Menikah Dengan Penghuni Kuburan

Menikah Dengan Penghuni Kuburan
Bab 10


__ADS_3

Di hutan Eyang Margo dan Elizabet sudah mendapatkan kayu bakar yang mereka cari, mereka mendapatkan kayu sebanyak dua ikat. Kata Eyang Margo lumayan bisa digunakan memasak dua kali, kalau mencari dengan jumlah banyak takutnya tidak bisa membawa pulang.


Elizabet berharap bisa bertemu dengan Arman sang kekasih, ia mencari keberadaan rumah mewah itu tetapi tidak ada. "Aku tidak salah lihat kan? rumah mewah yang aku pernah kunjungi ada disebelah sana, kenapa tidak ada," ucapnya dalam hati.


Eyang Margo mengajak Elizabet pulang, namun Elizabet menolak dengan alasan nenek tua masih berada di rumah. Dengan lembut Eyang Margo juga membujuk Elizabet, agar mau meminta maaf kepada Nenek Sakinah. Beliau takut cucunya dikucilkan oleh masyarakat, karena Nenek Sakinah sangat berperan penting.


Sikap seenaknya saja itulah yang membuat Elizabet kecewa dengan seorang sesepuh desa, harusnya bisa menjadi contoh yang baik buat warganya. "Eyang, kita tidak salah. kenapa harus meminta maaf," ucapnya.


"Nduk, semua ini demi kebaikanmu. Percayalah suatu saat beliau pasti berlaku baik pada kita," kata Eyang Margo dengan tersenyum.


Elizabet merasa kasihan juga dengan Eyang Margo, ia pun akhirnya mengalah dan memutuskan hendak meminta maaf kepada Nenek Sakinah. Eyang begitu bahagia, cucu kesayangannya bisa menuruti permintaannya.Mereka lalu berkemas dan pulang menuju ke rumah, dengan membawa kayu bakar.


Sampai di depan rumah mereka terkejut, ada Ningsih yang sedang duduk di teras rumah bersama Nenek Sakinah. Tatapan penuh kebencian dari mata Nenek Sakinah, membuat Elizabet menjadi ragu untuk meminta maaf.


Eyang Margo langsung menyuruh Elizabet untuk bersimpuh dihadapan Nenek Sakinah, agar segera meminta maaf dan masalah ini terselesaikan dengan damai.


"Nenek, aku minta maaf," ucap Elizabet sembari menjabat tangan Nenek Sakinah, namun dikibaskan oleh beliau. Rasa kesal di dalam hati Elizabet mulai muncul, ia langsung menarik paksa tangan yang sudah keriput itu dengan kencang.


Nenek Sakinah berteriak dengan kencang, sontak membuat Ningsih dan Eyang Margo meminta Elizabet melepaskan jabat tangannya itu. Giliran Elizabet yang mengibaskan tangan nenek Sakinah, hingga membuat Nenek Sakinah hampir terjengkang dari duduknya.


"Permintaan maaf macam apa seperti ini! tidak ada tulus-tulusnya, aku belum memaafkan kamu," ucap Nenek Sakinah menunjuk ke arah Elizabet.


"Nenek yang mulai duluan! jadi maaf saja kalau tidak sopan," ujar Elizabet dengan santai. Yang penting bagi Elizabet sudah melakukan apa kemauan Nenek Sakinah, lalu ia meminta agar bersikap baik dengan Eyang Margo.


"Kurang ajar kamu! sama orang tua tidak menghormati," kata Nenek Sakinah.

__ADS_1


"Cukup Sakinah! lebih baik kita bicara berdua masalah ini, jangan pernah libatkan cucuku atau kamu menyesal," sahut Eyang Margo sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.


Ningsih bingung menyaksikan kejadian ini, dia tidak tau harus membela siapa. Jadi memilih untuk diam dan tidak ikut campur, istilahnya pura-pura bodoh padahal ia paham semua dengan kejadian ini.


Sikap semena-mena Nenek Sakinah sudah mendarah daging, sehingga sulit untuk merubahnya. Pada saat masih muda dulu Nenek Sakinah dan Eyang Margo sering berebut kekasih, namun Eyang Margo selalu mengalah karena rasa hormat kepada Nenek Sakinah.


Elizabet hendak mengikuti Eyang Margo dan Nenek Sakinah masuk ke dalam rumah, Ningsih segera mencegah Elizabet demi kebaikan bersama.


"Kenapa kamu melarang ku, Ningsih? aku takut terjadi apa-apa dengan Eyang," kata Elizabet begitu cemas.


"Urusan orang tua, Sumi. Tidak mungkin Nenek Sakinah menyakiti Eyang Margo," ucap Ningsih menenangkan.


Mereka berdua lalu duduk dan saling bertatapan, dan menyembunyikan kekhawatiran masing-masing.


"Ningsih, tolong awasi Eyang. Aku harus pergi menemui Mas Arman dulu," kata Elizabet langsung berlari menuju ke belakang rumah.


"Sumi... tunggu!" teriak Ningsih tidak didengar oleh Elizabet.


Ningsih pun kebingungan harus berbuat apa, hendak mengikuti Elizabet namun takutnya terjadi sesuatu dengan Eyang Margo. Lalu dia berlari menuju ke rumah kepala desa, dan melaporkan kejadian ini. Kepala desa mengikuti Ningsih ke rumah Eyang Margo, agar bisa mengawasi Nenek Sakinah.


"Pak, tolong titip Eyang Margo sebentar. Saya kebelet ke belakang," kata Ningsih sambil kentut dan membuat Kepala desa menutup hidung mancungnya.


"Sana pergi! dasar jorok," kata kepala desa.


Ningsih langsung masuk ke ******, dan mengeluarkan isi perutnya yang penuh. "Akhirnya lega juga," ucapnya. Setelah selesai ia kebingungan karena lupa tidak membawa air, terpaksa ia belum membersihkan diri dan mengambil air.

__ADS_1


Sambil mengelus-elus perutnya yang sudah kosong, Ningsih kembali ke tempat kepala desa berada.


"Bau apa ini?" tanya Taufan mengendus-endus ke arah Ningsih.


"Anu ...Pak, saya ceboknya belum bersih," kata Ningsih meringis menahan malu.


Kepala desa langsung melotot ke arah Ningsih, yang memang masih bau. Beliau menyuruh Ningsih untuk mandi lebih dulu, karena baunya memang sangat menyengat. "Cantik sih, tapi jorok banget," ujarnya memijat kepalanya yang pusing, dan perutnya terasa mual gara-gara ulah Ningsih.


☠️☠️☠️


Rasa penasaran dengan rumah mewah di hutan membuat Elizabet menuju ke tempat itu, ternyata setelah kembali ke sana rumah itu ada. Elizabet langsung mengetuk pintu rumah mewah dengan kencang, tidak ada orang yang membukakan pintu. Elizabet berjalan mengendap-endap di samping rumah, ia menemukan sebuah jendela yang kordennya sedikit terbuka. Dengan pelan ia hendak mengintip ke arah dalam rumah, namun apa yang dia lihat membuatnya gemetaran dan kencing di tempat.


"Po... poc... ng... " ucapnya dengan lidah yang terasa kelu. Elizabet hendak berteriak namun tidak bisa, baru sekali ini ia melihat sosok putih bertali dan meloncat-loncat.


"Mas Arman, apa kamu di dalam?" ucap Elizabet mengetuk pintu lagi.


Elizabet mencoba memegang handel pintu, ternyata pintunya tidak terkunci sehingga terbuka dengan sendiri. Karena sangat penasaran dengan sosok pocong tadi, Elizabet masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba pintu rumah itu tertutup dengan sendirinya, hingga membuatnya kaget dan menjerit.


"Aaawwww... !" teriak Elizabet sembari memegang dadanya, seakan jantungnya copot karena berdetak dengan kencang.


"Mas Arman!" teriak Elizabet memanggil nama kekasihnya.


Elizabet masuk ke ruangan yang ada di rumah itu, sepertinya kamar tidur. Terlihat ada ayunan yang bergoyang-goyang sendiri, membuatnya begitu penasaran dan ingin melihat. Setelah mendekat Elizabet harus kembali menjerit, sosok berambut panjang dan menggunakan gaun putih sedang santai menikmati ayunan itu.


"Kuntilanak... pergi!" teriak Elizabet, ia langsung duduk karena tak kuasa melihat apa yang dia jumpai. Elizabet menutup matanya, karena sosok itu mendekat ke arahnya seakan memangsa dirinya.

__ADS_1


__ADS_2