Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa
Bagian 11


__ADS_3

Sekitar pukul setengah lima pagi, adzan shubuh berkumandang dari mesjid.  Raden masih terjaga di samping Sahara, pria itu mengambil mangkuk berisi air yang berada di atas nakas lalu mengganti kompres Sahara.


Mendengar merdu adzan yang berkumandang dari rumah Tuhan, Sahara terpanggil untuk menunaikan kewajibannya. Dengan kondisi yang masih belum pulih, Sahara bangkit dari tempat tidur.


“Mau kemana Ra? kamu masih panas,” seru Raden.


“Aku mau wudhu kak, mau sholat,” jawab Sahara.


“Tapi kamu masih sakit.”


“Tapi itu wajib kak.”


“Wajib bagi yang sehat, kamu kan lagi sakit.”


“Aku kuat kok kak.”


“Kalo gitu aku gendong ke kamar mandi ya. Takutnya nanti kamu pusing terus malah jatoh.”


Sahara menganggukkan kepala. Selesai mengambil air wudhu, Sahara berjalan sendiri karena ia tidak ingin membatalkan wudhunya jika bersentuhan dengan Raden, tentu diawasi oleh Raden dari belakang.


Raden yang mengerti kondisi Sahara menyiapkan peralatan sholat untuk istrinya itu mulai dari mukena dan sajadah. Sahara pun sholat dengan khusuk sambil duduk.


Raden memperhatikan dengan seksama Sahara yang tengah menunaikan ibadahnya.


“Sahara yang lagi sakit kayak gitu aja masih mau shalat. Sementara gue yang sehat malah melalaikannya. Maafkan aku ya Allah, selama ini aku udah lupa akan perintah mu," batin Raden.


Usai sholat, Raden kembali membaringkan Sahara  di atas tempat tidur. Kemudian ia mengambil sarung di lemari lalu  ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah bersuci, Raden pun sholat.


Sahara tersenyum ketika melihat Raden menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ini untuk pertama kalinya Sahara melihat suaminya itu sholat.


Setelah mengucapkan salam, Raden lanjut berdoa di dalam hati.


"Ya Allah…maafkan aku yang selama ini lalai akan perintahmu. Maafkan aku yang selalu melakukan hal-hal yang engkau larang. Terima kasih engkau telah memberikan aku istri yang sholehah, bimbing aku agar bisa jadi imam yang baik untuk Sahara, amin…"


Selesai shalat dan membereskan peralatan sholatnya ke dalam lemari, Raden  mengambil kunci mobil yang berada di sebelah Sahara berbaring.


“Ra, aku pergi dulu yah, mau nyari sarapan buat kamu. Nanti habis sarapan, kamu harus minum obat juga.”


Sahara mengangguk sembari tersenyum tipis.


Tidak lama setelah kepergian Raden, Sahara tertidur. Beberapa menit kemudian, Raden pun kembali ke rumah, namun saat ia kembali ke kamar, ia malah menemui sahara yang tengah terlelap dengan tenangnya. Karena rasa kantuk yang melanda setelah semalaman tidak tidur, Raden pun ikut beristirahat di sebelah Sahara.


Dua jam kemudian Sahara pun terbangun. Ia duduk tepat di sebelah Raden yang tertidur. Sahara memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak kelelahan. Tidak lama kemudian Raden pun terbangun.


“Kamu udah bangun Ra? Bentar ya, aku cuci muka dulu. Aku udah beli makanan, nanti kita sarapan bareng.”

__ADS_1


Selesai mencuci muka, Raden kembali dari dapur dengan nampan yang berisikan bubur untuk istrinya yang tengah sakit.


“Makan dulu yah Ra!”


“Tapi aku gak laper kak.”


“Kamu harus tetap makan Ra, biar cepat pulih.”


“Tapi aku gak mau.”


Dengan sedikit paksaan, akhirnya Sahara tak bisa menolak. Raden menyuapi sesendok bubur ke dalam mulut Sahara, dan ia berhenti di suapan ke lima karena Sahara tidak mau lagi. Sehingga sisa bubur tersebut dimakan oleh Raden.


“Kak, mendingan sekarang kakak tidur aja dulu. Istirahat dulu aja, kan semaleman kakak gak tidur.”


“Iya aku ngantuk juga sih, tapi kalo kamu butuh apa-apa bangunin aku ya!” pesan Raden sebelum akhirnya mengambil posisi di sebelah Sahara.


“Iya kak.”


***


Sahara bangun dari tidurnya dengan perasaan yang masih lemas. Tubuhnya terasa lengket akibat keringat, ia menyadari bahwa mandi akan membantu membuatnya lebih segar.


Sudah dua hari Sahara terbaring sakit, Raden  menjaga dan mengurus Sahara dengan lembut dan penuh kasih. Kini kondisi Sahara mulai membaik. Suhu panas tubuhnya pun sudah turun. Kepalanya juga sudah tidak terlalu pusing lagi, namun tentu kondisinya belum lah seperti semula.


Sahara melirik ke samping ke arah suaminya yang tengah melihat layar ponsel.


“Mau apa?,” dahi Raden menyergit.


“Mau manasin air buat mandi, dari kemarin gak mandi rasanya tubuh aku lengket banget.”


Raden menyimpan ponselnya di atas nakas, beralih kepada Sahara.


“Kamu duduk aja di sini, biar aku aja yang ke dapur.”


Raden menyiapkan segala keperluan mandi Sahara.


“Ra, air panasnya udah siap nih,” panggil Raden.


“Iya kak.”


Saat Sahara turun dari ranjang dan hendak berdiri, tubuhnya tampak tidak seimbang.


Melihat hal itu, Raden memutuskan untuk membantu Sahara menuju kamar mandi. Raden menghampirinya lalu menggendong tubuh langsing Sahara dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Sahara sempat terlonjak karena perlakuan suaminya itu yang tiba-tiba dan tanpa aba-aba.


“Aku bantuin kamu mandi ya Ra,” Raden menurunkan tubuh Sahara.

__ADS_1


Mendengar hal itu, mata Sahara langsung melotot. “Gak usah kak, aku bisa sendiri kok, kakak keluar aja.”


Karena merasa malu Sahara malah mengusir Raden dari dalam kamar mandi.


"Ra, aku cuma takut terjadi apa-apa sama kamu," ucap Raden dengan nada khawatir. “Jangan mikir macem-macam, aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Aku cuma takut kalo nanti kamu tiba-tiba pusing, terus kalo misalkan jatoh gimana? Lagian kamu juga gak perlu malu, aku kan suami kamu. Kita juga udah ngelakuin hal yang lebih dari ini. Kamu lupa?”


Sahara bersemu mendengar pertanyaan terakhir dari Raden. Mana mungkin ia bisa melupakan hal tersebut, pikirnya.


Meskipun Sahara merasa malu, dia tahu bahwa Raden hanya ingin menjaganya. Dalam keheningan sejenak, Sahara mengalah dan mengizinkan Raden tetap berada di dalam kamar mandi.


Raden membantu Sahara melepas pakaiannya dengan lembut, mulai dari baju tidur hingga lapisan terakhir yaitu pakaian dalam Sahara.


Ketika tangan Raden hendak membuka lapisan terakhir tersebut, Sahara langsung mencegahnya.


“Kak, yang ini gak perlu di buka.”


“Heum, tapi kan kamu mau mandi.”


“Iya, tapi gak usah, biar gini aja.”


Raden menautkan kedua alisnya, “kamu masih malu hmm..?”


Sahara tertunduk malu.


Raden tersenyum sembari menggelengkan kepala, istri kecilnya ini begitu lucu. Kenapa Sahara harus malu? bahkan Raden sudah hafal setiap inci dari lekukan tubuhnya.


Akhirnya Raden pun mengalah. “Yaudah, gak jadi aku buka.”


Raden menyalakan shower yang membasahi tubuh Sahara. Dia mengambil sabun yang berada di dalam rak lalu menggosokkannya ke tubuh Sahara dengan penuh kelembutan.


Sahara merasa campuran antara perasaan malu dan kehangatan atas perlakuan Raden.


Meskipun dalam hati Raden tak berniat untuk mencuri kesempatan apapun, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya terangsang karena tubuh seksi Sahara, fantasi liar mulai menjalar ke dalam pikirannya. Raden mulai membayangkan dirinya bercinta dengan Sahara di bawah guyuran air dengan berbagai gaya. Namun Saat itu juga, Raden berusaha keras untuk menepis semua pikiran kotor itu agar ia tidak lepas kendali yang akhirnya membuat Sahara menjadi tidak nyaman padanya. Ia harus bersabar beberapa saat lagi sampai ia bisa merayu Sahara untuk melakukan hubungan sesuai keinginannya.


Selesai mandi Raden kembali menggendong tubuh Sahara ke kamar. Raden mengambil pakaian Sahara yang ada di dalam lemari, dan membantu Sahara untuk mengenakannya. Sebenarnya Sahara masih merasa malu saat tubuhnya dilihat oleh Raden, namun Raden dengan segala macam cara mencoba meyakinkannya.


Sahara yang duduk di atas ranjang mulai meminggirkan handuknya.


Raden membantu Sahara mengenakan pakaian dalamnya dilanjutkan dengan piyama dengan warna pastel nan lembut.


“Udah beres semua ya Ra, aku mau mandi dulu.”


Saat Raden membalikkan badan, tiba-tiba Sahara memeluk Raden dari belakang yang membuat Raden cukup terkejut.


“Makasih buat semuanya, makasih atas semua yang udah kakak lakuin buat aku.”

__ADS_1


Sudut bibir Raden tertarik ke atas menunjukkan senyuman bahagia. Raden tidak membalik kan badannya, dan hanya memegangi tangan Sahara.


BERSAMBUNG…


__ADS_2