
Di kediaman Raden dan Sahara, terlihat dua orang suami istri itu tengah asik menonton televisi di ruang sofa. Mereka tampak menonton acara realiti show yang dibawakan oleh artis kenamaan. Namun tiba-tiba saja Raden menidurkan kepala nya di pangkuan Sahara. Ia sebisa mungkin mencari posisi ternyaman di atas alas empuk itu. Sahara yang merasa gugup hanya diam dan membiarkan nya, dan tetap lanjut mengarahkan pandangan ke arah layar. Jangan sampai Raden mengetahui kegugupannya.
Raden meraih tangan Sahara lalu meletakkan nya di atas rambut nya yang sedikit berwarna coklat gelap.
“Ra, aku pengen kamu elus rambut aku,” Raden mendongak ke atas memperhatikan wajah istrinya dari bawah.
“Heuhh,, eumm iya kak.”
Sahara mulai membelai rambut Raden dengan lembut yang menimbulkan perasaan begitu nyaman bagi Raden. Bahkan sentuhan sederhana itu terasa begitu nikmat jika dilakukan oleh Sahara. Tidak hanya itu, Raden juga bisa merasakan perasaan dicintai meski sebenar nya ia belum yakin soal hal tersebut.
“Ra, kayak nya aku udah jatuh cinta deh sama kamu. Aku ngerasa nyaman dekat kamu, dan aku takut kehilangan kamu. Aku juga cemburu kalo ada laki-laku lain deketin kamu.”
“Aku...Aku..,” Sahara tidak tahu hendak menjawab apa.
“Maaf kalo apa yang aku omongin bikin kamu kaget, tapi aku gak bisa basa-basi.”
Raden bangkit, lalu duduk berhadapan dengan Sahara. Raden memegang tangan Sahara lalu menatap bola matanya dalam-dalam.
“Aku cinta kamu Ra, aku harap kamu bisa membalas perasaan aku.”
“Aku...Aku…”
Sahara seolah-olah tercekat.
“Kamu gak perlu menjawab sekarang, Aku ngomong kayak gitu cuma pengen kamu tau perasaan aku yang sebenar nya ke kamu.”
Raden mendaratkan sebuah kecupan di kening Sahara, menciptakan senyum tipis di sudut bibir gadis itu.
Untuk saat ini, Sahara benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan nya pada Raden. Raden memang baik kepada nya selama mereka menikah, walaupun di awal memang pria itu sedikit ketus pada nya. Belum lagi isu tentang kehidupan liarnya, Namun kebaikan Raden yang membuat nya nyaman belum serta mertua membuat nya langsung jatuh cinta. Mungkin sahara butuh beberapa waktu lagi untuk menjawab bagaimana perasaan nya pada Raden, apakah dia bisa membalas nya atau cinta Raden harus bertepuk sebelah tangan? Entahlah, dia tidak tahu, dan biarkan waktu yang akan menjawabnya .
***
__ADS_1
Jam di dinding menunjukan pukul delapan malam. Sahara baru saja menyelesaikan shalat Isya. Setelah menyimpan peralatan sholatnya ke dalam lemari, Sahara pun ikut bergabung bersama Raden yang berada di sofa tengah menonton tv. Sahara mengambil posisi tepat di sebelah Raden berada, mereka duduk saling berdekatan dan hampir tanpa jarak.
“Udah beres sholatnya Ra?” Raden melirik wajah Sahara dari samping, lalu melingkarkan tangan nya di pundak gadis itu. Raden mengelus-elus bahu Sahara dengan lembut dan penuh perasaan.
“Udah kak.”
Mereka lanjut menonton tayangan yang ada di layar kaca. Beberapa saat kemudian, dalam suasana yang terasa hening,
“Ra?”
Begitu Sahara menengok ke arah Raden, Raden dengan cepat menyambar bibir Sahara lalu menciumnya. Sahara sedikit terlonjak, tetapi dia pun mebalas ciuman dari Raden. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi panas. Mereka saling mengecap setiap rasa yang ada, ******* dengan penuh gairah, hingga memberikan gigitan-gigitan kecil yang semakin membakar gairah.
Ciuman Raden yang terkesan menuntun membuat Sahara menjadi merasa kewalahan untuk menyeimbanginya. Andai saja Sahara tahu bahwa suaminya itu sudah begitu berpengalaman dan sudah profesional.
Ciuman mereka terus berlanjut, tangan Raden sungguh tak bisa diam, tangannya merayap merasakan setiap inci kelembutan kulit mulus Sahara,
“Kak Raden?” Racau Sahara yang sudah lemas.
Sementara itu, ditengah kenikmatan duniawi yang sedang mereka rasakan, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah mereka.
“Tok tok tok…”
Raden dan Sahara memisahkan tautan bibir mereka, dan saling pandang. Mereka panik karna ternyata mereka sudah tidak memakai pakaian sehelai pun.
“Shit,” Raden mengumpat. “Kamu ambil pakaian kamu, terus masuk kamar!” perintah Raden yang ikut memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sahara hanya mengangguk, memungut pakaiannya lalu pergi masuk ke dalam kamar.
Raden yang hanya mengenakan boxer, berjalan membukakan pintu.
“Siapa sih, ganggu orang aja,” kesalnya dengan wajah masam.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, muncul sosok Mario di balik nya.
“Assalamualaikum bang,” ucap Mario tersenyum Ramah menampilkan deretan giginya.
“Waalaikumsalam.”
“Sahara nya ada bang?”
“Sahara udah tidur, kalo ada perlu datang aja lagi besok.”
“Tapi bang…”
Belum sempat Mario melanjutkan kalimatnya, Raden langsung menutup pintu dengan keras lalu menguncinya.
Mlihat sikap dingin Raden, Mario pun pergi sembari mendumel.
“kayanya itu kakaknya Sahara deh, galak bener. Apa iya Sahara udah tidur? Tapi masa sih jam segini udah tidur, atau kakaknya sebenarnya gak ngijinin Sahara buat ketemu gue? Bakal susah nih kalo gue gak dapat restu dari kakaknya. Ahh, pokonya gue gak bakalan nyerah, besok gue bakal dateng lagi.”
Raden kembali ke ruang sofa, ia mengambil tisu yang berada di dalam laci meja lalu membersihkan sisa cairan milik Sahara yang lengket di sofa. Untungnya sofa tersebut terbuat dari bahan kulit, sehingga tidak sulit untuk dibersihkan.
Kemudian Raden masuk ke dalam kamar, dan ia mendapati bahwa sahara sudah terlelap di atas tempat tidur.
“Yaa elahh… baru juga ditinggal bukain pintu terus ke dapur bentar, pas dicek udah tidur aja, dasar istri gue,” Raden terkekeh terus menggeleng.
Raden mendekat ke arah ranjang tempat Sahara tengah terlelap lalu mengambil posisi di sisi ranjang, Raden menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sahara sembari bergumam di dalam hati,
“Gue udah bisa milikin tubuh Sahara, tapi apakah hatinya juga milik gue? Sahara emang ngasih tubuh nya ke gue, tapi gue masih ragu dengan hatinya. Kalo dipikir hubungan gue sama Sahara aneh, kalo ngobrol kadang kita masih dingin, Sahara juga masih sulit terbuka ke gue. Tapi kita hangat kalo di tempat tidur. Gue harap suatu hari nanti Sahara mau berhubungan sama gue bukan hanya karena kewajiban nya sebagai seorang istri, tapi karena dia cinta sama gue, dan ingin melakukan nya karna dia mau.”
Setelah puas memandangi wajah Sahara nan ayu, Raden pun ikut bergabung dengan Sahara ke dalam selimut. Tangan nya menarik tubuh Sahara ke dalam dekapan nya yang hangat, lalu mengecup kening Sahara kemudian mereka tidur dengan saling berpelukan di dalam dingin dan gelap nya malam. Raden yakin, seiring berjalannya waktu, Sahara akan segera jatuh cinta padanya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1