
Aku menutup buku yang belum selesai dibaca dan melemparnya ke pinggir meja. Melihat ke luar jendela dan melirik ke bawah. Pemandangan dari orang-orang yang berlalu lalang keluar masuk terlihat dengan mudah dari kedai minuman langganan Bu Yuli. Tempatku berada saat ini.
Ujian semester sudah mulai mendekat di depan mata. Ada banyak pelajar yang masih menganggap bahwa di mana waktu belajar, itu kurang lebih diartikan sebagai kegiatan dadakan yang wajib dilakukan. Seperti usahamu selama satu semester ini akan sia-sia jika kau tidak belajar untuk menghadapi ujian nanti. Karena itulah belajar di masa seperti ini begitu krusial. Tapi sejatinya tidak ada cara yang instan untuk mencerna semua pelajaran sekolah dalam waktu yang singkat.
Berbeda dengan yang aku lakukan. Aku tidak seperti mereka dan justru tak sekeras kebanyakan pelajar lain. Hanyalah mengulang dan mempelajari kembali beberapa pelajaran selama satu semester yang belum dipahami. Seperti layaknya memori otak yang selalu diperbaharui dan selalu menekan tombol autofix.
Aku mengerang dan meregangkan diri. Merasa masih akan belajar selama beberapa jam lagi. Tapi kenapa mataku sudah lelah? Padahal baru beberapa jam belajar. Haruskah aku memesan kopi lagi?
Dengan langkah berat, aku menyeret diri untuk memesan kopi kembali. Mengisi kembali kandungan gula dalam diri itu sepenuhnya diperlukan ketika sudah terlampau berlebihan memakai otak.
Aku mengenakan jaket lagi dan membuat tatapan lelah. Di ujung mataku, seseorang yang ditunggu sedang berjalan ke arahku dengan lambaian tangan. Setelah memesan cepat kopi di wadah gelas plastik ke pelayan dan kembali ke tempatku tadi, orang itu duduk di depan.
Seseorang yang kutemui ialah Bu Yuli, dan dia berbicara dalam nada ramah seperti biasanya. "Maaf membuat menunggu."
Hari Minggu ini lumayan membuatku sibuk. Setelah pagi membuat sarapan dan bersih-bersih rumah, aku menuju ke Perpustakaan Kota bersama dengan Hary. Kami belajar bersama di sana seraya membaca beberapa buku yang berhubungan dengan soal dari pelajaran-pelajaran yang akan diujikan nanti. Kebetulan kami diberi salinan kisi-kisinya. Membantu kami lebih efektif dalam belajar.
Tapi setelah kami selesai dan beranjak untuk pulang, Bu Yuli menelponku. Beliau meminta tolong kepadaku untuk menemani Dewi sampai malam nanti karena beliau ada lembur. Kebetulan juga ayah sedang ke luar kota, aku menyetujui.
Seminggu telah berlalu dari kejadian aneh kemarin. Mengenai Bu Yuli yang kehilangan ingatannya sesaat tentang diriku. Dan juga tentang liontin Dewi yang telah hancur dan tiba-tiba menghilang berganti dengan liontin Kinara. Hal yang begitu membuatku merasakan sensasi horor kembali. Mengingatkan tentang kejadian yang menimpa Kinara sebulan yang lalu. Seperti gambaran kecil tentang peristiwa itu. Namun lagi-lagi aku menutup mulut dan tak mau menceritakan hal aneh ini pada Bu Yuli.
"Ah, tidak, Bu," balasku padanya seraya duduk di kursi tadi.
"Maaf, tadi Ibu membantu Dewi untuk belajar. Ibu sempat lupa," ucapnya dengan sedikit menyesal. Namun aku bisa memakluminya.
"Iya, Bu. Tidak apa-apa."
Sesaat Bu Yuli melihat beberapa buku pelajaranku di atas meja. "Sedang belajar?"
"Oh, iya, Bu. Sebentar lagi ujian semester. Dewi juga, Bu?" tanyaku seraya mengambil buku dan memasukkan ke dalam tas sekolahku.
"Iya, hampir 2 bulan lebih Dewi tidak masuk sekolah. Tapi dia masih tetap ingin belajar dan tidak mau ketinggalan pelajaran. Makanya Ibu juga memanggil Guru Privat untuknya. Kadang-kadang teman sekelas yang menjenguk juga ikut belajar bersama," ucap Bu Yuli.
"Ternyata Dewi orang yang giat juga," ucapku kagum.
"Iya, Dewi dan Kinara sebenarnya murid yang pandai di sekolah. Mereka selalu menjadi juara kelas," ucap Bu Yuli melanjutkan seraya tersenyum menatap ke jendela. Akupun juga tersenyum. Meski entah kenapa rasanya seperti sedikit kupaksakan.
"Ya sudah. Ibu berangkat dulu, ya. Mohon bantuannya, Nak Andy," pinta Bu Yuli seraya beranjak hendak pergi.
"Oh, iya, Bu," jawabku yang juga ikut berdiri.
"Sampai jumpa, Nak Andy," ucap Bu Yuli seraya pergi dan melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa, Bu."
Sesaat terdiam menatap kepergian beliau.
Kubawa kopiku dan mengayunkan langkah kaki. Berjalan beberapa meter dan masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai 6. Setelah sampai di sana, aku berjalan menyusuri koridor beberapa saat. Hingga sampai di depan pintu kamar Dewi. Mengetuk pintunya tiga kali namun tak ada balasan darinya. Kuulangi kembali tapi masih tak ada balasan juga.
Merasa penasaran aku mencoba membuka pintu. Memasukkan wajahku ke dalam ruangan untuk melihat ke dalam. Dari sini terlihat Dewi sedang tertidur pulas.
Melangkah ke dalam ruangan, aku disambut oleh aroma bunga menyegarkan. Bunga-bunga segar yang indah nampak menghiasi ruangan. Interior di dalam kamar rumah sakit yang luas ini dilengkapi oleh korden yang telah terbuka, yang dengan perlahan ku masuki.
Cahaya senja mentari sedikit menyinari selimut putih, dan jatuh dengan lembut di wajah Dewi. Rambut hitam panjang indahnya, tergerai seperti air di kasur biru muda sekitar kulit putih pucatnya. Dengan semburat warna cherry muda di bibirnya menambah kecantikan yang terpancar. Begitu mirip dengan gadis itu.
Aku menaruh tas di ujung sofa kecil yang berada dekat dengan jendela, sekitar 3 meter dari kasur Dewi. Kugeser jendela ke samping untuk membukanya sekitar satu jengkal. Wajahku memandang ke luar sesaat untuk mendapatkan terpaan angin tipis yang masuk. Membuka tutup pada gelas kopiku. Suatu bau sedap melayang bercampur uap tipis. Aku menambahkan susu dan gula dari sachet yang disediakan dalam jumlah yang cukup banyak. Mengaduk empat kali dengan sendok plastik kecil.
Dan... kopi manis kesukaanku sudah siap disajikan. Aroma megah susu dan keharuman yang berbau manis dari kopi bercampur satu sama lain. Aku tahu persis ini akan begitu enak.
Saat hendak menyesapnya, terdengar suara bergerak. Seakan dia menangkap embusan bau itu, Dewi mendadak bangun. Hal pertama yang ia lakukan adalah bangkit dari tidurnya secara perlahan dan terpatung. Menatapku tanpa suara selama dua detik penuh. Kemudian, tanpa mengatakan sepatah katapun dia memakan tiga detik penuh untuk membuka selimutnya sedikit.
Sempat kulihat beberapa buku pelajaran dari balik selimut. Kemudian dia menggosokkan mata dengan tangan kanannya. Membuka mata lebar-lebar dan menatap ke arah jam dinding selama lima detik penuh tanpa suara. Dia membutuhkan total sepuluh detik untuk memahami situasinya sekarang ini. Kemudian dia menghirup napas dalam-dalam.
"Hah?! Aku ketiduran!" ucapnya terkejut.
Oh, begitu rupanya. Aku mengerti sekarang. Mungkin tadi dia sedang belajar dan akhirnya tertidur. Bu Yuli kemudian menyelimutinya.
Tak beberapa lama Dewi kembali menatapku. Saat mata kami saling bertemu, wajah Dewi mulai merona dan langsung memalingkannya. Dari sini aku melihat dia sempat menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa ibu membiarkanku tertidur saat Kak Andy datang?!" bisiknya terdengar jelas.
"Eh, maaf, Dewi. Aku membangunkanmu, ya?" tanyaku, seraya menaruh gelas kopi di atas meja dekat sofa.
"Heh? Eh, tidak, Kak. Aku hanya ketiduran saja," ucapnya langsung menatapku kembali.
"Hmm, ya sudah. Kau kembali istirahat saja. Sepertinya kau terlihat lelah," ucapku seraya mengambil tas dan gelas kopi, hendak keluar sebentar. Karena takut membangunkannya lagi sebaiknya aku menunggu di kursi luar. Dewi tak menjawab dan hanya menatapku.
"Kak Andy!" panggilnya lirih.
"Hmm, iya? Ada apa?" tanyaku seraya menghentikan langkah dan menatapnya.
"Bisakah Kakak menemaniku di sini sampai aku tertidur?" pinta Dewi yang terlihat seperti malu-malu dan sedikit menundukkan wajah. Mungkin dia merasa kesepian di sini.
"Hmm, baiklah. Tapi Kakak sambil belajar dulu, ya?" jawabku tersenyum seraya melangkah kembali dan duduk di atas sofa. Menaruh gelas kopi di meja dan mengeluarkan beberapa buku pelajaranku. Setelah itu kembali menatapnya.
"Kakak jangan melihatku saat tertidur, ya," ucapnya dengan tersenyum masam. Seraya kembali merebahkan tubuh dan menarik selimut.
"Kalau begitu mana bisa Kakak tahu kalau kau sudah tertidur?"
"Heh? Eh, benar juga," ucapnya seraya menghadapkan tubuh berlawanan denganku.
Bersamaan dengan ucapan dari Dewi tersebut, kesunyian langsung muncul. Hanya terdengar suara ujung pensilku yang bergesek di atas lembaran kertas. Aku menjawab soal simulasi dari pelajaran matematika. Menuliskan penjelasan panjang lebar ke dalam catatan ketika ada yang salah. Mengulang proses itu berulang kali. Sampai tak terasa sudah setengah jam lebih aku terhanyut dengan soal-soal ini. Pada saat selesai mengerjakan isi soal tersebut, aku menyadari bahwa Dewi sedang menatapku dengan pandangan melamun di matanya.
"Hmm? Ada apa, Dek?" tanyaku.
"Hmm? Oh, tidak, Kak. Aku hanya berpikir kenapa Kinara bisa mudah mempercayai Kakak dulu. Ternyata memang benar, Kakak orang yang baik."
"Hmm. Jangan menilai hanya karena aku suka membantu. Lagipula waktu itu aku merasa kasihan melihat Kinara menangis dan bunga-bunganya berhamburan," jawabku mengelak. Dewi hanya terdiam dan memalingkan sedikit wajahnya.
"Oh, ya. Waktu itu Kinara bilang padaku bahwa dia mau pindah. Memangnya pindah ke mana?" tanyaku.
Mendengar pertanyaanku Dewi menatap kembali. Setelah itu wajahnya berpaling ke arah langit-langit.
"Kinara pindah ke rumah neneknya. Beliau memaksa Kinara untuk pindah. Aku tak tahu kenapa. Ibuku juga tak mampu menolak meskipun beliau juga merasa tak setuju. Dan setelah itu Kinara pergi sebentar ke rumah neneknya. Dia mau untuk pindah setelah operasiku selesai. Tapi neneknya masih bersikeras. Dan akhirnya beliau mengizinkan hanya sampai hari operasiku tiba."
Mendengar penjelasan Dewi sepertinya neneknya Kinara adalah orang yang sangat tegas dan sedikit memiliki masalah dengan keluarga Bu Yuli. Beliau sebegitunya melarang Kinara untuk tetap tinggal bersama Bu Yuli. Dan sepertinya tidak memikirkan perasaan Kinara. Bahwa cucu tercintanya sudah menganggap Bu Yuli seperti ibu dan Dewi seperti saudara kandung.
"Aku pikir itu hanya kekhawatiran seorang nenek saja. Melihat keadaan Kinara yang sudah kehilangan kedua orangtua membuatnya semakin khawatir. Maklum saja, seorang nenek memang seperti itu. Aku dulu juga ditawari oleh nenekku untuk tinggal bersama. Melihat ayahku yang sering meninggalkanku di rumah karena pekerjaan di luar kota. Tapi aku menolak karena sudah merasa nyaman dengan keadaanku."
"Aku juga merasa begitu, Kak. Kata ibu, setelah kehilangan ibunya Kinara, beliau jadi lebih protektif terhadap Kinara," sahut Dewi menyambung.
"Oh, ya. Kau satu sekolah dengan Kinara?"
"Tidak, Kak. Tapi untuk SMA nanti kami berencana mengambil sekolah yang sama."
"Oh, begitu. Rencana mau masuk SMA mana?"
"Dulu aku berencana ikut dengan Kinara saja, melanjutkan sekolah di kota neneknya. Tapi sekarang aku mungkin akan melanjutkan sekolah SMA di dekat-dekat sini saja," jawabnya tersenyum, masih menatap langit-langit.
"Oh, kalau begitu melanjutkan di sekolahku saja, Dek," ucapku. Memberi saran seraya tersenyum kecil padanya. Dewi sejenak terdiam menatapku.
__ADS_1
"Memang untuk masuk di sana lumayan susah. Tapi, dengan nilaimu yang selalu bagus mungkin tak akan ada masalah," ucapku melanjutkan. Namun dia hanya tertegun.
"Em, iya, Kak," jawabnya yang mulai tersenyum.
Di sela perbincangan kami, suara adzan mulai sayup-sayup terdengar dari luar. Kupalingkan wajah menatap ke arah jendela. Seolah-olah suara itu muncul dari langit yang sudah mulai kehilangan cahaya senja. Merapikan semua lembaran soal dan beberapa buku pelajaranku. Menaruhnya dalam satu tumpukan di tengah meja dan meminum habis kopiku yang sudah mendingin. Membawa gelas plastiknya untuk kubuang di tempat sampah luar.
"Kakak ke mushola dulu, ya. Sudah maghrib. Nanti Kakak ke sini lagi," ucapku hendak beranjak keluar.
"Eh, Kak Andy!" Dewi memanggilku segera.
"Hmm? Iya?"
"Terimakasih sudah mau menemaniku," terlihat Dewi begitu senang. Aku hanya terdiam sesaat melihatnya yang begitu ceria.
"Em, iya. Sama-sama. Kakak pergi dulu, ya."
"Iya, Kak."
Aku langsung beranjak keluar menuju mushola. Tak perlu untuk menuju lantai yang berbeda karena di masing-masing lantai sudah disediakan. Hanya perlu berjalan dan berbelok menyusuri koridor sebentar aku sudah menemukannya.
Seraya menyingsingkan lengan jaket dan celana panjangku, aku masuk menuju tempat wudhu. Setelah selesai aku langsung bergabung dengan barisan syaf dari jamaah yang sudah terbentuk.
Setelah beberapa waktu, aku selesai melaksanakan ibadah sholat maghrib. Kembali menuju ke ruang kamar Dewi. Berjalan menyusuri koridor yang tadi kulewati. Begitu sampai di depan pintu kamar, aku langsung membuka dengan lembut. Masuk ke dalam, kulihat Dewi yang sudah tertidur. Aku tersenyum menatapnya dan kembali duduk ke sofa. Mengambil dan memasukkan lembar soal yang telah selesai aku kerjakan tadi ke dalam tas. Menggantinya dengan lembar soal pelajaran lain yang belum aku kerjakan.
"Saatnya mengerjakan soal yang membosankan lagi," bisikku seraya tersenyum masam.
※ ※ ※
Hari ini hujan, dan aku terjebak di dalam Perpustakaan Kota bersama dengan Hary setelah pulang sekolah. Ujian hari ini begitu melelahkan. Menyandarkan punggungku pada kursi dekat jendela, membaca sebuah buku Ilmu Kimia. Sedangkan Hary duduk di depan membaca sebuah buku tebal yang tak aku ketahui apa itu. Dari sampulnya bergambar bunga mawar putih. Tumben sekali.
Sore hari yang tidak produktif sepulang sekolah.
Melihat ke arah jam, aku sadar sudah 30 menit berlalu. Waktu yang kuhabiskan secara tidak sadar lumayan banyak. Meskipun bisa dibilang merasa cukup rileks, tapi itu tidak sepenuhnya benar. Justru karena merasa sedikit bosan dan tertekan makanya aku perlu masuk ke tahap relaksasi.
Kesunyian hanya dipecahkan oleh suara lembaran buku yang dibalik dan tetesan air hujan dari luar. Aku merasa mengantuk sekarang. Berpikir segera pulang setelah hujan berhenti. Dan beberapa menit berikutnya aku memasang earphone yang tersambungkan pada ponsel untuk mengusir pikiran kosong. Mendengarkan lagu favoritku dan tanpa sadar menyenandungkannya. Beberapa menit berlalu aku mendengar sebuah suara memanggil di depan.
"Hey, Andy?" panggil Hary lirih. Aku sedikit memelankan musik dan menengadahkan wajah ke depan. Mengangguk ke atas dan mengangkat alisku.
"Tumben kau tidak pergi ke rumah sakit akhir-akhir ini. Apa kau sedang ada urusan?"
"Iya. Salah satunya yang kita lakukan ini," jawabku kembali membaca buku.
"Hari minggu yang lalu kau juga tetap pergi ke rumah sakit, kan?"
"Itu karena hari minggu. Dan ayah tidak ada di rumah. Aku punya waktu yang banyak. Lagipula Dewi juga sedang fokus belajar untuk ujian semester. Setiap hari ada Guru Privat atau teman-temannya di sana," jawabku seraya melepas earphone-ku.
"Lalu, bagaimana keadaan Dewi sekarang?"
"Dewi sekarang sudah lebih baikan. Perlahan sudah bisa sedikit mengurangi rasa sedihnya. Beberapa hari yang lalu dia sudah mau bercerita tentang Kinara."
"Apa Dewi sudah mulai berhenti pergi ke tempat pemakaman?"
"Sepertinya begitu. Kita sudah cukup lama tidak pergi ke sana. Dia juga sudah mulai melupakan kenyataan tentang Kinara."
Entah sengaja atau tidak, Hary terdiam selama beberapa detik setelah mendengar itu. Untuk beberapa alasan, ia kemudian memperlihatkan senyumnya sambil mengatakan sesuatu.
"Hmm, padahal yang aku bahas tentang Dewi. Tapi entah kenapa aku merasa kau malah membahas orang lain," ucapnya sangat lirih. Aku bahkan hampir tak mendengarnya.
Aku meliriknya. "Heh?"
"Selama ini, yang kau lakukan kepada Dewi hanya karena demi Kinara, bukan?"
Dia mengatakan sesuatu hal tanpa basa-basi. Untuk memulainya, itu adalah kesimpulan yang dibuat dengan singkat sebagai hasil dari satu bulan terakhir ini. Membuatku sempat terganggu untuk membaca bukuku.
"Tidak!" jawabku tegas. Hary mengangkat alisnya setelah mendengar respon tak terduga.
"Itu bukan untuk Kinara? Lalu apakah itu kemauanmu sendiri?" tanya Hary yang seolah tahu tentang diriku secara detail.
Sahabat sejak kecil memang mengerikan. Tak bisa aku tutupi hatiku darinya. Tentu saja, itu adalah niatku dari awal. Tapi entah kenapa aku merasakan ada hal yang lain.
Sebagai hasil dari Hary yang benar-benar jujur tentang hal itu, aku merasa senang. Dengan senyum aku bertanya, "Haruskah aku menjelaskannya untukmu?"
Dia mengangkat bahu. "Tidak juga. Karena mungkin kau sudah menduga bahwa aku sudah mengetahui semuanya."
Aku tersenyum dan membiarkan masalah ini. Kami terdiam dan kembali membaca buku kami masing-masing dengan tenang, untuk sementara. Seperti tidak ada hal yang lain untuk dibicarakan, Hary bergerak beranjak mengembalikan bukunya lebih dulu. Merasa aku tidak perlu menghentikannya, namun aku masih memanggil.
"Hary."
"Hmm?"
Meskipun memanggilnya, aku sedang tidak punya hal untuk dibicarakan. Menyadari hal ini, aku mencoba untuk jujur tentang keadaanku sebenarnya.
"Apa kau pikir... ada beberapa hal yang hanya dapat kau lakukan?"
Itu sebuah pertanyaan yang ambigu. Dia sedikit memiringkan kepalanya, dan tersenyum.
"Aku tidak tahu mengapa kau bertanya tentang itu. Tapi di antara setiap orang yang pernah hidup di masa lalu, masa kini, dan masa depan, aku berpikir bahwa ada satu hal yang bisa kulakukan."
Hary menjawab dengan hati-hati. Aku kehilangan kata-kata setelah mendengar jawabannya yang cepat dan tepat itu.
Hary menghadap ke arahku dan berkata dengan nada yang berwibawa.
"Aku pernah bilang sebelumnya, aku sudah sangat hafal dengan dirimu. Jika kau mengalami masalah serius, kau selalu sebisa mungkin untuk tidak merepotkan orang lain. Bahkan jika kau mendapatkan jalan buntupun kau masih tetap diam. Tapi tenang saja. Aku bisa memakluminya. Aku masih tetap memperdulikanmu."
Aku tidak pernah berpikir akan mendengar Hary mengatakan hal itu. Namun dia mengatakannya dengan tenang. Sementara aku terdiam beribu kata, ia tersenyum melihatku.
"Sekarang aku tahu, alasan mengapa kau ingin mencoba untuk terus di samping Dewi."
"Heh?"
"Karena ada sesuatu hal yang mengganjal tentang Kinara, kan?" tanyanya dengan tenang. Sial, dia itu peramal atau apa?! Membuatku hanya mengangguk saja.
"Tapi kau tahu? Melihatmu seperti itu terus menerus kepada Dewi, suatu saat ia akan merasa curiga dan mencari tahu. Hingga akhirnya dia akan membohongi dirinya."
"Membohongi dirinya?" tanyaku lirih.
"Yah, dalam kondisi yang rapuh ini, hatinya akan mudah luluh. Terutama dengan orang yang memperdulikannya. Mungkin saat ini baginya, kau begitu istimewa. Dan kau tak akan pernah menyadari hal tersebut. Begitu dia menemukan kenyataannya, hatinya akan semakin rapuh dan semakin membohongi dirinya. Hal yang sama sepertimu, dengan memakai topeng orang lain."
Penjelasan dari Hary memang sedikit membingungkan. Tapi tak butuh waktu yang lama aku langsung bisa sedikit memahami maksudnya. Aku mulai teringat tentang sifat Dewi akhir-akhir ini kepadaku. Tak terkecuali hari minggu yang lalu.
Saat ini, aku seperti tak mendengar suara apapun di sini. Kecuali apa yang diucapkan Hary kepadaku. Entah kenapa dia seperti bisa melihat titik butaku. Dan juga, kenapa aku bisa tidak mengetahuinya? Apa mungkin karena keegoisanku ini? Atau karena aku sendiri yang memang tidak bisa melihat?
Aku menatap ke arah jendela. Terlihat tetesan air hujan di luar sudah menghilang. Membuatku semakin merasa gelisah. Hary seperti sudah membuka pikiranku, dan mulai menemukan sesuatu yang tak aku ketahui. Sehingga anganku terlintas wajah seseorang dengan senyum pasrah menutupi kesedihannya.
Melihat reaksiku Hary kembali berkata, "Lebih baik jangan terlalu lama kau diam. Akan ada orang yang semakin merasa tersiksa saat ini. Sama seperti orang yang kau lihat sebelumnya."
Aku kembali menatapnya beberapa detik. Menutup buku dan membangkitkan tubuhku dari kursi. "Aku akan pergi ke rumah sakit dahulu."
※ ※ ※
__ADS_1
Di kesunyian lorong terpantul lembut cahaya matahari senja. Suara langkahku yang tak teratur menggema mengiringi perjalananku yang hendak menuju kamar perawatan Dewi, setelah pulang dari Perpustakaan Kota. Entah kenapa setelah mendengar apa yang dikatakan Hary, hatiku merasa sangat gelisah. Membuatku langsung menuju ke sini.
Tak terasa aku berada tepat di depan pintu kamar Dewi. Menarik napas dan menghembuskan perlahan, mencoba untuk mengetuk pintu. Namun belum sempat mengangkat tangan, aku mendengar percakapan dari suara orang yang tak kukenal. Suara itu ada di dalam kamar Dewi.
"Libur semester kita akan pergi ke pantai."
"Wah, enaknya. Aku juga ingin ke sana."
"Kapan kau bisa diizinkan keluar dari rumah sakit?"
"Sebentar lagi. Jangan khawatir. Aku nanti akan ikut."
Terdengar percakapan mereka dengan jelas dari balik pintu. Sepertinya teman-teman Dewi sedang berkunjung. Aku bisa membayangkan suasana di dalam yang begitu ceria. Kuputar gagang pintu ini dengan lembut dan membukanya sekitar 30 centimeter secara perlahan. Memasukkan separuh wajahku, sehingga salah satu mataku melirik ke dalam ruangan. Benar saja, terlihat beberapa teman-teman Dewi sedang duduk di sampingnya. Wajah mereka begitu ceria mengiringi perbincangan mereka. Aku bisa mengetahui dari balik wajah itu tersimpan rasa rindu yang kuat. Membuat senyumku akhirnya muncul.
"Lalu, bagaimana dengan Kakak yang selalu mengunjungimu? Dia juga tidak datang hari ini?" tanya salah satu temannya yang membuatku sedikit terkejut.
"Ah, tidak. Saat ini ujian semester. Mungkin dia sibuk karena fokus untuk belajar," jawab Dewi dengan senyum masam.
Entah kenapa senyumku hilang seketika saat aku mendengar jawaban Dewi. Bukan... lebih tepatnya melihat matanya. Aku seperti merasakan sesuatu hal lain. Terlihat seperti ia sedang berbohong. Namun di sisi lain aku juga merasakan perasaan sedih dan kekecewaan yang begitu dalam pada dirinya.
"Lagipula keadaanku sudah mulai membaik dan sebentar lagi akan meninggalkan rumah sakit. Sepertinya dia sudah tidak khawatir lagi," ucap Dewi selanjutnya.
"...!"
Aku begitu terkejut mendengar perkataan Dewi yang tak kuduga. Aku seperti merasa sangat sedih dan kecewa juga. Kenapa dia berpikir seperti itu? Atau mungkin memang aku sendiri yang terlihat seperti itu? Dan juga, apa memang dia sudah memandang lebih tentang apa yang aku lakukan padanya? Sepertinya aku sudah mulai mengerti maksud dari yang dikatakan Hary. Tapi jika seperti ini, apa yang harus aku lakukan?
Padahal selama ini aku hanya ... aku hanya ... hanya ... hanya karena apa...?
Kututup pintu itu secara perlahan. Wajahku tertunduk dan terdiam sesaat. Tubuhku berpaling, berjalan menjauh sekitar 15 meter dari kamar itu. Setelahnya, duduk di kursi ruang tunggu luar. Mengenakan kerudung jaketku lebih dalam, hampir menutup separuh wajahku dari atas. Menyilangkan kedua tanganku secara perlahan. Seperti sedang merasakan hawa dingin yang begitu mengusik hati.
Wajahku masih tertunduk dan mengucapkan sesuatu dengan sangat lirih. "Maaf Dewi, aku tidak begitu memperhatikanmu. Selama ini, aku hanya memikirkan tentang Kinara saja."
※ ※ ※
Hampir sejam duduk termenung di sini. Tubuhku mulai tak sanggup menahan hawa yang sangat dingin ini. Kupandang jendela luar dengan melirikkan mata. Tak kusadari ternyata hujan turun kembali. Meski jaket yang aku kenakan ini begitu erat mencoba menghangatkan, tapi rasanya masih sangat kurang.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu yang terbuka. Sepertinya itu dari kamar Dewi. Aku melirik ke arah sana. Terlihat teman-teman Dewi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke arahku. Begitu mereka lewat di depanku, aku hanya terdiam dan tertunduk. Seolah-olah sedang menyembunyikan wajahku. Saat mereka lewat mereka hanya saling berbincang-bincang saja. Sepertinya mereka tidak menyadariku.
Setelah suara mereka tak terdengar dari tempat ini, aku beranjak. Membuka kerudung jaketku dan melangkahkan kaki menuju kamar Dewi. Begitu sampai di depan pintu aku langsung mengetuknya tiga kali.
"Siapa?" tanya Dewi.
"Aku... Kak Andy," jawabku perlahan.
"Oh, masuk saja, Kak."
Kubuka pintu itu dan masuk secara perlahan. Sejenak aku terdiam menatapnya beberapa detik. Setelah tubuhku sepenuhnya masuk ke dalam. Kututup pintu itu kembali serta menyandarkan punggung pada pintu. Wajahku kembali tertunduk. Melihatku seperti ini Dewi terlihat heran.
"Ada apa, Kak? Tumben ke sini. Apa Kakak sudah senggang?" tanyanya dengan wajah yang begitu heran. Aku mengangkat wajah dan menatapnya. Mata kami saling bertemu. Membuat kami sejenak terdiam karena keheningan.
"Heh? A-ada apa, Kak?" tanyanya terbata seraya wajahnya mulai sedikit merona.
Bibirku merapat untuk membulatkan tekad. Mencoba meyakinkan hatiku untuk bertanya. "Sebenarnya... kau melihatku seperti apa?"
"...!"
Keheningan muncul kembali. Dewi hanya terdiam mematung. Terlihat begitu terkejut dengan pertanyaan yang tak terduga dariku. Hingga akhirnya senyum herannya muncul.
"Apa yang Kakak tanyakan itu? Aku tidak menger-"
"Kau tidak sedang berbohong, kan?!" Aku langsung memotong ucapannya. Seketika dia kembali terkejut. Aku menatapnya dengan mantap.
"Kau tidak sedang menganggapku seperti Kinara, kan?!"
"...!"
"Lagipula keadaanku sudah mulai membaik dan sebentar lagi akan meninggalkan rumah sakit. Sepertinya dia sudah tidak khawatir lagi." Aku mengulang kalimat yang dia ucapkan pada teman-temannya tadi. Membuatnya semakin membeku.
Wajahku kembali tertunduk, menjelaskan arti di balik kalimat itu. "Lagipula... aku sudah menggantikan posisi Kinara. Dan begitu kau sepenuhnya sudah sembuh, aku akan pergi. Apa itu arti dari yang kau ucapkan tadi? Entah kenapa itu yang aku rasakan saat melihat matamu tadi pada mereka."
Senyum Dewi perlahan menghilang. Nampak wajahnya mulai muram. Matanya seperti berkaca-kaca. Seolah ingin berteriak 'Bukan seperti itu!'. Tapi, dia seperti tak mampu berkata karena mungkin yang aku sampaikan ini memang benar.
"Jika kau berpikir bahwa aku hanya memikirkan Kinara, aku akui memang benar. Aku memang egois karena tak begitu melihat perasaanmu. Tapi, jika kau berpikir aku hanya sebagai penggantinya dan akan pergi meninggalkanmu setelah selesai, aku sangat kecewa."
Apa yang aku ucapkan ini? Kenapa aku tak mampu mengendalikannya. Aku merasa begitu malu dan menyesal. Hanya keheningan yang kudapatkan darinya. Wajahku terangkat perlahan untuk menatapnya.
"...."
"...!"
Namun setelah itu, aku terkejut melihat Dewi. Dia memasang senyumnya kembali dengan tenang. Tapi dari mata yang mulai berkaca-kaca itu, dia seperti menahan perasaan yang sangat sakit dan bercampur bahagia. Seperti berusaha dengan keras agar air matanya tak terjatuh di hadapanku.
Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela. Menatap suasana luar yang sudah mulai terselimuti sinar mentari senja. Seolah sudah menghapus langit yang sedari tadi sedang dihiasi oleh warna kelabu dari tangis hujan.
Hingga bibirnya bergerak dengan lembut. "Aku sudah tahu, Kak. Aku sudah tahu bahwa Kakak melakukan semua ini tidak sepenuhnya untukku. Dan saat Kakak begitu mengkhawatirkanku, aku sangat senang mendengarnya. Jadi jangan khawatir lagi. Tenang saja, Kak. Aku sudah terbiasa dengan ini."
Mendengar jawabannya yang terakhir entah kenapa hatiku merasakan pedih yang begitu dalam. Wajahku tertunduk. Beberapa detik setelahnya muncul suara lirih di bibirku.
"Aku sudah terbiasa, ya?"
Seperti teringat olehnya yang pernah mengucapkan kalimat itu padaku. Saat dia berusaha menutupi kesedihan dengan senyuman. Merasakan sebuah deja vu pada gadis yang berbeda. Namun kali ini, aku juga sudah terbiasa dengan senyum palsu itu. Secara tak sadar aku mengungkapkan perasaan hatiku yang tak terima dengan semua ini.
"Aku pernah melihat senyum seperti itu dari seseorang. Karena sudah terbiasa mengetahui bahwa senyum yang ia tunjukan itu palsu, jadi aku bisa tahu bahwa kau juga mencoba berbohong seperti orang itu."
"...."
Dewi terdiam seketika. Suasana heningpun muncul. Terlihat dari tempatku berdiri, senyum Dewi seperti membeku. Namun, tak lama kemudian terlihat air kecil yang berkilau karena sinar matahari keluar dari kedua matanya dengan lembut. Secara perlahan Dewi menoleh dan menghadapkan wajahnya padaku, yang masih memasang senyum palsu itu. Hatiku begitu sesak melihatnya. Bahkan napasku berhenti.
"...!"
"Ternyata... aku tidak bisa membohongi Kakak, ya?"
Dia masih tersenyum, meski air matanya semakin deras mengalir.
Hatiku seperti teriris secara perlahan. Tertusuk semakin dalam dengan pisau yang melambangkan air mata Dewi. Tubuhku mulai lemas dan bergetar. Perlahan kakiku melangkah untuk mendekatinya. Mencoba untuk menghibur, meskipun tak tahu apa yang akan aku ucapkan. Lidahku terasa seperti terkunci. Kata-kataku seperti tersangkut di tenggorokan. Bahkan menelan ludah saja tak mampu.
Setelah berada dalam jarak sekitar satu lengan, dia langsung meraih jaketku dan menarik tubuhku padanya secara lembut. Senyumnya berganti cepat dengan wajah yang sendu. Tanpa pikir panjang Dewi langsung menempelkan dahinya di dadaku. Wajahnya tertunduk seraya terdengar tangisan yang begitu memilukan. Suara tersendatnya membuatku ingin menangis juga.
Hingga perlahan tangan kananku menempel di rambut belakangnya dan tangan kiriku menempel di punggungnya, seraya mengusap dengan lembut. Tubuhnya yang terasa begitu dingin dan sangat kurus membuatku semakin tak mampu menahan air mataku.
"Kinara...! Kinara...!"

Tangisan Dewi yang memilukan muncul seraya memanggil nama gadis itu. Suaranya begitu menggema. Membuat hatiku semakin tercabik-cabik oleh suasana ini.
"Kali ini, aku akan menghentikan kepedihan dan memecahkan misteri yang menghantuiku selama ini."
▼
__ADS_1
▼
▼