
Kepala desa tadinya hanya lewat depan rumah Eyang Margo, saat beliau sedang berkeliling desa bersama warga lain. Beliau meminta warga lainnya menunggu di jalan, ia hendak menghampiri Elizabet yang terlihat sedang duduk sendiri.
Malam semakin larut, udara juga terasa semakin dingin hingga menusuk tulang. Kepala desa meminta agar Elizabet masuk ke dalam rumah, tidak baik juga seorang wanita di luar rumah sendirian.
Elizabet justru menyuruh kepala desa yang harus pergi, dengan alasan dirinya ingin mencari angin. Memang terlihat keringat bercucuran di wajah cantik Elizabet, entah mengapa ia merasakan hal yang berbeda.
Kepala desa tidak memaksa Elizabet lagi, beliau berpesan agar Elizabet segera masuk karena demi kebaikannya. "Sumi, tolong dengar nasehat dari Eyang Margo. Itu semua demi kebaikan kamu selama tinggal di desa ini," ucapnya.
"Kenapa ikutan manggil aku Sumi? dari dulu nama ku Elizabet," kata Elizabet selalu mempermasalahkan namanya.
Kepala desa tersenyum mendengar protes Elizabet, kemudian beliau melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kampung.
Di tengah jalan, kepala desa bertemu dengan sosok menakutkan berwarna hitam. Padahal beliau tidak sendiri, ada beberapa warga namun hanya kepala desa yang bisa melihat sosok itu.
Kepala desa berdiri tegap dan tidak bisa bergerak, apalagi berteriak minta tolong. Wajahnya pucat dan mengeluarkan keringat seperti orang ketakutan, membuat warga takut.
Berkat doa yang beliau baca di dalam hati, sosok itu lenyap dengan sendirinya. "Kalian tidak perlu khawatir, aku hanya melihat makhluk astral," kata kepala desa.
"Benarkan sejak kematian kakek pengembala kambing, desa kita tidak aman. Apa mungkin minta tumbal lagi," kata seorang warga.
"Kita harus melakukan sesuatu," sahut warga yang lain.
"Benar," ucap mereka secara serempak.
"Harap tenang dulu, kita harus mencari penyebabnya," kata kepala desa.
Mereka akhirnya membubarkan diri, untuk pulang ke rumah masing-masing dan beristirahat. Rencananya kepala desa akan mencari seorang dukun, untuk mencari tau penyebab desanya menjadi aneh.
"Taufan, sebagai kepala desa kamu harus tegas. Desa kita ini dari zaman dulu banyak aturan, hukum warga yang tidak nurut daripada merugikan masyarakat," kata Nenek Sakinah yang tak lain adalah neneknya Taufan.
__ADS_1
"Tidak ada yang melanggar, Mbok. Hanya saja akhir-akhir ini banyak yang janggal," kata Taufan.
"Ndak usah bohong kamu, itu cucunya Margo kemarin ngapain? kalau gak melanggar," kata Nenek Sakinah.
Taufan berusaha menutupi semua kejadian itu dari neneknya, tapi entah dari mana neneknya bisa mengetahui semua. Padahal neneknya tidak pernah keluar dari rumah, karena sedang sakit-sakitan.
"Mbok, sekarang lebih baik si mbok istirahat. Sudah malam, tidak baik buat kesehatan Mbok," kata Taufan. Mengantarkan neneknya masuk ke dalam kamar dan membantunya untuk merebahkan diri, tak lupa Taufan juga menyelimuti tubuh neneknya.
Ternyata orang tua Taufan mendengarkan percakapan Taufan dengan neneknya, beliau langsung meminta Taufan untuk tidak terlalu cemas memikirkan keadaan desa. Karena dari zaman dulu juga sering terjadi kejadian aneh, hanya saja warga tidak banyak yang menyadarinya.
Nenek Taufan sudah berusia 150 tahun, beliau masih bisa beraktivitas seperti biasanya walaupun sekarang sudah sering sakit.
"Pak, Buk, sebenarnya apa yang terjadi dengan desa ini?" tanya Taufan yang memang belum tau semua dengan kejadian yang dulu pernah terjadi.
"Tidurlah, Nak. Nanti nenekmu bangun lagi, besok Ibu ceritakan semuanya," ucap Ibu Taufan dengan lembut dan selalu membuat putranya itu nurut.
***
"Eyang, lebih jangan terlalu khawatir nanti Mas Arman juga mau datang temani Eliza," kata Elizabet.
"Siapa itu Arman? orang mana, Sumi?" tanya Eyang Margo.
"Mas Arman itu pacarnya Elizabet, Eyang. Kapan-kapan Elizabet ajak ke rumah," kata Elizabet dengan senang.
"Kamu baru beberapa hari di sini sudah mau bawa laki-laki pulang? bagaimana nanti kalau Papi dan Mami mu tanya, Sumi?" kata Eyang Margo melotot ke arah Elizabet.
Eyang Margo menjadi teringat dengan orang tua Elizabet, yang dulunya sudah berpacaran sejak usia 17 tahun dan akhirnya nikah muda. Sebagai orang tua beliau merasa gagal, kali ini cucunya sudah kenal dengan laki-laki membuatnya semakin tidak tenang.
Dengan wajah cemasnya beliau mengizinkan cucunya pergi ke sungai tetapi tidak sendirian. Tetapi, Elizabet meyakinkan kalau Arman adalah lelaki yang baik. Tanpa menaruh rasa curiga, Eyang berusaha mempercayakan semua pada Elizabet. Dari pada nantinya semakin banyak larangan, anak itu justru penasaran dan melakukan hal yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Setelah Elizabet pergi ke sungai, Eyang Margo menemui Ningsih. Beliau meminta bantuan Ningsih, untuk mengikuti Elizabet ke sungai.
"Eyang, kenapa tidak bilang dari tadi? Biar saya temani Sumi," kata Ningsih.
"Eyang tidak berpikir sampai ke situ, Nduk. Tidak baik jika Eyang terlalu galak sama Sumi," kata Eyang Margo.
Ningsih lalu mengambil cuciannya yang kotor, dia lalu pergi ke sungai dengan buru-buru. Sampai di jalan Ningsih bertemu dengan Taufan, membuat Ningsih menghentikan langkahnya.
"Dek Ningsih, mau nyuci baju ya? kok sendirian," ucap Taufan yang merupakan sosok kepala desa paling ramah.
"Iya, Pak," ucap Ningsih tersenyum dengan manis.
"Ya sudah, hati-hati ya," kata Taufan membalas senyuman Ningsih.
Ningsih menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan jalannya. Dalam hati Ningsih begitu senang, karena bisa bertegur sapa dengan kepala desa yang ganteng sekabupaten.
"Aku harus segera bercerita sama Sumi, akhirnya bertemu pujaan hati," ucapnya Ningsih dalam hati sembari tersenyum sendiri.
Sampai di sungai Elizabet terlihat murung, dia sedang duduk di pinggir sungai. Terlihat ia juga sudah selesai mencuci, karena ember disebelahnya penuh dengan pakaian basah yang sudah diperas.
"Sumi!" teriak Ningsih dengan kegirangan.
"Ada apa, Ning? datang-datang senyum sendiri, gak tau apa orang lagi kesel," kata Elizabet.
"Kamu tau ndak? aku habis disapa kepala desa," ucap Ningsih dengan wajah bahagianya.
"Gitu doang? semalam orang itu nyamperin aku, di teras rumah," kata Elizabet masih merasa kesal entah apa sebabnya.
Seketika ekspresi Ningsih langsung berubah menjadi murung, orang yang dia kagumi ternyata ramah ke semua orang. Hatinya merasa sedih, takut kalau orang yang dia kagumi menyukai temannya.
__ADS_1
"Sekarang gantian aku tanya, kenapa wajahmu murung sekali, Sumi?" tanya Ningsih.
Elizabet tidak mau mengatakan apa yang baru saja terjadi, dia sudah terlanjur kesal. Dia juga langsung mengajak Ningsih pulang, tetapi Ningsih menolak karena hendak mencuci baju lebih dulu. Akhirnya Elizabet menunggu Ningsih mencuci baju, sambil merenungkan kejadian tadi. Sesekali Ningsih juga melihat ke arah Sumi, dan memaksa agar mau bercerita.