Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa
Bagian 14


__ADS_3

Mobil yang dinaiki Raden dan Sahara memasuki halaman rumah. Mereka turun dari mobil dan langsung disambut oleh Gayatri yang tampak sudah berpakaian rapi dengan senyuman hangat.


“Eh, penganten baru yang dateng ternyata,” ujar perempuan itu tersenyum lembut. Meski usianya sudah mencapai lima puluh tahun, namun Gayatri tampak masih begitu cantik dan awet muda. Ia terlihat begitu elegant dan modis dengan model busana yang ia pakai.


“Ah, mama apaan sih?”


“Tapi maaf nih, mama buru-buru harus keluar, soalnya mama udah di tungguin temen-temen mama. Kalian datangnya dadakan sih.”


“Ya udah gak apa-apa, mama pergi aja.”


“Mama minta maaf ya Sahara, pertama kalinya kamu dateng kesini tapi mama malah harus pergi.”


“Gak apa-apa kok ma, Sahara ngerti kok.”


“Ya sudah, mama pamit dulu ya, assalamualaikum.”


“Gayatri pun meninggalkan rumah dengan menaiki mobil.”


Raden dan Sahara pun melangkah masuk ke dalam rumah.


“Kak, rumah segede gini kok sepi?”


“Isi nya cuma tinggal mama, papa sama si mbak, terus sopir sama tukang kebun. Sekarang papa lagi kerja, mama juga kan baru aja pergi.”


“Iya kak.”


“Ya udah, kita ke kamar aku aja yuk!”


Mereka menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar Raden yang ada di lantai dua. Memasuki kamar Raden, Sahara dibuat terkagum melihat kamarnya yang sangat luas. Di dalamnya lengkap dengan kamar mandi didalam, tv, ruang wardrobe, dan lainnya.


Sahara berjalan menyusuri kamar. Pandangannya terhenti pada sebuah lemari yang diisi penuh oleh album yang diyakini Sahara adalah kartun dari negara sakura, Jepang.


“Banyak banget kak?” Sahara menatap Raden dengan kagum.


“Iyah,” Raden berjalan mendekat ke arah Sahara. “Kamu tau gak aku ngumpulin nya berapa lama?”


Sahara menggeleng. “Emang berapa lama kak?”


“Sejak aku masih SD.”


“Kakak serius, kok bisa sih?”


“Bisa dong sayang.”


Di saat Sahara tengah melihat-lihat, tiba-tiba Raden memeluk Sahara dari belakang, ia melingkarkan tangannya di perut Sahara, lalu mencium pipi gadis itu.


“Kamu suka kamar ini Ra? kalo kamu mau, kita bisa pindah kesini.”


“nggak ah kak.”


“Ya udah terserah kamu aja.”


Sahara melepaskan pelukan Raden, lalu beralih ke sebuah meja yang memajang beberapa foto masa kecil Raden.


“Kak Raden gemoy banget waktu masih kecil,” Sahara meraih sebuah bingkai lalu menunjukkan nya pada suaminya.


“Masa sih aku gemoy?”


“Iya beda banget sama sekarang.”


“Emang sekarang aku gimana?”

__ADS_1


“Sekarang serem, beda banget sama dulu, ups,” Sahara langsung menutup mulutnya karena merasa salah bicara.


“Kamu bilang apa, heuh?”


“E-Enggak kok, aku bilang kakak sama-sama ganteng dari dulu sampai sekarang.”


“Hmm, kayaknya tadi bukan itu deh yang aku denger.”


Raden berjalan mendekat ke arah Sahara, ia langsung membopong tubuh gadis itu lalu menghempaskan nya ke atas ranjang. Raden mengukung tubuh Sahara di bawahnya.


“Kamu harus dihukum karena tadi udah bilang aku serem.”


“Enggak kok, kakak pasti salah denger.”


“Enggak, aku gak salah denger. Aku denger dengan jelas tadi kamu ngomong apa.”


“Hmm, ya udah kalo gitu aku minta maaf,” Sahara kembali menunjukkan wajah sendu nya yang merupakan kelemahan bagi Raden.


“Kamu ini bener-bener ya bikin aku gak tega buat marah.”


Lalu Raden mendekatkan wajahnya ke wajah Sahara yang membuat gadis tersebut langsung memejamkan mata.


Menit berikutnya Sahara kembali membukakan mata setelah tidak merasakan apa-apa.


“Kamu ngapain nutup mata? Ngerep aku cium hmm?”


Sahara langsung mencabikkan bibirnya merasa dikerjai oleh Raden.


“Enggak kok.”


“Yakin..?”


“Iya yakin.”


“Kakak jangan natap aku kayak gitu, aku malu.”


“Kamu cantik banget kalo aku liat kayak gini. Bibir kamu juga seksi jadi pengen nyium,” Raden mendekatkan bibirnya lalu menyentuh bibir Sahara. Mereka berciuman cukup lama.


Sahara menikmati ciuman Raden dan mencoba menyeimbanginya.


“Kita tidur yuk!”


Sahara paham makna tersirat dibalik ajakan Raden yang mengajaknya untuk berc*nta.


Sahara diam tidak menjawab.


“Kenapa, kamu capek ya?”


Sahara pun mengangguk.


“Oke deh, kamu istirahat aja, aku keluar dulu ya.”


Raden melepaskan pelukan nya lalu keluar dari kamar.


Raden berjalan menuju dapur, ia meminta mbak Wati untuk menyiapkan minuman juga beberapa kue kecil sebagai cemilan.


“Ada yang den Raden butuhin?” tanya mbak Wati melirik Raden yang mengambil posisi di meja makan. Tangan Raden bergerak mencomot cemilan yang ada di dalam kotak lalu memakan nya.


“Buatin minuman buat aku sama Sahara dong mbak. Oh iya, sama cemilan juga. Tapi jangan yang manis-manis.”


“Oke, siap den,” mbak Wati memberikan jempol kepada Raden.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, mbak Wati membawakan nampan berisi apa yang diinginkan oleh Raden.


“Makasih mbak,” ucap Raden kemudian kembali ke atas.


Saat ia masuk ke dalam kamar, ia mendapati Sahara yang sudah terlelap di atas Ranjang dengan raut wajah yang kelelahan.


“Yahh, malah tidur. Pasti kamu capek banget ya Ra?”


Raden pun akhirnya menyimpan nampan tersebut di atas meja.


Setelah itu, ia berjalan menuju layar . Raden menekan tombol power untuk menghidupkan game. Sembari menunggu Sahara bangun, Raden memutuskan untuk bermain game.


Satu jam kemudian, Sahara pun terbangun. Saat ia melirik ke arah samping, Sahara melihat Raden yang tengah asik main game.


Raden, yang menyadari kehadiran Sahara, berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya.


“Udah bangun Ra?”


“Iya kak.”


“Sini Ra!"


Raden menepuk pahanya, menginstruksikan kepada Sahara untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.


Sahara menuruti permintaan Raden, ia melangkah mendekati Raden lalu duduk di pangkuannya.


Raden melanjutkan game yang ia mainkan dengan mata yang terpaku pada layar. Mereka berada dalam posisi yang begitu romantis, Sahara tertawa geli melihat ekspresi Raden yang tampak sangat serius.


“Kamu kok ngeliatin aku kayak gitu sih? Aku ganteng ya?”


“Hehe, iya,” jawab Sahara tersenyum malu.


“Haha, iya dong. Siapa dulu kalo bukan RADEN…,” ucapnya bangga. “Kamu mau nyoba main?”


“Eumm, boleh kak.”


“Tapi ada syaratnya.”


“Hmm?”


“Kalo kamu kalah, nanti kamu bakal aku hukum.”


Sahara tampak tidak setuju dan mengurungkan niatnya. Tentu saja ia pasti akan kalah oleh Raden yang lebih profesional dari nya.


“Haha, hukumannya gak berat kok, tenang aja. Aku yakin kamu pasti suka.”


Sahara pun akhirnya setuju dengan tawaran Raden.


“Kamu mau main apa?”


“Yang gampang aja.”


“Oke,” Raden lalu memberikan sebuah konsol yang diterima oleh Sahara.


“Ya udah kita mulai ya.”


Dalam pertarungan mereka, sayangnya Sahara tidak berhasil memenangkan permainan.


“Yah…kalah…” ujar Sahara cemberut.


“Hehe, gak papa, kamu kan baru pertama.”

__ADS_1


“Kalo aku kalah, aku dapat hukuman dong dari kakak.”


BERSAMBUNG…


__ADS_2