
"Kau tidak bermimpi Layla, aku tanya sekali lagi apakah kau juga mencintaiku, Lay?"
POV Anwar Danajaya.
"Rupaku mungkin tak seindah namaku.
Tapi hatiku tulus untukmu."
***
Pagi ini cahaya hangat menerpa desa kami. Desa ini terletak di lereng gunung semar, dengan kekayaan alam yang begitu melimpah. Banyak orang bilang tanah kami tanah surga, kayu ditancapkan saja sudah bisa menjadi pohon, desa ini adalah desa paling ujung di atas desa ini sudah tidak ada desa lagi.
Disamping desa ada hutan banyak pepohonan menjulang tinggi hutan ini banyak ditumbuhi pohon akasia, sengon, dan jati.
Pohon akasia yang tumbuh disini mirip dengan pohon Soekarno. Pohon sengon yang sangat cepat pertumbuhannya dan ada hutan yang ditumbuhi pohon jati orang desa menyebutnya alas jati.
Pohon yang sangat terkenal kwalitasnya pohon yang terkenal dengan lambang kesejatian dan keteguhan.
Pohon yang cukup kuat meski diterpa hujan dan panas.
Jika musim penghujan daunnya tumbuh lebat dan sebaliknya bila musim kemarau mengugurkan daunnya, semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerjang.
Begitu juga manusia semakin tinggi derajatnya semakin besar cobaannya.
Semakin lama usia pohon jati semakin bagus kwalitas dan coraknya. Sama seperti manusia semakin tua semakin banyak pengalaman dan ilmunya.
Bapak sering menasehatiku jadilah seperti pohon yang tinggi dan rindang yang bisa menyejukan orang yang berteduh di bawahnya.
Walaupun jabatanmu itu tinggi tetap jadilah pengayom bagi bawahanmu sama seperti pohon yang rindang tempat berteduh orang yang di bawahnya tadi.
Untuk menempuh ke desa ini hanya ada satu akses saja dan disebelah kanan kiri jalan ada jurang yang ditumbuhi banyak semak belukar, tumbuhan ilalang muncul dikanan kiri tebing khas hutan belantara belum terjamah.
Tepat di bawah kaki gunung semar ada air terjun orang-orang desa menyebutnya sendang 7 bidadari.
Desa tempat tinggalku ini memiliki potensi alam yang perlu diberdayakan itulah mengapa aku nekat mengajukan nama Bapak menjadi kepala desa di sini, dan Bapak terpilih menjabat kades empat tahun yang lalu.
__ADS_1
Kebanyakan anak-anak di sini tidak sekolah karena bila sekolah harus naik turun dahulu mencari desa yang ada sekolahnya. Itulah sebabnya aku berniat mendirikan sekolah dasar di desa setelah lulus dari universitas ternama di Yogjakarta dan keinginan itu sekarang sudah terwujud.
Banyak pencapaian atau kemajuan setelah Bapak menjabat sebagai Lurah, pembangunan infasuktur pertanian, pelatihan pembudidaya lebah, dan pelatihan tenaga kerja bagi ibu-ibu.
Pagi ini seperti biasa aku ke sekolah, sampai diruanganku kulanjutkan data-data kelengkapan akreditasi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, eh Bapak ... Ibu-ibu silahkan duduk."
Ada masalah apa ini, kok Bapak dan para ibu-ibu wali murid datang kesekolah pasti ada yang nggak beres.
"Jadi gini tadi ibu-ibu datang ke balai desa nemuin Bapak tadi, Le. Mau bahas masalah adiknya si Joni itu loh si Layla."
Deg ... Layla nama itu, Layla gadis pujaan hatiku, gadis masa kecilku dulu, yang lama sekali aku memendam rasa padanya dan baru dua tahun Layla boyong dari pondoknya di daerah Jombang aku menyuruhnya untuk menjadi guru PAI disini. Oh... Layla gadis imut manis beriris hazel. Apakah kau masih ingat aku, Lay !?.
"Ehem ... Bisa panggil Bu Layla kesini Pak War!?" ujar ibu berbaju merah menyala itu yeah ... kalau nggak salah namanya Bu Jaenab.
"Iya sebentar ya Bu."
Aku keluar ruangan sebentar dan kebetulan ada Bu Tari melitasi ruang kepala sekolah jadi kusuruh Bu Tari memangil Layla. Tak butuh waktu lama Layla akhirnya muncul di balik pintu mengucap salam kami semuapun membalas salamnya.
Kupersilahkan dia untuk duduk, Layla gadis kecilku dulu sekarang tumbuh cantik bak bidadari walaupun ia berhijab tapi tak mengurangi aura kecantikannya. Malah menambah keanggunannya seragam krem yang dipadukan krudung panjang dengan warna senada cocok sekali dengannya. Ingat War gadhul basor jaga pandanganmu.
"Jadi begini Bu Layla maksud kedatangan saya dan ibu-ibu kemari ingin menyampaikan sesuatu, apa boleh?" ucap Bapak memecah keheningan.
"Iya silahkan," jawab Layla suaranya itu selalu membuatku terhipnotis masuk menyejukan kalbuku halus penuh keibuan.
"Banyak wali murid yang keberatan jika anda yang mengajar. Jadi-"
"Hiya betul, masak ngajarin keluarganya saja nggak becus apalagi ngajarin anak kita. Bener nggak ibu-ibu?"
"Ho oh."
"Hiya bener."
"Betul."
Adaapa ini kenapa begini kenapa nggak bicara dulu aduh ... gimana ini .. pikiranku berkecamuk.
"Maaf sebelumnya ibu-ibu jika memang ada kekurangan dalam saya mengajar mohon maaf. Dan bila ada ucapan saya yang menyakiti hati saya mohon maaf juga. Insya alloh mulai hari ini saya berhenti mengajar."
__ADS_1
Loh ... apa-apaan ini kenapa memutuskan sepihak. Bila Layla tak mengajar disini itu artinya aku tidak akan bisa bertemu denganya, sungguh aku nggak bisa jauh darinya, aku harus mengentikan Layla.
"Lay ..."
"Dalem," suaramu menyejukan pikiranku Lay, seperti telah lama musim kemarau lalu tiba-tiba turun hujan adem ayem.
"Hiya Pak saya sudah selesai berkemas. Maaf Pak bila selama saya disini sudah-"
"Lay sudah kubilangkan bila kita berdua saja panggil aku mas," pintaku.
"Maaf Pak sepertinya itu tidak sopan."
"Kitakan hanya beda 2 tahun, Lay."
"Rasanya saru saja Pak."
"Lay ... maafkan aku, aku tidak membelamu tadi. Aku bingung disatu sisi jika orang tua anak-anak tidak memberi izin mereka sekolah mau jadi apa mereka Lay. Disatu sisi yang lain keputusan ini memberatkanmu ... dan aku ..."
"Aku meberatkan Bapak bukannya disini saya yang dirugikan. Yang membuat ulah itu Abang saya ... bukan saya ...."
Layla menangis yeah tidak mungkin aku salah iris hazel itu berkaca-kaca ingin sekali aku memelukmu Lay menghapus air matamu tapi aku sadar kita bukanlah makhram.
"Iya ... kumohon tetap disini Lay! aku tak bisa jauh darimu."
"Maksud Bapak apa?"
Dia menatapku, ya dia Layla, nama yang selalu kusebut-sebut di waktu mustajabah. Rasanya ingin sekali aku segera memiliknya.
"Lay ... aku mencintaimu. Jangan tinggalkan sekolah ini kumohon tetap disini. Apakah kau juga mencintaiku, Lay???"
Hanya sunyi dan angin yang berhembus di ruangan guru ini Layla hanya diam saja padahal hati ini sudah dag dig dug tak menentu ingin segera mendengar jawabannya sedangkan ia hanya diam saja apakah ini sesuai maqollah assuquttu tadullu illa na'am, diamnya seseorang berarti jawabannya adalah iya.
Sekian lama sudah kupendam rasa baru sekarang keberanian ini muncul, rasa takut kehilangan dan mungkin sudah tidak ada kesempatan untuk mengungkapkan yang kedua kalinya lagi.
Bismillah kuberanikan diri mengaku padaya, gadis kecil cinta pertamaku cinta masa kecilku.
****
Happy Reading para pembaca 😘
Doakan biar saya sehat selalu dan bisa berkarya 😊
__ADS_1