Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa
Bab 22


__ADS_3

Raden yang baru selesai shalat shubuh mengganti baju di depan lemari. Sahara yang baru selesai mandi berdiri si sebelah Raden untuk mengambil pakaian nya di lemari.


“Eh cinta seksi banget sih.”


“Ah ayang bisa aja, mau ya?”


“Huuh...Cinta tau aja.”


“Sabar ayang, cukup ngusap dada aja, hehe.”


“Heh, Istri yang kejam.”


Sahara terkekeh.


“Aku mau beli buat sarapan di abang-abang depan komplek, Kamu nau makan apa?”


“Bubur ayam aja kak.”


“Ok deh, aku pergi dulu cinta.”


Raden mencium kening Sahara lalu pergi.


Tak lama, akhirnya Raden sampai di depan penjual bubur, lalu ia memesan dua porsi bubur yang di bungkus.


Ternyata di dalam warung bubur ada Angel yang baru saja selesai makan. Angel yang mengenali suara Raden pun menghampirinya.


“Raden…, lagi apa?”


“Ya… beli bubur lah Gel, masa beli martabak,” jawab Raden dengan raut wajah datar.


“Enggak, bukan gituh maksudnya, tumbenan kamu pagi-pagi udah bangun terus beli bubur pula.”


“Ya… lagi mau aja.”


Lalu bubur pesanan Raden selesai dibuat.


“Gel,  pesenan gue udah beres, gue pulang duluan yah.”


“Iya Den, hati-hati ya.”


Raden berlalu meninggalkan Angel yang bingung juga heran.


“Ada yang aneh deh sama Raden, dia bangun pagi, terus dia beli bubur dua bungkus. Kalo buat temen-temennya kan banyakan, terus di rumahnya kan ada pembantu ngapain buat makan beli sendiri.”


Raden tiba di rumah sesaat setelah Sahara  selesai berdandan dengan rapi.


“Udah rapi, makan dulu bubur nya!”


“Iya.”


Setelah sarapan bubur bersama, Raden dan Sahara berangkat ke kampus. Setelah sampai parkiran kampus, begitu keadaan terlihat sepi dan aman barulah Sahara turun dari mobil Raden.


Baru berapa menit Sahara  berjalan, Tama datang menghampiri.


“Hai Ra, kamu gimana kabarnya?”


“Eh kak Tama, Baik kok kak.”


“Kemaren kamu gak masuk yah?”


“Hmm, Iya kak, kebetulan kemarin ada urusan  keluarga.”


“Oh…”


“Kak, aku kesana dulu yah,” Sahara menunjuk ke arah teman-teman nya yang terlihat sedang mengobrol di kursi taman.


“Oh iya Ra.”


“Halo semua,” Sahara menyapa teman nya dengan riang.


“Sahara kemana aja, kok kemaren kamu gak masuk sih?” tanya Diana.

__ADS_1


“Iya, waktu terakhir ospek juga ngilang gitu aja,” tambah Febi.


“Aku dijemput keluarga, karna buru-buru jadi gak sempet pamit deh, maafinya! ”


“Iya gak apa-apa, santai aja Ra.”


“Entar pulang kuliah kita jalan yuk!” ajak Bimo.


“Ide bagus tuh.”


“Setuju...kamu gimana Ra?”


“Bentar yah aku izin dulu.”


Sahara mengambil ponsel nya, dia bermaksud bertanya kepada Raden lewat chat.


To Raden: “Ayang, aku pulang kuliah mau main dulu sama temen-temen aku, boleh gak?"


Tidak lama kemudian Raden membalas


To Sahara: "Boleh cinta, nanti pulangnya aku jemput. Kirim aja alamatnya dimana.”


To Raden: "Oke ayang, makasih..."


To Sahara : “Love you."


To Raden: "Love you too.”


Raden senyum-senyum saat membaca pesan dari Sahara, dan tanpa dia sadari teman-temannya memperhatikan.


“Si Raden kayaknya udah gila, dia senyum-senyum sendiri.”


“Gila karena cinta.”


Raden hanya tersenyum melihat teman-temannya yang heboh dengan tingkah nya.


***


Hanya membutuhkan beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah Mall yang ada di pusat ibu kota.


Mereka masuk ke dalam mall dan mendatangi hampir semua toko. Febi dan Diana membeli beberapa dress, Bimo hanya membeli sepasang sepatu, sementara Sahara tidak membeli apapun dan hanya menemani saja.


“Lo yakin gak ada yang pengen di beli Ra?” tanya Febi.


“Iya Feb, gak ada.”


Setelah selesai berbelanja, mereka memutuskan untuk makan di satu restaurant seafood. Mereka mencari kursi kosong untuk mereka tempati.


“Duh, capek juga yah keliling-keliling,” ujar Diana.


“Iya sih, tapi seru tau,” jawab Febi.


“Ya iyalah seru, lo hampir borong satu toko gitu,” sindir Bimo yang membuat Febi terkekeh.


“Sahara, kok kamu gak beli apa-apa sih?”


“Iya, gak ada yang cocok.”


“Masa mall segede gini gak ada yang cocok sih.”


“Kan Sahara gak kayak lo apa-apa diborong semua.”


Lalu tanpa disangka, sosok Tama masuk ke restaurant itu.


“Eh liat, ada kak Tama tuh,” tunjuk Febi.


“Hah, kak Tama siapa?” mereka menoleh.


“Itu…si kakak Presma kampus kita.”


Febi langsung melambaikan tangan pada si Tama walaupun sebenarnya mereka tidak akrab, namun bagi Febi ini adalah kesempatan baginya. Tama menoleh ke arah mereka, lalu manik matanya menangkap sosok Sahara sehingga akhirnya ia menghampiri mereka.

__ADS_1


“Sahara, lagi apa disini?”


“Mau makan kak, tadi habis muter-muter.”


“Kak Tama kenal sama Sahara?” lontar Febi.


“Iya kenal waktu ospek.”


Tidak lama kemudian makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka langsung lanjut makan dengan lahap karena sudah merasa begitu lapar.


“Kemaren ke mana Ra gak masuk kuliah?” tanya Tama memperhatikan Sahara yang tengah makan.


“Ada keperluan keluarga kak.”


“Nanti pulang sama siapa Ra?”


“Nanti ada yang jemput kak.”


Raut wajah Febi langsung berubah melihat Tama yang mendekati Sahara.


“Kak Tama ke sini ngapain?” tanya Febi.


“Tadi nyari sesuatu aja, terus lapar jadi makan dulu, ketemu kalian deh.”


Tama melirik ke arah Febi sekilas, kemudian pandangannya beralih kembali pada Sahara.


“Nyari sesuatu apa ketemuan sama cewek…?” goda Diana.


“Haha, kamu bisa aja.”


Selesai makan, mereka pun pulang. Fabi, Diana dan Bimo pulang menaiki mobil.


“Ra, lo pulang bareng kita apa gimana?”tanya Diana.


“Aku ada yang jemput kok, kalian duluan aja.”


“Ohh ya udah, kita duluan ya, kamu hati-hati!”


“Iya, kalian juga ya.”


Sahara menunggu Raden menjemputnya, ia memutuskan menunggu di dekat parkiran, lalu Tama lewat dengan mengendarai motornya.


“Belum dijemput Ra?”


“Belum kak.”


“Bareng aku aja yuk, nanti kamu bilang ke orang rumah.”


“Eum…gak usah kak, kak Tama duluan aja.”


“Beneran gak apa-apa?”


“Iya kak, tenang aja.”


“Ya udah, aku duluan ya.”


“Iya hati-hati kak.”


Tamu pun melajukan motornya pergi meninggalkan Sahara.


tapi dia tidak pergi dari Mall itu,dia bersembunyi tapi masih bisa melihat Melati dari jauh.


Tidak lama kemudian mobil Raden datang untuk menjemput Sahara. Sahara langsung masuk ke dalam mobil. Jendela mobil yang terbuka memperlihatkan Raden yang berada di dalam.


“Itu bukannya Raden?” gumam Tama yang ternyata masih berada di sana.


Ia sengaja tidak langsung pulang dan melihat kejadian itu. Tama kesal dan mengepalkan tangganya.


"Ternyata Raden yang menjemput Sahara. Sebenarnya ada hubungan apa Sahara sama Raden? Tapi gue gak bakal nyerah buat deketin Sahara, walaupun harus bersaing dengan Raden."


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2