MAWAR PUTIH

MAWAR PUTIH
(BAB - 05)


__ADS_3

Lagi. Saat ini aku berada di Perpustakaan Kota setelah pulang sekolah bersama dengan orang ini, Hary. Bukan karena untuk belajar ataupun membaca beberapa buku. Lagi pula, ini adalah hari terakhir kami menjalani ujian semester satu. Namun kami kemari untuk mencari artikel surat kabar lama, mencari sebuah berita tentang tragedi yang begitu terkenal sekitar 15 tahun yang lalu. Yaitu Tragedi Bank Mustika. Menggali lebih dalam tentang tragedi itu.


Setelah beberapa hari yang lalu mengunjungi Dewi. Menanyakan sesuatu dan memperlihatkan kembali tangisannya padaku, kami lebih sering terdiam. Meskipun terkadang Dewi masih memberikan senyum, dan lebih jujur lagi dengan perasaannya. Tapi masih saja aku merasa tidak tega.


Untuk membuka semua fenomena aneh yang teralami akhir-akhir ini, aku mencoba untuk menyelidiki. Awalnya memang hanya menganggap tentang takdir Kinara yang tertukar itu hanyalah fenomena langka yang bisa aku lihat. Namun, setelah mendapatkan keanehan lain muncullah rasa curiga. Mungkin ada suatu misteri di balik semua ini.


Aku meminta bantuan kepada Hary untuk menyelidiki kasus tragedi itu. Tapi aku masih belum bisa memberitahukan tentang fenomena aneh yang aku alami ini. Kecuali tentang ingatanku soal korban selamat dari Tragedi Bank Mustika yang berbeda dengan Bu Yuli. Meski Hary merasa aku masih menyembunyikan sesuatu, dia dengan senang hati mau membantu.


Begitu kami sampai dan masuk ke dalam, kami langsung menuju ke tempat resepsionis. Melihat sekeliling tempat ini yang cukup sepi dari hari-hari sebelumnya.


"Permisi, Bu," salamku pada salah satu Ibu Resepsionis tersebut.


"Iya, Dek. Ada yang bisa Ibu bantu?"


"Maaf, kami ingin mencari sebuah artikel surat kabar."


"Artikel tentang apa?"


"Eh, artikel dari 15 tahun yang lalu. Sekitar bulan Agustus," jawabku. Terlihat beliau langsung memeriksa dan mencari artikel yang aku maksud melalui daftar yang tercatat di dalam sebuah komputer.


"Apa ada kata kuncinya?"


Sesaat aku terdiam mengingat-ingat sesuatu. Hary mulai melirikku karena tak langsung menjawab pertanyaan beliau.


"Tentang Serangan ******* ... atau Polisi Selamat," jawabku perlahan. Hary sedikit heran. Beliau langsung mencari.


"Ada 12 artikel, Dek. Ada kata kunci lain?"


"Maaf, boleh saya melihat judul-judulnya, Bu?"


"Iya, silahkan," ucap beliau seraya sedikit memutar layar komputer agar bisa melihat. Aku mulai memeriksa. Menekan tombol crusor bawah pada keyboard untuk mencari berita yang aku maksud. Hingga akhirnya aku menemukan berita tersebut.


"Maaf, yang ini, Bu," ujarku menunjukkan kepada beliau.


"Baiklah, tunggu sebentar. Ibu akan mengambilnya," sahut beliau hendak meninggalkan tempat resepsionis.


"Iya, Bu. Terima kasih banyak," jawabku seraya memandang beliau yang semakin menjauh. Hary melirik kembali.


"Hey, kenapa kau mencari tentang polisi yang selamat juga?" tanya Hary.


"Hanya memastikan saja," jawabku yang masih menatap ke depan.


Dahinya berkerut. "Memastikan?"


"Iya. Kemarin malam aku mencoba menemui Bu Yuli. Menanyakan sesuatu kepada beliau tentang tragedi itu lebih detail. Menurut ceritanya, pada kejadian itu ayah Kinara tidak tewas di tempat. Beliau melindungi Bu Sinta yang bekerja di situ dan terkena ledakan bom. Setelah penyerangan berakhir, beliau langsung dilarikan ke rumah sakit. Dan sebelum meninggal ayah Kinara sempat mengatakan sesuatu kepada ibu Kinara," jelasku.


"Mengatakan sesuatu?" tanya Hary mulai penasaran.


"...'Aku mohon ini yang terakhir kau menggunakannya. Aku tidak ingin anak kita juga ikut melakukannya'... " aku melirik dia, "...begitu katanya."


"Menggunakan? Menggunakan apa?" tanyanya lirih dengan wajah semakin bingung.


"Entahlah," jawabku seraya menghela napas.


Aku juga tidak begitu mengerti apa maksudnya. Tapi di balik pesan itu seperti tersimpan misteri yang berhubungan dengan semua ini. Ditambah lagi aku ingat betul dengan koran yang aku baca dulu, yang memuat tentang tragedi tersebut. Di sana menceritakan seluruh karyawan dan dua anggota polisi tewas karena terkena ledakan dan bangunan yang runtuh. Tapi di sana tidak menceritakan tentang korban selamat. Atau tentang polisi yang sempat selamat dari ledakan. Aku berharap daya ingatku ini yang keliru.


Tak beberapa lama beliau kembali. Sebuah buku yang besar dan tebal terpegang oleh kedua tangannya. Terlihat cukup merasa berat membawanya. Begitu sampai, beliau langsung menaruh di atas meja resepsionis dekat dengan kami.


Besar! Itu kesan pertamaku kepada buku tersebut. Sebuah buku yang terlihat tua namun masih terawat. Buku yang memiliki ketebalan sekitar 10 centimeter itu cukup membuatku tertegun.


"Semua makalah-makalahnya berada dalam satu file ini. Adek bisa mencari yang Adek maksud tadi di sini," ucap beliau.


"Oh, iya. Terima kasih banyak, Bu," jawabku seraya mengambil buku tersebut. Beliau mengangguk dan tersenyum. Sesuai dugaanku. Ugh! Berat!


Kami langsung menuju ke tempat meja baca terdekat. Menaruh buku tersebut dan membukanya. Aroma khas dari koran yang kuat langsung tercium. Sempat aku mengembuskan napas dengan cepat karena merasa terganggu dengan baunya.


Aku membalik setiap lembar. Membaca judulnya dan mencari berita tersebut yang tersusun berurutan sesuai tanggal. Lumayan banyak juga berita-berita yang termuat di sini. Hingga aku terhenti setelah menemukan berita yang kumaksud.


Koran dari Senin tanggal 13 Agustus 2001. Di mana memuat tentang tragedi tersebut. Sesaat aku membalikkan lembaran kembali. Mencari apakah ada berita lain di hamalan berikutnya, yang memuat tentang tragedi tersebut.


"Heh, tidak ada ternyata. Berita yang aku baca sekitar 5 tahun yang lalu. Apa mungkin aku salah membacanya?" Aku kembali membalikkan lembaran itu pada berita yang aku temukan tadi.


"Serangan ******* Bank Mustika," ucap Hary lirih membaca judulnya.


Senin, tanggal 13 Agustus 2001, sebuah serangan mengerikan dari sekelompok ******* terjadi di salah satu bank swasta di jalan Mustika. Terosis sempat melakukan penyandraan, sebelum meledakkan tempat tersebut. Satu karyawan bank, --Sinta 24 tahun-- selamat. Dan seluruh karyawan lainnya tewas di tempat karena terkena ledakan besar dan tertimbun oleh reruntuhan bangunan. Serta satu polisi tewas, satu kritis, dan dua belas lainnya luka ringan. Dari berita itu ternyata apa yang diceritakan oleh Bu Yuli memang benar.


"Hey, Andy. Apa kau tidak salah mengingat? Di sini tertulis jelas bahwa ada satu korban selamat. Meski ayah Kinara sempat selamat, tapi beliau meninggal saat dilarikan ke rumah sakit," kata Hary yang selesai membaca buku tersebut.


"Yah, sepertinya memang begitu," ucapku yang semakin lirih.


"Tapi tak biasanya kau salah mengingat. Padahal daya ingatmu begitu tinggi," ucap Hary.


"Aku bukan mesin!" sahutku kesal.


"Lalu, apa ada keanehan lain?" Hary menyilangkan kedua tangan. Menatap dengan mantap seolah ingin mengintrogasiku.


"Tentang reaksi Kinara yang berbeda dengan Bu Yuli. Dulu, saat aku mengatakan tidak ada karyawan yang selamat dari kejadian tersebut kepada Bu Yuli, beliau langsung membantahku. Tapi Kinara berbeda. Dia tak membantahku sama sekali. Padahal ibunya selamat dari kejadian itu."

__ADS_1


"Mungkin Kinara tidak tahu kalau ibunya pernah bekerja di situ," ucap Hary.


"Tidak mungkin. Kinara tidak mungkin tidak mengetahuinya. Kedua orang tua mereka terlibat dalam kejadian tersebut. Meskipun tidak ada yang memberitahukan, dia pasti akan mencari tahu sendiri. Setelah mengetahui tragedi itu, secara otomatis dia juga tahu tentang apa yang terjadi dengan orang tuanya waktu itu," bantahku.


Jemari tangan kanan Hary sedikit menyangga dagu. "Benar juga. Kalau itu aku, pasti juga ingin mengetahuinya."


"Dan juga, yang menurutku paling mengganjal adalah pesan dari ayah Kinara. Apa maksudnya dengan menggunakan? Apa ada sesuatu yang sempat digunakan oleh istrinya pada kejadian itu?"


"...."


"Dan juga kalimat selanjutnya, 'Aku tidak ingin anak kita juga ikut melakukannya'. Apa itu berarti Kinara juga melakukan hal yang sama seperti ibunya?" ucapku memeras otak.


"Hmm? Memangnya Kinara pernah menggunakan sesuatu?" Hary langsung menatapku.


"Kalau tahu, tidak mungkin aku berpikir sekeras ini!" sahutku kesal mendengar pertanyaan Hary yang menurutku sangat konyol.


"Bukan begitu. Maksudku apa Bu Yuli atau Dewi pernah mengatakan hal-hal juga benda yang pernah atau sering digunakan Kinara?" tanyanya memperjelas.


"Tidak. Mereka tidak mengatakan sesuatu tentang itu. Sepertinya mereka juga tidak tahu. Dan juga saat kutanya pada Bu Yuli apa maksud dari pesan tersebut, beliau juga tidak tahu. Tapi, dia bilang bahwa Bu Sinta langsung menangis seraya meminta maaf pada suaminya setelah itu."


"Hmm. Lalu apa, ya? Aku jadi semakin bingung," ucap Hary terlihat mulai menyerah.


Aku berpikir dengan serius. Mencoba mencerna hal-hal tentang fenomena aneh yang aku alami akhir-akhir ini. Mungkin ada yang saling berhubungan.


Pertama, tentang kematian Kinara yang ganjil. Yang kulihat pertama adalah kematian Bu Yuli dan Dewi. Namun, entah kenapa aku tidak menyadari dan mengenali ciri-ciri mereka saat pertama kali bertemu dengan mereka di taman.


Selain itu, waktuku seperti mundur sekitar 30 menit. Saat hendak masuk ke dalam Taman Mustika, aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Mungkin karena merasa mengingat kecelakaan di Taman Mustika pada toko elektronik sebelum bertemu Kinara.


Seharusnya tempat itu ada tanda-tanda tentang kecelakaan tersebut. Seperti orang-orang yang melihat ke TKP pasca kecelakaan. Dan juga bekas adanya kecelakaan. Namun, ingatanku seperti terkunci pada saat itu.


Setelah ditelaah lagi, terasa waktuku mundur sebelum bertemu dengan Kinara. Lebih tepatnya aku tidak tahu. Apakah waktu yang mundur itu ulah dari Kinara? Kalau memang benar, kemungkinan bisa menjawab arti menggunakan dari ayah Kinara.


Kedua, tentang liontin milik Dewi yang hancur telah lenyap digantikan dengan liontin milik Kinara yang aku temukan dulu. Terasa seperti kejadian di taman itu. Yaitu seperti menukar posisi. Bedanya hanyalah, tak ada pemunduran waktu. Tapi hanya kehilangan ingatan sementara pada Bu Yuli tentang diriku. Hampir mirip dengan aku yang sempat tidak mengingat kecelakaan yang menimpa Bu Yuli dan Dewi watku itu.


Jika yang dimaksud menggunakan itu adalah sebuah benda, mungkin benda itu adalah liontin tersebut. Tapi anehnya, saat waktuku mundur sebelum bertemu Kinara, liontin itu ada pada diriku. Ah... tunggu dulu. Apa mungkin waktu mundur saat aku menemukan liontin Kinara? Tapi kalau memang iya, seharusnya liontin itu masih dikenakan Kinara. Buktinya saat liontin itu tidak ia pakai, waktu masih bisa mundur.


Memang pesannya ada kata menggunakan. Tapi apakah benar yang ia maksud tentang benda? Jika memang tentang benda, pasti Bu Yuli juga tahu. Apakah sesuatu hal lain? Misalnya saja tentang kekuatan atau kemampuan-... ah, tidak. Aku terlalu berlebihan. Tapi, jika berpikir irasional, itu mungkin bisa saja terjadi.


Jika itu memang sebuah kemampuan, lalu kemampuan apa?! Apakah kemampuan untuk memundurkan waktu?


Itu mungkin bisa saja. Tapi ada sesuatu yang lain dari hal itu. Merasa tidak hanya sekedar memutar waktu. Buktinya tentang liontin itu, waktu tidak mengalami kemunduran. Hanya kehilangan ingatan sementara tentang suatu hal. Rasanya seperti ada sesuatu yang menutupi kenyataan itu.


Tapi apa kalau bukan memundurkan waktu?! Tak ada jawaban lain yang masuk akal selain itu. Membuatku tambah bingung jika semakin memikirkannya.


Seraya berpikir dengan keras, mataku sesekali berkelana menyisir sekitar. Seolah mencari dan meminta jawaban dari sekeliling. Membuatku semakin menyerah untuk mencari jawabannya.


Hingga akhirnya salah satu dari gadis kecil itu terjatuh dan es krimnya berceceran. Tentu saja gadis itu langsung menangis, terlebih lagi tentang es krimnya yang sudah kotor. Melihat ia menangis, gadis kecil yang satunya memberikan es krim miliknya kepada temannya.


Hal itu sempat membuatku tertegun. Bibirku tersenyum melihat mereka yang kembali ceria. Namun, lambat laun senyumku mulai memudar dengan perlahan. Pikiranku yang kacau mulai merasa terang. Seperti menemukan jawaban atas apa yang aku pikirkan tadi.


"Benar juga!" ucapku lega.


"...?" Terlihat Hary sedikit terkejut melihatku.


Mengenai kematian Kinara dan liontin milik Dewi aku sudah menemukan jawabannya. Sekarang tinggal memastikan satu hal saja. Aku langsung mengambil ponsel. Menekan tombol 'kontak' dan mencari nama yang hendak aku tuju, Bu Yuli.


Aku langsung menelponnya. Dari beliau, aku meminta dan mengirimkan dua buah foto, yaitu foto Kinara dan Bu Sinta. Serta alamat rumah neneknya. Untuk lebih menambah kebenaran dugaanku ini.


Seraya menutup telpon, Hary menatap dengan mata yang penuh tanda tanya. Tak lama kemudian ponselku bergetar tanda pesan masuk. Aku langsung membukanya. Terlihat dua buah foto dan sebuah alamat yang tertulis. Tanpa pikir panjang aku langsung memeriksa kedua foto tersebut. Melihat dengan teliti dan membandingkannya.


"Ternyata memang benar," ucapku lirih.


"Apanya yang benar?" tanya Hary yang semakin bingung.


Aku tak menjawab pertanyaannya dan langsung berdiri. Menutup buku yang aku pinjam tadi dan hendak aku kembalikan. Di saat berdiri, aku menatap Hary seraya mengucapkan sesuatu yang membuatnya semakin penasaran.


"Akan aku ceritakan sesuatu yang sangat menarik."


※ ※ ※



Langkah kami yang tak teratur menyusuri trotoar pinggir jalan. Tujuan kami selanjutnya adalah pulang ke rumah masing-masing. Suara kendaraan yang berlalu lalang sempat memancing mata untuk melirik. Kecuali Hary, yang sesekali menatapku serius dari samping. Seakan menagih janjiku tadi untuk menceritakannya.


Aku langsung melirik seraya bertanya, "Apa?"


Hary memalingkan wajah ke depan. "Lalu, apa yang akan kau ceritakan?"


"...Sebelumnya, aku tanya padamu. Apa kau benar-benar percaya akan semua yang aku ucapkan ini?"


Ia menatapku kembali. "Hmm? Baiklah," jawab Hary mengangguk.


Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan, memulai penjelasanku. "Sebenarnya... yang seharusnya meninggal pada kecelakaan di Taman Mustika waktu itu... adalah Bu Yuli dan Dewi."


"Hah?! Maksudmu?!" tanyanya dengan wajah bingung.


"Sebelumnya aku melihat berita yang menyiarkan kecelakaan itu sekitar jam setengah lima sore. Tapi, korbannya adalah Bu Yuli dan Dewi. Dan setelah pulang ke rumah, aku juga menyaksikan berita tadi. Tapi, korbannya bukan mereka. Melainkan Kinara. Ditambah lagi, waktu yang terlihat di jam masih menunjukkan setengah lima sore. Kau tahu apa maksudnya?"

__ADS_1


Wajah Hary terlihat begitu memikirkan dengan keras. Dengan meliriknya aku menjawab dengan nada datar. "Pemunduran waktu."


"Heh?! Pemunduran waktu?!"


"Benar. Lebih tepatnya sebelum bertemu dengan Kinara."


"T-tunggu dulu! Hal seperti itu mana mungkin ada?!"


"Makanya aku tadi tanya kepadamu apa kau benar-benar akan mempercayaiku!"


Hary terdiam sesaat. "E-eh, baiklah. Lanjutkan."


"Setelah melihat berita di toko elektronik, aku bertemu dengannya. Begitu aku mengantarkan ke taman, aku melihat Bu Yuli dan Dewi. Ditambah lagi di taman tidak ada tanda-tanda telah terjadinya sebuah kecelakaan. Aku sempat kehilangan ingatan tentang kecelakaan itu saat bersama Kinara. Dari situ aku mulai menyimpulkan bahwa yang melakukan pemunduran waktu adalah Kinara."


Hary begitu serius menyimak. "Kenapa kau langsung mengambil kesimpulan itu?"


"Karena dulu aku sempat mengalami hal yang aneh juga. Waktu itu aku meminjam liontin milik Dewi. Untuk membandingkan liontin yang ku temukan dulu saat bertemu dengan Kinara. Namun, aku malah merusaknya. Dan saat hendak mengembalikan, Bu Yuli sempat kehilangan ingatan tentangku. Ditambah lagi liontin milik Dewi lenyap berganti dengan liontin milik Kinara. Dari situ aku seperti merasa sama dengan kejadian yang menimpa Kinara."


"...Apa waktumu sempat mundur lagi?"


"Tidak. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi berkat itu, aku menjadi tahu kenyataan sebenarnya. Tentang kemampuan hebat yang tak terlihat dari Kinara. Yang lebih dari hanya sekedar memundurkan waktu," ucapku memandang ke depan dengan tajam.


"Kemampuan hebat?" tanya Hary lirih.


"Benar. Yaitu, menukar dan memberikan takdir."


"Menukar dan memberikan takdir? Tapi, saat liontin itu, kenapa kemampuan itu bisa muncul meski tanpa Kinara?"


"Ini hanya dugaan saja. Mungkin karena benda yang berhubungan dengan kemampuan Kinara akan berpengaruh dan memicunya."


"...?!"


"Misalnya, jika aku punya kemampuan itu. Aku mempunyai dua buah pensil. Satu akan kuberikan padamu. Lalu, pensil yang akan kuberikan padamu malah patah. Dengan kemampuan itu, aku memundurkan waktu sebelum pensil itu patah. Mencegahnya untuk tidak patah kembali. Setelah pensil itu kuberikan dan suatu hari nanti patah lagi saat aku tidak ada, maka pensilku yang satunya otomatis akan menggantikan tanpa perlu memundurkan waktu," jelasku padanya.


Aku akui penjelasan dari gambaranku tadi mungkin saja keliru. Tapi garis besarnya aku yakin seperti itu.


"Berarti... tentang kematian Dewi dan Bu Yuli...?" tanya Hary semakin lirih.


"Benar. Kinara memberikan kehidupannya pada mereka berdua. Sama seperti yang dilakukan ibunya dulu," ucapku sedikit menengadahkan wajahku untuk menatap langit.


"Heh? Ibunya?" tanya Hary semakin terkejut.


"Benar. Mengenai ingatanku dulu tentang penyerangan *******, itu tidaklah salah. Aku sangat mempercayai daya ingatku ini. Tapi, kenapa koran yang kita baca tadi bisa berbeda?"


Aku kembali menatapnya. Melihat Hary menyimak penjelasanku dia hanya terdiam.


"Jawabannya adalah, Bu Sinta juga menggunakan kemampuan itu. Dugaanku, dia menggunakan itu untuk menyelamatkan orang-orang. Mungkin dia mengulang waktu lebih dari satu kali. Pengulangan waktu pertama dia gagal untuk meyakinkan orang lain. Dan akhirnya dia menjauh dari sana untuk menyelamatkan diri. Dari situ bisa menjawab tentang ingatanku."


"Hmm, benar juga. Itu bisa diterima," jawabnya seraya memikirkan penjelasanku.


"Tapi naas, suaminya ikut bertugas untuk menghadapi ******* tersebut dan akhirnya tewas. Itulah yang membuat ia menggunakan lagi. Dan lagi-lagi dia gagal meyakinkan mereka. Tapi Bu Sinta memilih untuk tidak kabur demi bertemu suaminya, satu-satunya orang yang mempercayai beliau. Atau mungkin si suami sudah tahu tentang kemampuan istrinya. Dari situ bisa menjawab tentang koran yang kita baca tadi. Dan juga sudah menjawab tentang arti pesan terakhir dari ayah Kinara," jawabku tenang.


Hary terdiam sejenak. Dan dengan lirih dia berkata, "Dari hipotesismu, aku merasa kau seperti berada di dua dimensi."


Mataku bergeser ke arahnya beberapa detik, dan kembali ke depan.


"Lalu, kenapa Kinara juga mempunyai kemampuan seperti ibunya?" tanya Hary lirih seraya terlihat sedih dan tertunduk.


"Mungkin kemampuan itu adalah kemampuan turun-temurun."


"Kemampuan turun-temurun?" tanya Hary menatapku.


Aku langsung mengambil ponsel dan menunjukkan padanya foto yang aku terima dari Bu Yuli tadi.


"Coba lihat kedua foto ini. Apa kau bisa melihat keanehannya?" tanyaku. Hary begitu mengamati kedua foto tersebut dengan teliti.


"Menurutku tidak ada yang aneh dari foto ini," jawabnya yang sesuai dengan dugaanku. Aku langsung memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celana.


"Dari foto ini, aku tidak bisa melihat bayangan Kinara dan ibunya. Dan mungkin hanya aku saja yang bisa melihat keanehan itu. Dari situ aku menyimpulkan bahwa orang yang memiliki kemampuan itu tidak akan mempunyai bayangannya sendiri," jawabku kembali menatap ke depan.


"Lalu, kenapa kau tidak bisa melihat bayangan mereka?"


Aku sedikit menengadahkan wajah ke atas untuk melihat langit. "Itu yang akan aku tanyakan pada seseorang, yang alamat rumahnya aku mintai dari Bu Yuli tadi."


"Heh?! Mungkinkah maksudmu...?" tanya Hary lirih dengan sedikit terkejut.


"Kinara memiliki kemampuan itu. Begitu juga dengan ibunya. Dan jika kemampuan itu adalah kemampuan turun-temurun, tentu saja orang itu juga punya. Dan orang itu adalah... "


"... neneknya Kinara," lanjut Hary lirih dari penjelasanku.


Aku terdiam sejenak. Memalingkan wajah ke depan dan memandang jauh. "Benar. Maka dari itu aku hendak pergi ke sana besok Minggu. Dari orang itu mungkin aku bisa tahu semua keanehan yang aku alami."


Mataku berubah tajam. "Terlebih lagi tentang kemampuan mengerikan itu."



__ADS_1



__ADS_2