
Di sebuah desa terpencil letaknya di tengah hutan, ada seorang nenek yang bernama Eyang Margo. Beliau saat ini begitu gembira karena hendak menyambut kedatangan cucu kesayangannya dari kota. Duduk di sebuah kursi yang sudah hampir rapuh dan melihat ke arah jalan, sesekali matanya terpejam karena rasa kantuk yang menyerang ditambah hembusan angin yang begitu sejuk.
"Eyang, bangun... ini Eliza," ucap gadis cantik bernama Elizabet Sumiati saat membangunkan nenek tercinta dengan pelan.
"Sumi!" teriak sang nenek memeluk cucunya.
"Eyang, kenapa selalu memanggilku Sumi? aku Elizabet," protesnya.
"Halah... keturunan orang desa, mbok jangan ngadi-adi," kata Eyang Margo.
Eyang Margo mengajak cucunya yang baru datang masuk ke dalam rumah, rumah yang berdinding dari kayu dan atap genting tanah liat. Letak rumah yang berada di bawah pohon bambu, membuat sejuk khas pedesaan. Kebetulan dibelakang rumah Eyang Margo terdapat beberapa kuburan kuno, orang zaman dulu.
"Sumi, kalau mau makan ambil sendiri ya? Eyang harus pergi ke ladang," kata Eyang Margo.
"Iya, Eyang. Tapi, jangan panggil Sumi lagi," kata Elizabet Sumiati.
Setelah Eyang Margo pergi meninggalkan rumah, Elizabet melihat sekeliling rumah Eyangnya. Ia berkeliling kesamping dan belakang rumah, tiba-tiba terdengar suara orang memangil namanya.
"Sumi... Sumi....
"Iya Eyang," sahut Elizabet menoleh kebelakang dan ternyata tidak ada seorang pun di sana.Elizabet kembali ke depan rumah, ia merasa ada yang aneh dengan rumah Eyang Margo.
Elizabet lalu berkeliling ke rumah tetangganya, kebetulan ada beberapa rumah. Saat di jalan ia bertemu dengan seorang pengembala kerbau, seorang kakek tua. Kakek itu tiba-tiba mengatakan, jangan sembarangan membuang sampah di desa orang. Karena tidak tau maksud ucapan Kakek itu, Elizabet tidak menghiraukan.
Tiga hari kemudian.
Terdengar kabar kalau tetangga ada yang meninggal, yang tak lain adalah seorang kakek yang ditemui Elizabet tiga hari yang lalu.
Banyak sekali warga yang mengatakan kalau kakek itu meninggal dengan cara yang tidak wajar, banyak belatung yang muncul ditubuhnya.
"Pasti kakek sudah melanggar aturan desa ini," ucap salah seorang warga.
__ADS_1
Elizabet yang mendengar percakapan para warga, menjadi sangat merinding. Ia takut terjadi sesuatu dengan desa neneknya.
"Sumi, kamu masih ingat aku ndak?" tanya seorang wanita yang tak lain teman masa kecilnya dulu.
"Ningsih!" teriak Elizabet memeluk teman masa kecilnya itu.
Dulu waktu berumur tiga tahun Elizabet pernah tinggal bersama sang nenek di desa ini, tetapi keadaan desa masih ramai penduduk. Seiring dengan bertambahnya tahun banyak warga yang pindah ke kota, termasuk orang tua Elizabet.
Pemerintah kota ingin sekali memajukan desa tersebut, tetapi ada saja yang menjadi penghalang. Kejadian misterius dan tidak masuk akal sering terjadi, sehingga banyak warga yang berpendapat kalau leluhur mereka marah.
Setelah acara penguburan kakek itu, Elizabet dan Ningsih berjalan menuju ke rumah. Mereka memutuskan untuk istirahat di bawah pohon besar yang ada di desa itu.
"Sumi, kamu beneran mau menetap di desa kuno ini?" tanya Ningsih.
"Aku ingin menemani Eyang, siapa tau dapat jodoh pemuda desa ini," kata Elizabet asal bicara.
"Huusst... kalau bicara di sini jangan sembarangan! pemuda desa ini hanya Parto, lainnya sudah menikah," kata Ningsih membuat Elizabet tersenyum.
Ningsih juga menyebutkan pantangan dan larangan selama tinggal di desa ini, mandi wajib ke sungai minimal tiga hari sekali dan masih banyak lagi.
Elizabet mempercepat langkahnya ketika melewati jalan yang terbilang sepi, hembusan angin dan suara kicau burung hantu membuatnya menghentikan langkah. Ia mengamati sekitar pohon di mana burung itu hinggap, baru pertama kali ia melihat sosok burung hantu.
Baginya begitu seram dan menakutkan, setelah rasa penasaran itu hilang Elizabet meneruskan perjalanan pulang ke rumah Eyang Margo.
"Sumi, jangan biasakan pulang petang. Warga di sini jam lima sore harus sudah berada di rumah," kata Eyang Margo yang mendapati cucunya baru pulang.
"Emang kenapa, Eyang? tadi Eliza ketemu Ningsih," ucap Elizabet yang engan dipanggil dengan nama Sumi.
"Pamali, anak gadis pulang petang," kata Eyang Margo.
Bukannya percaya dengan ucapan sang nenek, gadis itu justru penasaran dan ingin mencoba. Walaupun tidak mempunyai nyali yang kuat, tetapi Elizabet sangat yakin kalau dirinya bisa melawan rasa takut.
__ADS_1
Selesai makan malam, Eyang Margo meminta Elizabet untuk segera tidur. Karena di desa tersebut sudah tidak ada aktivitas lagi, beda dengan di kota tempat Elizabet tinggal bersama orang tuanya.
"Eyang, aku gak bisa tidur. Boleh tidak aku ke rumah Ningsih?" tanya Elizabet.
"Sumi, sejak kapan kamu membangkang perintah Eyang," ucap Eyang Margo.
Elizabet kemudian masuk ke dalam kamar, ia mencoba memejamkan kedua matanya namun tidak bisa. Ia terbangun dan membuka tirai jendela yang terbuat dari kain jarik.
Jarak rumah Eyang Margo dengan tetangga lumayan dekat, tetapi suasana malam hari begitu sunyi. Penerangan juga hanya dari lampu tradisional buatan sendiri, belum ada listrik.
Elizabet mengambil kursi dan duduk di depan jendela kamarnya, ia membayangkan betapa bahagianya saat tinggal di kota. Malam hari bisanya Papah dan Mamahnya mengajak keluar, untuk jalan-jalan menikmati keindahan kota di malam hari.
Tiba-tiba perut Elisabet terasa mulas, ia pun bergegas pergi ke wc yang letaknya dibelakang rumah. Saat ia mengecek ternyata, ia sedang datang bulan.
"Kenapa darahnya banyak sekali, tidak biasanya seperti ini," ucap Elizabet dalam hati. Ia segera membersihkan darah itu dengan air, dan masuk ke dalam kamar hendak mengunakan pembalut.
Pagi hari Elizabet bangun sangat pagi, tidak seperti biasanya. Ia merasa tidak nyaman karena darah yang tembus ke celananya, Elizabet segera mengganti pembalut dengan yang baru.
p segan ia mengambil cangkul dan mengubur pembalut itu dibelakang rumah, yang tak lain adalah sebuah kuburan kuno. Tiba-tiba ia merasakan getaran seperti gempa bumi, membuatnya berlari dan berteriak.
"Gempa!" teriak Elizabet.
Berlari sekuat tenaga masuk kedalam rumah, hendak membangunkan Eyang Margo. Ternyata Eyang sudah bangun, beliau sedang menggulai teh di dapur.
"Eyang, cepat kita keluar!" teriak Elizabet sembari menggandeng tangan Eyang Margo.
"Ada apa? orang dari tadi tidak ada gempa," ucap Eyang.
Elizabet lalu menceritakan kalau dirinya habis mengubur pembalut dibelakang rumah, ia juga menunjukkan tempat itu.
"Kenapa tidak tanya dulu, Sumi? kamu sudah melanggar peraturan desa ini! cepat ambil pembalut kamu," kata Eyang Margo dengan keras.
__ADS_1
Eyang Margo menjadi sedih, karena takut terjadi apa-apa dengan cucunya. Bahkan beliau masih merasakan getaran dari kuburan itu, tetapi tidak mengatakan pada Elizabet. "Aku pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti," ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap, mendung hitam pekat menghiasi langit hingga seluruh warga desa menghentikan aktivitasnya karena takut.