Menikahi Raja Kegelapan

Menikahi Raja Kegelapan
Perpisahan


__ADS_3

"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Pertemuan adalah anugerah, perpisahan adalah penderitaan."


****


Sejak sore aku terus menangis, terus menangis membuat mataku bengkak, air mata ini tak lagi menetes pupus sudah kisah cintaku, sungguh sakit ini menyerang ulu hati bibirku tak lagi bisa mengucap kata, aku terdiam membisu dipojok dinding kamar.


"Mbak ...."


"Mbak Lay kenapa? diluar ada Pak Anwar mbak ...," kata-kata Sri menyadarkan lamunanku.


Diluar ada Pak Anwar mengapa dia kemari, aku bercermin bayangan dicermin sangat menyedihkan apa benar ini aku, sungguh aku malu jika menemuinya sekarang.


"Mbak ... Mbak ... Mbak Lay," panggil Sri.


"Ada apa Thari!?" suara tegas penuh wibawa ini jelas suaranya tak mungkin aku salah dia Pak Anwar, ingin sekali aku membuka pintu kamarku, menatapnya untuk terakhir kali, ah ... mana mungkin dengan kondisiku yang seperti ini.


"Itu Mbak Lay sejak Thari pulang sekolah mengunci diri dikamar Pak, Thari takut Mbak kenapa-napa," jawab Sri.


"Lay ... buka pintunya! ada apa denganmu, Lay?"


Dia mengetuk pintu didepanku, ingin sekali aku melihat wajah tampan penuh wibawamu itu, tapi yang kubisa hanya mengelus pintu didepanku ini, pintu ini menjadi penggalang antara kita sama seperti hitungan primbon jawi yang menggalangi cinta kita. Asal kau tau Pak Anwar aku sangat mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam ingin selalu bersamamu sampai akhir hayat, tapi ibumu menyuruhku meninggalkanmu itu semua demi kebaikanmu karena tak mungkin kita bersama.


Seluruh wajahku memerah, tangan dan kaki berkeringat aku berusaha menahan isak tangis agar mereka tak mendengarnya.


"Lay ... buka pintunya! kalau tidak kudobrak," perintahnya.


"Cukup Pak! tinggalkan rumah ini ... tinggalkan aku ... aku tak ingin bersamamu ...," teriakku. Kuharap dia tidak mengetahui kalau aku habis menangis.


"Kenapa?"


"Kenapa, Lay?"


Kutarik nafas dalam-dalam berusaha setegas mungkin dan menjawabnya. "Karena aku tidak mencintaimu."

__ADS_1


Tubuhku ambruk didepan pintu, aku tak sanggup lagi pandanganku kabur, perlahan-lahan mataku terpejam dan aku tak ingat apa-pun setelah itu.


****


Tepat tengah malam kudengar suara berisik, perlahan mataku terbuka aku pingsan didepan pintu kamar. Tiba-tiba terdengar jeritan, "mbak ... Mbak Lay ...."


"Ya Alloh, Sri dan Dewi ada apa dengan mereka."


Kubuka pintu kamar, pikiranku hanya terfokus pada kedua adikku sampai aku tak menyadari auratku tidak tertutup sempurna. Tanpa kerudung dan hanya memakai baju dan rok span pendek kuberlari keruang tamu, aku kaget disana ada banyak orang laki-laki berpakaian serba hitam.


"Sebenarnya ada apa ini," gumamku dalam hati yang jelas dari gerak gerik mereka ingin menyentuh, menodai adikku.


"Stop ... jangan setuh mereka. Bukannya aku lebih menarik dari pada dia."


Aku pun mendekati gerombolan laki-laki berbaju hitam-hitam itu. Meski ada rasa takut gementar tapi mana mungkin aku tega membiarkan adik-adik ku disentuh dan dinodai oleh para lelaki itu.


Semua mata memandang padaku dari atas sampai bawah. Mana mungkin tiada lelaki tergoda oleh pesonaku, dengan postur tubuh sintal dan tinggi semampai. Kulitku yang putih bak pualam. Rambut lurus hitam kecoklatan sepinggang. Dan wajah ketimuran alis lebat bulu mata lentik hidung sedikit mancung dan aku memiliki bibir merah muda (pink).


"Bawa dia juga!"


"Kalian semua sudah kubeli. Abang kau banyak hutang padaku."


Seketika bulu kudukku merinding.


"Astagfirulloh ... kakak macam apa yang tega menukar adik-adiknya dengan uang. Serendah itukah harga diri kita," pekikku dalam hati.


"Bolehkah aku memberi penawaran."


"Apa!?" ujar pria itu sambil melotot padaku, pria bermata caramel dan rahang yang dipenuhi bulu-bulu halus.


"Be-Be-Bebaskan me-mere-ka se-seba-gai gan-tinya aku si-ap me-la-kukan apa-pun untuk-mu," ujarku dengan gugup.


"Tawaran yang menarik, tapi aku tak sebodoh itu cantik," tutur pria bermata caramel itu, tangan kekarnya mengunci tanganku dan tangan satunya memegang dagu, dia mendekat sampai tidak ada celah diantara kami kemudian dengan cepat bibirnya melumat bibirku, aku meronta tapi tanggannya semakin kuat mencengkramku.

__ADS_1


Aku ambruk, kubersihkan bibir ini dengan tangganku tapi aroma maskulinnya masih tetap melekat disini, dibibir ini.


"Duh gusti ...


apa yang sudah aku lakukan, hilang sudah semua amal perbuatanku,


dia telah merengut apa yang semestinya kupersembahkan pada suamiku kelak, ciuman ini ... sekarang ingin sekali aku memotong bibir dan lidahku ini ...rasanya aku sudah hina ...


tak pantas diriku ini ...


seorang guru yang digugu dan ditiru oleh murid-muridnya melakukan ini, aku sudah kotor,


ampuni aku ya robby ...," gumamku dalam hati.


Sunyi sepi sekarang menguasai tempat tinggalku.Rumah ini peninggalan almarhum ayah dan ibu. Hanya tinggal ini saja yang menjadi kenangan semua sudah dijual oleh abangku.


"Bawa mereka semua!" perintah pria yang sudah merebut ciuman pertamaku tadi, dasar pria kurang ajar tak tahu malu umpatku dalam hati.


Para lelaki itu mendorong kami keluar rumah, menolak dorongan mereka sama saja dengan cari mati pisau lipat sepanjang 10 centi itu menempel di leher Sri dan Dewi, wajah mereka ketakutan, aku tak sanggup melihat ini. Tapi aku bisa apa!?


"Naik!"


Aku, Dewi dan Sri naik kemobil jeep itu. Aku duduk ditengah sedangkan Dewi dan Sri duduk dibelakang, pria bermata caramel itu duduk disebelahku.


"Tuan lepaskan mereka," pintaku pada pria bermata caramel itu. Aku yakin dialah pemimpin dari mereka semua. Tapi bukannya jawaban yang kudapat dia malah mendekat berniat menyiumku lagi.


Memang benar apa yang tertulis dalam alqur'an dan hadis.


'Dan janganlah kamu mendekati zina, ....' (al-israa':32)


'sesuatu yang dilarang (maksiat), itu membuat candu(ketagihan)'.


"Biadab," umpatku

__ADS_1


"Apa!? ulangi sekali lagi cantik," bisik pria itu tepat ditelinga kananku sambil menempelkan pisau dipipi kiriku, sungguh pria ini sangat kejam.


"Tuan ..."


__ADS_2