Menikahi Raja Kegelapan

Menikahi Raja Kegelapan
Mandi Bunga tujuh Rupa


__ADS_3

"Kebencianku


Telah terpupuk dalam hati


Aku benci melihatmu


Aku benci wajahmu


Aku benci sikapmu."


****


Pria ini sungguh tidak tahu diri, ditengah hujan seperti ini masih saja berkata seperti itu.


Selimut ini mengikat tubuhku dan tubuhnya. Mungkin karena jiwa naluri laki-laki yang ingin mencari kehangatan tubuh, membuat dia berbuat seperti ini, aku hanya diam membisu ketika tangan kekar penuh otot itu mengangkat tubuh ini.


Yeah ... Gan Arya menggendongku, diri ini tak mampu menolak, tubuhku menggigil kesemutan mungkin karena terlalu lama kehujanan. Anehnya dia yang tak pakai baju tubuhnya terasa hangat, diri ini terasa nyaman dalam gendongannya. Entah ilmu kesaktian apa yang dia miliki.


****


Gan Arya membawaku kedalam kamar, dipinggir sendang pangguripan berdiri kokoh bangunan kecil-kecil yang berjarak beberapa langkah saja, semacam penginapan.


"Apa kau nyaman seperti ini? tidak mau turun."


Pikiranku melayang kemana-mana sehingga tak menyadari sudah sampai di kamar yang kutempati pagi tadi.


Dia melepaskan gendongannya, aku tak membawa baju sama sekali bajuku yang semalam kupakai entah kemana, sedangkan baju piyama penginapan rusak sobek di kanan-kiri akibat perbuatan pria didepanku ini.


Kenapa tiba-tiba tubuhku sulit untuk digerakan semacam kram,  bergerak sedikit rasanya sendi ini ngilu, padahal aku tidak punya riwayat penyakit hipotermia.


"Ada apa!? siapa namamu!?" tanya Gan Arya, dia berganti pakaian didepanku. Sungguh aku malu sekali melihatnya, tapi tubuh ini kenapa tidak mau berpaling seakan-akan aku ingin sekali melihatnya terlanjang.


"Ti-ti-tid-da-k." Kenapa mulut ini ikut-ikutan sulit digerakkan.


Gan Arya mendekatiku, "ada apa?" tanyanya sekali lagi, dia meletakan tangan kekar itu di dahi ini, rasanya jantungku berdebar-debar tak menentu.


"Ada apa denganku, kenapa rasanya jantung ini ingin melompat," batinku bertanya-tanya.

__ADS_1


"Kau ... demam," ujar Gan arya sambil melepaskan selimut basah dari tubuhku, kini tinggal kemeja ini saja yang melekat ditubuh ini, oh tidak ... apa dia ingin melepas kemeja ini juga.


"Apa yang kau lakukan, Gan? kumohon jangan lakukan itu ... tubuhku kram tak bisa digerakkan rasanya sakit sekali," tolakku.


"Diam! aku tak akan menyakitimu."


Pria ini membopongku lalu meletakkan diatas ranjang, dia melepaskan semua yang melekat ditubuhku, rasanya ingin sekali aku mengelak, tapi tubuh ini ngilu sekali. Dia menyelimutiku dengan selimut yang baru, tapi aneh tubuh ini tetap saja kedinginan dan nyeri sekali.


Gan Arya mengosok-gosok tangan dan kakiku dengan telapak tangannya. Tak hanya itu saja dia juga menyerang bagian tubuh sensitifku.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan. Dasar pria biadab, memanfaatkanku disaat aku tak berdaya,"batinku.


Hatiku terus memakinya, aku benci sekali dengan diriku, aku benci sekali dengan dia.


Tangan kekar berotot itu kugigit, rasanya keras sekali terbuat dari apa pria ini. Aku menahan supaya tidak mendesah jangan sampai ... aku harus bertahan.


Serangan demi serangan dia lakukan, aku tak tahan rasanya badan ngilu semua, tubuh ini terus mengeliat, mataku tak sanggup lagi untuk terjaga.


"Jangan tutup matamu, bertahanlah, ooii ... bertahanlah!"


Kulihat wajahnya, dia berkeringat. Disaat hujan deras menerpa kawasan kaki gunung semar, seharusnya dia kedinginan tapi malah berkeringat, perlahan-lahan suhu tubuhku menghangat, setelah itu aku tak sanggup lagi. Mataku terpejam dan aku tak ingat apapun.


****


Kenapa disini tidak terdengar sama sekali suara azan, kenapa bisa aku bisa lupa akan kewajibanku. Apa ini ada hubungannya dengan pria yang tidur disampingku.


"Apa yang telah aku lakukan? Ampuni hambamu ini duh gusti ...." Kalimat istigfar terus kuucapkan,


perlahan kulepaskan tangan kekar yang melingkar di pingang ini.


Dia mengeliat dan bertanya, "Mau kemana?"


"Aku mau sholat, dimana musollanya?" tanyaku pada Gan Arya.


"Mandilah dulu baru sholat, kau tau semalam sangat melelahkan," jawab pria itu dengan nada datar tanpa ekpresi.


"Apa yang telah kau lakukan," aku terus memaki sambil memukulinya.

__ADS_1


"Dasar pria tak tahu diri, biadab, keparat, aku benci padamu ... tinggalkan aku sendiri! keluar!" teriakku sambil menunjuk pintu, tak tahan rasanya, aku sangat membencimu Gan Arya kebencian ini terlalu dalam aku muak melihat wajahmu itu.


Aku benci pada diriku ini, kenapa nasibku seperti ini? aku malu denganmu Gusti, aku malu akan nama yang kusandang. Diri ini tak pantas disebut Layla Az-zahra ( malam yang suci ) sekarang namaku bukanlah Layla, namaku sekarang adalah Srikandi.


****


Tangisanku tak ada hentinya, air mata ini terus mengalir sampai bantal penginapan penuh dengan peluh dan air mata.


"Maafkan aku ...,"


"Setelah semua yang kau lakukan padaku ...,"jawabku.


Pria ini duduk diranjang, bisa kurasakan ranjang ini berdesit.


Dia melingkarkan tangan dipingangku dan membelai rambutku, seketika aku langsung melompat dan berdiri.


"Kumohon tenanglah ..., "pintanya


"Apa yang kau inginkan, apa kau menginginkan rambutku baik lah aku akan memotongnya."


"Ooii ... tenanglah."


Aku mengambil pisau buah di meja dan langsung mengiris rambutku,


Gan arya menangkap dan memelintir tanganku, pisau itu direbutnya.


"Apa yang kau lakukan!?"


"Aku sangat membencimu,"ujarku sambil meludahi wajah tampannya itu.


Seketika dia melepaskanku, "asal kau tau semalam nyawamu dalam bahaya kau terserang hipotermia, aku mencoba membantumu. Iya ... memang, aku menghangatkanmu."


"KAU!" pekikku sampil menampar pipi mulusnya. Tapi belum kena pipi Gan Arya tanganku berhenti seperti ada yang menghentikan tanganku, siapa sebenarnya pria biadab ini?


"Mandilah! sudah kusiapkan air hangat godokan bunga tujuh rupa. Dan ini mukena, lekas itu istirahatlah." Jawab Gan Arya sok bijak.


"Kenapa masih berdiri disitu, apa mau dimandiin?" sambungnya.

__ADS_1


"Kau! dasar pria biadab!" umpatku sambil berjalan ke kamar mandi kubanting pintu itu untuk melampiaskan rasa kesal benci padanya.


__ADS_2