
Rose menarik tangan lional ke atas lututnya sambil menggenggam layaknya seorang ibu mengasihani putranya, Rose yang sudah tau kini mengeluarkan airmata yang sedari tadi bersemayam di pelupuk matanya
"Ibu aku sudah besar tidak perlu mengasihani ku,sudah tugasku melindungi keluarga dan bawahanku" tutur lional menyeka air mata Rose
"Maafkan ibu nak, karena membiarkanmu tumbuh menjadi pria berdarah dingin"
Lional tersenyum kepada Rose,walau hatinya sakit mendengar penuturan rose tapi ia tahu kalau apa yang dilakukan selama memang sangat kejam
"Lional,mengenai gadis yang kau temui di Club sedang mengamuk disana"
ucap Brama
"Cihhh gadis bodoh itu"
Lional tersenyum mengingat kebodohannya yang sengaja merebut apa yang bukan miliknya
Rose dan Brama saling menatap melihat kearah Lional,baru kali ini lional memperlihatkan senyuman manisnya itu setelah 20 tahun lalu ia menjadi sosok laki-laki dingin
"Pantau dia Brama"
"Baiklah"
Brama hendak pergi meninggalkan ruangan itu akan tetapi dicegat oleh Lional
"Kau hanya perlu memberikan arahan pengawal disana,kau beristirahatlah pulihkan tubuhmu dengan baik,aku memerlukan tenagamu"
ucapnya
"Baiklah"
__ADS_1
...Di Club...
Terlihat Viona telah memakai seluruh pakaiannya dan keluar dari ruang VVIP itu,Viona tidak merasa ada kejanggalan hanya perih di bagian lembahnya yang berarti Viona berhasil melakukan penyatuan dengan tunangannya pikir Viona.
Viona berjalan kearah pintu sambil memakai pakaian sisa yang belum dipakai dan meletakkan kakinya langsung ke dalam hak dan minum sedikit air lalu berlari kearah pintu dengan hati sedikit berbunga
Kreekkk... membuka kenop pintu
Hendak ingin pergi dari sana,tapi viona mendongak melihat kearah nomer pintu VVIP itu 1234, dahinya berkerut
"Apaaa..." Teriak Viona.
Viona mencari ponselnya dia membuka tas mengotak Atik mencari,dan memeriksa pesan dari Julian
...Pesan Julian: "aku di ruangan VIP 1235,Aku menunggumu Viona"...
Mata Viona terbelalak,Dia mengingat beberapa adegan panas yang dia lakukan semalaman dengan seorang pria "panggil aku Lional " ingat Viona
"Apa yang sudah aku lakukan " ucapnya
Kini Viona tidak tau harus melakukan apa, viona mengingat bahwa dia yang lebih dulu menggoda Lional,dan walaupun sempat mendapat penolakan tapi viona mencium lional lebih dulu.
Lama Viona berdiri didepan kamar VVIP itu, badanya berungsur jatuh kelantai ia merutuki kebodohannya sendiri.
Tapi tiba-tiba ia mengingat Julian yang menunggunya,"Julian tidak menghubungiku,apakah dia pulang lebih dulu karena aku tidak menemuinya" ucapnya. "Lebih baik aku memeriksanya" Viona berjalan mencari kamar Julian hampir 10 menit viona mencari baru menemukan kamar yang dimaksud Julian.
"itu dia" tunjuk Viona kearah kamar Julian
Viona mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak ada yang merseponya
__ADS_1
Tok...
tok..
tok...
"Julian kau masih didalam? " teriak Viona memukul pintu
Vionapun tidak mendapat respon sama sekali memegang kenop pintu dan berusaha mendorongnya
"Hemm... tidak terkunci" Ucapnya
Vionapun langsung menyelonong masuk saja karena ia berfikir mungkin Julian sengaja tidak menguncinya Karena menunggu kedatangannya
Ia Terus berjalan melewati lorong menuju kamar tidur dan betapa terkejutnya Viona
"Juliaaan..." Viona berteriak keras
Sontak membuat kaget Julian yang diatas kasur sedang bercumbu dengan seorang wanita yang sudah bertelanjang bulat
Viona memegang dadanya ia merasakan sakit tak tertahan disana, seperti disambar petir tapi ini bercerita bukan tentang petir
Julian melihat kedatangan Viona menghempas wanita yang diatasnya lalu berlari ke arah Viona yang sudah berbalik badan meninggalnya.
"Viona tunggu,kau salah paham" Julian mengejar Viona
"Sepertinya kau sangat menikmati permainanmu dengannya sampai kau lupa mengenakan pakaianmu" Viona yang tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya melihat Julian
Julian melihat seluruh tubuhnya ia tidak mengenakan sehelai kain ditubuhnya,ia memandang gadis didepannya yang memberikan tatapan menjijikan padanya
__ADS_1
bersambung