Menikahi Raja Kegelapan

Menikahi Raja Kegelapan
Menata Hati


__ADS_3

"Cinta tumbuh tanpa diminta,


ketika hati sudah jatuh cinta


maka mata pun ikut merasakan. "


****



"Bu Layla dipanggil Pak Anwar disuruh menghadap," ucap Bu Tari teman seprofesiku.


Yeah ... namaku Layla Azzahra. Aku seorang guru disuatu sekolah dasar. Pak Anwar ialah kepala sekolah disini, sedangkan aku pengajar dikelas satu. Akupun bergegas menemui beliau.


Kususuri lorong-lorong sekolah karena ruang kepala sekokah lumayan jauh dari kelas satu.


Sekolah ini memiliki bangun Leter E, kelas yang kutumpu berada diujung barat sedangkan ruang Pak kepsek ada diujung timur bersebelahan dengan ruang guru dan UKS.


Sekolah dasar Tunas Bangsa sama seperti sekolah pada umumnya, bedanya SD ini berada jauh dari keramaian kota jadi akses  sangat terbatas, jalan menuju kesini hanya ada satu arah saja. Didesa ini dengan penduduk kurang lebih 200 orang hanya ada satu sekolah ini saja. Sedangkan bila ingin menempu pendidikan lebih lanjut (SMP) harus naik turun menyebrangi tiga dusun dahulu.


"Assalamualaikum warokhmatullohiwabarokatuh," ucapku dengan halus, semua mata memandang padaku.


"Waalaikum salam warohmatullohiwabarokatuh," jawab mereka serempak.


Ternyata di dalam ruangan Kepsek ada banyak orang, akupun tidak begitu mengenalnya yang kukenal hanya Pak Anwar dan Pak Kepala desa.


"Jadi begini Bu Layla. Maksud kedatangan saya kemari dan ibu-ibu wali murid ingin menyampaikan sesuatu. Apa boleh?" ucap Pak Kepala desa memecah keheningan.


"Iya silahkan Pak."


"Banyak para wali murid yang keberatan jika anda yang mengajar putra-putri mereka. Jadi-"


"Hiya betul, masak ngajarin keluarganya saja nggak becus apalagi ngajar anak kita. Bener nggak ibu-ibu !?" potong salah satu ibu yang berbaju merah menyala sama seperti gincunya dan memakai rok warna kuning, sangat trendy bukan .


"Ho oh."


"Hiya bener ...."

__ADS_1


"Betul ...,"jawab 4 orang ibu-ibu lainnya serempak.


Sedangkan Pak Kepla desa masih melonggo, lha ... omongannya belum selesai langsung dipotong ibu yang trendy tadi. Pak Anwar hanya diam seribu bahasa entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.


Akhirnya kuputuskan "maaf sebelumnya ibu ibu, jika memang ada kekurangan dengan cara saya mengajar mohon maaf.  Dan bila ada ucapan saya yang menyakit-ti ha-ti saya minta maaf juga. Insya alloh mulai hari ini saya berhenti mengajar," ujarku dengan menekankan menyakiti hati, akupun pamit keluar.


Sudah cukup aku sangat malu sekali karena kelakuan Abangku itu yang gila main judi, main sambung ayam, dan suka mencuri. Beribu kali kunasehati tapi masih saja tetap, kebiasaan buruknya itu.


Aku segera mengemas barang-barangku dan tak lupa berpamitan pada guru-guru yang lain. Maluku sudah tak tertahankan andai ada doraemon disisihku pasti kusuruh mengeluarkan pintu kemana saja.


"Duh gusti ... tolonglah hambamu ini," batinku.


"Lay ..."


"Dalem." Akupun menoleh ternyata Pak Anwar.


"Iya Pak saya sudah selesai berkemas. Maaf Pak bila selama saya disini sudah-"


"Lay ... Sudah kubilangkan jika kita berdua saja panggil aku mas," potong Pak Anwar.


"Maaf Pak sepertinya itu tidak sopan," sanggahku


"Kitakan hanya beda 2 tahun Lay," jawab Pak Anwar.


Meskipun hanya beda 2 tahun tapi kita ini tinggal di desa dimana penduduk setempat sangat menjunjung tinggi adap dan tata krama.


Pak Anwar adalah anak dari kepala desa dia juga sebagai kepala sekolah mana pantas aku yang seorang yatim-piatu dengan abangku yang sering membuat onar didesa. Memangil Pak Anwar dengan sebutan mas.


"Rasanya saru saja Pak," ucapku sambil menunduk ingat Lay ghadul bhasor, pikiranku mengingatkan. Tapi hatiku berontak ingin sekali memandang pria didepanku ini. Yeah ... Pria ini teman masa kecilku dulu.


Dia yang selalu melindungiku jika banyak anak-anak mengodaku, dia yang selalu membelaku.


Aku masih ingat saat pergi ke sekolah dulu masih belum ada jembatan untuk menyebrang ke sekolah ini, dia yang selalu menjagaku dari derasnya arus sungai, mengandeng tangan ini dengan erat.


Saat melewati petak sawah yang mana selalu ada banyak lintah dan belut dia yang selalu mengendongku karena aku takut sekali dengan binatang melata itu.


Pak Anwar masih ingatkah engkau masa kecil kita, inginku kembali ke masa masa itu dimana masa penuh dengan kenangan.

__ADS_1


Oh ... Anwar Danajaya.


***


"Lay ... Maafkan aku, aku tidak membelamu tadi. Aku bingung disatu sisi jika orang tua anak-anak tidak memberikan izin mereka untuk sekolah mau jadi apa mereka nanti Lay, disisi yang lain keputusan ini memberatkanmu dan aku." Jelas Pak Anwar.


"Aku memberatkan Bapak bukankah di sini saya yang dirugikan. Yang membuat ulah itu Abang saya ... bukan saya...," jawabku serkas.


Air mataku sudah tak terbendung lagi di desa aku dan saudara saudaraku sudah dipermalukan oleh warga sekarang ditambah di sekolah ibu-ibu itu merendahkanku dihadapan Pak Kades dan Pak Anwar.


Bukankah agama melarang kita merendahkan orang lain bukankah negara ini menjunjung tinggi kerukunan dan toleransi.


Tapi mengapa semua ini serasa tidak adil bagiku. Bukankah sudah ada pepatah mengatakan jangan menilai sesuatu dari luarnya saja. Do not judge a book by it's cover.


"Iya ... kumohon tetap disini Lay! Aku tak bisa jauh darimu," ujar Pak Anwar dengan nada perintah.


Akupun menatapnya dan berkata, "maksud Bapak apa?"


Tatapan mata kami pun beradu, aku merasa ada getaran-getaran hebat dari dalam didiriku. Mata hitam dan alis yang sedikit lebat menunjukan wibawa yang tegas sama seperti namanya Anwar Danajaya.


Anwar yang berarti cahaya dan Danajaya orang yang bertangung jawab dan berdedikasi tinggi.


Nama Danajaya sudah tidak asing lagi bagiku dulu sebelum almarhum Bapakku wafat ia sering sekali menceritakan beberapa tokoh dari pewayangan. Termasuk tokoh Danajaya ini yang memiliki nama mashur dikalangan masarakat dengan sebutan Raden Janaka.


Dulu pernah ada yang mengatakan padaku cinta itu dari mata turun ke hati. Tapi tidak menurutku, hatiku sudah lama terpaut dengannya dan sekarang mataku jatuh hati padanya. Ia dialah Anwar Danajaya seorang yang kucinta sejak kecil, disetiap doa selalu kusebut namanya. Pria berbadan tinggi berkulit putih menunjukan bahwa ia tidak pernah melakukan pekerjaan berat, jauh berbeda sekali denganku.


Sekarang aku sadar tak mungkin aku bisa memilikinya kita berbeda kasta, berbeda kedudukan, bagai punuk yang merindui bulan.


"Lay ... Aku sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan sekolah ini kumohon tetap disini. Apakah kau juga mencintaiku, Lay?"


Jatungku berdetak tak menentu, pria di depanku ini menyatakan perasaannya padaku, apakah ini hanya hayalanku saja? Atau mungkin ini hanyalah mimpi? Untuk memastikannya aku mencubit pipiku.


****


Selamat membaca ... semoga para pembaca suka dengan tulisan saya.


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2