
Nenek Sakinah marah-marah dengan Elizabet, karena sudah berlaku tidak sopan dengannya. Baru kali ini beliau menemukan orang yang begitu berani menentangnya.
Ternyata ada tetangga yang mendengarkan keributan di rumah Eyang Margo, orang itu langsung melaporkan ke kepala desa yang tak lain adalah Nenek Sakinah sendiri.
Kepala desa bergegas ke rumah Eyang Margo, untuk menghentikan keributan yang neneknya buat. Walaupun nenek sendiri sebagai kepala desa, Taufan harus berlaku adil ke seluruh warga desa. Tidak ada istilah membela keluarga sendiri, apalagi anggota keluarga itu yang salah.
Taufan berkata dengan lembut kepada neneknya, agar pulang ke rumah. Mengingat kondisi kesehatan neneknya yang tidak stabil, Taufan harus sedikit memaksa. Pasalnya Nenek Sakinah kalau sudah mempunyai keinginan sulit untuk dicegah, apa-apa harus dilakukan.
"Taufan, maafkan cucu Eyang. Semua ini salah Eyang, tidak bisa mendidik Sumi dengan baik," kata Eyang Margo agar masalah ini tidak berbuntut panjang.
"Eyang, kita tidak salah. Sudah jelas nenek tua itu datang tanpa permisi, gak punya sopan santun. Gimana Eliza mau hormati dia, kalau tidak diberikan contoh yang baik," sahut Elizabet.
"Diam!" bentak Nenek Sakinah.
Taufan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia sudah menebak neneknya berbuat seenaknya di rumah orang. Tanpa banyak bicara, ia langsung menggandeng tangan Nenek Sakinah untuk mengajaknya pulang.
Nenek Sakinah tidak mau pulang sebelum Elizabet meminta maaf, dan bersimpuh di kakinya. Sebagai sesepuh desa ini, beliau minta semua orang bisa menghormati dan menerima apapun keputusannya.
"Mbok, tolong jangan seperti ini. Sumi belum mengenal Si Mbok, jadi tolong mengerti," kata Taufan menggenggam tangan keriput neneknya.
Nenek Sakinah memalingkan mukanya, beliau tetap pada pendiriannya. Elizabet harus meminta maaf, secara paksa maupun tidak.
Elizabet tidak peduli walaupun Eyang Margo sudah membujuk, dia justru berkata mau tidur sini juga boleh gak perlu dibujuk pulang. Ia sangat berani mengatakan semua itu, demi membela diri dan Eyang Margo.
"Sumi, sepertinya aku yang harus bicara empat mata dengan mu," kata kepala desa.
Mereka berdua lalu bicara di luar rumah, Taufan meminta agar Elizabet menuruti perintah Nenek Sakinah. Tetapi, Elizabet tidak mau menuruti permintaan Taufan.
__ADS_1
"Ini menyangkut harga diri kita, sebagai kepala desa seharusnya kamu bisa mengayomi masyarakat. Jangan karena itu nenek mu, terus menyuruh orang mengikuti kemauannya," ujar Elizabet dengan rasa kesalnya.
"Nenek sedang sakit, apa kamu tega berlaku kasar kepada orang tua," kata kepala desa.
"Bagaimana dengan perlakuan nenek mu ke Eyang? Aku sebagai cucunya tidak terima," kata Elizabet meninggalkan Taufan yang masih mematung ditempat itu.
Elizabet langsung masuk ke dalam rumah, dan mengajak neneknya ke hutan. Saat mereka hendak berangkat, Nenek Sakinah mengatakan kalau akan menunggu mereka pulang. Ucapan Nenek Sakinah tidak mereka hiraukan, mereka langsung berangkat mencari kayu bakar ke hutan.
Taufan kini masih berusaha membujuk Nenek Sakinah untuk diajak pulang, ia merasa tidak enak dengan warga lainnya. Kelakuan neneknya membuat malu, gila kehormatan.
"Mbok, nanti kita bisa disangka maling. Ayo kita pulang," kata Taufan.
"Tidak! pulang saja sendiri, urusan ku dengan Margo dan cucunya belum selesai," ucap Nenek Sakinah. Bisa-bisanya punya cucu tidak punya sopan-santun," Lanjutnya.
Ningsih tiba-tiba datang ke rumah Eyang Margo, ia membawa rantang berisi sayur asem yang baru saja selesai dibuatnya. Setiap memasak dalam jumlah banyak, Ningsih selalu membawakan untuk Eyang Margo.
"Taufan, gadis seperti ini yang Nenek inginkan. Bukan seperti cucu Margo yang tidak punya sopan santun," sahut Nenek Sakinah.
"Mbok, tolong jangan bahas itu lagi. Sumi bisa kok sopan sama Mbok," kata Taufan.
"Jadi kamu sekarang membela gadis itu! dasar cucu durhaka," kata Nenek Sakinah.
"Ini ada apa ya? kok malah jadi begini," sahut Ningsih kebingungan.
Nenek Sakinah menjelaskan kepada Ningsih, apa saja yang terjadi dan menceritakan Elizabet. Beliau mengatakan kalau Eyang Margo tidak bisa mengurus cucu, tentu saja Ningsih menjadi ragu dengan ucapan Nenek Sakinah.
Ningsih sendiri menjadi bingung harus membela siapa, kalau membela Elizabet takut tidak direstui oleh Nenek Sakinah. "Nek, cucu Eyang Margo itu baik kok. Buktinya dia mau berteman dengan saya," ujarnya.
__ADS_1
"Nduk, jangan terlalu dekat dengan anak itu! takutnya ketularan ndak punya sopan santun," kata Nenek Sakinah.
Taufan meminta Ningsih untuk membujuk Nenek Sakinah pulang, tetapi Ningsih meminta imbalan pada Taufan. Kalau sampai berhasil membawa nenek Sakinah pulang, Taufan harus mengajaknya menonton pertunjukan di desa tetangga besok malam. Apa boleh buat, demi keamanan Eyang Margo dan Elizabet syarat dari Ningsih ia penuhi.
"Nek, kita pulang yuk. Ningsih ingin makan buah yang ada di depan rumah nenek," kata Ningsih.
Nenek Sakinah menolak ajakan Ningsih, beliau tetap menunggu Elizabet dan Eyang Margo pulang ke rumah. Ningsih mempunyai ide, ia menceritakan kebaikan Eyang Margo dan Elizabet. Dia tidak perduli dengan Nenek yang kelihatan seperti tidak suka, Ningsih tetap bercerita hingga membuat Nenek luluh dengan sendirinya.
Dengan suasana hati yang begitu bahagia, Ningsih mau mengantarkan Nenek pulang ke rumah. Akhirnya besok malam dia bisa pergi nonton, dengan kepala desa. Mereka pergi ke rumah Nenek Sakinah, dengan berjalan kaki. Taufan berjalan dibelakang mereka, hingga sampai di rumahnya.
Kebetulan orang tua Taufan berada di rumah, mereka mengucapkan banyak terimakasih kepada Ningsih dan menyambut Ningsih dengan baik.
"Gadis itu sangat cocok dengan Taufan, Pak," kata Ibu Taufan yang mengintip dari balik gorden saat Ningsih dan Nenek Sakinah duduk berdua.
"Taufan pasti tidak suka, selera dia kan gadis kota, Bukan gadis desa seperti Ningsih," kata Bapak nya Taufan.
Kedua orang tua itu sebenarnya tidak mempermasalahkan siapa jodoh Taufan nantinya, yang penting bagi mereka Taufan bahagia dan tidak hidup dalam penderitaan seperti yang mereka alami dulu. Menikah tanpa restu orang tua, karena nenek Taufan orang yang begitu pemilih.
Nenek Sakinah meminta Ningsih mengantarkan kembali ke rumah Eyang Margo, dengan alasan masalah mereka tadi belum selesai. Ningsih tidak bisa menolak, namun Taufan memberikan isyarat agar Ningsih menolak permintaan Neneknya.
"Mbok, aku ingin mengajak Ningsih ke kebun sayuran desa.
"Tidak boleh, Taufan! kamu harus berangkat sendiri," kata Nenek Sakinah begitu keras kepala.
Ningsih berusaha keras menolak permintaan Nenek Sakinah, ia mengatakan kalau Elizabet dan Eyang Margo belum pulang. "Nek, biasanya mereka menginap kalau mencari kayu bakar," ucapnya.
Nenek Sakinah tidak percaya, beliau hendak berangkat sendiri ke rumah Eyang Margo untuk memastikan sudah pulang atau belum.
__ADS_1