
Pagi hari, Angel sudah menunggu di tempat parkir untuk menunggu Raden berharap mendapat petunjuk atas rasa penasarannya. Saat mobil Raden terlihat akan memasuki lahan parkir, Angel langsung segera bersembunyi, karena penyelidikan ini tentu tidak boleh diketahui siapa pun.
Raden turun dari mobil, Angel terkejut ketika melihat Sahara yang turun menyusul Raden. Tangan Raden mengelus-elus rambut Sahara dengan lembut, lalu Sahara mencium tangan Raden, kemudian satu ciuman mendarat di kening Sahara.
Mereka berjalan ke arah yang berbeda. Setelah itu Angel langsungkeluar dari tempat persembunyiannya.
“Apa mungkin tuh cewek pacar si Raden?” curiga Angel.
Febi yang entah sejak kapan berada di belakang Angel lalu menyahuti,
“Kayaknya Sahara emang pacar kak Raden.”
Angel lalu menoleh ke arah sumber suara, “Apa maksud lo, kenapa lo ngomong kayak gitu? Jadi cewek itu namanya Sahara.”
“Karena saya pernah ngeliat mereka keluar dari toilet cewek berdua bareng-bareng, dan ya, itu cewek emang namanya Sahara.”
“Lo gak bohong kan?”
“Buat apa saya bohong kak.”
Angel kesal lalu pergi meninggalkan Febi yang berdiri di sana.
Kampus sudah mulai sepi karena sebagian mahasiswa sudah pulang. Angel diam di dalam mobil yang terparkir di area parkiran. Rupanya ia menunggu kedatangan Raden. Tak lama kemudian, akhirnya Raden tiba, lalu ia masuk ke dalam mobilnya. Tidak berselang lama, Sahara dari arah lain masuk ke dalam mobil Raden. Raden lalu mengemudiankan mobilnya meninggalkan area parkir. Angel dengan segera mengikuti mobil tersebut dari belakang.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah dengan Angel yang masih setia membuntuti mereka. Angel melihat Raden dan Sahara masuk ke dalam rumah. Angel pun memutuskan untuk tetap disana sembari memantau dari luar.
Hampir satu jam Angel menunggu, dan tidak ada tanda-tanda Raden keluar dari rumah.
“Sial, udah satu jam Raden gak keluar-keluar, gue juga gak ngeliat ada orang keluar dari rumah itu,apa mungkin orang tua Sahara sedang pergi?”
Angel melirik jam yang melingkar di tangannya. Karena langit sudah gelap, Angel pun memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
“Gue pulang dulu aja deh, besok pagi-pagi gue kesini lagi.”
Mobil Anggel berputar balik dari tempat itu.
Sementara Raden dan sahara yang berada di dalam rumah, sama sekali tidak mengetahui bahwa ada yang memata-matai mereka.
Sahara sedang nonton tv bersama Raden. Raden meletakkan kepalanya di pangkuan Sahara yang tengah serius menonton tv sembari memakan cemilan.
“Sayang, ultahnya Nicho diundur jadi malam minggu, berarti masih 3 hari dari sekarang, besok pulang kuliah kita belanja yuk!”
“Iya ayok, tapi mau belanja apa?”
“Kado sama yang lainnya.”
“Oke deh.”
Keesokan pagi nya, sesuai rencana, Angel sudah menunggu di dekat rumah Raden. Dia mengamati rumah Itu dari dalam mobil, dia melihat Sahara keluar dari rumah untuk membuang sampah. Saat itu Sahara masih memakai baju tidur, dan tidak lama kemudian Raden juga ikut keluar dengan hanya memakai boxer dan bertelanjang dada. Dia menghampiri Sahara lalu kembali masuk ke dalam. Angel tidak mendengar apa yang Raden dan Sahara bicarakan. Dia sangat kesal terhadap apa yang sudah dia lihat, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret kejadian itu.
“Dari semua yang gue lihat dari kemarin gue yakin mereka tinggal bareng," ujar Angel mengamati foto mereka di layar ponsel. “Tapi kok mereka bisa tinggal bareng ya, apa mereka FWB (friend with benefit)?”
Angel masih setia menunggu di sana. Sahara dan Raden tampak sudah rapi saat mereka keluar dari rumah dan siap untuk ke kampus. Raden mengunci Rumah lalu menyusul sahara masuk ke dalam mobil dan pergi.
Angel memukur stir mobilnya karena kesal.
"Raden mengunci rumahnya, berarti tidak ada lagi orang disana, itu artinya mereka tinggal berdua. Ah, sialan tuh cewek, Raden juga kok mau-maunya tinggal sama cewek itu. Untung gue udah ngambil foto mereka. Awas aja,gue harus manfaatin foto-foto ini sebaik mungkin."
***
__ADS_1
Raden tengah nongkrong di kantin bersama Devon dan Juga Genji, lalu Angel datang menghampiri meja mereka.
“Raden, aku mau ngomong.”
“Ya udah, ngomong aja Gel.”
“Berdua, gak di sini.”
“Di sini aja.”
“Jadi kamu mau orang tau soal ini?”
Angel menunjukan foto-foto Raden bersama Sahara waktu itu.
Bola mata Raden langsung membulat melihat apa yang ada du tangan Angel.
“Jadi kita ngomong di mana?”
“Ikut aku!”
Raden meninggalkan teman-temannya dan berjalan mengikuti langkah Angel.
Raden dan Angel berada di dalam mobil milik Angel.
“Sekarang gak ada siapa-siapa, jadi lo ngomong deh mau lo nya apa?” tegas Raden.
“Aku udah ngikutin kamu mulai dari kampus sampai ke rumah itu, aku ngeliat kamu sama Sahara tinggal satu rumah, apa kalian tinggal bersama?”
“Iya.”
Jawaban Singkat Raden berhasil membuat Angel tidak habis fikir.
“Gue gak salah denger Den? apa yang kalian lakuin berdua di dalam satu rumah, hubungan kalian apa?”
“Ya… urusan gue dong Den, lo kan tau kalo dari dulu gue suka sama lo.”
“Itu urusan lo Gel, gue gak minta kok.”
“Lo cinta sama Sahara Den, atau lo cuma iseng doang sama kayak hubungan lo dengan cewek-cewek yang lainnya?”
“Iya, gue cinta sama Sahara,cinta banget malahan.”
“Sampai lo mau bangun pagi-pagi beliin sarapan buat dia, sampe disuruh beli pembalut pun kamu mau Den.”
“Apa pun akan gue lakuin buat Sahara, buat wanita yang gue sayang.”
Angel sangat kesal bahwa ingin marah mendengar jawaban Raden.
“Apa sih kelebihan dia dibandingin gue Den? kalo lo cinta sama dia karena dia mau kamu ajak tinggal bareng, gue juga bisa Den, kita bisa tinggal di apartemen gue. Gue mau kok nyerahin tubuh gue buat lo.”
“Itu dia kelebihan Sahara, dia tidak pernah menawarkan dirinya pada laki-laki, karena dia punya harga diri.”
Tanpa pamit Raden langsung keluar dari mobil milik Angel, namun saat hendak menutup pintu, Raden mendapati Sahara yang tengah memandang ke arahnya.
Angel pun ikut keluar dari mobil, dia heran melihat Raden yang terdiam. Saat ia menoleh, ia melihat Sahara yang berada tidak jauh dari sana menatap ke arah mereka.
Sahara yang melihat Raden bersama dengan Angel langsumg memalingkan wajahnya dan pergi dari sana. Tidak tinggal diam, Raden langsung mengejar Sahara.
“Ra tunggu Ra,” Raden meraih tangan Sahara, namun langsung ditepis.
__ADS_1
“Aku mau masuk kelas.”
“Tunggu Ra, aku mau jelasin semuanya.”
“Jelasin apa, emang ada apa, udah ya aku pergi dulu.”
Raden mencoba menghentikan Sahara.
“Aku tau kamu marah Ra, dengerin dulu aku mau ngomong.”
“Gak perlu semua udah jelas, aku udah liat semuanya, lepasin tangan aku!”
Tanpa babibu, Raden langsung menggendong tubuh Sahara ke pundaknya, Melati tersentak lalu meronta-ronta.
“Lepasin! malu tau kalo ada yang liat.”
Namun Raden sama sekali tidak memperdulikannnya, meskipun Sahara terus meminta untuk diturunkan. Raden menuju ke tempat parkir dan memasukkan tubuh Sahara ke dalam mobilnya.
Angel masih berada di tempat parkir, ia berada di dalam mobil. Raut wajahnya yang awalnya senang karena yakin Sahara dan Raden akan bertengkar berubah suram karena melihat Raden yang menggendong Sahara. Angel terus mengamati ketika Rahara dan Raden berduaan di dalam mobil.
“Denger yah Ra, aku sama Angel emang berdua di mobil, tapi kita gak ngelakuin apapun dan gak ada hubungan apapun di antara kita.
Sahara hanya diam saja tanpa menjawab apapun.
“Angel ngajak aku ke mobil karena ada yang mau diomongin dan itu soal kita.”
Kening Sahara mengkerut.
“Soal kita, maksudnya apa?”
“Jadi ternyata kemaren Angel ngikutin kemana kita pergi, dan akhirnya dia tau kalo kita tinggal satu rumah, dan dia juga mengambil foto kita berdua.”
“Jadi dia punya foto kita waktu di rumah?”
“Iya, sekarang ngerti kan, sayang gak marah lagi kan?”
“Iya.”
“Cemburu yah, ternyata istriku yang cantik ini bisa marah juga.”
“Istri mana coba yang gak marah atau cemburu liat suaminya berduaan di mobil sama cewek lain?”
“Cemburu tandanya cinta, seneng juga di cemburuin, tapi lain kali jangan marah kaya tadi yah, kalo ngeliat berdua sama cewek lain jangan langsung marah tanya dulu, nah kalo ngeliat kejadian kaya gini baru marah.”
Tanpa aba-aba Raden mengecup bibir Sahara yang membuat bola matanya langsung membulat.
“Itu baru boleh marah, hehe.”
Sahara hanya merona sembari menahan senyum.
“Kenapa senyum-senyum, mau dicium lagi ya?”
Saat bibir Raden hendak menempel pada bibir Sahara, Angel langsung membunyikan klakson mobil nya dengan kencang, dia tidak suka melihat Raden mencium Sahara. Raden yang kaget mengurungkan niatnya.
“Siapa sih itu berisik banget, bikin kaget aja.”
Raden tidak mengetahui bahwa itu adalah perbuatan Angel.
“Sayang, entar malem kita sambung lagi ya, udah beres kan datang bulan nya?”
__ADS_1
“Iya udah.”
Bersambung…