MAWAR PUTIH

MAWAR PUTIH
(BAB - 06)


__ADS_3

Hari ini aku tidak sedang mengendarai sepeda kesayanganku. Juga, kami sekarang tidak sedang berada di sekitar tempat tinggal kami. Melainkan di sebuah pedesaan jauh dari kota, dengan menggunakan sepeda gunung milik saudaranya Hary. Lebih tepatnya, sebuah desa di mana rumah neneknya Kinara berada.


Jum'at yang lalu aku memberitahu alamat neneknya Kinara pada Hary. Mengetahui alamat tersebut Hary seperti teringat sesuatu. Kebetulan saudaranya ada yang tinggal dekat dengan desa, tempat rumah beliau berada.


Hary menyarankan padaku menginap  ke sana untuk mencari alamat itu. Esoknya kami langsung berangkat menuju ke sana dengan menaiki kereta.


Kami bersepeda sepanjang pinggir sungai dan menjauh dari jalan raya. Perlahan-lahan jarak antara rumah-rumah digantikan oleh perkebunan teh yang sangat luas. Hawa di tempat ini begitu dingin dan menyejukkan. Padahal jam sudah menunjuk angka 8 dan langit begitu cerah hampir tak tertutupi.


Demi bersembunyi dari terik matahari, kami berhenti di sebuah toko kecil. Aku mengambil handuk kecil dari tas untuk menyeka keringat yang terus menerus menetes.


"Hary, apa kita sudah dekat?"


"Yah, kita hampir sampai. Sekitar 100 meter lagi." Dia lalu tersenyum, "Kau akan kaget kalau melihat rumahnya. Keluarga Ibu Nyai Sartika merupakan pemilik perkebunan terbesar di kota ini."


Aku pernah mendengar sedikit tentang orang itu. Terbesit rasa penasaran untuk melihat bagaimana mereka melakukan panen teh di tempat seluas itu. Sempat teringat Kinara dulu juga mengatakan, bahwa neneknya juga punya perkebunan tanaman bunga. Bisa kutebak di sana lebih banyak didominasi oleh bunga mawar dan melati. Mungkin sebagai tambahan aroma wangi untuk teh.


Setelah kembali menyeka keringat dengan handuk dan meletakkan kaki kami di atas pedal, kami melanjutkan perjalanan.


Ketika kami mulai beranjak, Hary kembali mengambil alih di depan untuk menunjukkan jalan. Setelah melewati beberapa waktu, kami sampai di sebuah jalanan lurus yang panjang, di mana sepeda kami bisa berjajar. Sepanjang jalan ini tidak ada apa-apa selain ladang perkebunan teh dan sayuran di kedua sisi.


Hary memutar pedalnya dan mulai bersenandung dengan riang. Tersenyum adalah semacam wajah resminya semenjak pagi tadi, tapi kali ini dia terlihat lumayan senang. Aku memutuskan untuk bertanya.


"Hary."


"Ya?"


"Kau terlihat senang sekali."


Hary menoleh padaku dan menjawab ceria, "Tentu saja. Lihatlah langit yang biru! Dan awan yang putih! Bersepeda di antara perkebunan dan-,"


"Kau tidak lupa dengan tujuan kita, kan?" Aku segera menyela niat Hary untuk bercanda.


Senyum Hary mereda perlahan, dan menjawab, "Oh, maksudmu soal itu."


Entah kenapa Hary melambat dan melihat ke depan sambil berkata, "Kau tahu? Aku sedang menikmati masa-masa libur yang singkat ini setelah ujian. Dan aku berharap kau ikut menikmatinya juga."


Aku berpaling ke depan. "Tidak, yang aku inginkan semoga masalah ini bisa berakhir hari ini."


"Haha, kau terlalu tegang. Santailah!"


"Diam!"


Karena suaraku hampir sama sekali tidak meninggi, Hary tidak menertawakannya.


"Jangan salah paham, aku tidak bermaksud untuk melupakan tujuan kita di sini. Aku hanya merasa senang bahwa kau akhirnya bisa jujur dengan keadaanmu juga."


"...."


"Aku sudah sibuk dengan OSIS dan Pramuka. Membantu mengatur jadwal kegiatan untuk Dies Natalis, berusaha membagi waktu demi membantumu. Kalau tidak, memangnya siapa, yang akan mengorbankan waktu libur, untuk bersepeda denganmu jauh-jauh tempat?"


"...."


Hary terdiam setelah mengatakan itu. Aku merenungkan jawabannya sambil membiarkan kulitku terkena cahaya matahari, dan membuat wajah suram.


Dengan santai mengayuh sepeda di lahan perkebunan yang basah. Tersinari oleh warna cerah matahari yang terkadang bersembunyi di balik punggung awan. Berusaha keras untuk mendengarkan suara Hary yang pelan.


"Sejujurnya aku benar-benar terkejut dengan apa yang kau katakan waktu itu. Jika benar, ini merupakan fenomena yang tak terlupakan dalam hidup. Tapi, aku lebih terkejut lagi karena kau akhirnya bisa mengatakan masalahmu."


"Kau meragukanku?" tanyaku.


Namun untuk sekali ini Hary tidak tersenyum ketika ia menjawab. "Tidak. Aku juga percaya bahwa kau bisa memecahkan teka-teki ini."


"Itu hanya dugaan saja. Belum tentu benar."


"Namun hasilnya tidak jadi masalah, kan? Masalahnya adalah, kenapa kau tidak langsung mengatakan kepada mereka?"


"...Entahlah," sahutku lirih.


"Kalau dipikir-pikir, jawabannya sederhana. Kau melakukannya untuk Kinara. Karena ia sendiri mungkin juga merahasiakan dari mereka."


Mendengar ucapan Hary aku menoleh dan bertanya-tanya apakah itu benar.


'Melakukannya demi Kinara', itu memang sepenuhnya benar, aku pikir ini bisa diterima. Teringat Hary mengatakan sesuatu yang persis seperti ini sebelumnya, bahwa aku sebisa mungkin tidak akan merepotkan orang lain tentang masalahku meski menemukan jalan buntu sekalipun.


Memang benar bahwa aku akhirnya melakukan sesuatu yang merepotkan untuknya, tapi...


"...Hari ini berbeda," jawabku lirih.


"...."


Matahari perlahan bersembunyi, dan aku bisa merasakan semilir angin. Mengalihkan pandanganku dari tatapan Hary dan memandang ke depan.


Pernyataan Hary memang benar. Biasanya, aku tidak akan repot-repot untuk memikirkan masalah seperti itu. Mengapa aku bersikap seperti yang kulakukan hari ini? Kupikir kurang lebih mengerti alasannya, dan itu hampir tidak ada hubungannya dengan Kinara. Namun, memahami sesuatu sendiri, berbeda dengan membuat orang lain untuk memahaminya juga. Tanpa ada keraguan, aku akhirnya bisa untuk menyampaikan masalah ini kepada orang lain, yaitu Hary.


Tidak, bukan itu, aku pikir itu karena sudah mengenal Hary begitu lama sehingga menjelaskannya akan menjadi mudah. Meskipun hal yang kuceritakan ini terdengar tidak masuk akal bagi semua orang. Namun aku merasa seperti harus memberitahukan kepada Hary, serta mengatur pikiran untuk perasaan orang-orang di sekitar.


Jadi setelah keheningan panjang, aku memberikan jawaban dari hasil memilah kata-kata.


"Kurasa ... aku hanya lelah dengan diriku yang dulu."


"Hm?"


"Sejak Kinara pergi dan menyaksikan Dewi yang sekarang, aku yang dulu seperti telah jatuh ke tingkat terendah. Harus meletakkan posisiku sebagai Kinara untuk Dewi. Membantu dan menghiburnya pasca operasi. Seraya terus diperlihatkan hal-hal yang menyedihkan. Itu cukup melelahkan bagiku."


"...Yah, aku bisa mengerti."


"Tapi kau tahu? Kadang-kadang aku berpikir, semua penderitaanku ini belum seberapa dengan mereka. Sangat menyedihkan bagiku jika menyerah sekarang. Setiap kali teringat mereka, aku tidak sanggup untuk tenang. Aku ingin tetap tenang, namun malah tidak menemukan sesuatu yang bisa membuatku melupakan ini. Jadi setidaknya ... aku ingin semua kesedihan ini segera berakhir."


Di tengah suara pedal dan angin, Hary tidak mengatakan apapun. Hary itu biasanya banyak bicara. Namun ada saat-saat dia tidak bisa mengatakan sesuatu, dan cukup menyadari hal itu. Serta aku ingin dia mengatakan sesuatu juga.


Untuk saat ini, aku tidak bisa tahan dalam keheningan lagi.


"Ry, jangan diam saja!" ucapku masih tertunduk. Aku bisa merasakan Hary tersenyum meski tidak melihatnya.


"... Aku rasa ... kau sekarang benar-benar sudah berubah."


Aku menjawab tanpa berpikir, "Mungkin."


Hary meninggikan suaranya dan tertawa. Dia lalu mengatakan, "Tak kusangka kau berurusan dengan cucu dari pemilik perkebunan terbesar di kota ini. Dan hari ini, kau akan menemui neneknya."


"Yah, aku bahkan juga terkejut."


Hary menatap ke depan.


"Woah! Lihatlah, Andy! Kita sudah sampai di kediaman Ibu Nyai Sartika!"


Sesuai dengan penggambarannya, kediaman Ibu Nyai Sartika berdiri di tengah-tengah perkebunan teh yang luas.


Dibangun dalam bentuk rumah joglo kuno namun terlihat begitu terawat, bahkan terkesan seperti villa di tengah perkebunan teh, namun lebih besar. Terhiasi aksesoris rumah bergaya adat Jawa dan dikelilingi oleh pagar. Suara air mengalir menandakan adanya kolam di tamannya, yang dikelilingi oleh pepohonan pinus yang dipangkas dengan baik. Dan di depan pintu gerbang besar yang terbuka, terlihat orang-orang sedang sibuk membawa hasil panen.


"Bagaimana? Lumayan hebat, kan?" kata Hary sambil membusungkan dadanya.


Maklum aku bukan ahli arsitektur atau gardening. Aku tidak tahu seberapa hebatnya tempat ini. Tapi terasa ada kesan anggun dan berwibawa dari kediaman tersebut.

__ADS_1


Saat kami sedang mengagumi kompleks tersebut, kami memarkirkan sepeda di dekat pagar. Sejenak Hary terdiam melihat sebuah ukiran nama yang kecil pada gerbang.


Hmm? Itu bertulis nama 'Kartika'. Bukannya pemilik rumah ini adalah Sartika?


"... Kau masih belum berubah ternyata," bisik Hary dengan senyum, hampir nyaris tak kudengar.


"Heh?"


Hary langsung menolehku. "E-eh, tidak tidak," ucapnya terbata dan tersenyum.


"Heh, ayo kita langsung masuk saja," ajakku.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, Andy ...."


"Apa lagi sekarang?"


"Aku jadi sedikit gugup," ucap Hary seraya tersenyum masam.


"Astaga kau ini! Di mana hilangnya kecerianmu tadi?"


Aku memutuskan untuk mengabaikannya. Melangkah ke beranda depan dan membunyikan bel. Ternyata rumah ini terpasang benda seperti ini juga. Setelah menunggu beberapa saat, pintunya dibuka oleh seorang wanita dewasa. Sepertinya dia adalah pelayan di sini.


"Assalamu'alaikum," sapaku.


"Wa'alaikumsalam."


"Apa di sini adalah kediaman Ibu Nyai Sartika?"


"Oh, iya. Ada perlu apa, Dek?"


"Eh, maaf. Apa beliau ada? Kami ingin bertemu dengannya sebentar."


"Oh, ada. Tunggu sebentar."


"Eh, iya. Terima kasih, Bu."


Ibu itu langsung masuk kembali meninggalkan kami berdua. Mata kami menyisir sekitar rumah ini yang terlihat begitu menarik. Tak butuh waktu lama beliau datang kembali.


"Silahkan masuk, Dek," ucap beliau mempersilahkan.


"Eh, baik, Bu. Permisi."


Setelah mendapat izin, kami langsung masuk. Melangkahkan kaki kami tepat di belakang beliau yang sedang memandu. Melewati koridor yang terhiasi oleh tanaman-tanaman hias yang begitu indah di sisinya. Sesekali aku mencium bau bunga mawar dan melati yang begitu kuat dan segar. Entah darimana asal bau tersebut. Padahal aku sama sekali belum melihat tanaman bunga mawar selama kami masuk di rumah ini.


Tak lama kemudian, kami dipandu menuju sepasang pintu besar yang dihiasi dengan ukiran-ukiran bunga desain jawa yang indah. Angin sepoi yang sejuk keluar setelah membukanya. Karena langit-langit yang tinggi, ruangannya terasa sejuk dan menyegarkan. Ukuran ruangan ini sekitar 15 meter persegi. Besar!


Di sisi kirinya terbuka tanpa sekat. Memperlihatkan tanaman-tanaman bunga mawar putih dan kolam yang lumayan luas. Sesuai dengan dugaanku tadi. Bau bunga mawar lebih kental di sini.


Di tengah ruangan ini terdapat kursi dan meja kayu berukir motif bunga. Eh... tidak, sepertinya di meja itu terukir gambar dua orang permaisuri.


Di salah satunya terdapat seorang wanita tua yang sedang duduk merangkai bunga-bunga mawar putih membelakangi kami. Beliau begitu teliti menghiasi bunga-bunga tersebut, bahkan tak menoleh ke arah kami saat pintu ini terbuka. Padahal suara decitannya cukup nyaring. Seolah beliau tak menyadari kehadiran kami. Dengan kacamata besar, memakai baju adat jawa, tentu dengan motif bunga juga. Rambutnya yang panjang terikat bagus menambah kecantikan beliau.


Eh, tunggu dulu. Apa mungkin orang ini adalah Nyai Sartika? Apa benar orang ini adalah neneknya Kinara? Entah kenapa beliau terlihat begitu muda di usianya saat ini. Serasa tak jauh dengan Bu Yuli. Aku bahkan awalnya mengira beliau itu anaknya Ibu Nyai Sartika. Tapi sejak teringat bahwa beliau hanya memiliki anak tunggal, yaitu ibunya Kinara, aku jadi mengerti. Saat kami melangkah dan berhenti di dekat sebuah kursi, ibu pelayan tersebut menghampiri beliau.


"Permisi, Bu. Ini mereka."


"Oh, iya."


Seraya meletakkan bunga-bunga mawar itu beliau membalikkan tubuh. Awalnya beliau memasang senyum ramah kepada kami. Tapi setelah melihatku, entah kenapa wajah yang terkejut muncul sesaat dari beliau. Menghapus senyum ramahnya tadi untuk sekejap.


Ada apa dengan tatapannya padaku barusan?


"Silahkan duduk." Beliau mempersilahkan kami dengan senyum ramah. Kamipun mengangguk dan duduk di kursi dekat kami.


"Ada perlu apa, Cah Bagus?" tanya beliau, dengan logat jawa yang kental.


"Andy dan Hary, kan?" sela Bu Sartika.


Kami terkejut mendengar beliau mengetahui nama kami. Bu Sartika tersenyum dan kembali berucap, "Yuli dan Dewi sering menceritakan tentang kalian, terutama Nak Andy."


"Eh, begitu ya, Bu?" ucapku lirih. Aku pikir mereka tidak akur.


"Panggil Nenek saja," ucap Bu Sartika tersenyum seraya mengambil bunga-bunga mawar tadi dan kembali menghiasinya. Aku hanya mengangguk menjawab.


"Lalu, apa yang ingin kalian tanyakan?"


Meski senyum masih menghiasi bibirnya. Aku bisa merasakan bahwa beliau mulai serius. Aku melirik ke arah Hary yang sedang menatapku. Ia sedikit menggelengkan wajah, menyuruhku untuk langsung saja mengatakannya.


Menarik napas dalam-dalam dan menghela secara perlahan, aku mencoba menenangkan rasa gugup ini.


"Sebenarnya, sebulan lebih yang lalu, saya melihat Bu Yuli dan Dewi meninggal dalam sebuah kecelakaan pada sebuah berita di TV. Tetapi, entah kenapa waktu seperti kembali beberapa saat. Mempertemukan saya dengan Kinara. Dan selang beberapa waktu kemudian, saya melihat Kinara yang meninggal di dalam berita yang sama. Seperti menggantikan Bu Yuli dengan Dewi."


Bu Sartika sempat menghentikan tangannya beberapa detik. Wajahnya suram, seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


Aku kembali mengatakan, "Awalnya saya mengira itu hanya fenomena langka dan tak terlalu saya pikirkan. Tetapi setelahnya, saya kembali menemukan keanehan yang berbeda. Terutama yang berhubungan dengan Kinara dan ibunya. Salah satunya, tentang bayangan dari Kinara dan ibunya yang tak bisa saya lihat dalam sebuah foto."


Kini, beliau benar-benar terdiam membeku. Senyumnya telah hilang. Matanya melirik ke arahku lumayan tajam, "Kalian sedang menyelidiknya, bukan? Lalu, sejauh mana kalian mengetahuinya?"


Tanpa gentar melihat tatapan beliau aku menjawab, "Saya teringat beberapa tahun yang lalu. Membaca sebuah artikel koran lama yang berisi tentang berita Tragedi Bank Mustika. Di sana tertulis tidak ada korban yang selamat dari karyawan bank, juga dua polisi tewas di tempat. Tapi, saat saya kembali membacanya beberapa hari yang lalu, berita itu berubah, tertulis satu korban selamat. Yang tak lain adalah Bu Sinta, ibunda dari Kinara."


"...."


Terlihat beliau masih terdiam dan terpaku dengan bunga-bunga di hadapannya.


"Dan juga, sebuah pesan dari ayah Kinara kepada Bu Sinta. Membuat saya semakin merasa ganjil akan fenomena aneh ini. Hingga akhirnya kami menyelidikinya sampai sekarang dan menemukan sebuah kesimpulan... "


Aku sempat berhenti sesaat, seraya Bu Sartika tangannya kembali berhenti merangkai bunga tersebut. Dengan tenang aku mengucapkannya, "...bahwa Kinara, sebenarnya memiliki sebuah kemampuan yang diturunkan oleh ibunya. Sebuah kemampuan seperti menukar takdir."


"...."


Keheningan muncul cukup lama setelah aku mengatakan penjelasanku. Mataku masih menatap beliau yang terdiam sempurna. Matanya begitu sayu, seakan tak tahu apa yang ingin ia katakan beliau memejam sesaat, dan akhirnya mau berbicara seraya tersenyum.


"Jadi, itulah sebabnya kalian menemui Nenek. Karena merasa bahwa kemampuan itu adalah kemampuan turun-temurun, kan?"


Aku hanya mengangguk. Beliau kini mengalihkan pandangan ke arah kolam luar. Seraya matanya seperti melihat jauh entah ke mana dengan wajah yang begitu sendu. Sesekali jemarinya mengusap lembut pada bunga mawar yang berada di kedua tangannya.


"Sebenarnya... itu bukanlah sebuah kemampuan. Melainkan seperti sebuah kutukan bagi keturunan kami. Yang hanya diturunkan dan dimiliki oleh anak perempuan pertama."


Jawaban beliau yang tenang begitu mengejutkan kami. Sesaat kami terdiam. Bibirku sedikit terbuka dan tak bisa berucap.


"K-kutukan?!" tanyaku lirih.


"Benar. Sebuah kemampuan hebat dan juga mengerikan. Yang harus dibayar dengan hal yang mengerikan pula," ucap Bu Sartika tenang seraya melihat bunga di tangannya. Aku masih terdiam menatap beliau.


"Kemampuan itu juga memberi dampak kepada sekitar kami. Terutama kepada orang yang begitu kami cintai."


"...?"


"Misalnya, seperti Nenek yang kehilangan semua adik-adik nenek saat masih kecil. Serta suami nenek saat mengandung Sinta. Sinta juga mengalami hal yang serupa, yaitu kehilangan suaminya yang begitu ia cintai. Dan Kinara juga... " ucap beliau semakin lirih. Suaranya terdengar berat. Matanya mulai berkaca-kaca.


Air mata beliau akhirnya terjatuh. Tak kuasa menahan kesedihannya beliau sedikit mendekap mawar putih yang beliau pegang sedari tadi dan berkata, "Nenek tidak mau kehilangan orang yang nenek cintai lagi."


Perlahan aku tertunduk setelah mendengar beliau, seraya berucap lirih, "Itu sebabnya Nenek memaksa Kinara untuk tinggal di sini. Demi mencegah Kinara menggunakan kemampuannya jika Dewi meninggal nanti. Dan demi menghindari dampak lain bagi orang-orang sekitar."

__ADS_1


"Benar. Awalnya, Kinara tidak tahu soal kemampuan itu. Tetapi, saat dia sudah mulai memasuki masa remaja, dia tidak bisa melihat bayangannya sendiri. Dia semakin ketakutan dan menceritakan kepada Nenek. Tapi Nenek tetap merahasiakan. Namun, suatu hari nenek tak sengaja menceritakan tentang pesan terakhir ayahnya. Saat dia menanyakan tentang kedua orangtuanya. Merasa curiga dengan pesan terakhir itu dia mencari tahu. Hingga akhirnya dia menyadari akan kemampuan itu," jelas beliau sesekali menyeka tangisnya.


"Saat dia tak sengaja menggunakan kemampuan itu dengan sepasang liontin untuk hadiah ulang tahun, kan Nek? Kebetulan tanggal lahir mereka bersamaan," jelasku menyambung.


"Benar, dari situlah dia mengetahui kemampuannya."


"Beberapa bulan yang lalu Kinara datang ke sini dan setuju untuk pindah, asalkan setelah operasi Dewi selesai. Namun Nenek tetap melarangnya karena alasan itu, bukan?"


Bu Sartika tersendat-sendat karena tangisannya dan menjawab lirih, "Benar."


Wajahku tertunduk, dan berbicara, "Tapi sayangnya... Dewi dan Bu Yuli tewas sebelum operasi karena kecelakaan. Sehingga dia langsung menggunakan kemampuannya."


"Kalau tahu seperti ini akhirnya, Nenek ingin sekali menggantikannya. Nenek tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang Nenek sayangi saat ini."


Aku bisa mengerti perasaan Bu Sartika. Kenapa beliau begitu bersikeras memaksa Kinara untuk tinggal bersamanya. Demi mengawasi Kinara. Mencegah menggunakan kemampuannya untuk orang lain. Terutama menukar kehidupannya. Karena Kinara sendiri, merupakan orang yang terlalu baik. Sampai-sampai kebaikannya itu begitu menakutkan bagi orang-orang yang mencintainya.


Aku kembali mengangkat wajah.


"Lalu, kenapa waktuku bisa ikut terbawa pada saat itu, Nek? Kenapa aku tidak bisa melihat bayangan Kinara dan ibunya di foto? Dan juga, kenapa berita yang aku baca beberapa tahun yang lalu dan berita yang barusan aku baca tentang tragedi 15 tahun yang lalu bisa berbeda?"


Beliau terdiam. Memalingkan wajah dan menutup rapat bibirnya, seolah tak ingin menjawab pertanyaanku. Melihat reaksinya membuatku begitu gelisah. Aku mengulangi pertanyaanku.


"Kenapa, Nek?" tanyaku selanjutnya. Beliau masih terdiam. Hal itu membuatku sedikit kesal.


"Kenapa?! Kenapa aku bisa mengalami-"


"Sudah cukup! Nenek tidak mau ada korban lagi yang berjatuhan!" Beliau langsung memotong ucapanku.


"...?!"


Korban berjatuhan lagi?! Apa maksudnya? Bukannya sudah tak ada lagi yang menggunakan kemampuan itu? Bu Sinta sudah meninggal. Kinara juga. Selain itu, kemampuan itu hanya diturunkan dan dimiliki oleh anak perempuan pertama. Itu berarti hanya beliau yang masih memiliki kemampuan itu. Meskipun beliau masih memilikinya juga, tak mungkin beliau akan menggunakan kemampuan yang sempat membunuh anak dan cucunya itu. Dan juga ... dan juga ....


Tunggu dulu, aku merasa ada yang ganjil. Seperti ada sesuatu yang baru saja terlintas di ingatanku. Begitu samar tapi rasanya tak asing. Tapi apa itu? Terasa ada hal yang sangat sederhana yang tertinggal.


Aarrgghh! Masih berada di ujung ingatanku. Tapi tidak bisa dilihat.


Hingga akhirnya aku sedikit menyadari hal yang samar tersebut. Membuatku menanyakan sesuatu untuk memastikan.


"Kalau boleh tahu, bagaimana cara menghilangkan kutukan itu?"


Beliau tak menjawab. Aku rasa, beliau tak akan memberitahukan hal itu. Meski baru pertama kali bertemu aku bisa tahu bahwa beliau bukan tipikal orang yang mudah dibujuk. Sangat keras kepala dan tak akan menyerah, sama seperti cucunya.


Aku tak mau membuang-buang tenaga untuk memaksa agar beliau mau mengatakan. Kalau memang seperti itu, aku harus memancingnya.


Dengan tegas seraya menatap beliau aku berkata, "Baiklah kalau memang Nenek tidak ingin mengatakannya. Tapi, saya masih ingin terus menyelidiki. Meskipun mengancam nyawa sekalipun, saya tidak peduli."


Bu Sartika dan Hary langsung menoleh. Wajahku tertunduk seraya mengungkapkan isi hati ini yang begitu frustasi.


"Jujur saja... saya lelah dengan semua ini. Saya tidak sanggup. Jika saja ada yang bisa dilakukan, saya akan dengan senang hati menyelesaikannya."


Seraya mengucapkan dengan lirih, aku beranjak dari tempat duduk. Melihatku yang langsung berdiri, Hary juga ikut berdiri.


"Kalau begitu, saya pamit dahulu, Nek. Terima kasih atas informasinya. Maaf sudah mengganggu Nenek. Assalamu'alaikum," ujarku untuk pamit seraya tersenyum.


Terdengar beliau membalas salamku saat kami melangkah pergi dengan suara yang hampir tak terdengar. "Wa'alaikumsalam."


Itulah akhir pertemuanku dengan beliau, dengan hasil yang samar dan kuberi pesan yang samar pula.


※ ※ ※



Aku dengan santai mengayuh sepeda di jalan lahan perkebunan yang lembab, setelah berkeliling di tempat ini cukup lama hingga tak terasa menginjak sore. Disinari oleh warna jingga matahari yang hendak terbenam. Menelusuri kembali jalan kami saat berangkat ke sini tadi. Kabut sudah hampir menyelimuti tempat ini. Hawa dingin yang mulai meninggi sempat membuat gigiku bergemeretak. Namun hal itu tak membuat pikiranku yang sedang memahami sesuatu sedari tadi menjadi terganggu. Justru aku terganggu oleh Hary yang bersepeda sejajar denganku dan terus-menerus melirik. Aku mulai risih.


"Apa?" Meliriknya sesaat dan kembali menatap ke depan.


Hary menatap ke depan seraya berkata, "Tidak. Karena tujuanmu ke sini untuk mencaritahu kenapa kau bisa ikut ke dalamnya, aku pikir kau akan memaksa beliau untuk memberitahu. Tapi kau hanya terdiam setelah beliau memotong pembicaraanmu tadi."


"...Sebenarnya, saat ini aku tak peduli mengenai itu. Yang aku ingin ketahui adalah kemampuan yang dimiliki Kinara. Itu saja," ucapku tak mengubah pandangan.


"Itu saja? Lalu, kau tadi juga menanyakan tentang cara menghilangkan kutukan itu."


Kutengadahkan wajah sesaat untuk menatap langit. "Iya, tapi itu hanya memastikan saja. Lagipula aku seperti sudah tahu. Meski tak sepenuhnya."


"Heh? Sudah tahu?" Hary langsung menatapku terkejut.


"Yah, kau ingat ucapan beliau sebelum aku menanyakan cara menghapus kutukannya?"


Hary tak menjawab. Wajahnya sedikit kebingungan mencoba untuk mengingatnya.


"Duh, kau ini! Apa kau sudah lupa? Padahal belum lama kita meninggalkan tempat itu."


Aku mendengus akan tindakan Hary dan berkata setelahnya. "Beliau berkata bahwa dia tidak ingin ada korban lagi, kan?"


"Heh? Tak ada yang aneh menurutku. Itu hanya sebuah kekhawatiran saja."


"Iya, memang terdengar seperti itu. Tapi, akan terasa aneh jika ditelaah lagi."


Mendengar ucapanku Hary semakin bingung. Matanya menatapku tajam. "Jangan memakai kata-kata yang berbelit-belit!"


"Heh, kau ini! Beliau tadi mengatakan bahwa kemampuan itu diturunkan kepada anak perempuan pertama. Itu artinya hanya ada satu orang yang diturunkan, meski mereka memiliki banyak anak sekalipun."


"...."


"Saat ini, yang kita ketahui adalah tiga orang yang memiliki kemampuan itu. Pertama adalah Kinara, kedua Bu Sinta, dan ketiga neneknya. Kinara dan ibunya sudah meninggal, dan saat ini tersisa si nenek yang memiliki kemampuan itu."


"Memang benar."


"Dan juga ucapan beliau yang lain. Kalau tahu seperti ini akhirnya, Nenek ingin sekali menggantikannya. Apa tidak membuatmu merasa terganggu?" jelasku yang membuat Hary terlihat mulai paham. Sepertinya dia mulai berpikir sama denganku.


Aku kembali melanjutkan penjelasan. "Dari situ aku bisa memahami dan mendapat dua jawaban. Pertama, bahwa kutukan itu bisa hilang dari keturunan mereka dengan cara meninggalnya anak perempuan pertama, yang mewariskan kemampuan tersebut."


"...Itu berarti, Kinara sudah mewakilinya," ucap Hary lirih.


"Benar. Tapi, meskipun pewarisnya sudah meninggal. Kemampuan itu masih tersisa dan dimiliki oleh orang-orang sebelumnya, bukan? Seperti ibunya Kinara jika masih hidup, dan juga neneknya."


"Benar juga. Hal itu hanya akan menghapus kutukan yang akan diwariskan selanjutnya."


"Benar, dan dari itulah aku mendapatkan jawaban kedua. Jika Bu Sartika tadi mengatakan ingin sekali menggantikannya, dan andai saat ini masih memiliki kemampuan itu, apa menurutmu yang akan dia lakukan?" tanyaku seraya melirik Hary.


Terlihat Hary kembali memikirkan tebakanku. Namun tak butuh waktu lama dia menyadarinya.


"Hah! Benar juga!"


"Yah, Bu Sartika pasti akan menggunakan kemampuan itu untuk menggantikan Kinara. Tapi kenapa dia tidak melakukannya? Dan jawabannya adalah, beliau sudah kehilangan kemampuan itu."


"Benar juga. Kalau dia masih punya mungkin akan dia gunakan untuk Bu Sinta juga."


"Nah, dari situ aku menduga bahwa kemampuan itu akan menghilang saat melahirkan anak perempuan pertama. Yang menjadi pewaris dari kutukan tersebut."


"Yah, sepertinya memang begitu," ucap Hary lirih.


Memang aku seperti sudah menemukan beberapa pecahan misteri ini. Dan hanya tinggal beberapa keping saja untuk menyatukannya. Tetapi, kepingan terakhir itu begitu transparan sehingga membuatku sangat sulit untuk menemukannya. Terutama tentang hal ganjil terakhir yang tak begitu aku pahami. Kenapa bisa menimpaku? Kenapa tidak dengan orang lain? Dan kenapa hanya aku yang bisa mengalaminya?

__ADS_1


Dan juga satu hal lagi. Kenapa beliau begitu khawatir? Jika beliau sudah tidak memilikinya, bukankah semua kutukan ini harusnya sudah berakhir. Apa ada sesuatu yang tertinggal?


Mengenai itu, aku hanya bertaruh saja. Semoga aku bisa meyakinkan Sang Ratu itu.


__ADS_2