
Lional mengeluarkan tangannya dari lembah Viona dan tersenyum kearah Viona
"Aku akan melakukannya sekarang,lembah milikmu begitu menggodaku..."ucap Lional berat
"Emmm..." dibalas anggukan Viona
...Kembali ke Rumah Sakit...
Brama sungguh masih meras heran dengan keadaanya dan pikirannya terus bertanya kenapa bisa ia merasa seperti baik-baik saja
"Jansen boleh aku bicara sebentar" tatap brama pada Jansen
Jansen mendengar itu, mengarahkan pandangannya ke arah Brama
"katakanlah"
tapi brama enggan untuk berbicara,ia hanya melihat suster yang ada diruang itu, melihat tatapan mata brama Jansen paham bahwa Brama ingin bicara berdua denganya
"Hemm baiklah, kamu keluarlah dulu periksa keadaan pasien yang yang lain"
ucap Jansen pada suster yang ada disana
Mata Brama dan Jansen melihat ke arah pintu terbuka di mana suster telah meninggalkan ruangan tersebut dan itu membuat Brama mengeluarkan suara
"Jansen jika benar aku sampai koma kenapa aku tidak merasakan sakit ditubuhku ini,dan lukaku ini hanya mirip luka baka biasa saja"
Tanya brama menyelidik
"Hahahaha kau hanya minta waktu berdua karena pertanyaan konyolmu ini ?" Jansen tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Brama
"jawab saja jansen,aku tidak sebercanda itu"
kini brama terlihat geram pada Jansen
"luka dan tubuhmu itu tidak merasakan apapun saat kau terbangun tadi,karena aku memberikan obat khusus dari Amerika hasil racikan dari teman dokterku di sana dan kau tahu kenapa aku harus rela jauh memberikanmu obat itu "
terlihat brama seperti anak kecil yang sangat antusias mendengar jawaban dari Jansen
"kenapa"
"karena bosmu itu akan membunuhku jika tidak menyelematkanmu dari kondisi kritis, dan aku sudah 2 kali hampir di bunuhnya kau tau itu"
Jawab Jansen menaikkan oktaf suaranya
"Hahah,nasibmu sungguh malang "ejek Brama
"Hampir tapi batal karena kau selamat " Jansen menjawabnya sambil terkekeh"heheh"
"aku ingin pulang,aku tidak memerlukan perawatan lagi"
ucap Brama sambil ingin beranjak dari posisinya
"Kau belum kuizinkan untuk pulang dulu, kondisimu masih harus di pantau"
Sanggah jansen menahan brama
__ADS_1
"tidak usah,aku ingin pulang nanti jika terjadi sesuatu alu akan langsung mengabarimu"
Brama mencari seribu alasan untuk pergi dari rumah sakit tersebut
terlihat Jansen sedang menimbang perkataan dari Brama,ia masih ragu jika harus memulangkannya yang masih baru sadar
"jangan khawatir Jansen,aku ini Pria jangan terlalu tegang"
Canda Brama
"Hahah.. Siapa yang mengkhawatirkan dirimu,jika kamu ingin pulang bersiaplah,tapi jangan melakukan aktifitas yang berat dulu sampai kau benar-benar pulih. okey"
Jansen panjang lebar pada brama
'baiklah, Jansen panggilkan aku pengawal pribadiku" sarkasnya
"aku lupa memberitahumu,pengawal pribadimu yang ikut hari itu semuanya meninggal dunia saat kecelakaan terjadi dan sudah digantikan oleh orang lain"
Brama yang mendengar itu terlihat sedikit syok ia sungguh telah kehilangan dan tertinggal banyak informasi selama beberapa minggu dia sakit
"baiklah kalau seperti itu aku pulang sendiri saja dan ya.. tolong hubungi lional kalau aku sudah pulang dan besok lusa aku sudah kembali bekerja"
pesannya pada Jansen di balas dengan anggukkan darinya
Di ruangan yang gelap
Lional mengeluarkan empuhnya yang sudah menegang keras,dan mengarahkan benda itu kearah lembah milik Viona
Mata viona terbelalak,walau hanya bayangan yang bisa saya lihat tapi cukup jelas memperlihatkan sang empuh milik Lional yang begitu besar dan panjang, membuat Viona meneguk salivanya
"Buka pahami lebar Viona,empuhku ini sangat sulit menjangkau milkmu"
ucap Lional berusaha mencari jalan dibawah sana
"Ini sudah mentok lional,aku sudah tidak bisa membukanya lebih lebar lagi"
jawab Viona sedikit membuka
Melihat viona yang sudah mengangkang, membuat Lional beberapa kali berfikir apakah ia harus melanjutkan atau tidak karena jika harus melanjutkan maka mulai hari dan detik ini juga semua kehidupan Lional maupun viona akan berubah
Setiap ia ragu, lional akan mengehentikan aktifitas nya itu. tapi apalah daya san empuh miliknya terus berkedut meronta-ronta ingin masuk kedalam sana...
Lionalpun kini menarik Viona lebih dekat dan memposisikan Sam empuh tepat di depan Lembah basah itu,ia mencari dan terus menancap disana beberapa kali melesat tapi pada akhirnya..
Jlleebb.....
"Ahhh...saakittt" Viona yang kini merasakan sakit tak tertahan saat lembahnya itu dihantam oleh empuh Lional...
Terlihat airmata Viona berjatuhan merasakan rasa sakit yang pertama kali ia rasakan...
Lional yang melihat miliknya berhasil memasuki lembah basah Viona,kini pandangannya ke arah bawah melihat darah yang mengalir ke arah spreii yang berwarna putih itu...
"Gadis ini kenapa bodoh sekali,hanya karena Pria itu tunangannya dia rela melakukan semua ini" Ucap Lional dalam hati,saat ini entah apa yang ia rasakan tapi lional cukup mengerti apa yang Viona lakukan itu menurutnya sebuah kebodohan.
lional berusaha menenangkan vioan dan membuatnya nyaman pada posisi mereka saat ini
__ADS_1
"Hussstt... jangan menangis,aku akan bergerak dengan sangat Pelan" bisik lional lembut sambil menyesap air mata Viona
"Tahanlah..."
Lional menahan beberapa menit dan memperlancar aksinya dengan perlahan...
pria itu memaju mundurkan empuhnya yang sudah tertanam sempurna di lembah tersebut,ia bergerak sangat pelan
Beberapa kali ia mengulang gerakan pelannya itu dan cukup membuat Viona terbuai dengan kelembutan lional
Ahhhh
Desah Viona kini terdengar,dan ia rupanya menikmati permainan Lional
"Lebih kencang lagi lional...lebih kencang lagi ..."pintah Viona,kini lembahnya sudah sangat basah dibawah sana
Lional hanya datar melihat kearah Viona, mendengar permintaannya iapun mempercepat ritme gerakannya...
Plokk
plokk
Terdengar suara penyatuan mereka begitu jelas...
"Ahhh...ahh Lional"
Viona meracau tak menentu mendapat gempuran bertubi-tubi dari sang empuh milik Lional yang begitu nikmat
"Shhhh...Vionaa kenapa kau bodoh sekalii..." Ucap Lional bergerak terus menerus
"Ahhhh...ahh hentikan aku ingin pipis dulu" Teriak Viona
"Pipislah disini " Ucap Lional cepat, mereka sudah sama-sama berada di puncak penyatuan mereka
Plokk...plokk..
Plok....plokk......
Lional mempercepat ritme goyangannya, memaju mundurkan punggungnya
"Aahh..ahh aku ingin keluar " ucap Viona
"Shhh..ahh bersama Viona"
"Ahh....ahhhh......ahhh...." Sahut mereka bersamaan diiringi gerakan cepat dari lional,nafas mereka memburu dengan cepat...
"Aaaahhh"
merekapun sampai pada puncak penyatuan,
lional menyentakkan pinggulnya dalam lembah milik Viona mengeluarkan cairan panas miliknya kedalam rahim Viona, Viona merasakan hangat didalam Sanaa...dan memeluk tubuh Lional dengan erat....
Viona yang sadar tidak mendapat balasan pelukan dari lional melepaskan pelukannya,hingga tak lama ia terlelap dalam tidur....
Lional melihat tubuh viona yang sudah tidak memakai busana apapun,ia menaikkan selimut menutupi tubuh Viona dan pergi dari tempat itu...
__ADS_1
Bersambung.....