Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa
Bagian 6


__ADS_3

Setelah menunaikan ibadah shalat shubuhnya, Sahara membuka lemari dan mengeluarkan pakainnya. Raden yang masih berbaring di atas tempat tidur, melirik ke arah istrinya itu..


“kamu lagi apa Ra?”


“Beresin baju kak buat nanti dibawa ke Jakarta.”


“Kamu gak perlu repot-repot bawa banyak baju, pakaian yang penting-penting aja, soalnya disana nanti udah disiapin juga, jadi nanti kalo kamu pulang kesini, gak perlu bawa baju lagi, karena udah ada.”


“Ohh, iya.”


Tiba waktunya Sahara dan Raden akan berangkat menuju ke Jakarta. Orang tua Sahara dan adiknya tampak sangat sedih, Sahara tidak bisa lagi membendung air mata kesedihannya, ia pun menangis di saat berpamitan.


“Raden, ibu titip Sahara ya sama kamu, tolong jaga dan perlakukan Sahara dengan baik,” pesan Elisa sembari menghapus air matanya.


“Iya bu, saya akan menjaga Sahara.”


“Kakak kenapa harus pindah sih, kenapa gak tinggal di sini aja?” keluh Tiara lalu memeluk kakaknya sembari menangis.


“Awas ya kalo kak Raden sampai nyakitin hati kakak aku,” ancam Tiara.


Raden hanya tersenyum menanggapinya.


“Sahara berangkat ya, assalamualaikum.”


Semua menjawab salam Sahara sembari mengusap air mata, "waalaikum salam."


Di saat Sahara hendak menaiki mobil,  tiba-tiba Luna sahabat Sahara  berlari sambil berteriak ke arah mereka.


“Sahara…tunggu…!”


Sahara menoleh ke belakang, “Luna?”


“Kamu tega mau pergi tanpa pamit dulu sama aku Ra?”


“Maaf Lun.”


“Kalau nanti aku pengen ketemu sama kamu gimana Ra?”


“Ke Jakarta aja, nginep di tempat kita, sekalian nanti jalan-jalan.”

__ADS_1


“Benar kak, saya boleh maen?


“Iya benar.”


“Asikk…,” Luna bersorak.


“Kalo  gitu aku pergi dulu ya Lun.”


“Iya, kalian hati-hati ya di jalan.”


Sahara dan Luna saling berpelukan sebelum berpisah.


Sahara masuk ke dalam mobil, ia duduk di samping kursi kemudi tempat Raden menyetir, Raden berpamitan kemudian melajukan mobilnya menjauh dari kediaman orang tua Sahara.


Meninggali desa, Sahara masih saja menangis yang membuat mata serta hidungnya terlihat memerah. Raden yang kebingungan bagaimana cara menghibur Sahara akhirnya menutuskan untuk diam sembari mengemudikan mobil, hingga akhirnya Raden melihat Sahara tertidur, Raden tersenyum tipis melihatnya.


“Kasian dia nangis sampai ketiduran, tapi biarin aja deh, mending dia tidur dari pada nangis terus,” gumam Raden.


Setelah perjalan yang memakan waktu hingga beberapa jam, akhirnya mereka tiba di Jakarta. Sahara terbangun, dia sedikit terkejut saat membuka mata ternyata hari sudah malam. Sahara tersenyum melihat bangunan-bangunan tinggi serta kelap-kelip lampu yang terlihat indah menghiasi kota Jakarta, sangat berbeda dengan di kampungnya.


“Kita udah sampai Jakarta ya kak?”


Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah, disana seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan awal yang tampak mengenakan pakaian formal sudah menunggu mereka di depan rumah. Wanita tersebut bernama Daisy, atau lebih sering di panggil Miss Daisy, salah satu orang suruhan Surya.


“Syukurlah, akhirnya kalian sampai juga dengan selamat,” ujar wanita tersebut dengan ramah yang dibalas senyuman oleh Sahara.


“Ini rumah yang papa kasih buat aku, kecil amat Miss,” ujar Raden mengamati sekeliling rumah itu.


“Di dalam ada dua kamar tidur, kamar mandi, dapur ruang tamu sama ruang keluarga, dan itu cukup karena kalian hanya tinggal berdua. Oh iya Sahara, di dalam saya juga sudah menyiapkan semua kebutuhan kamu mulai dari baju, aksesori, tas sepatu, hingga peralatan kecantikan. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.


“Iya Mbak, makasih ya.”


“Panggil saja saya Miss Daisy,” ujar Daisy dengan ramah.


Sahara mengangguk.


“Sepertinya tugas saya udah beres di sini, kalo gitu saya pulang dulu. Oh ya Sahara, jika ada apa-apa jangan lupa hubungi saja saya, karena saya memang ditugaskan oleh pak surya untuk membantu kalian. Kontak saya sudah saya tinggalkan di dalam.”


“Iya Miss, terima kasih banyak.”

__ADS_1


Daisy pergi meninggalkan rumah, sementara Raden dan Sahara pun segera masuk ke dalam.


“Aku mau mandi dulu, gerah banget nih,” ujar Raden saat mereka tiba di kamar, Raden langsung melenggang menuju masuk ke dalam kamar mandi.


“Wah… Kamarnya bagus banget, tempat tidurnya juga nyaman.”


Sahara berbaring di tempat tidur merasakan kelembutan dari sprei yang menyelimuti.


“Rasanya empuk banget…” ucap Sahara sembari berbaring.


Setelah beberapa menit, Raden keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di panggangnya. Tetesan air dari rambutnya yang masih basah mengalir bebas di tubuhnya yang atletis sehingga memberikan kesan lebih seksi. Dan dengan cuek nya Raden mengenakan pakaian didepan Sahara yang membuatnya menjadi salah tingkah.


“Ra, kamu gak mandi? Aku mau keluar dulu bentar.”


“Iya aku mau mandi.”


“Oke, kalau gitu aku pergi dulu ya!”


Raden berlalu keluar dengan menggunakan mobilnya.


Sahara pun melangkah menuju kamar mandi. Cukup 15 menit, Sahara keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar. Dia menuju ke lemari pakaian, saat membukanya, betapa terkejutnya Sahara melihat lemari tersebut diisi penuh dengan pakaian seksi.


“Duh, kok seksi-seksi semua sih?” keluh Sahara mencari baju yang sedikit lebih sopan dan tidak menemukannya.


Akhirnya Sahara terpaksa mengenakan salah satu dari pakaian seksi tersebut karena ia tidak punya pilihan lain. Di kopernya juga tidak ada pakaian rumahan, hanya ada pakaian formal untuk nanti ia ke kampus.


Selesai berpakaian, Sahara memutuskan untuk menunggu Raden di ruang sofa. Ia menghidupkan televisi sebagai pengusir rasa bosan. Hingga tak lama kemudian, Raden akhirnya pulang.


Raden mengetuk pintu depan, “Ra…Buka pintunya!”


Sahara segera membuka pintu, saat pintu dibuka,  Raden langsung  terkejut melihat apa yang dikenakan oleh Sahara. Baju rumahan dengan model tank top dan hot pants tersebut terlihat begitu seksi di tubuh Sahara. Raden bisa melihat kulitnya yang putih dan mulus terekspos bebas. Belum lagi gundukan besar di dada Sahara tercetak dengan sangat indah bahkan memperlihatkan belahannya. Hal tersebut membuat Raden susah payah menelan saliva-nya.


“Duh, Sahara seksi banget sih, bikin gue salah fokus aja sama tuh dada,” batin Raden.


Menyadari hal itu, Sahara sangat malu. Padahal ia tidak bermaksud untuk menggoda Raden. Keduanya pun menjadi salah tingkah.


“Aku beli makanan buat kita, kamu pasti laper kan, yuk kita makan!”


Sahara pergi ke dapur untuk mengambil piring. Raden berjalan di belakang Sahara, tatapannya tidak lepas dari bokong Sahara yang tampak padat dan berisi. Mereka memutuskan untuk makan di sofa yang ada di ruang keluarga, karena disana ada sebuah meja yang beralaskan karpet yang bisa mereka jadikan untuk tempat lesehan. Selama makan, Raden tak henti-hentinya terus-menerus menatap ke arah istri cantiknya, Sahara.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2