Menikahi Raja Kegelapan

Menikahi Raja Kegelapan
Sendang Pangguripan


__ADS_3

"Kini kisahku berakhir disini ...


Di Sendang Pangguripan."


****


Pria bermata caramel ini membuatku terus bertanya-tanya kenapa dia mengobatiku?


Padahal dialah yang telah menyakitiku, merebut ciuman pertamaku, mengores pipiku,


melukai bibirku, kenapa harus dia.


Rasanya ku tak ingin disentuhnya karena kita bukanlah makhrom menolak tapi malah cengkeraman yang kudapatkan.


"Tuan ... saya mohon bebaskan adik saya, sebagai gantinya saya mau melakukan apapun perintah Gan Arya," pintaku sekali lagi, tiada salahnya kan terus mencoba tapi reaksi Gan Arya jauh melebihi ekspetasiku.


Dia melotot padaku, ketika dia marah wajahnya semakin menakutkan. Rambut gondrong, mata caramel, alis lebat kecoklatan, hidung bak prosotan dan kulit putihnya khas orang kota terawat, itu mendelik seperti ingin menelanku hidup-hidup, badannya yang kekar dan tinggi membuatku teringat sosok bintang Bollywood Aksay Kumar.


"Sadar Lay ... istigfar apa yang kupikirkan," batinku dalam hati.


Memang benar setan menghalalkan segala cara untuk mengoda iman kita, di mobil ini hanya ada kita berdua itu membuat setan terus mengoda pikiranku, nasihat guru ngajiku dulu memang benar,


janganlah berduaan dengan lawan jenis nanti ada orang ketiga yaitu setan.


"Gadis pemberani ... tingkahmu itu membuatku semakin ingin menikmatimu, dasar bodoh ... tiada orang yang berani mengucapkan namaku!" sentaknya.

__ADS_1


Bip ... bip ...


Gan Arya mengangkat telepon, entah dia berbicara dengan siapa.


"Hallo ... apa!? cari mereka sampai ketemu ... aku ada urusan ...."


Setelah telepon berakhir dia menatap tajam ke arahku.


"Adikmu melarikan diri ... kalau mereka belum menemukannya kau harus bertanggung jawab ...."


"Apa!?"


Aku bukan kaget karena disuruh bertanggung jawab, tapi bagaimana Sri dan Dewi bisa melarikan diri.


alhamdulillah kalau memang begitu.


****


"Badri ... Ayo cepat naik! bentar lagi sudah pagi," perintah Gan Arya.


Mobil pun melaju melewati jalan panjang tiada rumah sama sekali yang ada hanya lahan pertanian, sawah membentang lebar kalau didesa ini disebut dengan jalan tuanggan.


Gan Arya menyuruhku turun, sedangkan Pak Badri sudah turun dahulu beliau membawa sesuatu seperti tempeh (anyaman bambu berbentuk datar) entah apa isinya.


Tapi aku tidak asing dengan yang dibawa pak badri seperti pernah melihat tapi entah dimana.

__ADS_1


Aku mengikuti mereka, mobil terparkir dipinggir jalan tidak bisa masuk karena akses hanya jalan setapak, ini kawasan daerah terlarang tapi setiap hari selalu ada orang yang berjaga-jaga.


"Sugeng rawuh, pinarak Suhu (selamat datang, silahkan masuk Suhu)," sambut salah satu dari mereka, ketua adat, perangkat desa, kepala desa juga ada mereka bersalaman dan mencium tangan Gan Arya rupanya dia cukup disegani dan disanjung oleh mereka, ingin sekali aku menghentikan aksi salam salaman itu, ingin sekali aku memberi tahu kepala desa orang yang dipanggil Suhu ini tidak lebih dari seorang bajingan.


"Ooiii ... sini jangan jauh-jauh." Perintah Gan Arya padaku. Mau tak mau aku tetap menurutinya, semua mata memandangku bisa kurasakan ekpresi terkejut dari raut muka mereka tapi sama sekali tiada yang membuka suara ketika aku mendekati Gan Arya.


Kuamati pemandangan sekitar


daerah sini dijaga ketat hanya warga pilihan yang bisa masuk kesini, jadi ini yang disebut sendang pangguripan.


"Badri letakan tumpeng dibawah pohon besar itu!"


Apa jadi Pak Badri pesan tumpeng padaku untuk ritual ini, aku tidak mungkin salah lihat itu tumpeng buatanku, jika dari awal aku tau niat beliau pasti aku sudah menolaknya.


sungguh keringatku sia-sia. Aku tidak terima


"Pakdhe-"


"Diam selama ritual dilaksanakan tidak boleh ada yang bicara," jelas Gan Arya. Sekarang yang bisa kulakukan hanya diam dan melihat perbuatan musyrik dihadapanku ini.


Sendang adalah sumber mata air yang mengalir konon air sendang panguripan ini membuat kita tetap awet muda, kenapa mereka mempercayai hal seperti itu!? ingin sekali aku memprotes ketua adat tapi pelototan mata kepala desa dan Pak Badri seperti memperingatkan ku jangan melakukan apapun.


Ditengah-tengah Sedang ada tujuh batu besar, Gan Arya menyuruh mereka duduk di batu-batu itu, sedangkan yang lainnya menabur berbagai macam bunga kulihat ada bunga mawar merah, melati, kenanga, cempaka, kantil, sedap malam, gambir, anehnya bunga-bunga itu tidak ikut oleh arus air malah diam ditempat, entah ilmu apa yang dipakai Gan Arya.


Beberapa saat kemudian muncul berbagi macam senjata didepan mereka ada keris, pedang, celurit. Entah dari mana senjata-senjata itu, sebenarnya siapa Gan Arya ini !?

__ADS_1


__ADS_2