Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa
Bagian 13


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Raden tidak langsung membawa Sahara pulang ke rumahnya, Raden malah melajukan mobil yang ia kemudikan menuju masuk ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota.


“Kok kita kesini kak? Kakak ada yang mau dicari?” tanya Sahara yang merasa bingung.


“Iya, tunggu bentar ya, aku masuk dulu ke dalam. Oh ya Ra,  pinjem ATM nya.”


Sahara mengeluarkan ATM dari dompetnya dan memberikannya pada Raden.


Raden pun keluar dari mobil dan masuk kedalam. Beberapa menit berikutnya, Raden muncul dengan paperbag yang ada di tangannya. Raden masuk ke dalam mobil dan memberikannya kepada Sahara.


“Nih baju ganti buat kamu.”


Sahara menerima paperbag tersebut dengan perasaan bingung. “Kok kakak tiba-tiba beliin aku baju? kakak kenapa gak ajak aku aja ke dalam, biar kakak gak repot milihnya.”


“Aku gak mau orang-orang ngeliatin kamu dengan aneh karena pake seragam kayak gini.”


“Tapi aku gak papa kok kak.”


“Udah jangan bawel, buruan ganti bajunya.”


Sahara pun mengeluarkan isi paperbag yang berupa gaun simpel bermotif dengan warna lembut. Pilihan Raden lumayan bagus pikir Sahara.


Sahara mulai melepaskan pakaiannya satu-persatu walau sedikit kesusahan karena berada di dalam mobil.


Kini di tubuh Sahara hanya bersisa pakaian dalamnya yang berwarna baby pink.


Kebetulan kaca mobil milik Raden sengaja ia desain sedemikian rupa sehingga yang berada di dalamnya tidak akan terlihat dari luar.


Sahara sudah tidak malu lagi berganti baju di depan Raden. Ia sudah mulai terbiasa.


Namun sialnya Raden merasa terpancing melihat betapa mulusnya kulit Sahara yang seksi. Rasanya ia ingin menerkam Sahara saat itu juga. Namun Raden mencoba untuk menahan diri, karena ini bukan waktu yang tepat.


“Hadehh, mulai deh otak mesum gue kumat. Sahara selalu bikin gue gagal fokus. Inget Den, ini lagi dimana," batin Raden. Ia menghela nafas panjang.


“Kenapa kak?” tanya Sahara.


“Eh, gak ada kok.”


“Owh…bantuin kak,” Sahara membelakangi Raden, lalu pria itu langsung menarik resleting dress Sahara ke atas.


Raden melirik penampilan Sahara. ‘Cantik’ tapi ada yang kurang.


“Kayaknya kita harus ke dalam lagi deh. Kamu keliatan aneh kalo pake sepatu itu. Gak nyambung sama bajunya. Kamu copot aja sepatunya.”


Sahara mengikuti perintah Raden. Saat mereka sama-sama keluar dari mobil, tanpa babibu, Raden langsung menggendong tubuh Sahara, membawanya masuk ke dalam.


“Kak turunin! Malu diliatin orang-orang.”


“Udah gak papa. Kamu diam aja. Gak usah perduliin mereka. Aku gak mau kaki kamu sakit.”


Sahara bersemu atas perhatian dari Raden.


Raden menurunkan Sahara tepat setelah mereka tiba di toko sendal wanita. Raden menyuruh Sahara memilih model yang dia sukai.


“Yang ini aja kak.”


“Kok cuma satu pasang sih?”


“Udah cukup kok kak.”


“Enggak. Kamu pilih aja lagi.”


Melihat Raden yang sedikit memaksa, akhirnya Sahara menurutinya.

__ADS_1


“Aku bingung antara dua ini kak,” Sahara menunjukkan dua pasang sepatu di hadapannya.


“Ya udah mbak, ambil aja dua-duanya,” ujar Raden kepada penjaga toko.


“Lah, kok dua-duanya sih kak?”


“Gak papa Ra, dari pada bikin kamu pusing buat milih.”


“Oke mas, total semuanya dua juta empat ratus,” ujar pelayan toko yang membuat Sahara langsung terkejut mendengarnya. Itu harga yang sangat mahal bagi Sahara.


Raden pun mengeluarkan ATM nya, memberikannya kepada kasir.


“Terima kasih, selamat datang kembali.”


Raden dan Sahara keluar dari toko itu dengan Sahara yang sudah memakai sendal yang tampak cantik di kakinya yang putih.


Belum puas, Raden mengajak Sahara masuk kedalam sebuah butik yang menarik perhatiannya.


Mereka berdua masuk ke butik pakaian yang mewah, di mana Sahara dapat menemukan pakaian dan sepatu yang sesuai dengan seleranya. Sahara berjalan mengelilingi toko dengan langkah lembutnya, memilih beberapa pakaian yang menarik perhatiannya.


Raden juga ikut memilih dengan cermat beberapa pakaian yang sesuai dengan selera Sahara.


"Ra, kayaknya kamu cocok deh baju ini," ujar Raden.


Dengan perasaan yang campur aduk, Sahara memasuki bilik pakaian, Sahara mencoba pakaian-pakaian itu dengan senang hati,


Ketika dia keluar, memakai salah satu pakaian yang dipilih oleh Raden, pandangan Raden dipenuhi dengan kekaguman. Sahara, dengan sifat yang lembut dan anggun, berubah menjadi seorang ratu yang mempesona.


"Kamu luar biasa, Sahara," puji Raden dengan senyuman lebar. "Kamu terlihat begitu anggun dan menawan. Aku bahagia bisa menjadi pasangan kamu."


Sahara merasakan dirinya berbunga-bunga di bawah pujian Raden yang tulus. Dia memandang cermin, melihat dirinya sendiri dari balik cermin, wajahnya memancarkan kepercayaan diri.


Bersama-sama, mereka melanjutkan perjalanan mereka di mall. Tidak hanya pakaian, mereka juga mengunjungi toko aksesori, sepatu, dan parfum. Raden memilih dengan seksama setiap barang yang akan menambah keindahan Sahara. Saat mereka berbelanja, mereka juga menikmati momen kebersamaan, saling tertawa, dan berbagi kebahagiaan. Tas-tas berisi barang-barang baru mereka menjadi bukti dari momen indah yang mereka habiskan bersama.


Mata Sahara langsung membulat, “Enggak ah kak, pakaian dalam aku masih banyak kok.”


“Gak apa-apa, beli lagi aja. Aku pengen ngeliat kamu pake yang model baru, jangan itu-itu mulu.”


Mendengar alasan Raden, akhirnya Sahara pun menuruti permintaan suaminya. Mereka masuk ke dalam toko tersebut. Sahara berjalan di belakang Raden yang tampak sangat bersemangat.


“Kayaknya yang ini bagus deh, cocok sama kamu,” Raden menunjuk ke arah model lingerie yang terpajang di patung.


“Ih kakak, itu terlalu seksi.”


“Lah gak papa dong seksi, kan kamu makenya depan aku.”


“Tapi kan…”


“Malu?”


Sahara tertunduk. “Iya.”


Raden menarik nafas dalam, kemudian meletakkan kembali pilihannya ke tempat semula. Raut wajahnya tampak berubah.


“Ya udah gak jadi kalo gitu, Raden berjalan mendahului Sahara.


Khawatir suaminya marah, Sahara mencoba mengejar Raden.


“Kak Raden marah?”


“Enggak kok,” elak Raden, tangannya tampak sibuk menyibak model pakaian yang terletak di rak menghindari tatapan mata Sahara.


“Bohong, kak Raden marah kan sama aku?” mata Sahara tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Raden kembali menarik nafas dalam, tak tega melihat ekspresi Sahara yang seperti itu.


“Enggak sayang, aku gak marah kok,” jawabnya mengusap pipi Sahara.


Sahara menarik tangan Raden, membawanya menuju rak sebelumnya.


“Kakak seneng kalo aku pake yang model ini?”


Raden mengangguk.


“Ya udah, kita ambil yang ini, mbak?” Sahara memanggil seorang penjaga toko yang bertugas di sana. “Yang ini ya!”


Penjaga toko tersebut mengangguk.


“Tapi sebenarnya aku lebih seneng lagi ngeliat kalo kamu gak pake baju,” bisik Raden di telinga Sahara yang membuat gadis tersebut bersemu lalu melotot.


“Ihh kakak dikasih hati malah minta jantung.”


Paperbag ditangan Raden bertambah satu lagi. Keluar dari toko lingerie, mereka lanjut menyusuri lorong-lorong mall tersebut.


“Kamu laper gak Ra? Makan dulu yuk.”


Raden dan Sahara masuk ke dalam sebuah restoran dengan bergandengan tangan. Mereka mengambil posisi di salah satu meja yang kosong. Tak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka.


“Mau pesen apa kak?” tanya pelayan pria itu dengan note book di tangganya siap mencatat pesanan dari pembeli.


Sahara tampak membolak-balik buku menu. Jujur saja ia sedikit bingung untuk memilih melihat menu yang tersedia begitu banyak dan bervariasi. Hidup dii kampung membuat Sahara tidak terbiasa makan di restoran seperti ini.


“Kenapa Ra?”


“Bingung kak.”


Sebagai suami yang peka, Raden pun mencoba membantu Sahara.


“Ya udah, aku yang milihin gimana?” tawar Raden.


Sahara mengangguk. “Iya kak, tapi jangan yang mahal-mahal,” ucapnya polos.


Raden membelai puncak rambut Sahara. “Gak usah khawatir soal harga, kamu lupa kalo suami kamu ini kaya?”


“Iya, tapi tadi kan kakak juga udah beliin aku banyak barang dan mahal-mahal semua. Nanti kalo uang kakak habis gimana?”


“Tinggal minta papa, hehe.”


“Ih… kakak…”


Selesai makan, mereka pergi ke  toko handphone.


“Mau apa kita kesini kak?”


“Mau beli hp buat kamu Ra.”


Raden memilih handphone keluaran terbaru untuk Sahara. Sahara hanya diam menuruti. Mereka keluar dari toko handphone.


“Sekarang kita kemana lagi kak?”


“Kamu ada yang mau dibeli lagi gak?”


“Enggak kak.”


“Kalo gituh kita pulang aja. Tapi sebelum pulang kita kerumah orang tua aku dulu ya, ada barang yang mau aku ambil.”


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2