Menikah Dengan Penghuni Kuburan

Menikah Dengan Penghuni Kuburan
Bab 2


__ADS_3

Tubuh Eyang Margo tiba-tiba menggigil, dan demam tinggi. Elizabet pun panik, ia segera membawa Eyang masuk ke dalam kamar.


"Eyang, bertahan sebentar ya," ucap Elizabet langsung berlari menuju rumah Ningsih hendak meminta bantuan. Ia berencana akan membawa Eyang Margo ke dokter, yang terdekat dengan desa itu.


"Ningsih!" teriak Elizabet.


Ningsih pun keluar dari dalam rumah, Elizabet langsung menarik tangan Ningsih dan mengajaknya ke rumah Eyang Margo.


Ternyata Eyang Margo menolak untuk diajak berobat, beliau meminta Elizabet memetik daun yang ada dibelakang rumah tepat di kuburan kuno.


"Ningsih, tolong jaga Eyang sebentar ya," ucap Elizabet.


"Kamu tenang saja, aku akan menjaga Eyang dengan baik. Hati-hati ya, jangan mengambil yang bukan untuk obat," kata Ningsih.


Elizabet lalu pergi ke belakang rumah, semakin jauh berjalan ia melihat sebuah rumah yang sangat bagus. Di depan rumah terdapat tanaman yang hendak ia petik, Elizabet memberanikan diri mengambil daun itu.


Terlihat seorang laki-laki tampan sedang duduk memperhatikannya, ia pun langsung menghampiri Elizabet. "Kamu mencuri ya!" teriak laki-laki itu.


Elizabet menatap wajah tampan laki-laki itu, membuatnya tidak berkedip sama sekali. Hendak menjawab ucapan laki-laki itu, tetapi lidahnya terasa kaku dan gugup.


"Aku.... aku....


"Siapa nama kamu? di mana rumah kamu?" tanya laki-laki itu.


Elizabet lalu memalingkan wajahnya, perlahan ia berjalan mundur. Dengan sigap laki-laki itu memegang tangan Elizabet, membuat gadis cantik itu bergetar.


"Aku Elizabet, Mas," ucapnya menundukkan kepala.


"Sumi... iya... kamu Sumi," kata laki-laki tampan itu.


"Dari mana Mas, tau nama saya?" kata Elizabet kaget.


Laki-laki tampan itu tiba-tiba menghilang, sedangkan Elizabet kebingungan mencari keberadaan laki-laki itu. Padahal belum sempat berkenalan, Elizabet teringat daun yang dia pegang lalu pulang ke rumah Eyang Margo.


☠️☠️☠️

__ADS_1


"Arman! kenapa kamu bisa melihat bangsa manusia? baru sehari bangkit kamu sudah menyusahkan bangsa kita!" marah seorang iblis tua berambut panjang hitam, bermuka tengkorak dan matanya memancarkan cahaya.


"Rasanya aku perlu berterimakasih pada gadis cantik tadi, karena darah haidnya aku bisa bangkit," kata Arman.


"Bodoh! lihat wajah kamu yang sudah membusuk, gadis itu akan takut dengan wajah aslimu," kata iblis tua.


Arman tersenyum sinis, dia tidak peduli dengan bangsanya yang nantinya akan melarang mengenal manusia.


Dulu Arman meninggal dengan cara bunuh diri, jadi arwahnya gentayangan. Iblis tua membuatnya tertidur, dan dia bisa bangkit jika terkena darah haid perawan. Iblis tua adalah sebutan untuk ketua bangsa mereka.


"Aku akan menyuruh Genderuwo penghuni pohon besar untuk menggangu gadis itu, karena sudah berani membuat mu terbangun," kata iblis tua.


Tentu saja Arman tidak akan tinggal diam, dia tetap akan melindungi Elizabet. Arman juga menjelaskan kalau Elizabet tidak sengaja, seandainya tau pasti tidak akan mengubur pembalut di kuburan.


Iblis tua marah besar, dia tidak mau menerima alasan Arman. Lalu dengan suara yang keras, ia mengumpulkan seluruh penghuni alam ghaib. Iblis tua meminta mereka untuk mengganggu Elizabet, tetapi semua menolak karena takut dengan manusia. Ada juga yang mau melakukan, hanya beberapa makhluk saja itupun yang dekat dengan iblis tua.


Arman tersenyum penuh kemenangan, ternyata banyak sekali bangsanya yang menolak permintaan iblis tua.


🍁🍁🍁


Sebelum Elizabet datang, Ningsih bertanya kepada Eyang sebenarnya apa yang telah terjadi. Tidak biasanya Eyang mengalami demam tinggi seperti ini. Eyang Margo mengatakan apa yang sudah Elizabet lakukan, membuat Ningsih kaget dan hampir jatuh dari duduknya.


"Ini memang salah ku, seharusnya aku bisa memperhatikan cucuku. Ningsih, apapun nanti yang terjadi dengan Sumi... " ucap Eyang Margo terpotong karena mendengar suara Elizabet memangil nama Ningsih.


"Ningsih... Ningsih... aku datang!" Elizabet memangil Ningsih dengan kegirangan.


Eyang Margo mengedipkan matanya, memberikan isyarat agar Ningsih segera menemui Elizabet yang sedang berteriak di dapur.


Di dapur Ningsih langsung membuatkan ramuan untuk Eyang Margo, dengan daun yang dipetik oleh Elizabet.


"Ningsih, tadi aku bertemu dengan pemuda tampan sekali. Tapi, aku belum sempat berkenalan orangnya sudah menghilang," kata Elizabet.


"Hilang?" tanya Ningsih menghentikan menumbuk daun.


Elizabet menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum mengingat kembali wajah tampan Arman.

__ADS_1


Ningsih memberitahukan kalau dibelakang rumah Eyang Margo ada kuburan kuno, dan banyak larangan. Elizabet tidak percaya dengan perkataan Ningsih, dia justru bercerita kalau ada rumah-rumah yang berjejeran dan ada satu rumah megah.


"Itu dunia lain, Sum. Jangan kesana lagi, bahaya," kata Ningsih.


"Percaya saja kamu, sama takhayul. Dulu waktu aku kecil tidak pernah ada aturan apapun," kata Elizabet.


"Coba kamu tanya sama Eyang, Sum. Aku gak ngada-ada, dari dulu juga banyak pantangan di desa kita," ujar Ningsih dengan kesal lalu melanjutkan menumbuk daun.


Elizabet tidak mempedulikan ucapan Ningsih, ia justru melamun membayangkan wajah tampan Arman sambil senyum-senyum sendiri.


Karena kesal melihat tingkah Elizabet yang aneh, Ningsih meninggalkannya di dapur sendiri dan akan memberikan ramuan obat kepada Eyang Margo.


"Sumi... Sumi.... Sumi...


Terdengar suara orang memangil namanya, membuat Elizabet tersadar dari lamunannya. Ia pun mencari arah suara itu, seperti berada dibelakang rumah. Elizabet keluar rumah, untuk mencari siapa orang yang sudah memangil namanya. Dia justru mendapati sosok hitam, besar, bermata bulat, tinggi, membuatnya takut sampai kencing di celana.


"Sumi, apa yang kamu lakukan?" tanya Ningsih bersamaan dengan menghilangnya sosok hitam tadi.


"Aku... aku... pipis," jawabnya dengan gugup.


Elizabet langsung berlari ke dalam rumah untuk mengganti celananya yang basah, dia sangat malu dengan kejadian tadi.


Setelah minum ramuan buatan Ningsih, keadaan Eyang Margo sudah pulih kembali. Beliau hendak mencari kayu bakar, tetapi Elizabet melarang karena Eyang baru sakit.


"Eyang, lebih baik istirahat saja. Biar kita berdua yang mencari kayu bakar," kata Elizabet melirik Ningsih.


"Iya, Eyang," sahut Ningsih dengan senang hati.


Menurut Elizabet benar-benar ajaib, Eyang Margo bisa langsung sehat hanya dengan meminum ramuan buatan Ningsih. Biasanya orang sakit yang dia lihat akan sembuh jika dibawa berobat ke dokter, itupun tidak langsung sembuh harus menunggu beberapa hari.


Kemudian mereka berdua berangkat mencari kayu bakar di belakang rumah, semakin menjauh dari rumah yang Elizabet adalah sebuah rumah mewah. Dia pun penasaran dan hendak mengajak Ningsih ke tempat itu, tetapi yang dilihat oleh Ningsih temat itu seperti kuburan.


"Ningsih, aku ke sana dulu ya," kata Elizabet.


"Jangan!" teriak Ningsih.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Elizabet mengerutkan keningnya.


Ningsih mengajak Elizabet untuk pulang, tetapi Elizabet justru berlari ke arah tempat itu dan membuat Ningsih kehilangan jejak. Dia lalu kembali ke rumah sendiri, dan mengajak Eyang Margo untuk mencari Elizabet. Kebetulan ada warga yang sedang lewat, sehingga mendengar kabar kalau Elizabet hilang.


__ADS_2