Menikah Dengan Penghuni Kuburan

Menikah Dengan Penghuni Kuburan
Bab 6


__ADS_3

Diana berteriak sekeras mungkin, ternyata dia hanya mimpi buruk. Ia lalu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil minum, mimpi yang sangat menakutkan membuatnya haus. Ketika Elizabet menuang air putih ke dalam gelas yang terbuat dari potongan bambu, tiba-tiba hidungnya mencium bau amis darah.


Elizabet mengendus-endus tangannya, tetapi tangannya juga tidak berdarah. Ia berfikir mungkin hanya pikirannya saja, atau terbawa mimpinya tadi.


"Sumi... Sumi... keluarlah...


Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil namanya, dengan penuh rasa penasaran ia hendak keluar untuk mencari tau siapa yang baru saja memanggilnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Eyang Margo ketika mendapati Elizabet hendak membuka pintu.


"Eyang, bikin kaget saja," ucap Elizabet sambil memegang dadanya dengan kedua tangan.


Eyang Margo melarang Elizabet keluar rumah, apapun itu alasannya. Apalagi tengah malam seperti ini, beliau takut kejadian seperti kemarin akan terulang lagi dan menimbulkan keributan warga desa.


"Tadi ada yang menangis Eliza," kata Elizabet menatap Eyang Margo.


"Sekarang lebih baik kembali tidur! jangan menghiraukan orang yang manggil tengah malam, mungkin setan," kata Eyang Margo asal bicara agar cucu kesayangannya nurut.


Dengan langkah beratnya, Elizabet langsung masuk ke dalam kamar dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Eyang Margo memastikan kalau Elizabet sudah masuk kedalam kamar, beliau langsung keluar dari rumah untuk mencari siapa orang yang sudah memanggil Elizabet. Beliau mengikuti bayangan hitam sampai ke kuburan kuno, bayangan itu seketika hilang.


Eyang Margo juga tidak punya rasa takut dengan makhluk lain, jadi beliau nekad mengikuti bayangan itu. Baginya makhluk halus akan takut dengan manusia, walaupun harus melawan ketakutan.


"Apa mungkin penghuni kuburan ini ada yang bangkit, kenapa bayangan itu hilang di sini," ucap Eyang Margo dalam hati.


Selama berpuluh-puluh tahun beliau menempati rumah ini, tidak ada kejadian yang aneh. Beliau juga tidak pernah merasakan diganggu, atau melihat makhluk lain. Beliau memutuskan untuk kembali ke rumah, tetapi bayangan itu seperti kembali mengikutinya.


Suara burung berkicau, dan saling bersautan satu sama lain membuat suasana desa terasa masih asri. Gadis yang bernama Elizabet itu baru membuka matanya, padahal matahari sudah menampakkan sinarnya.

__ADS_1


"Nduk, bangun! gak baik anak perawan sudah siang belum bangun," kata Eyang Margo.


Elizabet langsung bangun dari tidurnya dan memeluk Eyang dengan erat, ia mengatakan kalau sedang merindukan Papi dan Maminya. Eyang langsung membalas pelukan Elizabet, beliau juga sangat merindukan anaknya.


Eyang Margo menyuruh Elizabet mandi ke sungai, untuk membuang sial. Beliau juga meminta Elizabet untuk berangkat sendiri, karena tradisi di desa memang seperti ini. Ia kemudian mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya, dan segera berangkat ke sungai.


"Sumi, aku antar," kata seseorang yang mengikuti Elizabet.


"Mas Arman!" teriak Elizabet saking senangnya melihat Arman.


Arman tersenyum melihat gadis yang dia rindukan, akhirnya bisa bertemu setelah beberapa halangan telah ia lewati.


"Kenapa? apa kamu merindukan aku?" tanya Arman.


Elizabet mengerucutkan bibirnya, ia masih ingin marah dengan Arman namun pertemuan ini membuatnya begitu bahagia.


"Mas, kenapa masih saja panggil Sumi," protes Elizabet.


"Aku juga gak tau, suka aja manggil Sumi. Yang penting kamu tetap paling cantik di hati ku," kata Arman merayu Elizabet.


Elizabet sampai lupa dengan tujuannya pergi ke sungai, mereka berdua justru berduaan di sebuah gubuk. Arman mengutarakan isi hatinya pada Elizabet, begitu juga sebaliknya. Mulai hari ini mereka resmi menjadi pasangan kekasih, tentu saja keduanya begitu bahagia.


"Mas, jangan pernah tinggalin Eliza ya? secepatnya Mas Arman harus segera melamar Elizabet, kata Eyang gak boleh pacaran lama-lama," kata Elizabet.


Arman dengan senang hati menyanggupi ucapan Elizabet, dia sampai lupa diri kalau dirinya bukan manusia. Cinta kadang membuat seseorang menjadi kehilangan akal, bahkan sampai rela mengorbankan sesuatu hanya karena orang yang dia sayang.


Elizabet sudah tidak sabar lagi, ia ingin memberitahu kabar gembira ini kepada keluarganya. Dia begitu yakin kalau keluarganya akan memberikan restu.


"Sumi, seandainya aku bukan...

__ADS_1


"Mas, jangan berfikir macam-macam. Sejak pertama kita ketemu aku sudah jatuh cinta kepadamu," kata Elizabet memotong ucapan Arman. Padahal Arman akan mengatakan siapa dia sebenarnya, sebelum semua terlambat.


Arman mengurungkan niatnya untuk jujur, dia akan mencari cara agar bisa hidup kembali dan menjadi manusia seutuhnya.


"Mas, tau gak?" ucap Elizabet saat berada di pelukan Arman. Membuat Arman menggelengkan kepalanya, dan meminta Elizabet untuk mengatakan karena penasaran.


Elizabet mengatakan kalau dia belum mandi, sambil nyengir tanpa rasa bersalah. Ia pun meminta Arman untuk pulang, karena dia hendak ke sungai.


"Sumi, aku masih ingin bersamamu. walaupun kamu tidak mandi, kamu tetap wangi dan semakin cantik," kata Arman mencium kening Elizabet penuh dengan kasih sayang.


Perlakuan Arman membuat Elizabet semakin jatuh cinta kepadanya, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. "Mas, selesai mandi nanti kita ketemu lagi," ucapnya.


Arman lalu mengantarkan Elizabet ke sungai, dia menunggu di tepi sungai. Elizabet berpesan agar Arman tidak meninggalkan dirinya, dan menyuruh Arman untuk duduk di sebuah batu besar.


"Mas, jangan melihat ku! tutup mata," teriak Elizabet saat ia sudah masuk ke dalam air dan hanya menutupi tubuh mulusnya dengan selembar kain.


Arman mengikuti perintah sang kekasih, ia membalikkan badannya. Karena Elizabet mandi terlalu lama, ia pun melihat ke arah Elizabet yang sedang mengusap tubuhnya dengan sabun hingga membuatnya tidak berkedip.


"Mas, kenapa melihat ku!" teriak Elizabet melemparkan batu kecil ke arah Arman, namun batu itu bisa menembus tubuhnya. Elizabet tercengang, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia mulai berfikir buruk tentang kekasihnya. "Tidak mungkin," ucapnya dalam hati.


"Sumi, kamu kenapa? cepat selesaikan mandi mu," ucap Arman dengan lembut.


Elizabet tersenyum lalu melanjutkan mandinya sambil melamun, dia berusaha membuang jauh pikiran buruk itu. Tak lama kemudian Elizabet sudah selesai mandi, sikapnya berubah dingin ke Arman.


Arman berusaha membuat Elizabet melupakan kejadian tadi, dan meyakinkan kalau dirinya begitu mencintai Elizabet. Ia lalu menawarkan diri untuk mengantarkan pulang, namun Elizabet menolak dengan alasan belum siap jika langsung mengenalkan dengan Eyang nya.


"Aku sudah tau siapa Eyang kamu, justru kalau bertemu sekalian meminta restu dengan beliau," terang Arman.


Elizabet kemudian mengizinkan Arman mengantarkannya pulang, walaupun dalam hati takut Eyang tidak bisa menerima. "Bagaimana reaksi Eyang nanti? kalau marah gimana?" ucapnya bertanya-tanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2