
Keesokan malamnya, seperti tiada kapoknya, Mario kembali datang ke rumah Sahara. Kali ini dia sengaja datang lebih awal untuk mengantisipasi jam tidur Sahara, Mario datang setelah magrib. Raden yang mengetahui kedatangan Mario pun memberitahu Sahara.
“Si Mario dateng lagi tuh.”
“Aku diem di kamar aja,” jawab Sahara yang terlihat malas setelah mendengar nama Mario.
“Kamu temuin aja, aku percaya sama kamu.”
Sahara pun akhirnya menemui Mario, ia membuka pintu dan keluar.
“Ada apa yah?”
Senyum Mario merekah menyambut kehadiran Sahara. “Gak apa-apa, aku cuma mau main aja, hehe.”
Sementara itu, Raden yang duduk di sofa terlihat gelisah melihat istrinya dan Mario yang mengobrol diteras rumah. Padahal sebelumnya dia yang menyuruh Sahara untuk menemui Mario, namun sekarang malah dirinya yang seperti cacing kepanasan.
“Kamu lagi ngapain Ra, lagi sibuk ya, Sorry kalo ganggu,” Mario menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Iya.”
“Iya? maksudnya iya kamu lagi sibuk atau iya karena aku ganggu?”
“Enggak papa, aku gak lagi sibuk.”
Mario mengangguk, “Owh gitu. By the way, kamu udah makan, kalo belom kita ke depan yuk, ada yang jual bakso tuh di depan.”
“Eum…tapi aku udah makan kak.”
“Owh iya deh.”
Sahara juga merasa tidak tenang hati nya karena merasa tidak enak terhadap Suaminya. Sahara kurang begitu mendengarkan Mario yang terus bicara hingga akhirnya terdengar suara adzan isya.
“Mario, maaf yah udah adzan Isya, aku mau sholat yah terus mau tidur,maaf yah!”
Mario mengerti maksud Sahara yang secara tidak langsung mengusirnya.
“Owh iya deh, kalo gitu aku pulang yah, tapi lain kali aku masih boleh main kesini?”
sahara hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mario.
Mario pulang Sahara pun masuk rumah. Raden begitu lega melihatnya.
“Akhirnya tuh orang pergi juga, resiko kalo nikah dirahasiain ya gini, berapa banyak lagi cowo yang bakal ngedeketin Sahara?" tanya Raden di dalam hati.
Beberapa menit yang lalu, Sahara izin kepada Raden untuk ke kamar karena di sudah merasa mengantuk. Sementara Raden tampak masih asik di sofa memainkan game yang ada di ponselnya.
__ADS_1
Sampai akhirnya Raden mendengar suara perempuan menangis, dia mendengar sumber suara itu dari dalam kamar. Raden pun bergegas bangkit untuk mengecek keadaan. Sesampainya di kamar mereka, ternyata yang menangis tersebut adalah Sahara.
Raden yang heran pun terkejut langsung menghampiri Sahara.
“Kamu kenapa Ra?”
Bukannya menjawab suara tangisan Sahara malah semakin kencang. Raden semakin bingung bingung lalu kembali bertanya,
"Kenapa kamu nangis Ra?"
Sahara masih tidak menjawab. Raden tambah bingung, kemudian Raden memegang pipi Sahara. Raden kaget karena ternyata suhu tubuh Sahara sangat panas.
“Badan kamu panas Ra, kamu demam.”
Raden melirik jam yang ada di ponselnya.
“Sekarang udah jam dua, kayaknya susah nyari apotek yang masih buka, kita cari klinik atau rumah sakit yang buka 24 jam.”
Raden mengambil kunci mobil lalu menggendong Sahara dan membawanya ke dalam mobil. Ia meletakkan Sahara di kursi samping kemudi. Raden menyalakan mobilnya lalu dengan segera mencari klinik atau rumah sakit terdekat, Raden terlihat begitu panik dan khawatir.
“Sabar ya Ra, bentar lagi nyampe.”
Dengan perasaan cemas, akhirnya mereka menemukan rumah sakit, Sahara dibawa ke UGD supaya mendapatkan penanganan langsung dari dokter. Kebetulan rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit keluarga Raden, dan yang menangani Sahara adalah sepupu tertuanya yaitu dokter Sania, dokter muda berusia sekitar 28 tahun lulusan luar negeri.
“Gimana kondisi istri gue?”
“Dirawat aja kak,” jawab Raden cepat.
Sahara menggeleng, ia memegang tangan Raden sambil menangis "Gak mau, aku mau pulang aja, mau brobat jalan aja."
Melihat Sahara yang seperti itu Raden menjadi tidak tega.
“Ya udah kak, brobat jalan aja.”
“Oke, kalo gitu gue buatin dulu resep obatnya.”
Dokter Sania berjalan beriringan dengan Raden keluar dari ruangan.
“Kemarin aja pake acara ngurung diri di kamar gara-gara gak mau di jodohin, lah sekarang? Lo kayaknya udah bucin banget deh Den.”
Raden menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Yaa gimana ya, masa sih gue gak cinta setelah dia gue apa-apain.”
Sania melipat tangan di atas dadanya, “Terus apa kabar mantan-mantan lo sebelumnya? Bukannya mereka juga udah lo apa-apain?”
Raden dan Sania sebenarnya cukup akrab atau bahkan mungkin sangat akrab, sehingga untuk membicarakan hal seperti ini mereka sudah tidak canggung.
__ADS_1
“Yaa… itu kan beda.”
“Beda apa? Sama-sama cewek juga kan?”
“Pokoknya beda lah kak,” Raden seperti kehabisan jawaban.
Sania berdecih lalu mengkerlingkan matanya.
“Akhirnya ya adek gue menemukan cinta sejatinya.”
“Apaan sih kak, lebay banget.”
“Lahh lebay gimana? Ya udah, intinya kakak lo ini berharap lo bisa benar-benar serius dengan satu wanita. Lo jangan sampai nyakitin Sahara, kakak liat dia emang wanita baik-baik.”
“Iya dong, kalo gak baik mah mana mungkin gue kawinin.”
“Dihh, Ya udah kalo gitu buruan bawa Sahara pulang sana, biar di cepat istirahat.”
Sania pun meninggalkan Raden berlalu menuju ke ruangan nya.
Setelah membayar biaya administrasi dan menebus obat Raden membawa pulang Sahara. Setelah sampai rumah, Raden membaringkan Sahara di atas tempat tidur, kemudian Raden memberinya obat yang tadi diresepkan oleh dokter Sania.
“Sekarang kamu tidur ya Ra!”
Raden mengompres kening sahara dengan handuk setengah dingin. Ia menjaga Sahara dan terus mengecek suhu tubuhnya.
Tidak lama kemudian Sahara pun akhirnya terlelap.
“Syukur deh Ra, kamu akhirnya tidur juga.”
Raden tersenyum tipis, ia tidak bisa ikut terlelap bersama sahara karena ia harus tetap mengompres Sahara supaya suhu tubuhnya bisa turun dalam tiga hari.
“Apa bener yang di bilang kak Sania kalo gue udah bucin sama Sahara? Tapi mungkin aja bener sih, soalnya gue juga menyadari perasaan gue sama Sahara begitu besar dan beda dari biasanya waktu gue sama cewek lain. Sahara itu beda, gue suka dengan karakternya yang kalem, lembut dan juga polos.”
Sekitar jam 3 pagi, tiba-tiba Sahara mengigau memanggil orang tuanya sembari menangis.
“Ibuk…bapak…hiks…Sahara takut...”
Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Raden yang melihat itu langsung sigap untuk menenangkan Sahara.
“Ra…Sahara…” Raden membawa tubuh Sahara ke dalam dekapannya. “Tenang Ra, kamu jangan takut, aku ada di sini buat kamu.”
Sahara mulai tampak tenang. Ia tidak mengingau lagi. Setelah tenang Raden kembali membaringkan Sahara di atas ranjang.
__ADS_1
“Kamu takut apa sih Ra?” gumam Raden menatap Sahara dengan tatapan sendu. Kemudian ia mengambil satu tarikan nafas kemudian mengeluarkannya perlahan.
BERSAMBUNG…