
Arman tiba-tiba muncul dibelakang Elizabet, ia memeluk sang kekasih yang sedang ketakutan. Ia juga sangat merindukan kekasih beda alamnya itu, rasanya ingin selalu bertemu dan saling memadu kasih.
Elizabet terkejut merasakan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya, ia segera meraba tangan itu dan membalikkan badan. Begitu melihat seseorang yang dia sayang, Elizabet langsung memeluk Arman dengan erat. Kepalanya ia tempelkan di dada Arman, seketika itu ia melepas pelukannya.
"Kenapa jantung Mas Arman tidak berdetak." ucapnya dalam hati lalu memundurkan dirinya ke belakang beberapa langkah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arman memegang tangan Elizabet.
"Mas, kenapa jantungmu tidak berdetak?" ucap Elizabet berusaha melepaskan tangan Arman.
Arman tersenyum lalu menarik tangan Elizabet dan menempelkan kepala Elizabet ke dadanya, kali ini jantung Arman berdegup dengan kencang. "Mungkin aku menggunakan pakaian tebal, sayang. Kamu tidak perlu takut, aku tidak akan pernah menyakitimu." ucapnya menenangkan.
Elizabet merasa sangat lega, keraguan dalam hatinya kini terjawab sudah. Rasa takut pun hilang seketika, walaupun ada sosok menakutkan berdiri di sudut ruangan. "Rumahmu menakutkan, Mas. Eliza takut tinggal di sini," ucapnya.
Tidak banyak bicara, Arman mengajak Elizabet ke sebuah ruangan. Ruangan yang begitu gelap dan sangat menakutkan, tidak ada pencahayaan sama sekali. Elizabet berusaha menghilangkan rasa takutnya, dia begitu yakin Arman bisa melindunginya.
Arman meminta Elizabet duduk di ruangan yang gelap itu, dia lalu mengatakan kalau ingin menjadikan Elizabet istrinya. Arman ingin kekasihnya itu tau siapa dia sebenarnya namun, ia bingung harus memulai dari mana.
"Mas, antarkan aku pulang." Ucap Elizabet berdiri hendak pergi dari ruangan itu, Arman memeluk Elizabet dengan erat lalu mengecup keningnya.
Elizabet melongo karena terkejut Arman mengecup keningnya, ia pun memegang keningnya dengan tersenyum bahagia.
"Sayang, apa kamu masih mencintaiku jika kita berbeda?" Tanya Arman dengan tiba-tiba.
"Mas, kenapa ngomong gitu? Eliza mencintai Mas apa adanya, mana mungkin meninggalkanmu," Ujar Elizabet.
Ketika Arman hendak merubah wujudnya, Elizabet merengek minta diantarkan pulang sehingga membuat Arman mengurungkan niatnya.
Arman juga menjadi ragu, takut merusak kebahagiaan gadis cantik yang berdiri di depan matanya. Ia tidak tega menancapkan diri, di hati wanita yang sangat ia cintai.
Elizabet menyuruh Arman untuk pulang, ketika sudah sampai di belakang rumah. Sebelum Arman pergi, Elizabet bersembunyi dibalik pohon sehingga melihat dengan jelas Arman menghilang dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa Mas Arman hilang, jangan-jangan dia… " Ucapnya lirih.
Elizabet masuk ke dalam rumah dengan wahah yang muram, ia tampak sedih dan tidak bersemangat.
☠️☠️☠️
Malam hari kian mencekam, suasana sunyi di desa menjadikan sangat seram. Hanya suara katak dan jangkrik yang saling bersahutan dengan merdunya.
Gadis cantik yang tak kunjung memejamkan mata, sedang merasakan keraguan pada kekasihnya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, bisa bertemu bahkan berpacaran dengan orang yang belum jelas asal usulnya. Namun, rasa cintanya sudah kian mendalam.
"Tidur, Nduk! Udah malem, besok kita harus ke pasar. Beras Eyang habis," Kata Eyang Margo.
"Gak bisa, Eyang. Elizabet pengen ke kota aja," Kata Elizabet.
"Lho… kok tiba-tiba ngomong gitu? Ada masalah apa to, Nduk?" Tanya Eyang Margo mengerutkan dahinya, nampak kebingungan.
Elizabet tidak mau membuat Eyang Margo sedih, kemudian ia mengajak Eyang Margo untuk beristirahat. Ia tidak mau membebankan masalah pribadinya ke Neneknya, kalau bisa setiap ada masalah hendak diselesaikan sendiri.
Pagi ini ia akan menemani Eyang pergi ke pasar, untuk membeli beras. Kebetulan bahan makanan mereka juga sudah menipis.
Perjalanan ke pasar dari rumah membutuhkan waktu tiga puluh menit, untuk menempuhnya mereka berjalan kaki kalau tidak naik andong yang lewat. Elizabet dan Eyang Margo memilih untuk berjalan kaki.
Suasana di pagi yang masih berkabut, membuat jarak pandang terbatas. Elizabet meminta Eyang berjalan dengan pelan, baginya yang penting bisa sampai ke pasar dengan selamat. Dia berpikir akan menyimpan rapat-rapat apa yang sedang dialami saat ini.
"Eyang, ternyata jauh juga pasarnya," Kata Elizabet yang baru pertama kali pergi ke pasar tradisional, sejak berada di rumah Eyang Margo.
"Gak juga, Nduk! Kamu aja yang tidak terbiasa jalan jauh," Kata Eyang Margo.
Memang Elizabet dulunya anak yang begitu manja, kehidupan di kota jauh berbeda dengan yang dia jalani saat ini. Di kota kalau ingin bepergian sudah ada supir, yang siap mengantarkan kemanapun.
Elizabet merasakan ada orang yang mengikuti, sesekali ia menoleh ke arah belakang. Ia kemudian mengatakan kepada Eyang Margo, akhirnya mereka mempercepat jalan kakinya.
__ADS_1
Ketika sampai di pasar, orang itu masih mengikuti mereka. "Eyang, jangan kemana-mana! Eliza kesana sebentar." Kata Elizabet.
Elizabet sebenarnya berusaha untuk mengelabui orang itu, tetapi tidak berhasil orang tersebut tetap mengikutinya dari kejauhan.
Ada seorang lelaki tua renta menepuk pundak Elizabet dari belakang, Elizabet langsung membalikkan badannya dan menatap orang itu.
"Nduk, jangan berhubungan dengan Arman lagi. Dia bukan manusia, nanti kamu akan menyesal," Kata Lelaki tua itu, kemudian langsung menghilang.
"Kakek!" Teriak Elizabet.
Badan Elizabet bergetar dan terasa sangat panas, hatinya terasa seperti teriris belati tajam. Air mata mengalir dengan derasnya, hingga tak mampu terbendung lagi.
Kenyataan yang paling pahit harus didengarkan, ketika hatinya sedang berbunga-bunga memiliki seorang kekasih.
"Kemana kakek itu, aku harus bicara dengannya," Ucapnya dalam hati seraya menghapus air mata yang menetes di kedua pipinya.
Elizabet menuju kemana Eyang Margo berada, ia mengajak Eyang untuk segera pulang padahal Eyang baru saja antri membeli beras.
Eyang Margo menyuruh Elizabet pulang duluan, beliau harus membantu temannya menjual pisang. Kebetulan temannya meminta bantuan, Eyang Margo tidak enak jika harus menolak karena beliau juga sering dibantu.
Elizabet berjalan menuju ke sungai, ia duduk sambil menangis meratapi nasibnya. Ia merasa bingung antara percaya dan tidak. Baru sekarang ia merasakan rasa kecewa yang teramat dalam, kekasih yang dia banggakan ternyata bukan manusia.
"Sumi, kamu kenapa? Tidak baik lho… melamun di sungai sendirian," Ujar seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelah Elizabet.
Elizabet langsung menghapus air matanya, dan menatap orang itu. Ia terkejut, kenapa bisa orang itu mendatanginya saat dirinya sedang merasakan kesedihan.
"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Agar kamu merasa lebih lega," Ucapnya lagi.
"Pergi! Aku ingin sendiri," Pinta Elizabet.
"Kenapa kamu mengusir ku? Aku hanya ingin membantumu, Sumi," Kata orang itu.
__ADS_1
Elizabet terdiam, memang saat ini ia membutuhkan tempat untuk bercerita. Tetapi, tidak mungkin ia menceritakan masalah ini ke orang lain.