
Itulah pertempuran besar 3 hari yang lalu. Sekarang,aku bersama 15 teman teman seperjuanganku yang tersisa,tinggal di rumah para penduduk yang belum mengungsi. Di rumah ini,aku tinggal bersama 4 orang temanku,ARYO,BUDI,ANTO dan JOHAN.
"HEI DAYAN...DAYAN....KEMARI SARAPAN SUDAH SIAP" Terdengar suara teriakan dari luar kamar
Itu adalah suara temanku,Johan. Ia adalah anak juragan kaya dari sulawesi. Ia pindah ke pekanbaru 1 bulan yang lalu karena ayahnya memilih menjauh dari kampung halaman dikarenakan pembantaian penduduk yang dilakukan oleh belanda di sana. Meskipun begitu,orang tuanya juga mati disini karena di bunuh belanda sekitar 3/4 hari setelah mereka pindah kemari. Ia masih berumur 21 tahun.
"YA YA.....TUNGGU SEBENTAR" Jawabku
Aku pun segera mengganti pakaian dan keluar dari kamar. Aku pun menuju ke meja makan yang mana di sana semua sudah berkumpul. Aku pun lantas duduk di salah satu bangku sambil menyiduk sesendok nasi.
"Eh....Aryo mana. Kenapa ia tak muncul muncul. ia tidur kah?" Tanya Johan
"Eh ia tadi bilang mau mencuci muka,sebentar lagi ia pasti kemari" Jawab Aryo
Aryo adalah seorang anak petani di salah satu desa di luar pekanbaru. Ia bergabung dengan pejuang karena mau membalas dendam kematian keluarganya oleh Belanda. Ia berumur 20 tahun.
"Hei Budi,kau tidak mau makan ya. Kenapa piringmu masih kosong" Tanyaku
Budi adalah anak walikota di pulau jawa. Ia datang kemari sekitar 3 setengah bulan yang lalu. Dikarenakan ayahnya menentang Belanda dan membentuk gerakan pejuang yang mana Ia termasuk ke dalamnya. Suatu hari Belanda menyerbu kota nya habis habisan yang membuat pasukannya terpukul mundur. Mereka mundur sampai ke tepi pantai. Ayahnya pun memukul anaknya hingga pingsan lalu memasukkannya ke perahu dan menghanyutkannya di tengah laut agar Budi selamat dari pertempuran itu.
Suatu hari ia bangun dan mengapung di laut berhari hari sampai akhirnya ia sampai ke tepi pantai. Berhari hari ia berpetualang hingga sampai ke kota pekanbaru ini dan menjadi pejuang kemerdekaan. Meskipun begitu,ia agak pendiam karena ia terus memikirkan nasib keluarga nya terlebih lagi ayahnya. Ia berumur 12 tahun
................
"Hei Budi,Dayan nanya tuh. Kenapa diam saja" Ujar Aryo
"Hm....Iya" Jawabnya singkat
Budi pun langsung menyiduk sesendok nasi dan menaruhnya di piringnya. Ia juga mengambil lauk pauk yang telah dimasak oleh Wati dan ibunya,Sukma.
Wati dan Sukma adalah pemilik rumah ini. Mereka menawarkan kami tinggal disini setelah pertempuran 3 hari yang lalu. Wati yang merupakan seorang guru yang mengajar anak anak dan orang tua secara sembunyi sembunyi di rumahnya. Meskipun begitu ia berumur 20 tahun.
Sukma adalah ibunya Wati. Suaminya meninggal ketika Wati masih berumur 4 tahun karena menjadi korban kerja paksa (Rodi). Ia sudah berumur 45 tahun.
"Hei kawan kalian sudah makan ya? Tungguin napa" Ucap Anto yang muncul tiba tiba dari dapur.
Anto adalah seorang pejuang lama yang berpengalaman. Keluarganya telah mati karena dibunuh oleh belanda di desanya sendiri. Ia pun mulai bergabung dengan gerakan para pejuang dan terus berganti ganti organisasi para pejuang dikarenakan ia suka bertualang ke suatu tempat ke tempat yang lain. Ia sudah berumur 30 tahun
"Eh masih belum. Tadi kau kemana. Cuci mukanya lama sekali" Ujar Aryo
"hehehe....maaf lah tadi sempat membantu Wati di dapur." Jawabnya sambil tertawa
"hm...ngana jangan tipu. Muka ngana kaya habis liat hal yang tidak tidak. (Berbisik) Ngana habis ngintip Wati ya" Bisik Johan dengan nada bercanda
"He...er...um...mana ada. Kau jaga mulutmu itu. Jangan fitnah" Bantah Anto
"Ya...aku yakin kau habis ngintip...itu kan kebiasaan mu setiap hari" Kataku ikut ikutan mengganggunya
"Hei mana ada...aku tadi bantu...bantu...cuci piringlah" Bantahnya lagi
"Ya ya lupakan,ayo makan. Jangan berdebat lagi,nanti kalau Wati atau bi Sukma mendengarnya,bisa gawat!!!" Ujar Aryo melerai
"Mendengar apa?" Tiba tiba terdengar suara dari dari arah dapur. Ternyata itu si Wati yang baru keluar dari dapur (lebih tepatnya wc karena wc nya juga berdekatan dengan dapur).
"Eh ini si Anto...ummmmm... (tiba tiba mulutnya ditutup Anto)"
"Eh hehehe dek Wati,gak ada apa apa loh. Ni tadi sebenarnya kami akan pergi ke luar sebentar,iya kan semua,iya kan" Ucapnya sambil menoleh ke arah kami
__ADS_1
Hm...dasar,kak Anto....kak Anto. Matanya itu sering ngeliat ke wanita wanita perawan. Emang dasar nih duda tua,tidak bisa kalau tidak melihat wanita cantik sekalipun.
"I...iya Wati,iya,hehehe kami akan jalan jalan keluar sebentar" Bela Aryo
"Hah,kenapa kalian keluar,bukannya bahaya?" Tanya Wati
"Ah apa yang ditakutkan,belanda itu kan telah kami kalahkan di kota ini. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan" Ujar Aryo lagi
"Oh baiklah...Anu...Dayan. Kamu juga pergi ya?" Tanya Wati lagi
"Um...kalau semuanya pergi,maka aku sudah pasti pergi juga. Kan bosan kalau gak ada teman di sini" Jawabku
"Oh,jadi maksudmu aku ini bukan temanmu begitu" Sahut Wati berubah ekspresi
"Eh...hehehe gak,gak gitu kok. Maksudnya kamu kan wanita,kamu juga harus mengajar orang orang lagi (menjadi guru di rumah,murid muridnya itu tetangga terdekatnya,heheh😅) . Kalau kami disini bukannya malah mengganggu,hehehe iya gak teman teman" Tanyaku sambil mengalihkan pandangan
"Hehehe i...iya Wati. Benar yang dikatakan Dayan. Kami pergi dulu sebentar,nanti kembali lagi" Bela Aryo
"Bener tuh dek Wati,kami cuma keluar sebentar. Hei Budi,Kamu juga ikutkan?" Tanya Anto
"Hm...tidak." Jawabnya singkat
"huh,oke lah. Ayo,kita bertiga saja yang keluar. Budi tidak ikut."
"Ayo lah kalo gitu,tapi kita harus makan dulu. Biar bertenaga"
"iya juga ya. Ayo makan semuanya."
SELAMAT MAKAAAAN...!!!!!
Setelah Makan....
"errrgghhh....Ah...kenyangnya...." Ucap Aryo sambil menepuk nepuk perutnya
"Suasana kekeluargaan seperti ini,sudah lama tidak kurasakan" Ucapku sambil menyandarkan kepalaku ke kursi
"Hahaha,ngana benar juga. Udah 1 bulan aku tak pernah makan bersama seperti ini. Rindu juga rasanya" Ucap Johan
"Eh tunggu apa lagi. Ayo kita pergi sekarang. Mumpung dah kenyang" Ucap Anto
"AYO"
"Eh tunggu sebentar" Ucap Wati menghentikan kami lagi
"Dayan,bukannya kaki mu lagi sakit. Kamu istirahat saja dulu disini. Obati kakimu dulu" Tambahnya lagi
"Oh...em...ok lah. Aku juga...kesulitan berjalan. Kalian pergi tanpa aku ya" Ucapku setuju
"Ok lah,kami bertiga pergi dulu. Eh katakan nanti pada bi Sukma kami keluar sebentar. Nanti ia cemas lagi kalau ia tau kami tiba tiba menghilang. Ok"
"Ok siiip lah kalo gitu mah. Hati hati yo" Ucapku lagi
"Okeee....Ayo Aryo,Johan"
"Iya bang,ayo" Jawab mereka serentak
Aryo,Johan dan Anto pun keluar dari rumah. Saat ini hanya tinggal Aku,Budi,Wati dan bibi Sukma yang ada di rumah ini. Aku pun kembali duduk di atas kursi makan tadi sambil membongkar pasang pistol Luger P08 milik salah seorang panglima Belanda yang terbunuh di pertempuran 3 hari yang lalu.
__ADS_1
*Wah...lumayan juga nih pistol. Walau peluru kecil tapi kecepatan pelurunya mengerikan. Tapi kenapa pistol Jerman ini ada pada Belanda. Bukannya mereka itu bukan aliansi yah. Hm...bukan urusan ku juga* Batinku
Disaat asiknya aku membongkar pasang pistol,Wati terlihat memandangiku dari tadi. Ia pun duduk di bangku tepat di sampingku.
"Hei,Dayan." Sapanya
"Ya...." Ucapku singkat sambil terus membongkar pasang pistol
"Hm,kakimu...sudah tidak sakit lagi?" Tanya Wati lagi
"Tidak,udah mendingan malahan. Terima kasih ya karena kamu mau mengurus lukaku. Kalau tidak ada kamu,mungkin lukaku ini jadi terinfeksi dan bertambah parah" Jawabku sambil terus fokus ke arah pistol tersebut
"Ehm,sama sama. Um....Budi,kakak minta tolong dong"
"Tolong apa"
"Tolong balikkan tanda Buka di jendela depan ya,soalnya udah waktunya kakak mengajar lagi"
"Ya kak" Jawab nya singkat
Budi pun beranjak dari kursi dan pergi ke pintu depan. Aku pun bertanya pada Wati.
"Um...Wati..."
"Ya"
"bibi Sukma kemana,kenapa dari tadi ia tidak keliatan" Tanyaku
"Oh...ibu lagi didapur. Lagi memotong ayam untuk disate" Jawab Wati
"Wah,enak tuh"
Aku pun menyimpan pistol tadi di sabuk belakang ku. Sambil terus berbincang bincang dengan Wati,aku juga turut melihat wajah cantiknya itu.
*Hm...kalau dipikir pikir lagi,Wati cantik juga yah* Batinku
"KAK,PARA TETANGGA SUDAH DATANG" Teriak Budi dari depan
"IYA SEBENTAR,KAKAK KESANA. Eh maaf Dayan,aku harus mengajar dulu"
"Iya gak papa. Pergilah"
Wati pun pergi ke ruangan depan untuk mengajar. Aku pun pergi ke wc karena kebelet buang air kecil.Aku pun juga melihat Bi Sukma sedang memotong motong ayam. Aku pun berani menyapanya.
"Um...bi Sukma"
"Eh nak Dayan....ada apa?"
"Itu,saya mau ke wc tapi bibi keliatan lelah. Mau aku bantu" Tanya ku
"Eh gak usah nak Dayan,lagian nak Dayan juga harus istirahat. Kan kaki nak Dayan masih sakit. Nak Dayan istirahat saja dulu,ntar kalau satenya sudah siap bibi bangunin deh"
"Iya bi,makasih kalau begitu."
Aku pun masuk ke wc. Setelah selesai,aku pun masuk kembali ke dalam kamar dan tidur lagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1