
"Lebih baik aku menyakiti diri ini, dari pada disentuh pria biadab sepertimu."
****
Beberapa saat kemudian muncul berbagi macam senjata didepan mereka ada keris, pedang, celurit. Entah dari mana asal senjata-senjata itu, sebenarnya siapa Gan Arya ini !?
Siapa pria bermata caramel ini, apa ini kekuatan magic yang sering dibicarakan penduduk, dari wajahnya sepertinya orang kalangan atas atau mungkin golongan ningrat, pria bermata caramel ini sebenarnya siapa!?
Entahlah, agamaku mengajarkan jika ada perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat bila ada orang yang tersesat dari jalannya sudah seharusnya sebagai seorang muslim kita harus mengingatkan. Aku tak sanggup melihat perbuatan musyrik dihadapanku, aku harus mengingatkan mereka.
"Berhenti! hentikan Gan ... ini perbuatan musyrik."
Dia melirikku, mata itu sungguh menakutkan kemana hilangnya mata caramel itu, mata Gan Arya merah seperti darah aku yakin dia dirasuki oleh sesuatu, tapi entah itu apa?
Seketika aku terhempas lalu muncul bayangan besar mencekik ku sungguh aku tak bisa bernafas, leherku tercekik ingin berteriak minta pertolongan namun suaraku tak bisa keluar. Aku tak sanggup lagi menahan cekikan nafasku tersendat suaraku tertahan.
Tubuh ini sudah tak berdaya terkulai lemas karena sedari siang aku belum makan tiada daya maupun kekuatan lagi dari tubuh ini, pandangan perlahan-lahan kabur semakin gelap mata tak sanggup lagi untuk terjaga, yeah ... aku pingsan.
****
Bangun tidur kukedipkan mata berkali-kali ruangan asing ini dimana, kulihat badan pakaianku sudah diganti,
"Siapa yang mengganti!? apa yang terjadi!?" gumamku.
Kuperiksa kakiku tidak ada yang sakit maupun hal yang aneh mungkin tidak terjadi apapun.
"Ooii ... sudah bangun."
"Gan Arya ... Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
__ADS_1
"Ckck ... tak kusangka wanita alim sepertimu punya pikiran mesum.
Kau bukan tipeku, kau sama sekali tidak menarik. Tapi bila kau memaksa akan kukabulkan ... apa kau mau dimakan sekarang," jawabnya dengan senyum menggoda.
Perlahan dia naik ke atas ranjang dan menindihi tubuhku yang belum duduk sempurna mendapat serangan mendadak seperti ini kaget jantungku berdebar tak menentu.
Tubuhku lemah karena belum
makan dari kemarin. Tiada daya dan kekuatan untuk menolak pria biadap ini, bagian tubuh yang sensitif dirangsang habis aku cuma bisa menahan supaya tidak mendesah, bibir ini kugigit supaya erangan dan desahan tidak keluar.
"Munafik ... tubuhmu menginginkan tapi malah lebih ingin menyiksa diri sendiri," hardiknya.
Bukan malah berhenti dia malah membuka paksa baju piyama tidurku kancing-kancing mengelinding kemana-mana baju itu dilempar kesegala arah, reflek tangan ini menutupi daerah terlarang.
"Jangan lakukan Gan ...," pintaku. Aku memohon padanya.
"Apa ... !? dasar pria biadab, mesum, kurang ajar."
Belum selesai memakinya perutku demo 'krucuk krucuk' kenapa perutku harus berbunyi disaat yang tidak tepat.
Dia menatapku lalu mencium bibirku, mata ... tahanlah jangan terpejam melihatnya sedekat ini membuat ku canggung sebenarnya Pria ini tampan, lebih tampan dibandingkan Pak Anwar tapi pikiranku tak ingin didekatnya, tubuhku menolak sentuhannya, karena hatiku tak mencintainya.
Gan Arya pria ini terlalu mengerikan penuh dengan teka-teki. Pria biadab, kurang ajar, tak tau malu. Kutatap penuh kebencian padanya, dia malah **** bibir ini lama sekali aku benci dengannya dasar pria perengut ciuman pertamaku kugigit saja bibirnya biar tau rasa.
Tak lama kemudian dia melepaskan ku dan berkata, "sudah tak sabar ya ... isi dulu perutmu itu ... biar ada tenaga!"
Kulihat bibir Gan Arya ada bekas darah, kuraba kurasakan bibirku rasanya pedih seperti ada yang sobek.
"Apa!? jadi ternyata dia membersihkan darah dibibir ini dengan cara mencium dan mengulumku. Entah apa yang merasukinya," gumamku dalam hati.
__ADS_1
****
"Kang ... siapkan makanan!"
"Inggeh ... daharan sampun siap Suhu (makanan sudah siap Suhu)," jawab pria yang dipanggil oleh Gan Arya.
"Bawa sini Kang!"
Orang yang dipanggil Kang tadi menyiapkan berbagai macam makanan di meja kamar, aku hanya terpaku diranjang kututupi tubuh ini dengan selimut.
"Sampun siap sedanten Suhu, monggo kulo aturi dahar ..., (sudah siap Suhu, silahkan makan ...,)"ujar pria yang dipanggil Kang tadi penuh sopan santun.
"Keluar!"
Dasar pria tidak tau diri, dikasih hati malah minta jantung. Sudah bagus Kang tadi sopan santun eh ... si Gan Arya ini menjawab dengan hentakan. Apakah pria ini tidak pernah diajari sopan santun!?
"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun? sehendaknya ucapkan terima kasih padanya," Protesku.
Kang tadi menatap heran padaku, dan mengangguk pada Gan Arya lalu bergegas menutup pintu.
"Kemari!" perintahnya, aku menjawab dengan gelengan kepala.
Dia mendekatiku melepas kemeja putihnya. Dasar pria biadab tak tahu malu disaat seperti ini malah ingin berbuat mesum. Kupejamkan mata tak ingin menambah dosa.
"Pakai!" perintahnya sambil menyodorkan kemeja tadi.
"Apa!?"
"Buang pikiran mesum dikepalamu itu, ...."
__ADS_1