
Sudah hampir seminggu, memori pertemuan kami masih terasa segar dalam pikiranku. Aku berbaring di ranjangku dan menatap dinding dalam kegelisahan.
"Sebenarnya... kau melihatku seperti apa?"
Pertanyaan Kak Andy terus terulang dan terulang dalam kepalaku, seperti dalamnya jurang yang tiada habisnya. Hatiku terasa seperti pasir yang terus terkikis oleh ombak.
Namun, ini semua mungkin karena rasa kesadaran diriku yang terlalu kuat.
"Aku pernah melihat senyum seperti itu dari seseorang. Karena sudah terbiasa mengetahui bahwa senyum yang ia tunjukan itu palsu, jadi aku bisa tahu bahwa kau juga mencoba berbohong seperti orang itu."
Kata-kata Kak Andy yang lain dengan perlahan melintasi pikiranku.
Tanpa kusadari air mataku akhirnya terjatuh.
"Ternyata... hati Kakak sudah dimiliki Kinara, ya?" desahku lirih.
Itulah yang seharusnya aku pikirkan dari awal kami bertemu. Bukannya malah larut akan perasaanku sendiri.
Kalau seperti ini, aku bisa saja mengkhianati perasaan Kinara.
"Tapi... aku juga ingin tetap di sisi Kakak ... selamanya."
Aku sadar akan keadaan Kakak kali ini. Aku tidak sepenuhnya untuk terus membuat Kakak tetap bersamaku. Meskipun akhirnya aku tetap menerima meski dia menganggapku sebagai pengganti Kinara, aku tidak peduli.
Akan tetapi, apakah aku bisa membuat Kakak bahagia? Setelah mengetahui bahwa ia begitu menyesal dan merasa bersalah akan kepergian Kinara.
Bahkan bisa dibilang, aku akan menjadi beban bagi Kak Andy.
"Maafkan aku Kak Andy ... maafkan aku, Kinara."
Bersamaan dengan jatuhnya air simbol kesedihan ini, mataku perlahan terpejam.
※ ※ ※
__ADS_1
"Dewi, kamar mandinya sudah kosong!"
Suara Kinara memanggil dari balik pintu kamarku, yang terletak di lantai dua, namun aku tak merespon.
Sore ini, setelah kembali dari rumah sakit, aku terus mengunci diri di dalam kamar, tak ingin turun bahkan untuk makan malam.
Kinara menempatkan tangannya di kenop pintu, namun ragu-ragu meski sambil memutar gagang pintu.
Pintu terbuka dan menampakkan ruangan gelap.
Kinara mungkin berpikir bahwa aku pasti sedang tertidur, dan saat dia hendak berbalik meninggalkan ruangan, embusan udara angin terasa sedikit bertiup. Membuatnya menggigil. Jendela kamarku memang terbuka.
Dia berjalan berjingkat-jingkat sepanjang ruangan, menuju ke arah jendela. Hanya untuk mendapati diriku yang tengah meringkuk di atas ranjang, dengan kondisi masih bangun.
"Ah, Dewi, maaf. Kukira kamu sudah tidur." Adalah respon gugup Kinara.
Setelah beberapa momen kesunyian, aku membalas dalam suara berat, "Maaf, tapi bisa tolong biarkan aku sendiri?"
Kinara mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku, yang mungkin bagi Kinara terasa dingin bagai es setelah memegangiku.
"Kau dingin sekali. Wajahmu juga pucat. Apa kamu sakit lagi?" tanyanya khawatir.
Sejumlah cahaya menembus masuk melalui gorden dari lampu jalanan, menyinari wajahku. Pada momen ini, Kinara menyadari sesuatu yang telah terjadi padaku.
"Heh? Kenapa kau menangis?"
"...."
"Apa yang terjadi?"
"Bukan apa-apa." Balasanku terdengar seperti bisikan yang tercekik.
"Tapi..."
__ADS_1
Tanpa menunggu Kinara selesai bicara, aku mengubur wajahku di kedua tangan yang dingin ini. Menyembunyikan diriku dari Kinara, dan dengan tanda penistaan diri, aku berkata, "Aku... mungkin sudah membuatnya merasa semakin terbebani."
Di tengah kata-kataku, Kinara seperti sudah menyadari apa yang telah terjadi. Berbicara dengan suara pelan dan bergetar, dia bertanya, "Orang itu ... Kak Andy, kan? Lalu apa yang terjadi padanya?"
Tubuhku mengejang. Dalam suara pelan, terisi rasa sakit, aku menjawab, "Aku sudah berharap lebih darinya, tapi aku tidak sadar bahwa dia sudah..."
Kali ini Kinara merasa jelas. Melihatku, yang menangis seperti anak-anak di depannya.
Ia lalu bangkit untuk menutup jendela, menutup gorden, dan menyalakan pemanas ruangan, kemudian duduk di sisiku. Ia ragu-ragu untuk sesaat, sebelum menggenggam tangan dinginku lagi.
Setelah itu, Kinara mendekapku dengan lembut serta tersenyum. Membuat tubuhku meringkuk dan terasa rileks dalam sekejap.
Kinara berbisik di telingaku. "Jangan bersedih. Kalau dia memang sangat kamu cintai, kamu tak boleh menyerah semudah itu."
Kata-kata itu datang dengan mudah. Setelah Kinara mengucapkannya, hatiku seolah telah teriris oleh pedang. Perasaan dari jauh di dalam benakku melahirkan rasa sakit ini. 'Aku menyukai seseorang yang Kinara sendiri mungkin menyukainya juga', adalah perasaan yang datang menerpaku kali ini.
Kinara menopangku, dengan lembut menurunkanku ke ranjang. Mengambil selimut, lalu dengan lembut menaruhnya di atas tubuhku.
Berapa lama dia mendekap tubuhku, aku sendiri tak tahu. Namun, tangisan kesedihanku mulai menjadi suara tidur penuh damai. Kami menutup mata. Lalu hatiku perlahan berbisik.
"Satu-satunya pilihanku adalah menyerah. Yang bisa kulakukan hanyalah mengubur perasaan ini , jauh di dalam hatiku. Karena di dalam hati Kak Andy, Kinara sudah ada di sana."
Kinara kemudian dengan lembut berbisik kepadaku.
"Agar kau bisa tenang, aku akan menceritakan sesuatu untukmu."
Seiring aku mendengarkan dia bercerita, air mata perlahan mengalir di pipiku, kemudian jatuh ke seprai ranjang, sebelum akhirnya lenyap dengan cepat.
▼
▼
▼
__ADS_1