
Pagi- pagi sekali, Sahara membuang sampah sisa makan malam ke tempat sampah di sebrang rumah.
Seorang pria yang sedang lari pagi lewat di depannya, pria itu berhenti dan menghampiri Sahara lalu bertanya "hai, aku yoga, kamu baru pindah ya di sini? Nama kamu siapa?”
Sahara melirik ke arah pria itu. “Iya,” jawabnya singkat dan berhati-hati. Tentu saja ia harus tetap waspada, apalagi ia masih baru di Jakarta.
“Kamu tinggal dirumah seberang ya?”
“Iya.”
“Kalo rumah aku ada di ujung pas belokan. Oh ya, kamu masih sekolah apa udah kuliah?”
“Baru mau kuliah.”
“Oh…Baru mau kuliah yah,kalo aku udah semester lima.”
“Oh iya, Yaudah, kalo gitu aku masuk dulu ya.”
“Eh, kok buru-buru banget?”
Namun Sahara tidak memperdulikan Yoya dan dan tidak berlama-lama mengobrol dengannya.
Raden yang memperhatikan Sahara mengobrol dengan laki-laki lain dari dalam rumah, terlihat kesal dan marah.
Saat Sahara masuk ke dalam rumah, Sahara terkejut melihat Raden yang sudah berdiri di depan pintu. Sahara mencoba menjelaskan kejadian tadi kepada Raden.
“Kak, maaf tadi aku…”
“Aku mandi dulu yah mel,kamu siap-siap kita keluar nyari sarapan,” Raden memotong omongan Sahara.
“Iya kak.”
Sahara menghembuskan nafasnya, "Untung aja kak Raden gak marah.”
Sementara itu di dalam kamar mandi Raden terlihat masih kesal. Dia cemburu melihat kejadian tadi, namun dia tidak tegak untuk memarahi Sahara. Lagipun Sahara juga tidak salah.
Raden yang kesal menyalakan shower dan mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin.
Selesai mandi, Raden mengenakan pakaiannya. Ia sudah tampak rapi, begitu pun Sahara. Mereka naik ke dalam mobil dan langsung berangkat.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa Ra?” tanya Raden sembari mengemudi.
“Kalo boleh, aku pengen ke pasar aja, pengen masak sendiri.”
“Eumm, boleh sih, tapi sekarang buat sarapan beli aja dulu yah, aku udah laper.”
“Iya kak.”
“Kita makan di cafe itu aja ya,nanti pulang dari pasar kamu masak baru makan.”
“Iya kak.”
Selesai mereka sarapan pagi, Raden melalui Maps yang ada di ponselnya mencari letak pasar terdekat dari tempat mereka saat ini. Setelah menemukannya, Raden langsung melajukan mobilnya menuju ke alamat yang telah ia simpan.
Mobil mereka pun berbelok arah menuju pasar tradisional yang terlihat ramai. Ketika tiba di sana, Sahara langsung keluar dari mobil dengan penuh semangat.
“Kak Raden kalo ga mau turun gak apa-apa kak. Aku bisa belanja sendiri,” ujar Sahara.
Namun Raden memutuskan ikut turun dan ikut berbelanja bersama Sahara di pasar. Ia tidak mungkin membiarkan istrinya itu sendirian. Seperti anak bebek dan induknya, Raden mengekori Sahara yang membawanya menjelajahi lorong-lorong pasar yang penuh aroma.
Saat mereka memasuki pasar, Raden merasakan suasana yang berbeda dari apa yang ia biasa alami. Pasar yang ramai, suara dagangan yang dipanggil dengan riuh , dan aroma rempah-rempah yang terasa kuat membuatnya merasa canggung dan tidak nyaman. Raden berusaha untuk menyembunyikan rasa ketidaknyamanannya, tetapi Sahara yang peka langsung merasakannya. Ia menyuruh suaminya itu untuk kembali saja ke mobil.
“Kakak balik aja ke mobil.”
Raden merasa kagum melihat istrinya yang tampak begitu telaten memilih dan memilah barang yang akan dibeli. Sahara pun berjalan di antara para pedagang, memilih-milih sayuran segar dan rempah-rempah untuk masakan mereka. Ia dengan senang hati berinteraksi dengan para penjual.
Sahara menarik tangan Raden menuju penjual bumbu. Dia memilih aneka bumbu yang segar dan memberi tahu Raden cara menggunakannya dalam masakan.
Selesai membeli semua kebutuhan yang dirasa perlu, Raden dan Sahara memutuskan untuk kembali ke mobil. Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, Sahara melihat tukang cilok di seberang jalan. Dengan sopan dan sedikit memohon Sahara pun meminta izin kepada Raden untuk singgah sebentar membeli cilok tersebut.
Sahara dan Raden melangkah menuju tukang cilok yang ada di seberang jalan dengan wajah penuh harap. Raden merasa gemas melihat Sahara yang terlihat seperti anak kecil yang mendambakan es krim. Ia tidak bisa menahan senyum melihat ekspresi Sahara yang begitu polos dan meminta dengan sopan.
Sampai di depan tukang cilok, Sahara dengan ramah memesan beberapa tusuk cilok untuk mereka berdua. Raden mengamati dengan penuh kagum bagaimana Sahara dengan lembut dan sopan berinteraksi dengan tukang cilok. Ia melihat betapa Sahara dengan tulus menunjukkan rasa terima kasihnya kepada tukang cilok itu.
Namun, saat tiba saatnya membayar, Sahara dengan malu mengakui bahwa ia lupa membawa uang. Ekspresi wajahnya berubah menjadi cemas, dan Sahara meminta maaf kepada Raden. Raden, yang awalnya merasa gemas, pun semakin gemas lagi dan merasa lucu melihat tingkah Sahara. Ia memberikan senyum lembut kepada Sahara dan dengan gembira mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya.
"Jangan khawatir, aku bakal bayar. Uang aku kan banyak, kalo perlu aku borong sekalian sama gerobak sekalian abangnya. Kamu mau?" ujar Raden dengan candaan percaya diri sambil memberikan uang kepada tukang cilok.
Sahara yang awalnya merasa terbantu dan dilindungi oleh suaminya, menjadi tersenyum malu, “apaan sih kak?”
__ADS_1
“Tapi jangan deh,” Raden tiba-tiba berubah pikiran. “kan kamu udah punya aku. Lagian kasian istri abangnya dirumah kalo kamu ambil, iya ga bang?” Raden menaikan alisnya ke arah tukang cilok.
“Hehe, kebetulan saya udah cerai sama istri saya. Kalo neng cantik ini mau, say sih sangat bersedia,” ucap tukang cilok sembari mesem-mesem.
Raden yang niat awalnya ingin menggoda Sahara namun malah diseriusi oleh si tukang cilok membuatnya kesal. Karena hal itu ia pun buru-buru menarik tangan Sahara dan membawanya pergi dari tempat itu. Sahara hanya bisa tersenyum geli melihatnya.
Sampai di mobil, mereka menyimpan barang belanjaan yang telah mereka beli sebelumnya ke dalam bagasi. Raden membantu Sahara membuka pintu bagasi dan memasukkan semua barang dengan cermat. Melihat Raden yang begitu perhatian dan bertanggung jawab membuat Sahara sedikit bahagia. Setidaknya Raden tidak ketus seperti dulu padanya.
Matahari sudah mulai terik di langit, dan mereka merasa lega bisa kembali ke rumah setelah selesai mengurus keperluan belanja mereka. Raden duduk di kursi pengemudi, menggenggam kemudi dengan penuh kehati-hatian. Sahara duduk di sampingnya, memegang satu bungkus cilok yang membuat mulut Sahara tak sabar untuk mencobanya.
"Kak, boleh ga aku makan cilok ini sekarang?" tanya Sahara kepada suaminya dengan suara lembut dan tatapan penuh harap.
Raden tersenyum lebar. "Boleh dong. Tapi tolong buka jendelanya sedikit biar baunya ga ganggu kita di dalam mobil."
Sahara menganggukkan kepala, senang mendapat izin dari Raden. Dia membuka jendela sedikit, memberikan celah untuk aroma cilok keluar dari mobil. Sambil tersenyum, Sahara menawarkan satu cilok kepada Raden. "Kakak mau coba?"
Raden melirik cilok itu dengan ragu. Sebagai anak orang kaya, dia jarang sekali mencicipi jajanan seperti cilok. Namun, melihat antusiasme Sahara, akhirnya dia setuju untuk mencoba.
“Eum.. boleh deh, tapi suapin ya, soalnya aku lagi nyetir," kata Raden sambil tersenyum.
Sahara tersenyum dan mengangguk, "Oke."
Raden membuka mulutnya lebar-lebar, dan Sahara menyuapi cilok itu ke dalam mulutnya dengan penuh kelembutan. Rasanya benar-benar lezat, dan Raden merasa senang bisa merasakannya. Saat mereka berdua asyik dengan momen tersebut, tanpa sengaja, saus cilok mengenai sudut bibir Raden. Raden merasa terganggu dengan sensasi lengket di bibirnya dan meminta Sahara untuk menghapusnya dengan tisu. Sahara mengambil tisu dari dalam kotak penyimpanan mereka dan dengan lembut menyapu saus cilok dari bibir Raden.
Namun, saat Sahara melihat wajah Raden dari dekat, mata mereka tak sengaja bertemu. Pandangan mereka terjalin dalam keheningan sejenak, dan saat itu juga, Sahara dan Raden merasakan sesuatu yang berbeda. Mereka saling terkagum oleh pesona masing-masing. Namun, mereka berdua segera mengalihkan tatapan mereka dan merasa canggung dengan momen tersebut. Mereka berdua terdiam, merasa seperti ada sesuatu yang berubah dalam hubungan mereka.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Hati mereka berdua dipenuhi oleh perasaan aneh yang sulit diungkapkan. Ketika akhirnya tiba di rumah, mereka keluar dari mobil dengan hati yang masih terombang-ambing. Mereka berjalan menuju pintu depan rumah dengan langkah yang lambat, mencoba menenangkan perasaan yang muncul di dalam diri mereka.
Sesampainya di rumah, Sahara langsung menuju dapur. Ia memilih bahan makanan yang akan di masak. Sementara Raden membantunya memasukan belanjaan ke dalam lemari pendingin. Sahara pun mulai memasak.
“Kayaknya tadi kita lupa beli telor deh kak,” Sahara memberitahu Raden.
“Biar aku aja yang beli di mini market di depan.”
“Gak apa-apa kak, nanti aja.”
Raden memeluk Sahara yang sedang memasak dari belakang, Sahara sedikit terlonjak karena terkejut, ia pun hanya bisa diam saja.
Riyan berbisik di telinga Sahara, "Sebenarnya aku cemburu liat kamu tadi pagi di godain laki-laki lain, tapi aku ga marah sama kamu.”
__ADS_1
Raden mencium pipi Sahara lalu berlalu keluar. Sementara Sahara yang masih kaget memegangi dadanya, Sahara merasa jantungnya hampir saja copot.
Bersambung…