Menikahi Perawan Desa

Menikahi Perawan Desa
Bagian 20


__ADS_3

Raden dan Sahara pun pergi dengan menggunakan mobil Raden.


Selama perjalanan, wajah Sahara tampak bagitu berseri-seri, dia terlihat sangat bahagia untuk bertemu dengan Luna.


Sahara sudah berada di terminal, karena sebelumnya Luna mengabari bahwa ia sudah hampir sampai.


“Luna mana ya kak?” tanya Sahara menatap sekitar dari dalam mobil.


“Sabar aja, palingan bentar lagi juga nyampe.”


Dan benar saja, tidak lama kemudian Luna pun tiba, melihat batang hidung Luna, Sahara langsung turun dari mobil dan mengejar Sahabatnya itu.


“Lun…Luna…?”


Luna yang menyeret sebuah koper di tangannya langsung berbalik badan ke arah suara.


“Sahara?”


Mereka langsung berpelukan erat dengan bahagianya.


Raden ikut tersenyum melihatnya.


“Udah kangen-kangenan nya, sekarang kita pulang yuk!”


Sahara dan Luna mengangguk secara bersamaan, lalu mereka pun pergi meninggalkan terminal, dan tidak butuh waktu lama mereka sudah kembali tiba di rumah.


Saat mobil selesai diparkir di garasi, Rizki dan  Genji tampak keluar dari pintu dengan rambut yang acak-acakan khas orang bangun tidur.


“Kalian mau ke mana?”


“Pulang, kalo si Rizki masih ada tuh di dalam, masih tidur.”


“Itu siapa Ra?” tanya Ganji melirik Luna yang berdiri di samping Sahara.


“Temen aku dari kampung,  namanya Luna kak.”


Genji langsung menjulurkan tangannya ke arah Luna.


“Hai Luna, boleh minta kontak kamu gak?” ujar Ganji.


“Iya, aku juga minta kontak kamu dong,” sahut Devon.


“Pada genit lo semua.”


“Namanya juga usaha,” jawab Devon terkekeh.


Luna dan Sahara hanya tersenyum.


“Ra, aku pengen ke toilet nih.”


“Ke dalem aja, lurus abis itu belok kanan.”


Luna langsung masuk, saat melintasi ruang sofa dia berhenti sejenak karna melihat Rizki yang tengah mengacak-ngacak ruang tersebut.


“Hei,  kamu mau maling ya?” teriak Luna.


Rizki terkejut, pun bingung dengan kehadiran yang yang tiba-tiba ada di rumah itu.


“Enak aja lo kalo ngomong, lo siapa sih?”


“Harusnya saya yang nanya kamu siapa, kenapa kamu ngacak-ngacak rumah temen saya.”

__ADS_1


Rizki berjalan mendekati Luna, namun kaki nya malah tersandung karpet yang membuat ia terpeleset dan hampir memeluk Luna. Tapi dengan sigap Luna mendorong tubuh Rizki dan akhirnya jatuh. Rizki langsung berteriak kesakitan yang membuat teman-temannya yang berada diluar mendengarnya lalu lari ke dalam.


“Ada apaan Ki?”


“Ini nih ada cewe gila,” tunjuk Rizki ke arah Luna.


“Abisnya dia mau meluk aku.”


“Kepedean lo,  gue cuma kesandung.”


“Udah Ki, malu masa berantem sama cewek.” ucap Raden mencoba menghentikan perdebatan mereka.


“Ah, cewek apaan kaya gitu, udah nuduh gue maling, mana bar-bar banget dorong gue.”


“Tapi dia cantik kan?” Devon menaikkan alisnya menggoda Rizki.


“Iya cantik kalo diliat dari sedotan, lagian siapa sih nih cewek?”


“Ini Luna temen aku dari kampung.”


“Ohh, pantes kampungan.”


“Aku juga dari kampung kak,” jawab Sahara yang tidak suka sahabatnya dihina.


“Kalo kamu gak termasuk Ra.”


“Udah-udah STOP! gak usah ribut lagi. Gini, besok kalian kumpul disini, si Nicho juga jangan lupa diajak.”


“Emang ada apa?”


“Besok kita jalan, gue yang bayarin. Sahara sama Luna pengen jalan-jalan, pengen tau Jakarta, tapi sekarang lo semua bubar aja dari pada bikin ribut, besok pagi kita kumpul.”


Keesokan paginya, teman-teman Raden sudah berkumpul di rumahnya. Nicho tampak datang dengan membawa pacarnya, Selly.


“Kalian bawa mobil kan?”


“Gue bawa, gue sama cewek gue,” jawab Nicho.


“Gue juga bawa,” tambah Devon.


“Ya udah, Sahara sama Luna bareng gue, sisanya kalian atur.


“Luna sama kita aja, gak apa-apa kan Lun?” tawar Devon.


“Iya gak apa-apa.”


“Tapi sekarang kita mau kemana dulu nih?”


“Kita ke kebun binatang dulu, terus kita ke wahana bermain,” jawab Raden yang diangguki oleh teman-temannya.


Mereka semua pun berangkat, dan tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di kebun binatang. Sahara dan Luna terlihat begitu senang, mereka antusias sekali. Raden tersenyum melihat ekspresi Sahara yang tampak bahagia,  lalu ia menghampiri Sahara yang tengah bersama Luna.


“Ra, tau gak ngeliat kamu tersenyum bahagia, kamu terlihat lebih cantik.”


Mendengar hal itu membuat Sahara  tersipu malu.


“Ehem…ehem...,” kode Luna yang seolah-olah tidak dianggap oleh pasangan yang tengah kasmaran itu.


“Ada yang lagi ngerayu nih…” ujar Devon.


“Gombal…gombal…” tambah Rizki yang entah dari mana datangnya.

__ADS_1


“Sirik aja. Tapi sekarang kita makan aja yuk, laper nih. Eh, tapi ngomong-ngomong si Nicho kemana, kok gak keliatan?”


“Biasa… dia kalo udah sama cewek temen ya dilupain.”


Sahara dan Luna sibuk berfoto untuk mengabadikan momen, setiap hewan yang mereka lihat pun mereka foto, sementara Raden  dan yang lainnya asik bercanda meledeki si Genji.


“Tang liat tuh, monyet nya mirip banget sama elo,” ujar si Rizki yang langsung mendapat satu tendangan di kakinya dari si Genji yang tidak terima diledeki.


“Sialan lo ngatain gue kayak monyet. Muka lo tuh mirip kuda nil.”


“Eh Den, temen lo tuh.”


Raden langsung melirik ke arah yang Devon maksud, yaitu ke arah kandang buaya.


“Enggak, bukan temen gue lagi, gue udah tobat.”


“Yang bener…?” Rizki tampak tidak percaya.


“Bener lah.”


“Lun, kalo mau foto  bareng monyet bisa kok,” ucap Raden.


“Caranya kak?”


“Ya… tinggal kamu pilih mau foto bareng Devon, Ganji atau Rizki,” ucap Raden tanpa dosa.


Luma dan Sahara langsung tertawa terbahak bahak mendengar lelucon yang keluar dari mulut Raden.


“Enak aja kita di samain sama monyet.”


Menjelang siang, mereka memutuskan untuk  pergi ke tempat makan. Raden, Rizki, Devon dan Genji berjalan sembari bercanda.


Sahara  dan Luna mengikuti dari belakang.


“Ra, gimana keadaan kamu di Jakarta selama ini? Apa kak Raden baik sama kamu?”


“Kak Raden baik Lum, dia juga mempelakukan aku dengan baik.”


“Kayaknya  kamu  udah mulai suka sama kak Raden, atau malah kamu udah jatuh cinta?”


“Kayaknya sih iya.”


“Wah… seru nih. Terus ngomong-ngomong kepo dikit nih, kalian udah malam pertama? Maksudnya kalian udah melakukan hubungan suami istri?”


Sahara tidak menjawab dan hanya tersenyum sambil mengangguk.


“Wah… berarti kamu udah gak perawan lagi dong Ra.”


“Ya..gituh deh, keperawanan aku udah di curi sama kak Raden,” jawab Sahara yang membuat mereka sama-sama terkekeh.


Lalu dari arah belakang, Raden berjalan menghampiri mereka berdua yang tengah asik mengobrol.


“Ada apaan nih, kayaknya seru banget.”


“Maklum kak, udah lama gak ketemu,” ujar Luna.


“Sekarang kita makan aja yuk.”


“Iya kak.”


Selesai makan Mereka ke tempat parkir menunggu Nicho dan pacar nya datang,tapi tidak lama kemudian Nicho datang dan mereka langsung berangkat menuju wahana bermain.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2