
Lional saat ini merasakan layaknya manusia setengah nyawa saja,jika di andaikan ia malaikat sebagian sayapnya itu patah dan sangat menyakitkan....
Lional berusaha tegar dari peristiwa menyakitkan yang terus terjadi di sekelilingnya beberapa Minggu ini,ia memutuskan pulang ke mansionya untuk beristirahat beberapa jam saja...
Tak ia lupakan, memberikan pengawal terbaik yang direkomendasikan Louis ke ruangan ibunya dan ruangan Brama untuk berjaga-jaga disana,tiba ia sampai dan Melangkahkan kakinya memasuki ruangan Utama Mansion yang disambut beberapa pelayan wanita
"Selamat malam tuan" Ucap Kepala pelayan Mansion Mariana
Lional lewat begitu saja tanpa membalasnya,akan tetapi Mariana tetap tersenyum ramah karena itu bukan hal baru ia rasakan.
Lional yang kurang istirahat saat ingin menaiki tangga menuju kamarnya merasakan serangan mendadak dari tubuhnya, penglihatannya Gelap dan nafasnya memburu cepat, keringat dingin mulai menjalar keseluruh tubuh Lional
Kepala Pelayan yang melihat lional terhenti ditangga dan hampir terjungkal segera memanggil pengawal Pria
"Pengawal cepat kemari saya melihat kondisi tuan lional sedang tidak baik-baik saja ditangga" teriaknya
Lional yang mendengar teriakan tersebut berusaha memperbaiki nafasnya dan berusaha memulihkan kembali keadaannya yang sempat hampir jatuh pingsan...
Di bawah tangga telah siap siaga 2 orang pengawal untuk merangkul tubuh Lional ke kamarnya akan tetapi ditahan oleh Lional
"Saya bisa sendiri" ucapnya sambil meneteskan airmata
Entah apa yang ia rasakan sampai harus meneteskan air mata...
Dikamarnya...
Lional yang termenung, tampak duduk dibagian balkon sambil meminum segelas Bir bermerek Guinness,adalah bir jenis Irish Stout atau Dry stout. Lional menyukai jenis minuman itu karena rasanya yang mirip dengan kopi dan mampu menenangkan keadaan hatinya yang sedang buruk
Walaupun lional menghabiskan 2 botol akan tetapi bayangan ibunya kembali muncul di kepalanya dan itu mampu membuatnya mengingat dimana ayahnya dibunuh didepan matanya sendiri
Mengingat Itu semua membuat perasaan rasa bersalah Lional semakin besar, karena kematian ayahnya yang belum bisa ia balaskan kini ia harus merasakan sakit lagi kehilangan orang kepercayaanya
3 hari kemudian...
Lional yang berusaha berdamai dengan dirinya dan berusaha bangkit kembali setelah merenung selama beberapa hari didalam kamarnya
"Akan ku balas orang-orang yang bermain diatas penderitaanku.." batinya
Pelayan yang berhari-hari ikut merasakan penderitaan yang dirasakan tuanya kini lega melihat sang tuan rumah membuka kembali pintu kamarnya setelah sekian lama rasanya
Kenapa merasa lega,para pelayan tidak makan dan minum seperti tuannya Karena ia merasa jika mereka menikmati makan dan minum seperti biasanya sama saja ia berbahagia atas penderitaan sang tuan, merekakan merasakan penderitaan jika melihat tuanya bagai mayat hidup keluar dari pertapaannya dan mereka dengan enak menikmatinya
Lional yang membuka pintu dari kamarnya itu merasa heran, karena hampir seluruh pelayan yang ada di Mansion itu berkumpul di depan kamarnya dengan muka pucat dan terlihat tidak bertenaga lagi
"Ada apa dengan kalian" ucapnya bertanya kepada kepala pelayan
"Maafkan kami tuan, selamat tuan masuk ke dalam kamar tidak makan dan minum Kami juga melakukannya"
__ADS_1
"Apa kalian bodoh,kenapa mengikutiku...siapa yang menjamin jika di dalam kamarku itu tidak ada makanan ataupun minuman yang bisa saya konsumsi 2 hari ini " Lional dengan rahang yang mengeras
"Maafkan kami tuan,kami berbuat salah " ucap Kepala Pelayan dan diangguki dengan pelayan lainnya
Lional yang melihat kesetiaan para pelayannya itu ia merasakan rasa bahagia di dalam hatinya, tapi tidak bisa ya pungkiri bahwa ia merasa kesal karena gara-gara dirinya lah banyak orang yang berkorban nyawa...
"Lain kali jangan mengikuti jika kalian masih ingin bekerja disini, lakukan saja tugas kalian" ucapnya dengan wajah datar
"Baik tuan" ucap para pelayan
"Emm.." lional melewati para pelayan dan turun kearah dapur untuk mencari segelas susu hangat yang sering ia konsumsi...
"Maaf tuan susunya akan saya panaskan kembali.."ucap pelayan
" Cepatlah,saya ingin ke rumah sakit "
"Baik tuan"
***
***
***
Lional yang tiba di rumah sakit, langsung menuju ruang rawat ibunya,dan tepat dengan Jansen yang berada disana memeriksa perkembangan kesehatan ibunya....
" Emm... Bagaimana keadaan ibuku "
"Beberapa hari ini cukup baik,ibumu sudah sadar dan ia sempat mempertanyakan keberadaanmu " Jansen
"Emm.." Lional hanya membalas dengan deheman singkat
"Bagaimana Keadaan Brama Jansen" tanya Lional
"Semalam Brama mengalami kejang-kejang,sepertinya itu efek dari ototnya yang sudah lama tidak bergerak, selain itu tadi pagi Brama berhasil keluar dari masa kritisnya ada kemungkinan beberapa hari kedepan dia bisa sadarkan diri " jawabnya
Lagi-lagi lional tidak bereaksi atas jawabnya,Jansen yang melihat tatapan dan raut muka Lional tidak seperti biasanya,kini berusaha mencerna apa yang Lional sedang fikirkan, karena sejauh ini baru kali ini Jansen melihat Lional sangat berbeda dari biasanya.
Lional yang menyadari itu, beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jansen sendiri didalam ruangan ibunya. Ia menghampiri ruang rawat Brama,jika seperti biasanya lional akan merasakan rasa bersalah tapi kini ia terlihat biasa saja dan sangat datar ia tunjukkan mimik wajahnya.
***
***
"Selamat datang tuan" Sambut suster di depan ruangan Brama
Lional sekilas melihat pengawal yang ia sediakan disana masih siap siaga dalam tugasnya... Ingin rasanya Lional melepas semua beban yang ia tampung selama ini tetapi setiap kali ingin melakukannya ia selalu mengingat kematian ayahnya
__ADS_1
Pesan : Kehidupan yang dijalani karena dendam, hanya akan membawa penderitaan
****
****
Tepat berada di dalam ruangan rumah sakit brama dirawat...
Lional mengecek semua alat yang terpasang disana, melihat angka detak jantung Brama.
Melihat ke arah kursi yang pernah ia pesan untuk beristirahat dan berjalan kesana akan tetapi terhenti saat ia melihat kearah Brama
Yahh.. Tangan Brama bergerak,walau hanya beberapa detik tetapi kini mampu mengubah suasana hati dari lional dingin menjadi menghangat karena itu adalah reaksi yang ia tunggu selama ini, tidak menunggu lama Lional menekan bel darurat tepat diatas kepala Brama
****
****
Jansen yang terburu-buru karena mendengar alarm darurat kamar Brama berbunyi tiba dsana
"Apa yang terjadi lional ? " Tanya Jansen panik
"Periksalah,tangan Brama tadi bergerak " lional menjawab dengan nada biasa saja tetapi terdengar sangat dingin
"Waww...itu sungguh keajaiban dunia" Jansen berusaha mencairkan suasana hati lional
Lagi-lagi lional raut wajah datar melihat kearah Jansen yang hanya banyak tanya tanpa memeriksa seperti pintah lional,dan itu membuat Jansen sadar dan langsung memeriksa
"Baiklah, sepertinya tidak perlu menunggu beberapa hari untuk menunggunya sadar,ini sungguh mengejutkan tapi keadaan Brama jauh lebih baik dari tadi pagi" ucap Jansen
"Owww iya lional, bolehkah aku bertanya padamu " Ucap Jansen dengan nada datar pula
" Emmm " lagi-lagi hanya berdehem
"Apa ada masalah, sepertinya kau terlalu diam sejak tadi dan beberapa hari ini kau kemana saja" tanya Jansen tak menyia-nyiakan waktu
"Bukan Urusanmu" jawab lional ketus
" Cihh percuma" decih Jansen merasa sia-sia menaruh perhatian kepada lional, karena Pria dingin itu sama sekali tidak menjawab
"Aku ingin pulang... laporkan semua keadaan ibu dan Brama apapun itu .." ucap Lional sambil melewati brangkar pasien dan kearah pintu dengan cepat
Itu membuat Jansen sangat keheranan...
"Ada apa dengannya"....
Jansen menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat Lional pergi dari sana
__ADS_1
Bersambung