
Ternyata Elizabet terlihat murung karena tidak jadi bertemu dengan Arman, padahal Arman sudah berjanji akan menemuinya di sungai. Setiap pagi sungai itu terbilang ramai, banyak warga yang memanfaatkan air sungai untuk mencuci dan mandi. Ada juga warga yang memancing ikan, untuk lauk pauk.
Tak sengaja ember milik Elizabet tertendang kakinya sendiri, sehingga beberapa pakaian hanyut kebawa arus. Elizabet berteriak meminta tolong Ningsih untuk mengambilkan bajunya, tetapi Ningsih telat mengambilnya. Alhasil baju kesayangan Elizabet hanyut terbawa arus, entah bisa ditemukan lagi atau tidak.
Ningsih mengajak Elizabet pulang, dan mengikhlaskan bajunya yang hanyut. Tetapi Elizabet masih belum ikhlas, dia ingin mencari bajunya sampai ketemu.
"Sumi, baju kamu yang lain masih banyak. Kita pulang saja, arusnya juga deras gak mungkin kita ngejar," kata Ningsih.
"Masalahnya baju kesayangan aku, dari Papi," kata Elizabet dengan wajah sedihnya.
Karena tidak berhasil membujuk Elizabet, akhirnya mereka berdua berjalan menyusuri sungai. Sudah sepanjang lima kilometer mereka berjalan, namun baju Elizabet tidak juga ditemukan.
Ningsih mengira kalau baju itu sudah diambil orang, atau kalau tidak nyangkut. Tetapi tidak dengan perkiraan Elizabet, ia mengira baju itu terbawa arus sampai ke laut. Elizabet juga berfikir hendak mencari sampai ke laut, namun ia teringat dengan Eyang Margo yang sendiri di rumah. Sambil menangis akhirnya Elizabet pulang juga, hari ini mungkin adalah hari paling sial untuknya.
☠️☠️☠️
Iblis tua melarang Arman menampakkan diri lagi kepada bangsa manusia, karena ulahnya tempat tinggal mereka diusik oleh manusia.
Saat hendak menemui Elizabet di sungai, Iblis tua berusaha keras menghalangi Arman. Dia melakukan ritual yang membuat Arman tidak bisa pergi.
"Pasti Sumi kecewa dengan ku," ucap Arman mengepalkan tangannya.
"Sadar kamu itu hantu! jangan berhubungan dengan manusia, bangsa kita bisa hancur," kata Iblis tua.
__ADS_1
Arman tidak peduli dengan Iblis tua, dia pun pergi meninggalkannya dan hendak mencari Elizabet. Ia sangat menyesal tidak bisa bertemu dengan Elizabet. Di sungai Arman ternyata tidak menemukan keberadaan Elizabet, ia pun langsung kembali menemui Iblis tua dan marah kepada Iblis itu.
Iblis tua mengancam Arman, akan membuat desa tempat tinggal Elizabet penuh dengan suasana angker. Semua itu dia lakukan agar Arman tidak berhubungan dengan Elizabet lagi.
"Coba saja lakukan kalau bisa, Iblis tua! aku tidak akan pernah meninggalkan gadis itu," kata Arman sudah mulai jatuh cinta dengan Elizabet.
Arman merenung memikirkan Elizabet, dia ingin menemui dan meminta maaf. Tetapi ia harus mencari cara untuk bertemu dengan Elizabet, tanpa sepengetahuan Iblis tua.
"Seandainya aku masih hidup, gadis itu akan ku miliki," ucap Arman.
Arman berteriak dengan kencang, hingga membuat langit menjadi gelap. Suara petir begitu menggelegar, membuat semua warga ketakutan. Amarah yang bercampur kekecewaan kini meluap sudah, hingga menimbulkan korban jiwa.
"Tolong.... tolong... ada orang tersambar petir!" teriak seorang warga.
Hujan belum juga reda, tetapi warga tetap mendatangi orang yang tersebar petir tersebut. Mereka lalu mengadakan ritual untuk menyelamatkan orang itu, namun usaha mereka gagal. Orang yang terkena petir tidak dapat diselamatkan, jadi mereka semua langsung menguburkan di tempat pemakaman umum.
☠️☠️☠️
Nenek Sakinah menemui Eyang Margo secara diam-diam, beliau menyalahkan Eyang Margo atas kejadian yang menimpa desanya. Menurut Nenek Sakinah tidak seharusnya Eyang Margo, menerima cucunya yang dari kota tinggal di desa ini. Beliau begitu kecewa dengan Eyang Margo, karena Elizabet diperbolehkan menetap di desa ini.
"Sakinah, kenapa kamu selalu iri dengan apa yang aku punya? cucuku ingin menemani hari tua ku," kata Eyang Margo tidak terima dengan apa yang sudah diucapkan oleh Nenek Sakinah. Dari dulu kamu selalu menyalahkan aku, padahal kamu sendiri juga melanggar aturan desa," lanjutnya.
"Tutup mulut mu! jangan pernah mengungkit masa lalu yang sudah kelam," ujar Nenek Sakinah.
__ADS_1
Nenek Sakinah tidak mau kalah, dan tidak mau disalahkan. Padahal dulu beliau juga pernah dengan sengaja membuat masalah, agar jabatan kepala desa jatuh kepada keturunannya. Beliau ingin semua keluarganya terlihat terpandang dimata orang lain.
Eyang Margo sendiri juga tetap akan membela Elizabet, beliau juga tidak akan tinggal diam. Zaman dulu memang berbeda dengan sekarang, namun aturan desa tidak pernah berubah. Semua orang yang melanggar kalau harus dihukum, tidak boleh membedakan orang dulu maupun sekarang.
Saksi yang masih hidup soal kejadian masa lalu, adalah Eyang Margo. Tetapi beliau tidak pernah mengatakan pada siapapun, walaupun perbuatan temannya salah. Jadi kalau sampai Nenek Sakinah membuat Elizabet dihukum, beliau akan membuka rahasia yang sudah selama puluhan tahun tersimpan dengan rapat.
"Apa aku perlu melenyapkan mu, Margo!" teriak Nenek Sakinah.
"Silahkan saja, kalau kamu mampu," kata Eyang Margo dengan santai. Beliau yakin kalau Nenek Sakinah tidak akan pernah bisa membunuhnya, walaupun sudah bersekutu dengan iblis sekalipun.
Pada zaman dahulu orang masih percaya dengan dukun, bahkan mereka banyak yang meminta pertolongan pada dukun. Padahal dukun itu ada yang bersekutu dengan setan, tidak percaya dengan adanya sang pencipta. Salah satu orang di desa ini yang menganut dukun adalah Nenek Sakinah, buktinya diusia ratusan tahun beliau masih terlihat gagah. Itu semua tidak luput dari susuk yang melekat pada tubuhnya.
Eyang Margo kemudian pulang ke rumah, beliau langsung mengecek keberadaan Elizabet. Senyum bahagia terluas dari bibir wanita tua itu, ketika mendapati sang cucu tertidur pulas di kursi panjang. Dengan pelan beliau mengusap paras cantik Elizabet, dan menyingkirkan sulur rambut yang menutupi wajah cantik itu.
Kecantikan seorang Elizabet Sumiati memang tidak perlu diragukan lagi, kulit putih yang melekat pada tubuh gadis itu menambah aura kecantikannya.
"Eyang, kenapa baru pulang? dari mana saja, Eliza nyariin lho... ," ucap Elizabet saat terbangun dari tidurnya.
"Khawatir kamu sama Eyang? kenapa tidak pernah nurut kalau dibilangin," kata Eyang Margo sembari menjewer telinga Elizabet.
Elizabet pun menjerit kesakitan, dia berusaha agar neneknya melepas telinganya. "Ampun, Eyang....," ucapnya.
Eyang Margo menyuruh Elizabet untuk berpindah tidur di kamar, kebetulan Elizabet juga masih mengantuk jadi ia menuruti perintah Eyang Margo.
__ADS_1
Elizabet kembali kembali bertemu dengan sosok hitam tinggi, sosok itu mengancam Elizabet. "Jangan pernah berhubungan dengan bangsa kami, atau aku akan melenyapkan mu," kata sosok yang sangat menakutkan.
Sosok itu mengeluarkan benda tajam, dan hendak menancapkan ke tubuh Elizabet. Gadis cantik itu sama sekali tidak bisa menghindari serangan sosok hitam yang bertubuh kekar.