau menaruh cangkirnya di atas meja dan tersenyum kepadaku.
"Tidak apa-apa. Lalu?" tanya Bu Yuli kembali.
Sepertinya aku sudah membuat beliau teringat masa lalunya. Namun karena terlanjur dan beliau menyuruhku untuk melanjutkan, mau tidak mau aku harus melanjutkan penjelasanku.
"Eh, em. Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Tentang ayah Kinara dan ayah Dewi yang meninggal karena Tragedi Bank Mustika," ucapku seraya kembali menatap ke dalam cangkirku.
"Hmm? Kau tahu juga tentang tragedi itu?"
"Iya, Bu. Kebetulan dulu sewaktu kecil ayahku sering mengajakku di Perpustakaan Kota untuk membaca sesuatu yang ingin dicarinya. Mencari artikel koran lama dan tak sengaja aku membaca berita tentang tragedi itu. Ah, pada saat itu ayahku masih menjadi seorang wartawan surat kabar. Sekarang beliau bekerja di salah satu perusahaan TV swasta dan sering meninggalkanku sendirian di rumah," ucap penjelasanku seraya memasang wajah tersenyum.
"Oh, lalu ibumu?"
Mendengar pertanyaan beliau, aku terdiam sejenak. Senyumku seketika sedikit kupaksakan. "Ibuku sudah meninggal, Bu. Saat beliau melahirkanku."
Bu Yuli membeku, menghela nafas perlahan dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Pandangannya kini beralih menatap ke luar jendela.
"Kau seperti Kinara ternyata."
"Tidak, Bu. Aku masih belum seberapa dengan Kinara," jawabku yang sudah kehilangan senyumanku. Menatap wajahku di air kopi yang sudah mulai berkurang uap panasnya. Mendengar jawabanku Bu Yuli menatapku sesaat dan kembali meminum tehnya.
"Kinara begitu mengalami cobaan yang sangat berat. Tapi dia masih bisa terlihat tegar dan tersenyum. Rasanya setiap Kinara menanyakan tentang orang tuanya, Ibu selalu ingin memeluknya," jawab Bu Yuli, menatap cangkir teh yang ia pegang.
Benar dugaanku dulu. Kinara selalu memasang topeng tebal yang disebut dengan senyuman. Namun aku tahu ada yang lebih membuatnya semakin rapat. Yaitu, dia tak ingin membuat orang di sekitarnya ikut bersedih. Mencoba seakan-akan tak begitu merasakan rasa sakitnya. Dan di lain sisi, semakin dia menutupinya semakin mengetahui bahwa dia tak akan mampu selamanya bertahan dengan topeng itu. Sehingga terpaksa menyerah dengan keadaan yang dialaminya. Menghibur diri dengan cara selalu memperhatikan dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya tanpa memikirkan dirinya sendiri yang semakin rapuh.
"Terkadang Ibu juga teringat tentang Almarhumah Sinta, ibunya Kinara. Yang saat itu sempat menyaksikan suami kami tertembak oleh ******* tersebut. Membayangkannya Ibu selalu menangis," ucap Bu Yuli seraya mengusap matanya yang hendak mengeluarkan air mata.
"Heh?! Melihat langsung?!" tanyaku lirih terkejut mendengarkan apa yang diucap Bu Yuli. Aku seperti mengingat sesuatu.
"Iya. Kebetulan Sinta bekerja di situ," jawab Bu Yuli dengan nada yang mulai berat. Aku semakin heran dengan perkataan beliau.
"Bukannya pegawai di sana-, maaf, tidak ada yang selamat, Bu?!"
Mendengar pertanyaanku beliau sedikit terkejut dan muncul senyum kecil di bibirnya, "Kau bicara apa, Nak Andy? Kalau tak ada yang selamat Kinara tak mungkin lahir. Alhamdulillah waktu itu Sinta selamat, yang kebetulan sedang mengandung Kinara."
Dari apa yang diucapkan Bu Yuli aku menjadi semakin bingung. Jadi ada satu orang yang selamat? Lalu yang aku baca di artikel koran dulu apa? Apa mungkin mereka kurang memberi informasi? Tidak mungkin! Perpustakaan besar tidak akan memuat artikel sebuah berita yang dibilang terkenal yang beritanya kurang akurat. Tapi mendengar apa yang disampaikan oleh Bu Yuli tentu saja benar. Karena tidak mungkin dia berbohong karena hal seperti ini.
Merasa belum puas tentang keherananku aku mencoba untuk mencari hal yang bisa meyakinkanku. "Ngomong-ngomong, Ibu punya fotonya Ibu Sinta?"
"Ah iya, tentu," kata Bu Yuli seraya mengambil ponsel di tasnya. Menyalakannya serta membuka sebuah galeri untuk mencari foto yang ia maksud.
"Ini, orang yang memakai seragam pegawai adalah ibunya Kinara," kata Bu Yuli seraya menunjukkan sebuah foto yang ia maksud padaku.
Terlihat Bu Yuli dan Bu Sinta ada di foto itu. Nampak Bu Sinta memakai seragam pegawai dari sebuah bank swasta. Membuatku menjadi semakin percaya setelah melihat foto tersebut.
Terlihat di sana tak ada bayangan karena terpaan sinar matahari dari tubuh Bu Sinta. Sementara Bu Yuli yang di sebelahnya memiliki bayangan. Entah aku merasakan hal yang aneh ini karena imajinasiku atau memang kenyataan. Tapi aku tak mau mengatakan hal itu pada Bu Yuli.
Aku memundurkan kepalaku sedikit, sebagai tanda puas menyaksikan foto tersebut. Bu Yuli kemudian mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
Namun saat beliau menutup resleting, terdengar ada sesuatu yang jatuh dari dalam tasnya. Melihat hal tersebut aku langsung melongok ke bawah, berencana untuk mengambilkannya.
Tapi saat aku melihatnya, aku sempat termenung. Aku seperti mengenal benda itu sebelumnya. Sebuah liontin yang bermahkota mawar merah. Bu Yuli langsung mengambil liontin itu dan hendak memasukkan ke dalam tasnya kembali. Membuat pandanganku mengikuti liontin itu dari lantai sampai ke genggaman Bu Yuli. Melihat reaksiku yang begitu memperhatikan liontin itu Bu Yuli merasa sedikit heran.
"Ada apa, Andy?" tanya Bu Yuli.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Rasanya aku seperti pernah melihat liontin itu sebelumnya. Tapi entah di mana dan kapan," jawabku seraya memasang ekspresi mengingat-ingat sesuatu.
"Oh, memang kau pernah melihat liontin ini sebelumnya. Ini 'kan milik Dewi. Pemberian dari Kinara sebagai hadiah ulang tahun dulu. Sempat terjatuh saat di pemakaman Kinara tadi," jawab Bu Yuli seraya membuka genggaman tangannya, memperlihatkan liontin itu padaku.
"Bukan-bukan. Memang aku pernah melihat liontin seperti itu. Tapi dengan warna yang berbeda-... ah! Benar juga," ucapku perlahan seraya mengingat kembali benda yang kumaksud.
Liontin itu seperi liontin yang aku temukan di dekat toko elektronik sebulan yang lalu. Sekarang liontin itu aku simpan di rumahku. Meskipun begitu aku masih belum yakin bahwa benda itu merupakan benda yang sama.
"Maaf. Boleh aku bisa meminjamnnya sebentar, Bu? Besok pagi aku akan kembalikan. Karena besok hari minggu, jadi aku bisa datang pagi ke sini," tanyaku meminta ijin.
"Eh, tentu. Tapi untuk apa?" ucap Bu Yuli seraya menyerahkan liontin itu padaku.
"Eh, bukan apa-apa, Bu. Cuma sedikit penasaran saja," ucapku seraya mengambil liontin tersebut dan memeriksanya sejenak.
Saat aku memasukkan liontin itu dalam tas kecil yang aku bawa, aku melihat hujan di luar sudah mulai reda.
Sudah saatnya untuk pulang ke rumah.
※ ※ ※
Kuhempas diriku di atas kasur yang lembut. Sejenak tubuhku sedikit memantul karena tindakanku ini. Menatap langit-langit seraya memeras memoriku. Setelah aku mencari-cari sebuah benda yang hampir sama dengan benda yang kupinjam dari Bu Yuli tadi. Tubuhku masih sedikit lelah setelah kembali dari rumah sakit.
Mengayuh sepedaku dengan cepat agar tak terlalu terlambat aku tiba di rumah. Tentu saja untuk membuat makan malam. Tapi karena rasa penasaranku yang tinggi, aku langsung menuju kamar setelah selesai membuat makan malam untuk mencari benda tersebut.
"Di mana aku menaruhnya?" ucapku lirih sedikit frustasi mencari benda itu.
Aku kembali menelusuri memoriku saat pertama kali aku menemukannya. Seingatku, aku menaruhnya di dalam sebuah kotak kecil yang kutaruh di meja belajarku. Tapi, semakin lama aku mulai melupakan benda tersebut. Mungkin karena kutaruh di tempat yang berbeda saat aku mengatur ulang posisi meja belajarku dua minggu yang lalu.
Aku mulai beranjak dan mengambil tas sekolahku. Siapa tahu aku tak sengaja memasukkan ke dalamnya. Karena memasukkan benda kecil ke dalam tas sekolahku yang aku anggap penting menjadi sebuah kebiasaanku. Dan anehnya, aku selalu lupa. Membuka semua resletingnya dan membalikkan tasku seraya memantulkannya sedikit di atas kasur. Benda-benda yang ada di dalamnya pun tentu saja berjatuhan. Hingga terakhir, sebuah benda berbentuk kotak kecil transparan yang kukenal jatuh di antaranya.
"...!"
Akhirnya, benda yang kucari berhasil aku temukan. Kuambil kotak kecil itu dan terlihat sebuah liontin di dalamnya. Membuka untuk mengambilnya. Tak ketinggalan aku juga mengambil liontin dari Bu Yuli pada tas kecilku. Mencoba membandingkan kedua benda itu saat kedua tanganku masing-masing memegang kedua liontin tersebut.
Terlihat benda itu sangat mirip. Dari ukirannya. Bentuk mahkota yang seperti bunga mawar yang mekar. Hanya warna dari kedua benda tersebut yang berbeda. Liontin yang aku temukan berwarna putih. Sedangkan liontin milik Dewi berwarna merah. Tak butuh waktu yang lama aku sudah bisa menebak liontin yang kutemukan ini milik siapa.
__ADS_1
Liontin milik seorang gadis yang kutemukan sebulan yang lalu, Kinara. Mungkin dia menjatuhkannya saat dia lewat di depan toko elektronik tersebut. Kalau seperti itu lebih baik kuserahkan kepada Bu Yuli saja agar beliau yang menyimpannya. Mungkin benda ini merupakan benda berharga bagi Kinara dan Dewi.
Kutaruh kembali kedua liontin tersebut ke dalam kotak kecil tadi serta ku masukkan kedalam tas kecilku. Menaruhnya di atas meja belajarku dan keluar dari kamarku untuk menuju meja makan. Maklum, dari siang perutku hanya terisi secangkir kopi yang kuminum saat di rumah sakit tadi. Huh, perutku lapar sekali!
...※ ※ ※...
Minggu yang cerah. Meskipun jam masih menunjukkan tepat jam 6 pagi. Sepertinya hari kemarin sudah memeras habis hujan yang tersisa. Setelah mandi, aku mengganti pakaianku dan pergi naik sepeda kesayanganku. Dengan ini, 2 kilometer lebih menuju tujuanku terasa cukup singkat. Beban yang cukup baik untuk tubuhku yang masih dalam tahap pertumbuhan.
Melanjutkan perjalanan 30 menit mengayuh dengan lamban, aku keluar ke jalan utama dan berbelok ke jalan yang masih lengang seraya diterpa angin. Tak lama kemudian, dua bangunan besar muncul di depanku. Rumah Sakit Mustika yang terlihat modern karena desainnya, dan tampak bagai karya seni. Penjaga keamanan di pintu masuk, sekarang sudah menjadi wajah familiar, tak lagi menanyakan alasan kedatanganku. Aku memarkirkan sepedaku di sudut parkiran besar.
Di meja resepsionis lantai pertama, yang memiliki penampilan seperti lobi kelas tinggi, aku diberi tanda masuk pengunjung. Menempelkannya di dadaku dan masuk ke dalam lift menuju lantai 6. Di dalamnya aku bersama seorang ibu dan seorang anak kecil yang sedang ia gendong. Lebih tepatnya berada di belakangku.
"Tidak mau! Aku ingin turun! Ingin turun!" teriak anak kecil itu seraya memberontak dari gendongan ibunya. Namun ia masih sabar menghadapi anaknya.
Tak lama kemudian terlihat si ibu sepertinya sudah tak mampu menahan anaknya yang semakin kuat memberontak. Di saat si ibu menurunkan anaknya perlahan dan hati-hati, pintu lift pun terbuka. Anak kecil itu langsung beranjak keluar dan sempat mendorong kakiku saat aku hendak melangkah keluar. Membuatku sempat tersandung dan kehilangan keseimbangan.
Saat tubuhku terjatuh aku mendengar seperti sebuah benda keluar dari tas kecilku. Aku langsung mencaritahu benda tersebut. Sontak aku langsung terkejut setelah melihat kotak kecil yang berisi dua buah liontin itu terjatuh di antara pintu lift yang hampir menutup. Kubangkitkan tubuhku untuk mencoba meraih kotak tersebut. Tapi sayang, pintu itu sudah menjepit kotak kecilku. Menghancurkan kotak itu serta liontin yang ada di dalamnya.
Melihat hal tersebut aku menekan tombol samping lift berulang-ulang dengan cepat. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan aku langsung mengambil kotak itu dengan perasaan yang sangat panik. Kotakku sudah hancur tak berbentuk. Terlihat liontin milik Dewi hancur. Tapi liontin milik Kinara masih utuh. Wajahku langsung pucat melihatnya.
"Kenapa bisa hancur? Padahal kalau dilihat tadi, pintu itu tidak terlalu keras menekannya."
"Ah, maaf, Dek," ucap Ibu tersebut yang menghampiriku dengan wajah yang sangat menyesal setelah melihat liontin yang kubawa telah hancur.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini juga salahku lupa menutup resleting tasku," ucapku tersenyum kepadanya. Meski hatiku merasa sangat sedih.
"Ibu akan ganti liontinnya, Dek," kata ibu tersebut mencoba untuk bertanggung jawab.
"Tidak, Bu. Tidak usah." Aku menolak bantuannya.
Seraya memasukkan liontin milik Dewi ke dalam saku bajuku. Serta liontin Kinara tersebut ke dalam tas kecilku kembali. Setelah itu aku kembali menuju ke kamar Dewi seraya tersenyum permisi kepada Ibu tersebut. Dalam langkahku aku merasa sangat sedih dan gelisah.
Kakiku begitu berat menyusuri koridor. Aku seperti terbelenggu oleh rantai beban pada pergelangan kakiku. Secara tak sadar aku berbisik keluh. "Meskipun aku menggantikannya, itu tak akan mengembalikan kenangan dari liontin tersebut."
Di saat aku meratapi rasa menyesalku dalam setiap langkah, aku seperti teringat sesuatu saat setelah mengucapkan kalimat tadi. Aku seperti sedikit bernostalgia. Rasanya seperti pernah mendengarnya juga. Tapi kapan dan siapa? Namun, begitu aku berada sekitar 10 meter dari kamar perawatan Dewi dan melihat pintunya, aku mulai mengingatnya.
Benar juga. Seperti waktu itu. Di mana aku menawarkan bantuanku padanya. Namun dia menolaknya karena tak mau mengecewakan Dewi. Lalu, kenapa aku jadi seperti dia? Aku seperti bisa tahu perasaan hatinya dari kejadian barusan.
Saat aku berada tepat di depan pintu tersebut, aku berdiri sejenak di sana. Mengangkat tangan kananku, mencoba untuk mengetuk pintunya. Namun, punggung jari telunjukku malah menempel pada pintu dan aku hanya terdiam kembali di hadapan pintu tersebut. Aku masih belum berani untuk melakukannya. Aku tak tahu bagaimana caraku untuk mengatakannya pada Bu Yuli. Aku merasa sangat bersalah karena tak menjaga liontin milik Dewi dengan baik. Aku sudah membuat mereka kecewa.
Meskipun begitu, aku harus tetap mengatakannya. Aku harus memberanikan diri apapun resikonya. Bahkan jika mereka membenciku pun aku harus menerimanya. Kuayunkan tangan kananku perlahan untuk kembali mencoba mengetuknya. Namun, belum jariku menyentuh, tiba-tiba pintu itu terbuka dan Bu Yuli hendak keluar. Sontak kami terkejut dan saling menatap. Terlihat Bu Yuli memasang wajah yang penuh tanda tanya padaku.
"Eh, Bu... Yuli," ucapku sedikit gemetar padanya.
"Iya?" tanya Bu Yuli yang masih memasang wajah yang sama.
"Sebelumnya saya minta maaf. Baru saja aku menjatuhkan liontin milik Dewi. Liontin itu terjepit pada lift dan hancur," ucapku dengan nada yang ketakutan dan tertunduk.
"Liontin? Liontin apa, ya?" tanya Bu Yuli perlahan. Sempat aku terkejut mendengarnya. Membuatku kembali menatap beliau.
"Heh? Eh, liontin yang aku pinjam kemarin sore, Bu." Dengan wajah mengingat-ingat beliau terdiam sejenak.
Setelah itu... beliau berkata sesuatu yang semakin membuatku terkejut. "Kemarin sore? Eh, maaf. Adek ini sebenarnya siapa, ya?"
"...Heh?!"
Apa maksudnya? Sempat aku terdiam menatap beliau. Mendengar yang ditanyakan Bu Yuli aku semakin terkejut. Beliau seperti tidak mengenalku. Matanya seperti mengisyaratkan padaku bahwa aku seperti terlihat asing baginya dan tak pernah bertemu denganku sebelumnya.
"Andy, Bu!" jawabku yang masih merasa bingung.
"Andy? Maaf, Andy siapa, ya?" ucap Bu Yuli mencoba mengingat-ingat.
"Aku teman Kinara, Bu! Waktu itu aku sempat membantu Kinara. Aku juga ikut mengantarnya ke Taman Mustika. Apa Ibu sudah lupa?!" tanyaku yang mulai sedikit panik. Tapi Bu Yuli hanya terdiam seraya wajahnya masih mencoba menggali ingatannya.
Aku mengeluarkan liontin milik Dewi yang hancur dari saku bajuku. Mencoba untuk menunjukkan padanya, "Ini, Bu! Ini liontin milik Dewi. Ibu mengijinkanku untuk membawanya kemarin."
Melihat liontin itu Bu Yuli mencoba untuk mengambilnya. Namun, begitu dia menyentuh liontin tersebut, beliau langsung terdiam mematung. Matanya terlihat seperti memandang sesuatu hal yang lain meski tatapannya tertuju pada liontin itu. Seperti pikirannya berada di dimensi lain.
Sejenak Bu Yuli sempat tersentak sedikit. Seperti ada yang menghantam pikirannya. Tak lama kemudian tubuh beliau mulai terhuyung-huyung. Matanya mulai sedikit menutup dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Aku langsung memegang lengannya, mencoba untuk menahannya.
"Bu Yuli!" ucapku mencoba menyadarkannya. Terlihat beliau langsung membuka matanya dan memegang kepalanya.
"M-maaf Andy. Kepala Ibu terasa sangat pusing tadi," jawab Bu Yuli yang sedikit memijat keningnya. Aku mencoba membantunya untuk berdiri. Setelah itu beliau kembali menatapku.
"Eh, Andy. Tumben pagi-pagi sudah datang ke sini," ucap Bu Yuli tersenyum.
Aku kembali terkejut mendengar ucapan Bu Yuli. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian barusan. Matanya tadi yang menatapku begitu asing telah menghilang.
"Eh, iya, Bu. Karena aku ingin mengembalikan liontin milik-... hah?!" ucapku terpotong karena menyadari sesuatu.
Saat aku mencoba menunjukkan liontin milik Dewi kepada beliau, aku langsung terkejut melihat benda yang aku sodorkan ini. Mataku terbelalak kebingungan. Bibirku sedikit menganga dan tubuhku langsung membeku sesaat. Melihat liontin milik Dewi yang ada di tanganku kini telah berganti dengan liontin milik Kinara.
"Kenapa, Andy?" tanya Bu Yuli terheran melihatku. Namun aku masih terdiam.
"Ada apa ini...?"
"Ibu! Apa itu Kak Andy? Kenapa tidak disuruh masuk saja?!"
Terdengar Dewi memanggil setelah menyadari kedatanganku.
Setelah mendengar suara Dewi, aku langsung terbebas dari kebekuanku. Aku langsung melihat sekelilingku. Mencari liontin milik Dewi yang mungkin terjatuh tadi saat aku memegang Bu Yuli. Namun tak menemukannya. Aku juga sempat membuka tas kecilku, tempatku menaruh liontin milik Kinara. Di dalamnya sudah kosong.
Melihat hal tersebut aku mulai sedikit gemetar dan merinding. Keringat dingin mulai keluar di peluhku. Merasa liontin milik Kinara seperti berpindah menggantikan liontin milik Dewi di tanganku. Dan juga melenyapkan liontin milik Dewi.
Dengan gemetar bibirku berucap lirih. "Apa... yang barusan terjadi? Rasanya persis seperti... waktu itu...!"
__ADS_1