MAWAR PUTIH

MAWAR PUTIH
(BAB - 01 A)


__ADS_3

(Kamis, 11 Agustus 2016, 15:00 wib)


Hari yang tak begitu berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Seperti biasa, pelajaran yang aku jalani hari ini juga berlangsung normal. Bedanya, hari ini kebetulan jadwal kelasku melakukan praktik pelajaran kimia di laboratorium. Yang saat ini telah selesai kami jalani dan bergegas untuk pulang.


Seraya beranjak keluar, aku merogoh ponsel di saku celana. Bukannya memeriksa jam, mataku malah tertuju pada sebuah pesan. Aku langsung membukanya.


[Pesan baru diterima


Pengirim: Ayah


Andy, jangan lupa. Ayah nanti sore pulang.]


Salah satu pesan singkat yang terus membuat ponselku bergetar selama jam praktek tadi.


Huh, benar-benar menyusahkan! Apa aku terlihat seperti anak SD yang harus diperingatkan berkali-kali? Lagipula aku sudah mencatatnya di memo.


"Andy! Ayo ke kantin sebentar!"


Terdengar teriakan dari seorang anak laki-laki saat aku sudah menjauh dari lab. Mengajak untuk pergi ke kantin belakang seperti biasa. Memang kantin di sekolah buka sampai sore hari. Karena para siswa dan guru-guru cukup banyak yang pulang larut saat jadwal praktik kelas.


"Aku harus belanja dahulu sebelum ayahku datang. Maaf Hary!" balasku, tanpa menghentikan langkah seraya melambaikan tangan.


"Oke! Hati-hati!" jawab Hary seraya melambaikan tangannya.


Hary berjalan menuju sekumpulan teman sekelasku lainnya yang sedang berdiri tepat di samping pintu lab. Sepertinya mereka juga menungguku. Tentu saja dari sayup-sayup perbincangan mereka.


"Andy tidak ikut?" tanya Vino.


"Tidak. Ayahnya sedang di rumah," jawab Hary.


Hary adalah teman dekatku sejak TK. Pertemanan kami terus berlanjut, dan meneruskan di sekolah yang sama hingga kelas satu SMA. Anehnya, aku selalu satu kelas dengannya. Memang sempat aku merasa bosan melihat wajahnya. Namun di lain sisi, aku juga merasa senang bisa terus bersamanya.


Aku hanya remaja biasa, berpenampilan biasa pula. Tinggal di sebuah kota kecil dengan ayahku, di kota Mustika. Ibuku sudah tiada saat beliau melahirkanku. Sejak kecil ayah yang mengurusku. Beliau begitu disiplin.


Saat menginjak SMP, aku sudah diajarkan cara memasak olehnya. Setiap hari kami saling bergantian untuk membuat sarapan dan makan malam. Untuk makan siang, kecuali hari libur, tentu saja beliau mencari di luar. Sedangkan aku lebih sering membawa bekal makanan sendiri. Maklum, istirahat adalah waktu yang sering kuisi dengan menyicil sebagian PR-ku. Karena di rumah aku sudah pasti kelelahan dan tertidur.


Saat ini, aku melanjutkan sekolah di salah satu SMA Negeri di kota ini, SMAN 1 Mustika. Dari sinilah, aku menjalani kehidupan bersekolah normalku.


※ ※ ※


"Terima kasih. Selamat berbelanja kembali."


Suara khas dari kasir minimarket setelah membayar barang-barang yang kupilih. Decit lirih pintu kaca terbuka. Menyambung ucapan selamat tinggal kepadaku, seraya memeriksa lagi barang belanjaanku. Mungkin ada sesuatu yang aku lupakan.


Seperti hari-hari yang kujalani sebelumnya. Terutama di saat Ayah tidak sedang ke luar kota karena urusan pekerjaan. Ayah akan tiba jam 5 sore nanti. Meskipun hari ini baru saja aku menjalani ujian praktek, dan masih lelah karena baru saja pulang jam 3 sore lebih. Tapi apa boleh buat. Aku harus bergegas sebelum beliau tiba di rumah. Karena mungkin juga beliau lebih merasa kelelahan. Ditambah lagi aku melihat waktu sudah menunjuk pukul 16:32 wib pada jam tangan digitalku.


["Pemirsa, sebuah kecelakaan baru saja terjadi di Taman Mustika pukul 16:00 wib. Saat ini kami sudah berada di lokasi kejadian ...."]


Terdengar berita singkat dari TV, di sebuah toko elektronik kecil tepat sebelah minimarket.


Langkah yang awalnya kupercepat, kini sedikit melambat untuk mencuri dengar berita tersebut. Aku melirik ke arah berita itu saat tepat di depan toko untuk melihatnya. Hal yang membuatku penasaran adalah, lokasi kejadian tersebut yang dekat dengan rumahku.


["Sebuah mobil mencoba menerobos lampu merah dan mengalami rem blong. Dari kejadian tersebut, ada dua korban tewas. Yaitu Yulianti (37 tahun), dan Dewi (15 tahun). Pada saat tersebut sedang berjalan hendak menyeberang dari taman. Kedua korban tidak sempat menghindar karena kejadian yang terlalu cepat."]


Seraya menampilkan lokasi kejadian. Diputar juga sebuah rekaman CCTV yang kebetulan merekam detik-detik kejadian tersebut. Pada kejadian itu, lampu kuning mulai berkedip dan berganti merah. Namun ada sebuah mobil yang malah menambah kecepatannya. Mungkin bagi si pengendara mobil, masih sempat untuk melewati sebelum lampu merah. Sebuah kebiasaan simpel namun fatal yang kerap dilakukan sebagian besar para pengemudi.


Ibu tersebut menyeberang setelah lampu merah menyala. Karena terkejut, secara refleks beliau mempercepat langkahnya. Namun nahas, kakinya terpeleset dan terjatuh. Mobil itu menabrak keduanya. Lalu berhenti melaju setelah menabrak bangku taman di dekat trotoar. Pada tangan gadis tersebut, memegang erat sebuah buket bunga mawar putih.


Dari rekaman itu, aku mulai merasa sedih dan tersentuh melihat gadis yang tak berdaya. Dia harus mengalami kematian yang tragis.


Merasa tak tega, kupalingkan tubuhku dan berjalan pulang. Lagian, aku juga sudah mulai merasa lapar. Belum juga PR yang diberikan Guru hari ini begitu banyak. Kalau aku semakin telat, waktuku untuk istirahat nanti sangatlah minim. Ditambah lagi aku merasa kasihan terhadap ayahku kalau aku terlambat.


Tetapi, saat kakiku berjalan beberapa langkah, aku melihat ada sesuatu yang berkilau di depanku. Lebih tepatnya dua langkah dari kakiku. Langkahku terhenti, setelah aku berada tepat di depan benda tersebut.


Kuperhatikan dengan saksama dan mengambil benda tersebut. Sebuah liontin bermahkota bunga mawar putih yang berkilauan. Sepertinya, cukup lama benda ini terjatuh dari pemiliknya. Dilihat dari sangat sedikit orang berlalu-lalang di sini.


Lebih baik aku berikan kepada pemilik toko elektronik itu. Kalau si pemilik liontin ini mencari di sekitar sini, dia bisa memberikannya.


Namun, saat aku beranjak, ada sesuatu hal yang aneh di sekitarku.


"...!"


Entah rasanya napas dan tubuhku seperti terhenti beberapa detik. Seperti membeku, namun kesadaranku masih ada. Dan lebih aneh lagi, aku merasa kendaran dan orang-orang yang melintas seperti berhenti total. Tak ada suara sekecilpun. Bahkan suara embusan angin. Terasa waktu terhenti dan aku berada di kota mati untuk sejenak.


Begitu terlepas dari kebekuan, aku langsung melihat sekitar. Tak ada yang aneh begitu mataku menyisir sekeliling, seperti orang linglung. Semua bergerak normal seperti biasa.


Apa barusan itu? Atau mungkin hanya perasaanku saja?


Dan tiba-tiba ....


"Aww!"


"...?"


Terdengar teriakan seperti orang yang baru saja tersungkur. Kualihkan pandangan ke arah sumber suara itu, yang ternyata tepat di depanku. Seorang gadis dengan rambut hitam panjangnya, terlihat indah karena pancaran senja. Tubuh yang mungil namun terlihat begitu dewasa bagiku. Terbalut dengan cardigan pendek lengan panjang rajut putih yang cerah. Gadis itu sedang terjatuh sekitar 10 meter dari tempatku berdiri. Di hadapan gadis itu, banyak sekali bunga mawar merah yang berhamburan.


Tangisannya muncul tak henti-henti seraya memunguti bunga itu. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa?"


"...."


Dia tak menoleh sedikitpun dan masih memunguti bunga-bunga tersebut. Dengan wajah manis dan polos dibalut tangisan.


"Sini biar aku bantu."

__ADS_1


Aku mencoba ikut memungut bunga-bunga tersebut. Tak beberapa lama, suara yang lirih dan lembut mulai terucap di bibirnya yang mungil.


"Bagaimana ini?"


Aku berhenti, berpaling dan melihat. Mengarahkan tubuhku sedikit kearahnya. Wajahnya tertunduk menatap bunga-bunga mawar yang ada pada tangannya. Air mata mulai terjatuh menetes, di antara bunga tersebut.


"Aku harus bagaimana?" rengeknya.


"Ada apa? Mungkin aku bisa bantu," ujarku.


Dia mulai mencoba mengusap air mata. "Bunga ini adalah kesukaan sahabatku. Aku ingin memberikannya sebagai hadiah. Kita bakal jarang sekali bertemu, karena aku akan tinggal di kota yang jauh. Kita sudah jauh-jauh hari berjanji untuk bertemu di Taman Mustika, dengan membawa bunga favorit kami. Tapi ...."


Tangis yang terbendung begitu mengusik bibirnya. Seolah menahan untuk memberitahu keluh hatinya padaku. Aku mencoba mengelus pundaknya demi menghibur.


"Ya sudah. Ayo kita ke toko bunga. Aku belikan bunga untuk menggantinya. Nanti-."


"-Tidak mau!"


Teriaknya yang mengejutkan memotong langsung saranku.


"Bunga ini hasil kerja kerasku. Sudah berbulan-bulan aku menanam sebanyak ini. Kita berjanji untuk membawa bunga hasil usaha kami. Kalau aku membawa bunga hasil dari membeli, itu berarti aku sudah membohonginya. Aku tidak mau!"


Mendengar ucapannya aku sedikit terkejut. Terlebih lagi, kulihat jemarinya terbalut dengan plester luka. Mungkin karena terkena duri dari mawar tersebut. Artinya, dia baru saja merangkai bunga-bunga itu sendirian.


Kepolosan mengungkapkan ketulusan hati untuk orang terkasih, membuatku begitu tersentuh. Tapi, di sisi lain mungkin ada sesuatu yang membuat dia harus membawa bunga-bunga itu. Bukan hanya sekadar janji untuk sahabat. Mungkin ada hal lain yang jauh lebih penting untuk mendorongnya seperti itu.


"Kenapa kamu bersikeras harus membawa bunga-bunga itu?"


Kulihat kali ini dia sudah mulai mampu mengalahkan tangisnya.


"Sebentar lagi ... dia akan menjalani operasi. Sudah sangat lama sekali dia mengalami sakit serius. Aku takut tidak bisa memberi sesuatu yang bisa membuatnya bahagia."


Aku hanya terdiam. Entah kenapa aku seperti terhanyut akan perasaannya. Secara perlahan aku meraih tangannya. Memegang jemarinya yang terbalut plester. Terlihat dia mulai mengangkat wajahnya dan menatapku tertegun.


"Aku tahu perasaanmu. Apa yang kamu katakan tadi memang benar. Kamu tidak mau membohongi sahabatmu sendiri. Tapi, meskipun kamu tidak membawa bunga-bunga itu, setidaknya dia tahu, kamu sudah berusaha keras membawa bunga itu untuknya. Karena jemari ini ... tidak bisa berbohong."


Wajah yang polos dan manis masih terdiam menatapku tertegun. Untuknya aku membalas dengan senyum.


"Bunga ini hanyalah simbol kerja keras kalian. Tapi yang paling terpenting adalah kasih sayang kalian. Jujur saja dengan apa sudah yang terjadi. Kalau kamu takut, aku temani kamu ke sana untuk menemuinya. Nanti aku bantu menjelaskan. Setidaknya, aku ingin kamu bisa menepati janji kalian."


Aku berusaha meyakinkannya, dia hanya menatapku dan mengangguk. Mencoba untuk beranjak seraya menariknya dengan lembut agar dia juga ikut berdiri.


"Kalau begitu ... ayo kita ke toko bunga sebelum hari mulai gelap."


Dia berdiri, dan ... hm? Gadis ini lumayan pendek ternyata. Tingginya tepat bawah mataku. Jangan-jangan dia lebih muda dariku?


"Tapi Kak, toko bunga di sini sangat jauh. Sekitar setengah jam lagi, aku harus berangkat ke luar kota."


Benar juga. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk menuju ke sana. Belum lagi perjalanan menuju ke Taman Mustika.


"Benar juga. Mungkin itu bisa," bisikku, lalu tersenyum. "Ayo ikut aku!"


"Heh? Ke mana, Kak?"


"Sudah ikut saja! Tidak ada waktu lagi!"


Aku langsung menariknya dan bergegas melangkahkan kaki. Terlihat dia terkejut dan berlari tertatih-tatih. Bunga yang dia genggam pun berguguran setiap kami melangkah. Seakan memberikan jejak kepada setiap langkah kami.


Kami bergegas menuju ke sekolahku. Menyeberangi jalan raya yang lumayan sepi. Melewati halaman depan sekolah, serta menyusuri lorong-lorong menuju ke Ruang Guru. Tempatnya tak jauh dari halaman sekolah, sehingga kami cepat sampai ke tujuan. Aku mencari wali kelasku--, Bu Rina. Mungkin saat ini beliau masih di sana. Hingga kami bertemu dengan beliau yang terlihat sedang sibuk di dalam ruangannya.


Kuketuk pintunya dan beliau melihat kedatangan kami. "Permisi, Bu."


"Iya?"


"Boleh saya masuk?"


"Oh. Silakan."


Aku menoleh pada gadis di sampingku. "Tunggu disini sebentar, ya."


Dia mengangguk, lalu aku masuk ke dalam.


"Ada apa, Andy?" tanya Bu Rina.


"Sebelumnnya saya minta maaf, Bu. Saya minta izin untuk memotong beberapa bunga mawar yang ada di taman kelas."


Dahinya berkerut heran. "Alasannya?"


Aku mencoba menjelaskan alasanku kepada Bu Rina dengan berbisik. Termasuk tentang gadis itu, tentang sahabatnya yang sedang sakit parah dan akan menjalani operasi hari ini.


Mendengar semua penjelasanku beliau tersenyum. "Ya sudah ambil saja. Ibu sudah mengizinkan. Nanti, biar Ibu yang menjelaskannya ke siswa lain."


"Ah, terima kasih banyak, Bu. Kalau begitu, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tanpa pikir panjang kami langsung menuju ke taman kelasku yang tak jauh dari Ruang Guru. Setelah sampai, aku langsung membuka tas, mengeluarkan gunting dan silet. Serta memotong beberapa tangkai mawar. Kupilih yang terlihat bagus dan indah. Sontak gadis itu terkejut dengan tindakanku.


"Heh? K-kenapa Kakak memotongnya? Itu 'kan ... bunga-bunga yang ditanam teman-teman Kakak sekelas?" tanyanya penasaran.


"Bunga-bunga ini memang hasil kerja keras kami. Mungkin kalau Kakak ceritakan kepada mereka semua, mereka juga sepakat untuk memberikannya kepadamu," jelasku, selagi memotong mawar tersebut. Dia masih tertegun setelah mendengar jawabanku.


Setelah beberapa tangkai kupetik aku menaruhnya di lantai. Mengambil silet dan menuju ke depan mading kelasku. Memotong plastik hias secara hati-hati yang menutupi mading tersebut. Kubentangkan plastik hias tersebut, menyusun bunga-bunga mawar itu secara rapi.


Melihatku yang sedikit kesulitan untuk menyusunnya, gadis itu mendekat. Mengambil guntingku dan beberapa tangkai bunga mawar tersebut. Menggunting durinya, menyusunnya secara rapi dan bagus. Sempat aku tertegun melihatnya saat menata bunga-bunga tersebut. Pengerjaannya begitu telaten. Meski sederhana, berkatnya, bunga-bunga ini terlihat seperti buket bunga yang di jual di toko.

__ADS_1


"Kamu sudah terbiasa, ya?" tanyaku seraya melihatnya menghiasi bunga itu.


"Iya, Kak. Nenekku yang mengajariku. Kebetulan beliau juga memiliki berbagai macam perkebunan. Termasuk bunga-bunga. Tapi aku lebih suka merangkai bunga mawar," ucapnya tersenyum, namun konsentrasinya tak goyah sedikitpun.


Karena reaksinya, secara tak sadar mataku beralih melihat wajahnya yang begitu imut saat seperti itu. Membuat rasa jahilku timbul untuk menggodanya.


"Aku tahu kamu sangat suka bunga mawar. Meskipun jarimu sering tertusuk duri, tapi kamu masih tidak jera menghiasi bunga mawar, kan?"


Terlihat wajahnya sedikit terkejut. Konsentrasinya langsung buyar karena pertanyaanku, sehingga duri dari mawar tersebut sempat mengenai jarinya. Darahnya terlihat sedikit mengucur, setelah dia berhenti menghias bunga tersebut, untuk menahan perih dari luka itu. Merasa bersalah aku langsung ikut menahan jarinya.


"M-maaf. Bukan maksudku mengganggumu," ucapku menyesal.


Dia hanya terdiam dan masih menahan jarinya yang tertusuk. Apa dia marah padaku? Namun begitu aku melepaskan tanganku dari jarinya, muncul senyum kecil di bibirnya.


"Tenang saja, Kak. Aku sudah terbiasa," jawabnya tersenyum menatapku. Tapi entah kenapa aku merasa ada kesedihan yang mendalam dari balik senyumnya.


Aku melanjutkan kembali menghiasi bunga tersebut. Mengikat bagian bawahnya dengan pita yang aku ambil dari mading. Namun hatiku merasa penasaran tentang dirinya. Kucoba untuk membuka percakapan seraya memancing informasi dari gadis ini.


"Oh ya. Kalau boleh tahu, namamu siapa?"


"Hm? Eh, Kinara, Kak," jawabnya sedikit terkejut. Lantaran sedari tadi dia memperhatikan jemariku yang sedang menghiasi bunga.


"Kinara, ya? Nama yang bagus. Namaku Andy," jawabku. Kulihat tubuhnya sedikit menggeliat malu saat aku memuji namanya.


"Kelas berapa sekarang?"


"Kelas tiga SMP. Kakak sendiri?"


"Oh, aku kelas satu SMA di sekolah ini."


Mataku menunjuk dasiku dengan tersenyum. "Lihat garis emas miring yang ada pada dasiku. Kalau satu garis berarti aku siswa kelas satu. Begitu seterusnya. Ini ciri khas di sekolah ini."


"Oh, begitu. Ternyata kita beda satu tingkat, ya Kak?" ucapnya tersenyum. Menambah sisi manisnya saat dia yang selalu memasang wajah seperti itu.


"Asli orang sini?"


"Tidak, Kak. Aku cuma tinggal sama bibiku."


"Oh, begitu. Tadi kamu bilang, kedepannya kamu bakal tinggal di kota yang jauh. Apa kamu mau pindah?"


"Emm. Tidak dibilang seperti itu, Kak. Bagaimana menjelaskannya, ya?" ucapnya dengan wajah sedikit kebingungan.


Tak lama kemudian dia sedikit mendekatiku. Menyingsingkan sedikit rambutnnya di bagian kanan. Namun tubuhnya menghadap ke arah taman kelasku yang berada di depan kami. Memandangi beberapa bunga yang menari anggun di saat angin lembut. Cahaya matahari yang menyinarinya seolah menjadi lampu sorot untuk memperlihatkan tarian itu.


"Sebenarnya, sahabat yang aku maksud itu ... anak dari bibiku," jawabnya dengan mata yang seperti memandang jauh.


"Berarti sepupumu?" tanyaku sempat menghentikan jemariku sesaat untuk menatapnya.


"Iya, tapi aku sudah menganggap seperti saudara kandungku sendiri. Aku tinggal bersama bibiku. Beliau yang mengasuhku sejak aku masih bayi. Karena ibuku meninggal saat melahirkanku. Sedangkan ayahku meninggal saat aku masih di dalam kandungan," ucapnya seraya tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


"Maaf, aku bukan bermaksud seperti itu."


"Em, tidak apa-apa, Kak. Lagipula ... aku sudah menganggap Bibi Yuli sebagai ibuku sendiri. Dan Dewi juga sebagai sahabat yang paling aku sayangi," jawabnya tersenyum padaku.


"Bibi Yuli? Dewi?" tanyaku penasaran.


"Ah, maaf. Itu nama dari bibiku dan putrinya yang seusia denganku. Mereka sangat aku sayangi. Terlebih lagi Bibi sudah kehilangan suaminya bersamaan dengan adiknya. Ayahku sendiri," jawabnya seraya kembali menatap ke depan.


"Bersamaan dengan ayahmu?" tanyaku sedikit terkejut.


"Iya, Kak. Kakak tahu tentang Tragedi Bank Mustika?" tanyanya padaku. Mendengarnya aku merasa mengingat sesuatu.


"Oh, itu. Aku tahu. Tragedi mengerikan yang terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. Sebuah penyandraan yang dilakukan oleh komplotan ******* di bank swasta sekitar jalan Mustika. Kejadian yang menewaskan seluruh karyawan bank. Dan dua anggota polisi tewas karena terkena ledakan bom dan reruntuhan bangunan," ucapku memberi jawaban dari sebuah tragedi yang cukup terkenal di tempat ini dulu.


"Iya, benar. Dan dua polisi tersebut adalah ayahku dan ayah Dewi," ucap Kinara perlahan.


"...!"


Sontak aku langsung terkejut. Entah kenapa aku merasakan kepedihan yang mendalam. Seperti aku bisa membayangkan perasaannya yang begitu tertekan. Tentang Kinara dan Dewi yang sudah mengalami hal yang menyedihkan sejak kecil. Mereka lebih merasakan kesedihan lebih dari aku. Yang hanya kehilangan ibuku saja.


Tidak, Kinara lah yang paling menderita. Dia harus kehilangan kedua orang tuanya. Lebih dari aku dan Dewi. Yang hanya kehilangan salah satu saja. Namun dia begitu rapat menutupi hatinya yang terluka dengan senyuman. Mengalihkan dukanya dengan cara mencintai orang yang dia miliki saat ini. Terlebih lagi dengan Dewi, yang saat ini mengalami sakit keras dan harus menjalani operasi. Melihat keadaan seperti ini mungkin Dewi sangat minim sekali untuk kemungkinan bisa sembuh. Mungkin bagi Kinara sendiri dia harus siap jika suatu saat nanti dia akan kehilangan satu lagi orang yang dicintainya.


"Lalu, bagaimana dengan Dewi? Kamu bakal jauh darinya setelah ini, 'kan?" tanyaku lagi.


"Hmm, iya Kak. Aku disuruh untuk pindah oleh nenekku. Beliau begitu khawatir denganku. Tapi beliau masih saja bersikeras dan tidak mau mendengarkan penjelasanku. Saat ini, aku masih ingin di samping Dewi. Dan hanya inilah yang bisa aku berikan untuknya. Dan mungkin ... inilah kesempatan terakhirku," ucapnya semakin lirih.


Wajahnya sedikit tertunduk. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Namun dia masih mampu menahan rasa sakit di hatinya. Seakan ikut larut akan nuansa melankolis yang dipancarkan aku langsung meraih tangannya. Menaruh bunga yang selesai aku hiasi di atas telapak kedua tangannya.


"Ini. Bunga ini mewakili kami untuk persahabatan kalian. Dan juga do'a untuk kesembuhan Dewi," ucapku tersenyum.


Dia hanya tertegun melihat bunga yang ia terima dariku.


"Aku tak tahu sedalam apa rasa sakitmu. Tapi aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat kucintai. Aku tak pernah melihat dan merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu. Sebenarnya, aku juga kehilangan ibuku saat beliau melahirkanku."


"...!"


Aku mulai tersenyum. "Tapi aku bisa merasakan kasih sayangnya yang terwakili oleh ayahku. Ayah sangat mencintaiku. Jika seperti itu, ibuku pasti lebih mencintaiku. Karena demi anaknya yang ia cintai, dia berkorban dengan apapun bahkan dengan nyawanya sendiri. Dari situlah kasih sayang yang kudapatkan dari mereka terus membekas selamanya di hatiku," ucapku meyakinkannya.


Wajahnya yang tertegun kini berganti dengan senyuman. Air matanya sempat menetes meskipun ia langsung menyekanya.


Dia langsung memeluk lembut bunga itu dengan senyuman bahagia. "Terima kasih, Kak. Terima kasih banyak."


"Sama-sama. Ya sudah. Ayo kita ke taman. Mungkin dia sudah menunggumu," ucapku langsung mengajaknya.


Kinara hanya mengangguk seraya mengusap air mata dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2