Menikahi Raja Kegelapan

Menikahi Raja Kegelapan
Nasi Karak


__ADS_3

"Setiap kesulitan pasti ada kemudahan.


begitu pun sebaliknya. "


****


Layla yakin akan kekuatan doa, karena yang bisa ia lakukan hanya ini dan memendam rasa cintanya.


Biarlah rasa ini tak akan pernah sampai padanya karena cinta Layla hannyalah cinta dalam diam.



Pov Layla Azzahra.


"Mbak aku lapar."


"Aku juga Mbak Lay. Apa ada yang bisa dimakan malam ini Mbak?"


Kedua adikku mengeluh karena perutnya belum terisi sejak siang tadi, aku juga bingung mau kasih makan mereka apa, uang di dompet kumalku tinggal lima ribu rupiah saja.


Aku pengangguran gadis tanpa pekerjaan, menjadi guru menurutku bukanlah sebuah pekerjaan tapi mengabdi pada negara.


Sosok guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, menurut falsafah jawa GURU artinya digugu dan ditiru maksudnya seorang guru itu diikuti setiap perkataannya dan ditiru setiap tindak tanduknya.


Menjadi guru menurutku beban yang sangat berat untuk dipikul karena semua yang dilakukan dipertanggung jawab kan baik di dunia maupun di akhirat.


Tapi ada satu hal yang membuatku semangat menjadi guru karena sudah diterangkan dalam hadis sahih Bukhori "ajarkan ilmu yang kamu dapatkan walaupun hanya satu ayat."


Alasan itulah aku semangat untuk membagi ilmu. Tak mengharap gaji tapi pahala yang ingin aku raih.


Meskipun begitu pihak sekolah maupun surau memberikannya dengan ijab sebagai bisyaroh.


Sedangkan memenuhi kebutuhan sehari-hari adik-adikku belajar berkebun dan hasil kebun dijual kembali ke pengepul buat dijual di kota, semua itu lebih dari cukup.


"Tunggu sebentar ya Mbak mau ke warung dulu," ujarku pada Dewi dan Sri.



****


"Bu ... ibu punya karak ngga, kalau punya saya beli."


Karak adalah nasi yang dijemur sampai kering, di beberapa daerah ada yang menyebutnya aking.

__ADS_1


"Ada Lay, tunggu sebentar ya mau buat makan unggas ya Lay," tanya ibu pemilik warung aku menjawab cukup dengan senyum simpul.


"Berapa Bu?"


"5 ribu satu glangsing."


Alhamdulillah uangnya cukup, dari tadi hati tidak tenang, gelisah, takut bila uangnya kurang. Ternyata pas gocek β€œbisa buat beberapa hari ke depan,” batinku dalam hati, tak lupa kuucapkan akad jual beli.


"Saya beli ya Bu."


Eh ... orang yang punya warung diam saja tapi tak apa akad jual beli sudah sah.


Memang kebanyakan orang sering lupa bahwa jika membeli sesuatu itu lebih baik mengucap akad jual-beli misalnya "saya beli."


Lalu penjual menjawab "Iya saya jual mbak," dan masih banyak contoh yang lainnya.


Karak atau aking memang tak layak untuk diberikan dan dimakan manusia, kandungan gizi sudah tidak ada lagi karena termasuk kategori nasi basi. Apa boleh buat, aku hanya bisa memberikan ini untuk dimakan sekarang.


Hasil kebun kemarin diambil oleh saudara tertuaku Bang Joni. Setiap hari selalu minta duit, duit ... duit ... dan duit entah buat apa itu duit, tapi aku pernah dengar bisik-bisik tetangga bahwa Bang Joni sering melakukan judi.


Judi memang mengasikan awalnya ragu namun berakhir menjadi candu, karena itu agama kami mengharamkan permainan ini, sesuatu yang menjadikan ketagihan itu diharamkan.


"Duh Gusti ... berikan hidayahmu, petunjukmu dan ampunmu," doaku dalam hati.


****


"Katanya kamu lapar, tunggu sebentar ya. Sri bantu Mbak Lay masak ya."


"Idih ... jangan panggil Sri dong Mbak."


Aku tak menganggapinya memang aku lebih suka memanggilnya Sri cukup simpel bukan.


Nama adikku yang sulung Bathari Az-zahra, nama Bathari diambil dari nama lengkap Bathari Dewi Sulastri atau Dewi Sri yang terkenal dengan sebutan dewi padi.



Bathari Dewi Sulastri tokoh pewayangan yang berwajah cantik nan anggun, rambutnya lurus menjuntai, badannya langsing dan bagian dada agak membesar menunjukkan kemurahan hatinya.


Sosok wayang Dewi Sri digambar dengan tangan mengepal dan telunjuknya menunjuk, menunjukkan ia wanita yang bijaksana.


Kecantikan Bathari Dewi Sulastri tidak bisa diragukan lagi, parasnya yang elok membuat Kala Gumarang mengejar Dewi Sri demi menyalurkan hasrat, nafsu jahat Kala Gumarang tak bisa dibendung lagi dia sudah terpikat pesona Dewi Sri.


Berkali-kali mencoba namun tak jua Kala Gumarang berhasil karena kejahatan pasti akan selalu kalah dengan kebaikan.

__ADS_1


Aku masih ingat jelas saat Sri dalam kandungan desa kami sangat terkenal dengan kualitas tanaman perkebunan sampai dikirim keluar kota, akhirnya Bapak menamainya Bathari Az-zahra.


Sedangkan adiku yang kecil bernama Ratna Dewi Az-zahra. Nama Ratna Dewi Az-zahra punya makna tersendiri di hati Bapak, pohon Soekarno yang tumbuh di depan rumah seolah menjadi saksinya.


Benar nama itu diambil dari nama istri presiden pertama Indonesia. Ratna Dewi yang lebih akrab disapa Madam Dewi, kunjungan presiden dan sang istri ke desa kamilah yang menjadi alasan pemberian nama untuk adikku.


Kami bertiga mempunyai nama belakang yang sama Az-zahra, Bapak harap nama kami sama seperti artinya yang bisa menjaga kesucian sampai saatnya jodoh kami datang.


Aku pun mulai memasak dengan dibantu Sri, kita berbagi tugas aku menyalakan tungku dan mencuci karak, sedangkan adikku Sri yang masih SMP memasrah buah kelapa untuk dijadikan wuwuh. Dewi hanya duduk manis saja kasihan adik kecilku menahan lapar dari siang tadi.


Ranting-ranting kering dan beberapa pipih kain kumasukkan dalam pawon. Pawon adalah kompor yang berbahan tanah liat, kita memiliki pawon dengan lubang dua kusiram sedikit minyak dan menyulutnya dengan sedikit api.


Setelah api membesar kuletakan dandang diatas-Nya untuk menanak karak, disebelah-Nya kuletakan panci dengan isian air. Aku menanak Karak ini dengan sistem menanak sungsang , tak butuh waktu lama nasi karak pun sudah jadi.


Nasi karak tadi dicampur dengan parutan kelapa dan taburan garam kita makan bersama-sama meskipun tanpa lauk tapi rasanya sudah gurih, asin, enak. Mantap.



"Maafkan Mbak Lay ya! Maaf kita hanya bisa makan ini saja selama beberapa hari."


"Tidak apa-apa Mbak ini sudah enak bisa makan sudah lebih dari cukup," ucap Sri.


"Alhamdulillah ... akhirnya bisa makan," sambung Dewi dengan senyuman khas anak seusianya.


Aku bersyukur mereka bisa mengerti kondisi saat ini, rasa bersalah akhirnya muncul meski dalam kondisi memprihatinkan mereka masih bisa tersenyum, andai Bapak dan Ibu masih ada pasti semua tidak seperti ini.


Memang takdir berkehendak lain. Tidak semua yang kita inginkan terwujud, jika semua harapan dan keinginan bisa terwujud dengan mudah lalu apa gunanya berdoa.


Ku tak boleh terus meratapi nasib yang harus kita lakukan adalah terus bersyukur, dan menyerahkan semua pada tuhan.


****


Ada yang pernah makan nasi karak!?


kalau ada gimana rasanya!?


Terima kasih atas apresiasi para pembaca, ini tulisan pertama saya maaf bila ada penulisan yang salah ya. semoga pembaca suka ...


Happy Reading ...


salam kenal dari saya Sho πŸ™


 

__ADS_1


__ADS_2