
Iblis gila tidak dapat menangkap Arman, ia tidak mampu mengejar Arman karena tulangnya yang sudah hampir rapuh. Ia pun meminta Arman tidak berlari lagi, karena sudah merasa lelah.
Iblis tua meminta Arman memasakkan mie instan dari kota, tetapi mereka tidak tau bagaimana cara mendapatkan mie itu. Arman mempunyai ide, ia mengajak iblis mengambil mie instan di rumah Elizabet. Mereka berdua lalu merubah diri menjadi sangat seram, Arman hanya menampakkan wajah jeleknya separuh. Orang yang melihat pasti akan ketakutan dan berlari.
"Semoga saja nasib kita tidak sial, tidak ada manusia yang melihat kita," kata Iblis tua.
Arman mengatakan kalau mempunyai satu permintaan, yaitu meminta Iblis tua merestui hubungannya dengan Elizabet. Ia juga mengiming-imingi kalau Elizabet nanti menjadi istrinya, setiap hari akan makan enak. Karena Elizabet akan tinggal bersamanya nanti, tentu saja hal itu membuat Iblis tua menjadi setuju.
Mereka berdua berangkat ke rumah Elizabet, dan langsung masuk ke dalam dapur. Mereka mencari keberadaan mie instan itu, namun tidak ditemukan. Tak sengaja Arman membuat tumpah nasi yang berada di dalam bakul, membuat Eyang Margo masuk ke dalam dapur.
"Sumi, kamu tadi habis makan nasinya kamu taruh mana? kenapa bisa tumpah," kata Eyang Margo sembari mengambil nasi yang jatuh.
"Tadi aku gak pakai nasi, Eyang. Mungkin ada kucing lewat," kata Elizabet asal bicara.
Iblis yang mendengar kata mie instan langsung menyuruh Arman bertanya pada Elizabet, dimana menaruh mienya tetapi Arman menolak. Tidak mungkin juga Arman muncul dengan wajah yang begitu seram, dihadapan Elizabet.
"Arman, apa nasi enak dimakan?" tanya Iblis tua yang biasanya makan belatung.
"Aku tidak tau, dulu waktu masih hidup kamu makan tidak," kata Arman.
Mereka berdua sudah lupa dengan apa yang terjadi waktu mereka masih hidup, dan apa makanan apa saja yang enak. Iblis tua mencoba memakan nasi dan mengatakan kalau lebih enak dari belatung, untung saja saat memakan nasi Eyang dan Elizabet sudah kembali ke ruang tamu.
Arman melarang Iblis tua menghabiskan nasi itu, dan meminta mencari mie instan yang mereka inginkan. Tetapi Iblis tua menolak, karena ingin menghabiskan nasi. Arman merebut bakul yang berisi nasi, dan meletakkannya di meja.
"Apa itu mie instan?" tanya Iblis tua menunjukkan tumpukan mie diatas meja.
__ADS_1
Mereka lalu memikirkan cara, membawa mie instan keluar rumah tanpa ada orang yang melihat ada mie terbang sendiri. Arman mengambil semua mie milik Elizabet, padahal tinggal lima bungkus.
Akhirnya mereka berdua berhasil membawa mie instan ke alam mereka, dan memakannya. Arman pun heran karena rasanya beda, dan ini lebih keras.
"Aku lupa memasaknya," kata Arman.
Iblis tua lalu menyuruh Arman agar cepat menikah dengan Elizabet, agar ada yang membuatkan makanan enak.
"Sekarang kamu bantu aku menjadi manusia saja, biar aku bisa segera menikah dengan Sumi," ujar Arman.
"Jangan pernah bermimpi! bangsa kita berbeda dengan mereka, untuk apa menjadi seperti mereka," kata Iblis tua memang tidak ada cara apapun untuk menjadi manusia, itu adalah hal yang paling mustahil. Yang Arman bisa lakukan nanti adalah menikah dengan Elizabet, dan membawa Elizabet ke alamnya.
Arman melamun memikirkan cara menikah dengan Elizabet nanti, di sisi lain ia sangat senang karena iblis tua sudah mengizinkan menikah.
☠️☠️☠️
"Sumi!" teriak Eyang Margo dari dapur.
Elizabet yang ternyata ada didekat Eyang Margo pun menutup kedua telinganya, ia merasa tidak memakan nasi dari pagi. Karena kasihan dengan Eyang Margo, Elizabet akhirnya yang membuat nasi dan memasak lauk.
"Eyang, lihatlah mie instan ku juga hilang," kata Elizabet menunjukkan tempat dimana ia menaruh mie itu.
Eyang Margo menebak kalau ada pencuri yang masuk ke rumah mereka, tetapi baru ini Eyang kehilangan makanan. Biasanya rumah ditinggal pergi dalam keadaan terkunci pun tidak ada barang yang hilang, jadi menurutnya ini adalah kejadian yang sangat langka. Eyang Margo dan Elizabet lalu menaruh makanan di ruang tamu, agar tidak hilang lagi.
"Sumi, Eyang mau mencari kayu bakar dulu. Kamu jangan kemana-mana," kata Eyang Margo setelah selesai makan siang.
__ADS_1
Elizabet melarang Eyang pergi mencari kayu bakar, karena masih panas. Ia juga menawarkan dirinya yang mencari kayu, tetapi Eyang Margo tidak memperbolehkan.
"Kamu yang cari kayu? bukan kayu yang dibawa pulang, tapi malah laki-laki," kata Eyang Margo.
"Eyang, tidak tau saja kalau didekat hutan ada rumah mewah dan banyak laki-laki tampan seperti Mas Arman," ucap Elizabet.
Eyang Margo mengernyitkan dahinya, beliau juga pernah mendengar dari orang kalau didekat hutan ada rumah mewah. Beliau sendiri belum pernah menjumpai, walaupun lewat saat hendak ke sungai ataupun mencari kayu bakar. "Sumi, sekarang kamu bisa tunjukkan rumah yang kamu maksud itu?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Dengan senang hati Elizabet hendak mengantarkan Eyang ke rumah mewah itu, tetapi tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu jadi mereka mengurungkan niatnya untuk pergi.
Begitu Elizabet membuka pintu, seorang nenek tua langsung masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi. Elizabet kaget dengan nenek itu, karena orangnya hanya diam dan tanpa berbicara sepatah katapun.
"Nenek, siapa? kenapa diam saja?" tanya Elizabet dengan rasa takut. Ia berusaha memberanikan diri, karena nenek tua itu sudah kelewatan. Masuk ke rumah orang tanpa permisi, dan diam saja. Orang tua apalagi sudah nenek harusnya bisa memberikan contoh yang baik, tapi nenek ini tidak punya sopan santun dan etika menurut Elizabet.
"Tanya Eyang kamu! saya siapa," kata nenek tua itu yang tak lain adalah Nenek Sakinah.
"Kenapa harus tanya Eyang, Nenek kan punya mulut. Bisa jawabkan pertanyaan Eliza," kata Elizabet.
Nenek Sakinah berteriak memanggil Eyang Margo, dan mengatakan kalau tidak bisa mendidik cucunya. "Saya di desa ini adalah sesepuh, kenapa cucumu tidak sopan," ucapnya.
Elizabet tidak terima melihat Eyang Margo dikatakan tidak bisa mendidik cucu, justru nenek tua itu yang tidak bisa memberikan contoh yang baik.
"Nenek tua, Eyang mendidik saya dengan baik. Jangan salah menilai anda," kata Elizabet begitu berani dengan Nenek Sakinah.
Satu desa tidak ada yang berani melawan nenek Sakinah, apalagi kalau beliau sudah memberikan perintah pasti semua orang akan menurut.
__ADS_1
Eyang Margo hendak meminta maaf kepada Nenek Sakinah, tetapi Elizabet melarang. Orang seperti Nenek Sakinah wajib diberikan pelajaran, walaupun sudah tua. Tua hanya usia bukan sikapnya, pikiran dan sikap bisa saja masih anak-anak.
Elizabet menanyakan tujuan nenek Sakinah datang kerumahnya, ia juga dengan berani meminta kepada nenek Sakinah untuk segera mengatakan karena mereka akan pergi mencari kayu bakar.