
Eyang Margo mondar-mandir dari tadi, beliau mengkhawatirkan Elizabet yang belum juga pulang dari sungai. Entah sudah berapa lama Elizabet mandi, tetapi Eyang menahan diri untuk tidak mencarinya karena takut kejadian kemarin terulang kembali.
"Apa aku cari Sumi sendiri saja," ucapnya melihat ke arah luar rumah, berharap Elizabet segera kembali ke rumah.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, namun pintu belakang. Eyang Margo segera membuka pintu, ternyata bukan Sumi yang datang melainkan tetangga. Eyang Margo terlihat begitu panik, dan gugup ketika bertemu dengan tetangganya.
"Eyang, kenapa? lagi sakit ya?" tanya Marini tetangga sebelah rumah Eyang Margo.
"Engga kok, Mar. Kok tidak lewat depan rumah?" tanya Eyang Margo.
"Saya mau minta daun bayam, Eyang. Tadi mau langsung petik, tapi gak enak kalau gak bilang dulu," terang Marini.
"Ambil saja, lagian itu pohon juga tumbuh sendiri saya tidak menanam. Besok lagi kalau butuh silahkan ambil," kata Eyang Margo.
Kebetulan dibelakang rumah Eyang Margo terdapat beberapa jenis sayuran yang tumbuh sendiri, jadi para tetangga banyak yang memetiknya. Di desa kalau ada yang mempunyai sayuran boleh dipetik oleh tetangga, karena gantian mana yang ada. Berbeda dengan kehidupan di kota yang apa-apa serba beli, dan jarang ada yang saling meminta sayuran.
"Eyang, katanya sekarang tinggal sama cucunya ya?" tanya Marini belum pernah bertemu dengan Elisabet. Sambil memetik bayam mereka saling bertukar cerita, Eyang Margo juga memberitahu tentang Elizabet pada Marini.
Salah satu kuburan di belakang rumah Eyang ada yang berlubang, Marini yang mengetahui langsung berteriak. Memang pohon bayam itu dekat dengan kuburan, jadi bisa melihat dengan sangat dekat.
Eyang Margo mengatakan kalau lubang itu sudah lama, dan tidak ada yang berani menutupnya. Beliau juga gak tau pasti kapan kuburan itu akan diperbaiki, memang selama ini belum ada yang melaporkan kejadian pada kepala desa.
"Aku takut, Eyang. Kalau terjadi sesuatu bagaimana? seharusnya kejadian seperti ini cepat ditangani agar tidak membahayakan orang," kata Marini.
Marini berani bicara seperti itu karena letak kuburan yang berada dibelakang rumah, banyak juga orang yang melewati tempat itu saat hendak ke sungai maupun ke sawah. Karena melalui jalan itu dapat menyingkat waktu, agar lebih cepat sampai. Tak jauh dari kuburan itu memang ada hutan, dan hutan yang terbilang angker.
Marini berpamitan pulang, ia merasa merinding dan merasakan hawa yang aneh. Menurutnya ini tidak seperti biasanya, dulu dia sering kesini juga tidak merasakan seperti saat ini.
__ADS_1
Eyang Margo mengecek lubang pada kuburan itu, terlihat sebuah kain yang membungkus mayat masih utuh. Beliau merasa ada yang janggal, harusnya kain itu sudah menjadi tanah karena kuburan sudah berumur puluhan tahun.
"Eyang!" teriak Elizabet yang baru datang.
Karena Eyang Margo tidak menyahut, hanya melihatnya Elizabet pun menuju dimana Eyang Margo berada dan menanyakan apa yang terjadi.
Mata Eyang Margo tertuju pada sosok laki-laki yang berada disebelah Elizabet, seperti pernah melihat namun beliau lupa ada dimana.
"Eyang, kenapa diam saja?" tanya Elizabet mengoyak tubuh Eyang Margo.
"Siapa dia, Sumi? kenapa kamu bersamanya," kata Eyang Margo masih menatap Arman yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
Tanpa rasa ragu Arman langsung menjabat tangan yang sudah terlihat keriput itu, lalu menciumnya. Ia memperkenalkan diri sebagai teman dekat Sumi, dan saat Eyang Margo menanyakan dimana rumah Arman ia terlihat bingung.
"Rumah Mas Arman deket dari sini, Eyang. ke arah sana," sahut Elizabet menunjukkan arah hutan.
Arman hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa bingung nanti bagaimana menunjukkan rumahnya pada Eyang Margo.
"Kenapa wajah kamu pucat, Nak? kamu sakit," tanya Eyang Margo memperhatikan wajah Arman yang nampak seperti mayat.
"Mas Arman pasti belum sarapan, Eyang. Ayo kita ajak masuk ke dalam, Elizabet buatkan mie instan yang dari kota kemarin," kata Elizabet.
"Aku pulang saja, Sumi. Nanti sarapan di rumah, sama belatung," kata Arman.
Eyang Margo dan Elizabet mengernyitkan dahinya, mereka heran dengan ucapan Arman yang hendak makan dengan belatung yang begitu menjijikkan.
"Maksud saya ulat hasil buruan di hutan," kata Arman lagi.
__ADS_1
Mereka merasa lega, sudah berfikir buruk tentang Arman. Tetapi mereka tetap memaksa Arman masuk ke dalam rumah, Elizabet pun membuatkan mie instan yang dia bawa dari kota. Kebetulan Elizabet membawa dalam jumlah yang banyak, ia membuat dua porsi mie instan karena Eyang Margo sudah sarapan lebih dulu dengan menggunakan sayur terong dan ikan goreng.
"Mas, pilih yang mana? ini rasa soto dan ini rasa ayam," kata Elizabet sembari menyodorkan dua mangkok mie ke depan Arman.
Arman mengambil mangkok yang berisi mie rasa ayam, karena tidak tau cara makanya ia langsung mengangkat mangkok yang masih dalam keadaan panas lalu menuangkan ke mulutnya sedikit demi sedikit.
Elizabet melongo melihat cara makan Arman, ia sampai tidak berani menegur. Elizabet takut Arman akan tersinggung dengan ucapannya, lalu Arman hendak mengambil lagi mangkok yang dipegang oleh Elizabet.
"Mas, ini punya ku," ucap Elizabet memegang mangkok itu dengan erat.
"Enak sekali, Sumi. Aku mau lagi," kata Arman.
Elizabet memakan mie miliknya lebih dulu, karena takut keburu dingin nanti tidak enak. Arman menelan ludah melihat Elizabet memakan mienya, dengan menggunakan sendok. Setelah selesai makan Elizabet membuatkan lagi untuk Arman, kali ini ia memakan dengan menggunakan sendok seperti apa yang dilakukan oleh Elizabet tadi.
Elizabet tersenyum melihat Arman makan dengan benar, ia juga menghilangkan prasangka buruknya dan menyangka kalau tadi Arman mungkin kelaparan.
"Mas, ini minumnya," kata Elizabet menyiapkan segelas air putih untuk Arman. Arman langsung menghabiskan air itu, dan meminta lagi.
Selesai makan Arman lalu berpamitan pulang, ia juga berpesan kalau datang ke rumah meminta Elizabet membuatkan mie instan lagi. "Sumi, besok kita ketemu lagi," kata Arman.
"Iya, Mas. Besok langsung ke rumah saja," kata Elizabet mengantarkan Arman sampai ke depan pintu. Tak lupa Arman juga berpamitan kepada Eyang Margo, yang saat ini tengah duduk di teras rumah.
Setelah sampai di tengah hutan, yang tak lain dalam pengelihatan Elizabet adalah rumah Arman. Ia menemui Iblis tua dan mengatakan kalau tadi habis makan mie instan rasa ayam.
Iblis tua marah kepada Arman, karena selama ini dirinya hanya makan belatung sedangkan Arman bisa memakan mie instan yang katanya sangat lezat.
"Aku akan mengurung mu, Arman!" teriak Iblis tua mengambil tali hendak mengikat Arman. Arman pun berlari mengelilingi pohon, agar tidak ditangkap. Iblis tua pun mengejar Arman, mereka terlihat seperti anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran.
__ADS_1