
Sekitar jam delapan malam, Sahara tampak tengah sibuk mempersiapkan keperluan kuliahnya nya,besok adalah hari pertamanya ospek. Sahara terlihat begitu bersemangat dan sudah tidak sabar untuk menjadi seorang mahasiswi.
Sementara Raden hanya diam memperhatikan. Ia tidak mau berkomentar, karena jujur saja, walaupun Raden seorang mahasiswa, namun ia sama sekali tidak pernah melewati masa ospek. Hal tersebut dikarenakan saat menjadi mahasiswa baru beberapa tahun yang lalu, ia lebih memilih untuk diam di rumah dan tidak mengukutinya. Ia dengan bebas melakukan hal yang ia inginkan karena kampusnya milik orang tuanya.
“Ra, kalo kamu ga mau ikut ospek juga ga apa-apa. Nanti buar papa yang urus.”
“Gak apa-apa kak, aku pengen ikut aja.”
Raden mengangguk paham, lalu mengeluarkan dompetnya, menyerahkan kartu ATM kepada Sahara.
“Ini kamu aja yang pegang, kamu boleh beli apapun yang kamu mau.”
“Gak usah kak, kakak aja yang pegang.”
“Pegang aja, nanti kamu mulai punya kegiatan sendiri diluar, gak kayak kemaren kamu di rumah terus.”
“Tapi uang yang kemaren dikasih masih ada.”
“Iya gak apa-apa, kemaren-kemaren kan kita bareng terus dirumah, nanti kalo kita kuliah meskipun satu kampus kita kan gak bisa bareng terus, jadi kalo nanti kamu butuh apa-apa gampang.”
“Terus kalo kakak butuh gimana?”
“Tenang aja, kamu gak perlu pikirin soal itu.”
“Iya kak.”
“Besok ke kampus biar aku yang anter jemput. Nanti biar gak ketaun sama yang lain, biar aku yang atur.”
Sahara hanya menganggukkan kepala.
Pagi harinya, Sahara sudah tampak rapi dengan seragam hitam putihnya. Hari pertama Sahara masuk kuliah dia tampak begitu antusias.
Raden mengeluarkan mobilnya dari garasi untuk mengantar Sahara. Setelah mesin mobil dipanaskan, mereka pun berangkat ke kampus.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di kampus. Namun Raden sengaja menghentikan mobilnya beberapa meter dari kampus karena tidak ingin ada melihat mereka bersama. Raden menurunkan Sahara di sana.
“Maaf ya Ra, kamu harus turun di sini,” ucap Raden merasa tidak tega.
“Iya kak, aku gakpapa kok,” jawabnya tersenyum.
“Yaudah, aku duluan ya ke parkiran.”
Mobil Raden berhasil diparkirkan, kemudian ia menuju ke aula, ketempat dimana calon mahasiswa/mahasiswi baru di kumpulkan. Raden menunggu kedatangan Sahara. Tak lama kemudian, akhirnya Sahara datang dan bergabung dengan yang lainnya. Sahara berkumpul dengan sesama anak baru lalu dan beberapa panitia yang tampak mengawasi di sana.
Sesampainya di aula, Sahara langsung diajak berkenalan oleh beberapa orang di sana.
“Hai, aku Febi,” sapa seorang perempuan dengan rambut sebahu. “Kenalin ini Bimo, Diana sama Putri.
Mereka tersenyum ramah ke arah Sahara.
“Hai aku Sahara,” jawab Sahara sembari mengulurkan tangan kepada mereka.
Mereka mengakhiri acara perkenalan tersebut setelah seerang ketua senat yang bernama Andri berbicara memakai pengeras suara di depan semua mahasiswa baru.
“Perhatian semuanya,selamat pagi, perkenalkan nama saya Pratama atau biasa dipanggil Tama, saya Presma di kampus ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa dan mahasiswi baru yang sudah datang tepat waktu, dan untuk yang datang terlambat, akan di kenakan hukuman, pun panitianya. Dan kalian di belakang saya para senior yang tidak tepat waktu, seharusnya kalian malu, karena junior-junior kalian sudah datang dari tadi.”
Dengan aura yang mencerminkan ketegasannya, Tama berpidato di hadapan semua mahasiswa dengan lantang.
“Apa kalian mengerti?”
__ADS_1
Semuanya menjawab, "Siap, mengerti kak."
Rizki, Nicho, Devon ,dan Genji yang berdiri di belakang Tama yang tengah bersuara, mereka saling berbisik.
“Eh, ada bininya si Raden tuh,” tunjuk Rizki kearah Sahara yang berada diantara ratusan mahasiswa baru.
“Mana?”
“Tuh…masa secantik itu lo gak liat sih.”
“Oh iya, gue liat.”
“Siapa yang berani ngusik bakal mati ditangan si Raden.”
“Yang berani godain juga bakal mampus.”
Setelah mahasiswa dibubarkan dari aula, mereka pun diperintahkan untuk berkumpul di lapangan.
Raden hanya berdiri di luar lapangan sembari memantau dari kejauhan.
Kegiatan ospek berjalan seperti biasa layaknya ospek pada umumnya. Hingga akhirnya waktu istirahat tiba. Sahara diajak oleh teman-teman barunya untuk makan di kantin.
“Guys, kantin yuk, laper nih,” ajak Febi.
“Ayuk, gue juga haus nih. Eh Ra, lo mau ikut ga?”
“Iya, boleh deh.”
Mereka pun berjalan menuju kantin yang memperlihatkan banyak orang yang berkumpul di sana.
Sahara menunggu makanannya datang, tiba-tiba sebuah notifikasi muncul di ponsel miliknya, Sahara langsung membuka pesan dari suaminya, Raden.
"Kamu udah makan?"
"Gak papa, kamu makan aja, aku juga ada di kantin mau makan."
Sahara mencari keberadaan Raden, metanya menyusuri setiap sudut kantin hingga akhirnya ia menemukan keberadaan Pria itu di pojok sedang duduk bersama teman-temannya. Sahara tersenyum yang langsung dibalas oleh Raden. Mereka saling melempar senyum dari jauh.
“Eh Ra, kamu kok senyum-senyum sih. Senyum ke siapa?” tegur Bimo yang membawa senampan mangkuk berisi mie ayam.
“Eumm, enggak kok,” elak Sahara cepat. “Eh, makanannya udah datang ya?”
“Ini punya kamu, sesuai pesanan gak pake micin.”
“Makasih Bim,” ucap Sahara tersenyum.
“Iya sama-sama.”
Dari kejauhan Sahara bisa melihat Angel datang mengahampiri Raden dan ikut duduk bergabung bersama mereka.
“Den, kemana aja sih?”
“Gue gak kemana-kemana.”
“Terus kenapa akhir-akhir ini kamu gak pernah nongkrong bareng temen-teman kamu lagi?”
“Lagi males aja.”
“Terus kamu ngapain disini?”
__ADS_1
“Ya makan lah, emang ngapain lagi di kantin?”
“Udah pesen belom?”
“Belom.”
“Mau pesen apa? nanti aku pesenin.”
“Minum aja.”
“Minuman apa?”
“Serah lo aja deh, yang penting bisa diminum.”
“Tunggu ya, aku pesenin dulu.”
Angel bangkit dari duduknya untuk memesan makanan.
Sahara memandangi Raden dari tadi, dia jadi penasaran siapa perempuan yang bersama Raden.
Satu pesan dari Raden kembali masuk ke ponsel Sahara.
“Cewek tadi namanya Angel, temen sekelas,” jelas Raden.
Sahara pun membalas " iya kak, gak papa.”
Ospek hari itu pun selesai. Raden menunggu Sahara di ujung jalan yang tak terlalu jauh dari kampus. Sahara masih tak menunjukkan sosoknya, ternyata ia masih berada di dalam kampus bersama teman-temannya.
“Kita jangan langsung pulang. Maen dulu kek,” ujar Febi.
“Ke mana?”
“Mall aja, kalo enggak kita nongki di cafe. Gue ada tau cafe bagus nih baru buka.”
“Boleh tuh.”
“Gimana Ra, kamu ikut gak?”
“Maaf ya, lain kali aja. Aku udah di jemput soalnya.”
“Ohh yaudah Ra, gak papa. Next time aja.”
“Iya boleh, nanti aja kita omongin lagi. Sekarang aku mau pulang duluan udah di jemput.”
“Oke Ra, hati-hati!”
Sahara mempercepat langkahnya menuju mobil Raden yang berada di ujung jalan. Nafasnya terdengar terengah-engah setelah ia masuk ke dalam.
“Maaf ya kak, nunggunya jadi lama.”
“Iya, gak papa,” jawab Raden lembut.
“Tadi teman-teman aku ngajak pengen ngajak aku maen dulu.”
“Terus kenapa kamu gak ikut?”
“Emang boleh kak?”
Raden meraih bahu Sahara, menatap bola matanya dalam-dalam. “Ra… kalo kamu pengen maen sama temen-temen kamu, aku bakal izinin kok. Asal kamu bilang dulu, jadi aku tau kamu kemana. Aku bebasin kamu mau maen kemana aja. Aku juga gak akan tega kalo ngurung kamu di rumah terus. Aku ngerti anak seumuran kamu itu emang lagi seru-serunya maen.”
__ADS_1
Sahara tersenyum lega mendengar ucapan Raden. “Makasih ya kak, udah ngerti.”
BERSAMBUNG…