
(Minggu, 11 September 2016)
Mataku tertuju pada beberapa bunga mawar putih yang tertidur. Bunga yang tak asing bagiku akhir-akhir ini. Bunga yang membuat tenang dan juga membuat sedih. Terselimut perasaan gelisah sekaligus membingungkan. Seolah menampakkan hal yang membuatku bergidik. Membuka catatan memori, pada peristiwa satu bulan yang lalu.
Serta ... mampu mengubah hidupku saat ini.
Masih jelas teringat kala bunga itu berada di pelukan lembut si gadis putih. Seraya melihatku pergi meninggalkannya dengan senyum lega bahagia. Tersamar pada wajah cerah berbalut senyum polos yang berhias air mata haru. Tak ada rasa khawatir secuilpun, meski seolah dia tahu bahwa hari itu adalah hari yang terakhir untuknya.
Namun kini, bunga itu sedang terbaring tenang. Di atas gundukan tanah yang sudah mulai mengeras dan rata. Kepalanya bersandar lembut pada batu keramik putih yang tegak berdiri. Di batu itu, terukir nama cantik dan angka-angka yang menunjukkan rentang waktunya yang begitu singkat. Tersentuh lembut oleh tangan mungil penuh kepedihan. Diiringi tangisan lirih namun teramat dalam, oleh sesosok gadis yang begitu menyesali kepergiannya. Hatinya begitu sakit menyadari orang yang dia sayangi telah pergi lebih jauh lagi dari sebelumnya.
Sama sepertiku, yang kini juga merasakan meski tak sedalam dirinya.
"Kinara ...!" pekik pilu gadis ini memanggil namanya.
__ADS_1
Sebulan yang lalu, aku mengunjunginya setelah insiden tersebut. Menuju Rumah Sakit Mustika yang lumayan jauh dari rumahku. Tempat di mana dia sedang menjalani operasi. Berlari menyusuri koridor tak memedulikan apapun selain bertemu dengan ibunya. Aku bahkan masih mengenakan seragam sekolah. Pikiranku kacau-balau. Benar-benar kacau karena peristiwa aneh yang aku alami meski hanya sekitar 30 menit.
Saat aku sampai menemukan beliau dan diiringi napas kasar, terlihat sosok wanita dewasa yang duduk gelisah sendirian di ruang tunggu. Masih menanti putri tercintanya selesai menjalani operasi. Bibirnya tak henti-henti memanjatkan do'a demi kelancaran operasi tersebut.
Perlahan aku mulai mendekati dan menyapa. Kesan pertama tentu saja dia memasang wajah heran dengan kedatanganku yang tiba-tiba dan berwajah muram. Namun setelah itu, wajahnya berubah dengan cepat saat aku menyampaikan berita duka itu padanya. Reaksi yang umum pun muncul di raut wajahnya ketika mendengar kabar seperti itu. Teramat pilu, terutama yang mengalami adalah orang yang dicintainya juga.
"Aku sudah kehilangan satu anakku. Dan saat ini, aku juga terancam kehilangan seorang lagi."
Tangisan yang sama dengan putrinya saat meratapi tubuh gadis itu, yang kini telah berbaring tenang di balik gundukan tanah tersebut.
"Andy, ada apa?" Bu Yuli menepuk pundakku dan menyadarkan dari lamunan.
"He? Eh, tidak ada apa-apa, Bu."
__ADS_1
"Ya sudah. Ayo kita pulang, sebentar lagi hari mulai gelap."
"Iya, Bu."
Beliau membantu Dewi, putri tercintanya duduk di kursi roda. Air mata masih mengalir di pipi sang putri. Suara napasnya masih berat meski mata sendu dari gadis itu telah terpejam karena letih. Hanya suara itu yang kudengar selain embusan angin kecil di sekitar.
Aku begitu merasakan kesedihan sang mawar merah itu. Saat ini, aku tidak tahu harus menghiburnya seperti apa. Karena di sisi lain, aku juga merasa bersalah, telah setuju untuk menutup mulut demi dirinya selama sebulan. Agar dia bisa fokus dengan penyembuhannya.
▼
▼
▼
__ADS_1