Menikah Dengan Penghuni Kuburan

Menikah Dengan Penghuni Kuburan
Bab 3


__ADS_3

Gara-gara ulah Elizabet pergi menuju ke rumah mewah yang dia lihat, semua warga menjadi ikut panik mencarinya. Ada juga yang menyalahkan Eyang Margo, dan mengganggap lalai dalam menjaga cucunya.


Ningsih meminta warga untuk tidak menyalahkan siapapun, mungkin semua yang terjadi di desa mereka memang sudah tertulis dalam sejarah. Pasalnya desa mereka lain dari yang lain, buktinya desa itu tertinggal jauh dari kehidupan modern.


Semua warga bersepakat untuk berpencar mencari keberadaan Elizabet, ada yang menyusuri hutan, ada juga yang mencari sampai ke sungai.


"Ningsih, bagaimana ini kalau terjadi apa-apa dengan Sumi," ucap Eyang Margo meneteskan air mata. Rasa sesal kini kian menyelimutinya, seharusnya beliau tegas dalam menghadapi Elizabet yang begitu keras kepala.


Sebisa mungkin Ningsih menenangkan Eyang Margo, agar tidak sedih lagi. Ia juga merasa bersalah karena menolak ajakan Elizabet, seandainya tadi dia ikut Elizabet mungkin tidak hilang.


Di sisi lain, Elizabet sedang duduk berdua dengan laki-laki tampan yang dia temui. Mereka saling bertukar cerita, dan berkenalan. Walaupun baru pertama kali mengobrol mereka terlihat sangat akrab, senyum dibibir keduanya menandakan kalau ada kecocokan.


Elizabet merasa sangat bahagia karena sudah mengetahui nama laki-laki yang dia temui kemarin, Arman laki-laki yang begitu tampan.


"Mas, tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Elizabet sambil melihat ke sekeliling rumah. Elizabet di ajak oleh Arman masuk ke dalam rumah yang begitu mewah, banyak sekali benda antik di dalam rumah itu.


"Heem... tentu saja, Sumi," ucap Arman tersenyum.


"Mas, jangan panggil aku Sumi. Namaku itu Elizabet, gara-gara Eyang semua orang jadi memangil ku Sumi... Sumi... sebel aku," kata Elizabet mengerucutkan bibirnya membuat Arman menahan tawa, seakan ingin mencubit bibir monyong Elizabet.


Terdengar suara banyak orang memangil nama Sumi, dengan sadar Elizabet juga mendengar suara itu. Dia hendak berdiri, tiba-tiba merasa sangat ngantuk dan langsung tertidur.


"Sumi... Sumi.... !" teriak para warga desa dengan bersamaan.


"Itu lihat, ada orang tidur di kuburan!" teriak salah satu warga, mereka langsung menuju ke kuburan itu.


Setelah mereka mendekat, ternyata ada seorang gadis yang sedang tertidur di atas kuburan. Salah satu warga membangunkan gadis itu, hingga gadis itu terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Mereka saling bertanya, apakah gadis yang mereka temui ini cucu Eyang Margo atau bukan. Ada sebagian warga yang belum mengenal Elizabet, bahkan ada juga yang belum pernah bertemu sama sekali.


"Nduk, kenapa tidur di kuburan?" tanya seorang warga.


Elizabet mencoba mengingat kenapa dirinya tidur di kuburan, dia lalu tersenyum teringat habis berkenalan dengan Arman. "Bapak ini ngada-ada, orang Eliza habis ketemu cogan," ucapnya sembari mengusap matanya.


"Cogan? apa itu, Nduk?" tanya warga itu.


"Ya ampun... Bapak! masa gak tau, apa itu cogan. Itu lho pemuda desa yang tampan rumahnya di sana," kata Elizabet tanpa sadar menunjukkan sebuah kuburan yang nisannya sudah tidak bernama.


Warga itu justru mengira kalau Elizabet gila, lalu memangil rekan yang lain agar membawa Elizabet ke balai desa. Mereka membawa Elizabet dengan menggandeng kedua tangannya, agar tidak terlepas.


Kepala desa sudah menunggu kedatangan para warga, tak lupa Eyang Margo dan Ningsih juga turut datang. Mereka berdua masih sedih dengan hilangnya Elizabet, malah mendengar kabar orang gila tidur di kuburan dan diminta untuk datang ke balai desa.


Sampai di balai desa, Elizabet duduk di antara dua warga yang menjaganya. Walaupun sudah berusaha memberontak, namun cengkraman tangan mereka begitu kuat.


"Lepaskan, Pak! saya tidak gila!" teriak Elizabet berusaha melepaskan diri.


"Kamu tenang dulu, cukup jawab pertanyaan saya," ucap Kepala Desa yang bernama Taufan.


Elizabet terlihat mulai tenang, karena kepala desa juga meminta warga melepas tangan Elizabet.


"Nama kamu siapa? kenapa bisa sampai di desa ini," tanya kepala desa.


"Elizabet namaku, emang kenapa, Pak? gak boleh saya tinggal di rumah Eyang," jawab Elizabet dengan kesal.


Kepala desa dengan sabar menghadapi Elizabet, agar masalah ini terselesaikan. Beliau juga banyak mengalah, untuk membuat Elizabet nurut. Tetapi siapa sangka, Elizabet justru menentang larangan kepala desa.

__ADS_1


Ada salah satu warga yang mengatakan kalau cerita Elizabet meresahkan warga, dan membuat warga takut. Pasalnya mereka tidak pernah menemui rumah mewah di desanya, jadi mereka menyimpulkan kalau Elizabet gila.


Elizabet tidak terima dengan ucapan warga, dia hanya bercerita soal warga mau percaya atau tidak dia tidak peduli.


Eyang Margo ketika mengetahui kalau cucunya dianggap gila, beliau juga membela Elizabet. "Tidak ada seorang pun yang boleh menghina cucu ku!" teriaknya dengan kencang.


Kepala desa juga berusaha adil menyikapi masalah ini, dan membubarkan warga. Kesimpulannya adalah Elizabet tidak gila, hanya saja kemungkinan ada yang mengganggu. Elizabet juga sudah diperbolehkan pulang bersama Eyang dan Ningsih.


Sampai di rumah Eyang Margo marah, beliau menjewer telinga Elizabet dengan kencang. Elizabet berteriak kesakitan, tidak biasanya Eyang Margo marah sampai menyakitinya.


"Eyang... ampun... " ucapnya lirih menahan sakit pada telinganya.


Eyang melepaskan tangannya, tetapi beliau masih marah dan mengomel memberi nasehat pada cucunya. Ningsih sampai bingung dan memilih untuk berpamitan pulang. .


Malam harinya Elizabet tidur bersama Eyang Margo, dia tiba-tiba takut tidur sendiri. Udara di malam hari begitu dingin, tetapi tidak dengan yang dirasakan oleh Elizabet. Gadis cantik itu merasakan hawa panas, hingga membuat tubuhnya berkeringat.


"Eyang... Eyang... bangun," ucapnya dengan pelan.


Eyang Margo tidur dengan lelap di sebelah Elizabet, sepertinya beliau begitu lelah. Menatap wajah sang nenek Elizabet pun merasa kasihan, jika harus membangunkannya. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar neneknya, dan duduk di depan teras rumah.


Angin tiba-tiba berhembus dengan kencang, membuat bulu kuduk Elizabet berdiri. Yang dia rasakan seperti ada orang yang meniup telinganya. Elizabet menoleh ke arah belakang, tetapi sama sekali tidak ada orang.


"Sumi, kamu sendirian saja?" tanya seorang laki-laki yang baru saja tadi kenal.


Elizabet kaget tiba-tiba ada orang yang menghampirinya. "Pak, ada apa malam-malam ke sini? bukannya masalah tadi sudah selesai? Bapak, tidak percaya kalau saya tidak gila?" ucap Elizabet dengan beberapa pertanyaan.


Orang itu hanya tersenyum, dan menanyakan kenapa dirinya tidak dipersilahkan untuk duduk.

__ADS_1


"Kalau mau duduk saja, Pak. Jangan manja," kata Elizabet.


Elizabet benar-benar menguji banyak orang hari ini, walaupun sudah dinasehati dan ditegur masih saja berlaku tidak seperti itu.


__ADS_2