
Aroma wangi yang kuat tercium dari bunga-bunga yang ada di dalam saat kembali memasuki ruangan ini. Dengan menahan suara napas, aku melangkah masuk ke kamar tidur sang putri yang tenang. Merasakan ketegangan pada saat melihat tirai putih yang bergantungan menutupi tempat tidur gadis itu.
"Ya Allah, mohon izinkan dia bangun," doaku lirih.
Berharap keajaiban datang saat perlahan meraih gorden ruangan. Kemudian menariknya ke samping dengan lembut hingga terbuka.
Seakan lupa untuk bernapas, aku terdiam sesaat menatap gadis yang terlelap di tempat tidur besar itu. Seolah memiliki aura yang lain dari biasanya. Merasakan rasa sakit yang luar biasa. Sama seperti saat aku pertama kali berkunjung.
Terkadang dalam hatiku bertanya, 'Akankah aku akan tetap tegar melihatnya seperti ini?'.
Kekhawatiran itu sudah berlalu sejak dulu. Teringat wajahnya nampak sangat bahagia saat bersama dengan gadis yang ia sayangi waktu itu. Senyum mereka seolah abadi.
Kalau saja bukan karena kutukan itu....
"...Dewi." Suaraku yang sayu memanggilnya. Tentu saja gadis yang tertidur itu tidak menjawab.
Sudah seminggu jiwa gadis cantik ini seolah terkurung di dunia antah-berantah. Unit perawatan intensif yang terpasang pada tubuhnya begitu membuatku sakit. Kalau tidak tahu apa-apa, aku pasti menganggap kalau dia hanya tertidur.
Aku menggenggam tangan kanan mungilnya dengan tangan kananku juga. Merasakan kehangatan yang memudar. Perasaan dari genggaman lembutnya terasa sama seperti sebelumnya.
Aku menahan napas, dan mati-matian membendung air mata yang hendak tumpah. 'Hal ini terlalu kejam!'. Itu adalah jeritan hati yang telah berulang-ulang kali aku teriakkan setelah melihat kenyataan sejak dua bulan terakhir ini.
Kemudian terdengar suara pintu masuk yang bergerak membuka, dan mengalihkan perhatianku pada laki-laki yang memasuki ruang ini.
"Hmm? Bu Yuli belum datang?" tanyanya, dengan perlahan Hary masuk ke dalam. Berjalan menghampiri setelah menutup pintu.
"Belum. Ada seseorang yang ingin beliau temui."
"Oh, begitu. Baru dari makam Kinara?"
Aku hanya mengangguk. Sejenak Hary terdiam menatap kami. Menciptakan keheningan sesaat. Hanya terdengar bunyi unit peralatan intensif yang begitu lirih. Entah kenapa wajahnya juga ikut muram, seakan tertular denganku.
Merasakan Hary yang mulai terdiam aku membuyarkan kesunyian ini. "Bagaimana rapatnya tadi?"
"Yah, begitulah," jawabnya seraya duduk di sofa kecil.
Aku terdiam kembali. Tak ada lagi yang ingin aku ucapkan. Hanya melihat Dewi yang begitu pucat. Memikirkan jawaban atas semua yang telah terjadi. Saat ini, di tengah kesunyian yang menghuni ruangan bernuansa kelam, aku menyadari bahwa rasa takut yang ada di dalam hatiku mulai muncul. Begitu menganggu untuk mencari jawaban yang ada.
Seolah juga merasa tak nyaman di hatinya, Hary mulai berbicara. "Apa semua ini karena kutukan itu?"
"Entahlah." Hampir tak terdengar aku menjawab.
"Kau sudah menanyakan pada Bu Sartika?"
"Belum. Meskipun aku tanya mungkin beliau juga tidak tahu penyebabnya."
Hary menyandarkan tubuh. Melihat ke arah jendela. Menatap langit yang cahaya senjanya mulai meredup. Seakan juga membenamkan diri pada suasana ini. Begitu serius memikirkannya.
"Apa kau merasakannya, Andy? Sepertinya Bu Sartika sedang menyembunyikan sesuatu darimu. Sebenarnya aku sudah merasakan hal itu saat kau menjelaskan bahwa dia sudah kehilangan kemampuan itu."
Aku sedikit terkejut. Wajah yang sempat tertunduk kini beralih menatapnya secara perlahan. Entah kenapa Hary seperti berbeda pada sebelumnya. Biasanya dia tidak akan langsung menceritakan pendapatnya sebelum mengetahui pendapat orang lain.
Merasa bahwa dia memikirkan hal yang sama padaku aku bertanya, "Menurutmu bagian mana yang aneh dari beliau?"
"Saat beliau bersikeras tak memberitahukan kenapa kau bisa terlibat."
Hatiku tersenyum masam. Ternyata itu. Kalau soal itu aku sudah diberitahu oleh beliau. Tapi aku sedikit merasa janggal dengan apa yang Hary ucapkan selanjutnya.
"Aku merasa kutukan itu akan tetap ada selama orang yang pernah mempunyai kemampuan itu masih hidup. Meskipun dia sudah tidak memilikinya."
"Jadi menurutmu, meski kemampuannya hilang, Bu Sartika masih belum terbebas dari kutukan itu?"
"Sepertinya begitu."
"...Menurutku bukan. Coba kau ingat lagi. Dari semua orang yang meninggal karena kutukan tersebut. Kalau dipikir kembali semua hanya orang terdekat, kan? Sementara Bu Sartika tidak terlalu dekat dengan keluarga Bu Yuli."
"Itu mungkin karena Bu Sartika sengaja menghindar. Agar tidak berdampak kepada orang lain, kan?" Hary membantah. Aku langsung menatapnya tajam.
"Memang awalnya aku merasa begitu. Tapi kenapa Dewi malah mengalami koma?! Meskipun belum ada korban lagi, tapi kenapa rasanya seperti semua belum berakhir?! Dan anehnya kenapa baru terjadi sekarang setelah aku menemui beliau?!" jelasku mematahkan argumennya. Entah aku secara sadar atau tidak mengatakan itu. Rasanya aku seperti sangat tidak sepakat dengan apa yang Hary ucapkan tadi.
"M-maaf. Aku hanya berpikir seperti itu," Hary mencoba menenangkan.
Mataku yang menatap tajam ke arahnya kini kupaling kepada Dewi. Ada sedikit rasa bersalah dalam diriku pada Hary. Mungkin aku terlalu keras memikirkan hal tersebut sehingga tak memperdulikan sekitarku.
Yang dikatakan oleh Hary mungkin benar. Tapi entah kenapa aku begitu menolak. Seakan bukan kelogisanku yang berbicara, melainkan hati kecilku.
"Jujur saja aku tak begitu tahu apa yang kau pikirkan saat ini, Andy. Namun aku merasa ada yang berbeda, itu saja. Tapi mungkin kita memikirkan hal yang sama meski cara pandang kita berbeda."
"...!"
Sejenak aku terdiam mendengarnya. Aku kembali merasakan sesuatu. Bukan karena apa yang dimaksud Hary. Tapi dengan kalimat terakhirnya. Membuat bibirku berucap lirih, "Cara pandang... yang berbeda...?"
Benar juga. Kenapa aku tidak menyadarinya? Jadi, saat ini, sementara aku memikirkan penyebabnya, ada sesuatu yang sedang memperhatikan semua ini. Lalu aku? Aku hanya berpikir kalau kemampuan itu hanya sekedar fenomena hebat saja.
Sebuah kemampuan luar biasa, si pengguna, kutukan mengerikan, sebuah tragedi, dan juga misteri di balik semua ini. Aku hanya terjebak pada lingkaran itu dan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang-orang di sekitarku.
Tanpa berpaling aku bertanya, "Hary, jika kau menemukan sesuatu yang begitu menarik bagimu, tapi kau tak ingin orang lain tahu bahkan orang terdekatmu sekalipun, apa yang akan kau lakukan?"
Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, Hary langsung memasang wajah yang begitu memikirkan jawabannya dengan singkat. "Hmm? Mungkin aku akan mengamatinya dengan hati-hati terlebih dahulu. Dan bertindak seolah-olah tidak tahu apapun."
"...!"
Tak kusangka, bahkan orang biasa seperti Hary pun juga berpikir begitu. Hal sederhana yang dengan mudahnya aku lewati. Aku seperti orang bodoh saja. Sungguh kecerobohan yang memalukan. Aku benar-benar bertindak seolah bisa mengatasinya jika mendapatkan jawaban.
Yang aku lakukan bukanlah menulis akhir cerita yang indah, melainkan semakin merusaknya. Serta telah terpikat akan tipu daya dan terjebak kedalam rencana licik si mawar itu.
※ ※ ※

Cukup lama aku berada di sini. Duduk terdiam di sebuah tempat yang bernama "Rose Caffe". Sebuah kedai kopi yang sering aku kunjungi. Menyediakan kopi yang begitu aku suka karena rasanya yang menurutku unik. Dihiasi sombre dengan rona coklat tua. Papan iklan yang mencolok di luar adalah sesuatu yang sulit untuk dilewatkan.
Kedai kopi ini terasa sepi karena tak ada musik atau pun TV yang disiarkan. Meski memang lingkungan yang nyaman, tapi tempat ini adalah tempat yang membosankan jika dijadikan untuk menunggu seseorang. Hanya ada beberapa menit lagi sampai waktu pertemuan kami, jadi aku merasa sedikit gelisah. Memikirkan tentang orang yang aku tunggu masih belum datang seraya melihat dalam meja kompartemen yang kutempati.
Setelah perbincangan dengan Hary tadi, Bu Yuli tiba beberapa saat. Aku berpamitan kepada beliau karena ada yang harus aku lakukan hari ini. Tentu saja aku tidak menceritakan apa itu. Bahkan Hary sekalipun. Hingga akhirnya aku langsung menuju ke tempat ini setelah beranjak dari rumah sakit. Menunggu seseorang yang sangat ingin aku pertanyakan atas semua ini.
Aku membetulkan jaket lagi dan membuat tatapan mencela. Di ujung tatapanku, seseorang yang lama ditunggu sedang berjalan ke arahku dengan lambaian tangan. Setelah memesan cepat kopi ke pelayan, orang itu duduk di depanku.
"Maaf, membuat Nak Andy menunggu."
Seseorang yang kutemui ialah Bu Sartika. Berbicara dalam nada ramah dan anggun sama ketika aku menelponnya beberapa menit yang lalu.
Sebenarnya aku ingin menemui beliau secara langsung besok. Tapi, saat memintai nomor telepon beliau, Bu Yuli memberitahukan kepadaku bahwa dia baru saja bertemu dengan Bu Sartika sebelum menuju rumah sakit. Tentu saja aku langsung menelpon Bu Sartika sebelum beliau kembali pulang, memberitahukan tempat ini untuk membicarakan sesuatu yang penting. Entah kenapa beliau langsung setuju.
"... Um, Kenapa Nak Andy bisa tahu nomor Nenek?"
"Menurut Nenek dari mana aku bisa tahu?" tanyaku balik pada beliau dengan tenang. Sama seperti yang beliau lakukan dulu.
Sejenak beliau berpikir. Senyumnya muncul menyadari. "Bu Yuli, kan?"
__ADS_1
Aku hanya terdiam menatap sedikit tajam. Entah kenapa aku merasa berbeda mengenai beliau. Aku punya perasaan lain yang lebih kuat sekarang.
Orang ini membuatku takut. Ini bukan hanya karena topeng sempurnanya. Tapi di balik topeng itu ada wajah yang tak kenal ampun bahkan tak perlu repot baginya untuk menyembunyikan dari orang yang melihat. Dan terakhir, matanya menunjukkan kalau ada banyak hal lain yang disembunyikan. Itu sebabnya aku tak mengalihkan tatapan ini.
"Lalu, ada sebab apa sampai menyuruh Nenek datang ke sini mendadak? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya beliau tersenyum dengan tampang yang kalem.
Merasa muak dengan basa-basi ini aku mencoba menanyakan langsung. Aku sudah tak mampu lagi menahan kesabaranku kepada beliau. Terutama senyum palsu itu, terasa begitu licik dan membuatku semakin kesal.
"Waktu itu, Nenek pernah mengatakan kalau aku spesial, bukan?"
"...? Memang benar."
"Spesial apa yang Nenek maksud?"
"Karena kau membuat Kinara menyu-"
"Spesial apa yang Nenek maksud?!"
Dengan segera aku memotong niat beliau yang ingin bergurau. Suasana mulai hening. Meskipun aku berniat bertanya dengan santai, tapi tetap saja emosiku tak tertahan. Pertanyaanku barusan dengan acuh tanpa senyum tak dibalas langsung oleh beliau.
Setelah menyesap kopi, beliau mengelus tepi cangkirnya dan menatapku dengan mata muram. Beliau kembali tersenyum, hanya saja bibirnya tampak rapuh. Tapi sifat suara dingin membuat dia terlihat seakan orang yang sepenuhnya berbeda dari sebelumnya.
"Kau sudah tahu bahwa Nenek sedang berbohong, kan?"
Raut muka beliau yang cantik dan ramping berubah layaknya seperti tak menyerupai wujud manusia lagi. Mata yang terlihat sedang menatapku, yang duduk tepat di hadapannya. Walau dia seakan sedang memperhatikanku tapi kenyataannya sama sekali tidak. Aku ingin menarik kembali pandangan itu dan mengeluarkan suara dengan pikiran yang kacau.
"Lebih dari tahu. Aku sudah muak!"
Menyambut kekesalanku, dengan santainya beliau tersenyum. Bukan senyum ramah seperti biasa. Melainkan sebuah senyuman seperti ingin menantangku.
"Beri bukti yang logis jika Nenek benar-benar berbohong."
Mendengar tuntutannya yang begitu tenang aku juga ikut menenangkan diri juga. Aku mencoba untuk membuat hatiku senyaman dan setenang mungkin agar tidak terjebak dengan beliau kembali. Harusnya aku melakukan itu dari tadi.
"Pertama, mengenai laki-laki yang berada di dalam mobil itu. Dia bukan adik dari Bu Sinta, kan?"
"...Alasannya?"
"Karena Bu Yuli. Saat mengunjungi Dewi waktu itu, beliau sama sekali tak memperdulikan orang itu. Bahkan orang itu sendiri juga tak menghampiri beliau. Hanya menunggu di luar ruangan saja. Kalau memang memiliki hubungan keluarga, kenapa malah begitu?" jelasku padanya. Beliau hanya terdiam menyimak.
"Dan juga yang lebih memperjelas lagi, dulu Nenek bilang bahwa suami Nenek sudah meninggal saat Nenek sedang mengandung Bu Sinta. Sial sekali aku tidak langsung mengingatnya."
Tak ada jawaban dari beliau. Hanya senyuman yang tadi masih tersisa. Seakan belum puas beliau hanya terdiam menunggu jawabanku lagi.
"Kedua, yang ini sebenarnya aku sudah merasa aneh. Tapi awalnya aku tidak mau berpikir negatif. Tentang mengunjungi makam Kinara waktu itu. Nenek berbohong juga, kan? Saat aku masuk ke dalam mobil, entah kenapa aku tidak mencium aroma bunga mawar."
Terlihat beliau sedikit bertanya-tanya. "...Bunga mawar?"
"Dari pengalamanku tentang Dewi, yang selalu membawa bunga mawar putih kesukaan Kinara saat hendak mengunjungi makam. Meski tersamarkan dengan pengharum mobil, tapi aromanya masih tersisa. Dibandingkan dengan pengharum di mobil Nenek yang tak sekuat pada mobil Bu Yuli," jelasku, terlihat senyum Bu Sartika mulai memudar perlahan.
Merasa aku sudah bisa mengalahkan senyum menantang itu, dengan mantap aku melanjutkan ucapanku.
"Sangat aneh, bukan? Seorang nenek yang sangat mencintai cucunya, tapi tidak membawakan bunga kesukaannya saat mengunjungi makam. Terlebih lagi saat berkunjung di rumah Nenek, sepertinya Nenek juga suka sekali merangkai bunga mawar."
Beliau hanya terdiam. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi menatapku. Entah kenapa seperti terbawa dengan suasana sunyi yang beliau ciptakan. Tetapi aku melawan. Mencoba untuk semakin memancing dan mendesaknya.
"Aku bahkan curiga bahwa Nenek setiap seminggu sekali mengunjungi makamnya. Jika memang benar, seharusnya juga ada bekas-bekas bunga dari orang selain kami bertiga, kan? Dan juga, tadi siang aku sempat menanyakan kepada petugas penjaga makam di sana. Mereka mengatakan bahwa selama ini tidak melihat siapapun yang datang ke makam Kinara selain kami."
Lagi-lagi tak ada jawaban. Tapi tak butuh waktu lama aku menunggu, beliau akhirnya mau berbicara.
"Anak kecil sepertimu mudah sekali dibohongi. Namun karena berpikir seperti itu, Nenek jadi meremehkanmu."
Beliau melihat ke luar jendela. Menatap langit yang digantungi awan tebal, lalu bergumam. "Rencanakan, ya?"
Kemanakah pertanyaan yang diwarnai nada kesepian itu ditujukan?
"Waktu itu, Nenek hanya mengawasiku saja, kan?"
Tanpa mengalihkan wajah, dengan perlahan bibir beliau berucap, "Kau sudah tahu alasannya, kan? Kenapa kau masih bertanya?"
"Itu karena aku masih belum mempercayainya!"
Begitu keras aku mengatakannya. Suaraku seperti memecah suasana sunyi di tempat ini. Untung saja tak ada pengunjung selain kami berdua. Meskipun sesaat sang pemilik kedai sempat melihat kami.
Beliau menatapku, tanpa ekspresi namun dengan lembut beliau berbicara, "Sudah Nenek katakan, bukan? Kau berbeda dengan orang-orang yang menjadi wadah sebelumnya."
"Karena aku masih hidup, bukan? Itulah kenapa Nenek bilang bahwa aku begitu spesial. Tidak seperti orang-orang sebelumku, yang meninggal lebih dahulu daripada pasangannya. Hal yang unik ini membuat Nenek tertarik?"
"Benar," dengan santainya beliau menjawab.
"Dan setelahnya, Nenek menelitiku, kan? Terus mengawasiku apakah kutukannya benar-benar menghilang atau justru berpindah padaku."
"Memang benar," jawabnya lagi dengan santai. Membuat amarahku kembali terpancing.
"Lalu kenapa Nenek tidak mengatakannya?!"
"...Kalau Nenek mengatakannya, Nenek tidak akan mendapatkan hasilnya."
"...?!"
Heh? Apa-apaan dengan jawaban itu?
"Jangan bilang bahwa Nenek menjadikan Dewi sebagai percobaan Nenek juga."
Kini wajah beliau berpaling menatap langit kembali. "Entahlah...."
"Sudah cukup! Apa Nenek sudah tidak punya perasaan menjadikan nyawa orang lain sebagai percobaan?! Apa Nenek tidak melihat bagaimana menderitanya Dewi selama ini?!"
Aku kembali membentaknya. Kali ini aku tidak bisa lagi menahan amarah. Hatiku semakin sakit mendapatkan kenyataan ini. Begitu membuatku ingin semakin meluapkan semua pada mawar licik ini.
Bukannya memasang wajah yang dingin, raut wajah beliau kini berubah dengan cepat. Aku bahkan sedikit terkejut. Wajahnya memang masih memasang tanpa ekspresi. Tapi dari mata itu, entah kenapa aku merasakan hal yang sering aku lihat.
Mata itu, sebuah mata dari orang yang sedang menjerit. Mata dari orang yang sedang menangis begitu keras dalam hati. Tak jauh berbeda dengan orang-orang yang aku temui sebelumnya.
"Tidak punya perasaan, ya? Mungkin kau benar. Sepertinya Nenek sudah kehilangan hati nurani Nenek."
Dari apa yang beliau katakan aku bisa merasakan bahwa beliau tidak sedang berbohong kali ini. Aku seperti bisa menebak apa yang ada dalam hatinya. Sesaat aku memikirkan apa yang sedang beliau rencanakan, perlahan aku bisa mengerti pecahan-pecahan yang tersisa ini.
"Jika Dewi meninggal, itu berarti kutukan itu belum sepenuhnya hilang. Dan jika kutukan itu masih ada, berarti kemampuan itu juga masih ada. Apa itu yang Nenek pikirkan?"
Dari pernyataanku, beliau hanya mengangguk saja.
"Dan karena Kinara meninggal lebih dahulu daripada aku, itu berarti kemampuan dan kutukannya mungkin berpindah padaku. Dari situlah, jika memang benar, Nenek mencoba memancingku untuk menggunakan kemampuan itu suatu saat nanti. Dengan cara menjatuhkan suasana hatiku akan meninggalnya Dewi. Agar nanti Nenek dengan mudah bisa mempengaruhiku."
Bu Sartika mengangguk tanpa suara. Serta menatapku dan berbicara dengan nada yang biasa, "Kau sudah tahu alasan kenapa Nenek tidak memberitahukanmu, kan? Karena Nenek ingin kau menggunakan kemampuan itu untuk kembali di waktu sebelum kau bertemu Kinara."
"Lalu, kenapa Nenek memanfaatkan Dewi juga?! Dan juga apa Nenek bisa menjamin mereka semua bisa selamat?!" Rasa kesalku masih menggebu.
"Nenek sepertinya sudah putus asa. Tak ada kemampuan itu lagi. Dan hanya ini yang terpikirkan. Bahkan harus mengorbankan orang lain sekalipun, sebenarnya Nenek juga tidak mau. Tapi Nenek harus bisa bertaruh akan semua ini. Tapi sepertinya semuanya sia-sia."
__ADS_1
"Itu karena Nenek mempermainkan nyawa orang lain!"
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika berada di posisi Nenek?"
Beliau menatapku. Matanya yang mulai basah terlihat dengan jelas mengarah kepadaku, seperti sedang memohon. Mungkin yang beliau maksud aku pasti tidak akan menyetujui apa yang beliau rencanakan. Setelah mengetahui semua rencana beliau yang berani.
Mungkin aku terlalu berlebihan menilai beliau, dan lagi-lagi tak memikirkan perasaan orang lain kembali. Namun kali ini syukurlah aku bisa langsung menyadari. Bahwa mawar tetaplah mawar. Meskipun durinya begitu kejam, tapi tak akan pernah mengalahkan keindahan dan wangi darinya. Yang melambangkan sifat sejati sang mawar.
Aku membulatkan tekad. Menegakkan tubuh dan menatap dengan mantap. Menanyakan hal terakhir yang mungkin suatu hari nanti bisa menolongku.
"Lalu, apa Nenek tahu bagaimana cara menghapus kutukan itu selain yang aku ketahui selama ini?"
Beliau hanya terdiam dan tertunduk. Matanya begitu sayu. Masih terlihat jelas di dalam benaknya seperti berdebat. 'Tak ingin ada korban lagi'. Sepertinya kata-kata itu masih melekat di hati kecil beliau. Meski rasa putus asa begitu kuat menyelimuti.
"Apa kau masih ingin tahu? Setelah mendapatkan kenyataan atas semua ini. Dan juga meskipun nyawa sebagai taruhannya? Entah itu nyawamu atau nyawa dari orang-orang di sekitarmu."
Pertanyaan beliau begitu mengejutkan. Namun karena tekadku sudah semakin tak tergoyahkan aku hanya mengangguk setuju.
Tak ada yang beliau katakan setelahnya. Hanya kesunyian yang semakin menguat. Namun aku masih sabar menunggu apa yang akan disampaikan beliau. Hingga akhirnya beliau menyampaikan sebuah pesan samar yang dia katakan padaku.
"Hianatilah takdirnya, maka dia akan meninggalkanmu bersama kenangan yang dibuat olehnya dan takdir itu."
※ ※ ※
Hari esok, lebih tepatnya jam 4 sore, aku hanya duduk terdiam sendiri di dalam ruangan beraroma bunga ini. Berada di samping seorang gadis yang semakin kurus kering di atas kasur. Selimut putih menutupi tubuhnya dari dada ke bawah. Meski kali ini alat bantu pernapasan sudah tidak ia kenakan, tapi tetap saja hal itu bukan sebuah kemajuan bagiku. Dadanya yang lemah dengan perlahan mengembang dan mengempis. Cahaya senja yang menerpa menyamarkan pandanganku pada sang gadis tatkala ia tertidur dengan anggun.
Teringat saat aku melihat rumah sakit besar ini dua bulan yang lalu. Aku berpikir jika Dewi mungkin sudah sangat lama merasakan hal yang sangat menyakitkan. Inilah sebabnya, ketika aku mendengar dia kembali tertidur, aku merasa masih sulit untuk menerima fakta.
Di samping, aku melihat Dewi yang sedang berbaring, dan merasa kaku. Sesekali aku berpikir 'apakah itu benar?'. Dewi, orang yang begitu lama menderita, harus mendapatkan dampak dari semua ini. Apakah semua ini pantas dia dapatkan? Apakah semua ini memang jalan takdirnya? Entah itu karena kehabisan alasan atau emosi, aku terang-terangan menolak kenyataan ini.
Dengan perlahan aku bertanya pada gadis ini. "Dulu kau bilang, kau akan keluar dari rumah sakit, kan? Kau akan berlibur ke pantai bersama teman-temanmu, kan? Tapi kenapa...?"
Aku seperti orang bodoh. Seolah sudah cukup hanya berada di sampingnya. Tidak mengetahui apapun dan tidak mencoba untuk mengerti. Kuingat saat gadis itu berteriak di hatinya, air mata bercucuran sebelum dia tertidur.
Tapi, dari semua yang dialami ini, aku bisa mengerti perasaan setiap orang. Terutama tentang Kinara dan Dewi. Jadi seperti ini rasanya menanggung semua beban mengerikan ini. Sungguh menyedihkan. Hanya beberapa waktu saja mengetahuinya aku seperti sudah menyerah dengan kenyataan ini.
Tanganku kembali menggenggam tangannya yang begitu kurus. Tak kurasakan lagi sebuah kehangatan yang samar pada tangan itu. Lebih dingin dari sebelumnya. Aku menahan napas dan mengeluarkan suara di antara gigiku yang menggigit erat. Akan tetapi, aku tak dapat mengatakan dengan jelas isi hatiku.
"Seperti ini, ya? Rasanya berada di posisimu, Kinara? Aku jauh lebih lemah daripada kalian. Aku bahkan tak mampu tersenyum kembali setelah mengetahui semua kenyataan ini."
Wajahku tertunduk, seperti tak mampu terangkat kembali karena rasa malu. Tak ada suara yang terdengar selain desahan tangisku. Aku tak mampu menahan air mata ini. Yang mulai mengalir dengan lembut dan terjatuh tepat di tangan yang aku genggam ini.
Namun entah itu imajinasi atau bukan, aku seperti merasakan sebuah gerakan ringan pada jemarinya. Sesaat aku tak menyadari. Namun terdengar suara desahan lirih, menambah rasa penasaran. Aku menatap ke arah Dewi.
"...!"
Saat itu... kepala Dewi bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar dan terbuka secara perlahan. Mata di bawah kelopak itu sudah berwarna cokelat mati. Kehilangan sinarnya dan menunjukkan sebuah cahaya terang sembari menatapku.
"...Dewi!"
Aku terkejut melihatnya yang kembali membuka mata. Tanpa pikir panjang aku langsung berdiri hendak menekan tombol panggilan untuk perawat yang tepat di atas kasur Dewi. Namun, meski terasa lemah, tangan kanannya yang masih aku genggam itu segera menahanku. Membuatku menghentikan apa yang akan aku lakukan ini dan terdiam menatap. Sepertinya dia melarangku untuk melakukannya.
Bibir yang berwarna sama dengan kulitnya berkernyit lemah, dan tangan kanan kurus yang aku genggam lembut mulai bergetar dan perlahan bergerak ke wajahku. Seraya tangan itu bergerak, aku kembali terduduk. Sedikit mendekatkan tubuh untuknya yang seperti ingin menyentuh wajahku. Aku hanya terdiam membeku dan menuruti apa yang dia lakukan.
Hingga akhirnya, telapak tangannya yang lemah berhenti di pipi kiriku setelah menyusuri wajah. Jemarinya sesekali bergerak, menyentuh bekas air mata ini.
"Baru kali ini aku melihat Kakak menangis...."
"...!"
Ucapnya yang begitu lembut semakin menggetarkan hati. Namun aku hanya bisa terdiam dan tak mampu menjawab. Tangan kiriku bergerak memegang tangan kanannya.
Dengan lembut, Dewi kembali mengatakan sesuatu, yang membuatku sempat berhenti bernapas.
"Sebenarnya... aku sudah mati, kan Kak?"
"...?!"
Aku hanya terdiam memasang wajah terkejut. Suara ini sangat berbeda dari yang sebelumnya. Tergagap-gagap dan gemetar di saat yang sama. Satu-satunya suara Dewi yang tersisa, di mana kesadarannya berkumpul kini hampir memudar. Hal ini membuat perasaanku seperti meledak di dalam hati. Tapi aku masih bisa menahan emosi dan tetap tenang.
Dewi tersenyum lembut dan terlihat mendesah sambil berkata, "Sebenarnya... aku baru saja seperti mengalami mimpi yang sangat panjang. Di mimpiku, aku dan ibu seperti baru saja keluar dari Taman Mustika. Tapi... ada sebuah mobil dengan cepat menabrak kami."
Mendengar kata-kata itu, air mataku akhirnya jatuh kembali. Tapi aku mencoba untuk tetap tersenyum dan berbicara dengan suara yang lembut. "Itu hanya mimpimu saja, Dek. Jangan terlalu dipikirkan."
Bukannya membantahku, Dewi justru memberiku sebuah senyuman dan berkata sesuatu yang membuatku begitu terkejut.
"Aku... pernah melihat senyum seperti itu dari seseorang. Karena sudah terbiasa mengetahui bahwa senyum yang ia tunjukan itu palsu, jadi aku bisa tahu bahwa Kakak juga mencoba berbohong seperti orang itu."
"...!"
Itu... adalah kata-kataku yang kuucapkan padanya dulu. Sebuah kalimat atas ungkapan hatiku yang begitu lelah dengan senyuman palsu yang aku dapatkan. Rasanya seperti tertampar sangat keras dengan tanganku sendiri. Tak kusangka, kini aku menjadi seperti mereka berdua.
"Dulu... Kinara pernah menceritakan tentang kutukan itu. Sempat dia mencoba menghindar agar aku tidak terkena dampaknya. Tapi, aku menolak. Jika dia semakin jauh, mana bisa aku mendapatkan semangat hidup atas penyakitku ini?"
Aku semakin mendekap tangannya. Desahan tangisku semakin bergema di ruangan ini saat mendengar penjelasan Dewi.
"Dan saat ini... aku sudah mengerti... bahwa Kinara mengorbankan nyawanya untuk kami."
Kali ini aku sudah tak bisa berkata apa-apa. Yang aku lakukan hanya menangis dan semakin menangis. Dewi menutup mata. Dadanya yang rata mengembang dan mengempis beberapa kali. Dia menggunakan mata sayunya untuk menatapku sekali lagi. Dia kemudian bernapas dengan keras, terlihat seperti memeras tenaga terakhir untuk keluar dan melanjutkan dengan suara yang terputus-putus.
"Aku selalu... selalu berpikir, kalau aku, yang selalu berhadapan dengan kematian bahkan sejak lahir... apa sebenarnya arti kehidupan di dunia ini? Aku tidak bisa menciptakan apapun di dunia ini, dan aku juga tak bisa membantu orang lain... Aku hanya bisa menghabiskan obat-obatan dan peralatan yang tak terhitung jumlahnya.... Begitu menggangguku, terasa sakit... jika aku akhirnya harus menghilang... Tapi mungkin biarkan saja aku menghilang... aku telah memikirkannya beberapa kali... aku hanya merasa... kenapa aku harus terlahir di dunia ini?"
Sisa-sisa kehidupan seperti merembes keluar dari tubuh Dewi. Dada yang bergerak tanda bernapasnya kini semakin jarang. Suaranya menjadi lebih lemah dan semakin lemah seperti akan segera berhenti. Walau begitu, tak ada bahasa yang dapat menggambarkan itu semua jauh di dalam jiwaku.
Dan kini, air mata Dewi mulai muncul.
"Tetapi... tetapi... aku akhirnya mendapat jawaban... bahkan... jika itu tak ada artinya... Jika aku bisa hidup... itu sudah cukup.... Pada akhirnya... aku akan pergi juga... Dan pada akhirnya... aku dapat benar-benar merasakan... begitu berarti.... Begitu banyak orang... menyayangiku... dan saat ini aku berbaring... di samping orang yang paling kucintai... setelah ibuku dan Kinara... sambil menunggu waktuku berakhir...."
Aku mengusap kepalanya dengan lembut. "Jangan khawatir. Aku akan selalu di sisimu. Kau pasti akan bisa melewati semua ini. Jangan menyerah. Aku... aku...."
Tangisanku begitu mengusik kata-kataku yang hendak terucap. Begitu berat rasanya beban dalam hatiku tatkala melihatnya seperti itu. Perlahan dia mengalihkan pandangan ke sisi kiri. Tangan kiri Dewi bergerak lemah meraih sebuah buket bunga.
Sebuah rangkaian bunga mawar merah, yang aku buat bersama Kinara sebagai hadiah untuk Dewi. Bunga itu, adalah simbol harapan kami demi kesembuhan Dewi untuk melewati operasinya. Bunga itu sudah dua bulan berlalu menemaninya. Dan masih terlihat bagus karena ditaruh di sebuah vas bunga yang berisi air yang dibubuhi obat penyubur tanaman hias.
Dengan tertatih Dewi menyerahkannya padaku seraya berkata dengan berat.
"Bunga ini... aku berikan kepada Kakak... Sepertinya... aku tidak bisa... menepati janjiku pada Kinara... Dan sepertinya... aku tidak bisa lebih lama... menjaga bunga ini... Aku harap Kakak... bisa menjaganya...."
Kata-kata Dewi berhenti dengan engahan pendek. Matanya terlihat seperti melihatku dan menuju tempat nan jauh. Apa yang ia lihat adalah seperti dunia nyata yang lain.
Tak bisa tertahan lagi air mata yang deras menetes ini. Terus menerus jatuh di bunga itu. Hancur menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang. Walaupun begitu entah kenapa mulutku masih tersenyum secara natural. Menganggukkan kepala dengan lembut dan mengatakan kata-kata terakhirku padanya.
"Aku pasti akan menjaganya... pasti...."
Mata Dewi bertemu dengan tatapanku. Sinar yang langsung membentuk dua tetes air mata yang mengalir, turun dari wajah pucat Dewi dan akhirnya melebur dan lenyap ke dalam cahaya. Dia mengerakkan bibirnya dan membuat sebuah senyuman. Saat itu juga, sebuah suara lain seperti merasuk ke dalam kesadaranku secara langsung.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak. Terima kasih sudah membantu menepati janjiku yang terakhir sebelum aku pergi."
Bersamaan dengan mendaratnya tetesan air mata yang terakhir, diiringi dengan cahaya jingga yang hangat... Dewi menutup matanya....
__ADS_1