
"Kerinduan ...
hatiku sangat merindukanmu,
tidak ada batasnya kerinduan ini,
hanya kamu ...
yang membuatku tetap bernafas,
hanya kamu ...
yang membuatku jatuh cinta."
****
Memang benar apa yang tertulis dalam alqur'an dan hadis.
'Dan janganlah kamu mendekati zina, ....' (al-israa':32)
'sesuatu yang dilarang (maksiat), itu membuat candu(ketagihan)'.
"Biadab," umpatku
"Apa!? ulangi sekali lagi cantik," bisik pria itu tepat ditelinga kananku sambil menempelkan pisau dipipi kiriku, sungguh pria ini sangat kejam.
"Tuan kumohon lepaskanlah mereka." Permintaanku tidak digubrisnya, malah pisau kecil itu mengores pipiku. Rasanya sakit sekali darah terus mengalir, aku menjerit rasa sakit ini sudah tak tertahankan lagi.
Sungguh terbuat dari apa hati pria ini dasar pria berhati dingin. Melihatku kesakitan dia malah menyeringai lebar.
****
Baru sebentar jalan, mobil ini berhenti. Kulihat sekitar bukannya ini rumahnya Pak Badri kenalan almarhum Bapak, apa hubungan Pak Badri dengan mereka.
"Kalian semua tetap disini, jaga mereka!" perintah pria bermata hazel pada bawahannya.
Pria itu disambut hangat oleh Pak Badri, ada hubungan apa mereka. Aku tidak bisa berdiam diri saja, harus melakukan sesuatu.
"Aku ingin ke kamar mandi, tolonglah! ini sudah tak bisa ditahan lagi." Seluruh tubuhku berkeringat karena cuaca akhir-akhir ini panas ini sangat membantu aktingku, biasanya orang yang menahan buang air akan terlihat dari gelagat dan raut mukanya, peluh bercucuran akibat cuaca panas ini sangat membantuku akhirnya mereka percaya juga.
"Pakdhe ... numpang ke kamar mandi?" mintaku pada Pak Badri.
"Iya ... iya silahkan," jawab beliau.
__ADS_1
"Dimana Pakdhe?"
"Sebentar ya Gan, saya antar dulu." Si pria bermata hazel menjawab dengan isyarat tangan saja. Pak Badri mengantarkanku masuk kedalam rumah, beliau seperti tidak mengenaliku sama sekali.
"Pakdhe tolong saya," pintaku.
"Lho... maksudnya ... kamu siapa?" tanyanya sambil memperhatikan raut mukaku, beliau mengingat-ingat sambil berfikir.
"Ini kamu nduk, Layla putrinya Dalang."
"Iya Pakdhe siapa orang itu Pakdhe? jadi ceritanya Bang Joni menjual kita sama orang itu, Pakde harus tolong saya! saya mohon, Pakdhe."
"Bahaya ... Maaf Pakdhe nggak bisa nolong kamu nduk," jawabnya dengan raut sungguh dia tidak bisa membantu terlihat jelas bahwa dia tidaklah berbohong.
"Pakdhe tolonglah saya mohon! Jika tidak bisa membantu saya setidaknya selamatkan Adik saya."
"Apa!? Adik kamu juga ikut terlibat," jawabnya dengan raut muka terkejut.
"Iya."
"Dia itu Suhu melawannya sama saja dengan cari mati." Jelas Pak Badri.
"Suhu ...!?"
"Apa jadi dia Suhu yang itu pakdhe," dugaku Pakdhe Badri mengangguk dan tersenyum kecut, pantas saja pakde tidak bisa membantuku, tapi aku harus bisa menyelamatkan Sri dan Dewi.
Pria itu disebut Suhu karena dia sering memberi aji-ajian kependuduk, mulai dari ilmu kebal, ilmu kuat, ilmu sakti bahkan sampai ilmu awet enom (tetap muda).
Di desa kalau soal tentang agama, mereka sangat patuh karena penduduk tahu bahwa manusia ada karena adanya sang pencipta dialah Tuhan kita semua, walaupun sudah banyak yang memeluk islam tapi mereka tetap menyimpan atau menguasai aji-ajian tertentu, sesuai dengan prinsip.
"Sak ben wong kudu ndue cekelan ben selamet (setiap manusia harus punya pegangan (aji-aji) biar selamat)." Jadi pria itu Suhu yang sering kudengar dari mulut ke mulut penduduk.
"Badri ...!"
Pakdhe Badri langsung berlari kedepan ketika pria itu memangilnya. Sebegitu menakutkankah pria yang dipanggil Suhu ini.
"Sudah siap semuanya."
"Sudah ... sudah, Gan."
"Masukan semua perlengkapannya ke mobil ini kuncinya!" perintah Gan Arya pada Pakdhe Badri.
"Ooii ... sudah selesai."
__ADS_1
Sejak kapan pria itu berdiri didepanku, dia memegang pipiku wajah kami saling berhadapan tiada cela, aku tak bisa menepisnya tenaganya sungguh sangat kuat.
Sebenarnya apa yang dia inginkan dengan kecepatan yang diluar dugaanku dia berhasil melumat bibirku, dia menciumku lagi, dasar pria biadab tak tahu malu kutendang kemaluannya itu bukan malah dilepaskan dia malah mengigit bibirku tak begitu lama Gan Arya melepaskanku.
"Rupanya sudah tidak sabar ya, tenang sabar dulu cantik ... setelah sampai kota nanti akan kulumat habis tubuhmu itu," tutur Gan Arya.
"Kurang ajar ...," umpatku. Perih sekali kusentuh ada darah di bibir pantas saja rasanya seperti sariawan pedih. Belum selesai kumengumpatnya dia malah ngelonyor pergi.
"Nduk ...."
"Maaf Pakdhe nggak bisa bantu," ujar Pak Badri.
"Pakde tolong bantu satu saja melepaskan adik-adikku selamatkan mereka, sembunyikan mereka kemudian bawa mereka ke Budhe Yani adik Bapak yang di Jombang, untuk sementara saya akan menahan Gan Arya."
"Tolong Pakdhe!" pintaku.
"Saya tidak sanggup kalau melihat adik saya diperlakukan yang sama seperti saya," imbuhku.
"Badri ...!"
Suara itu, tubuhku bergetar ketakutan untuk apa pria brengsek ini kembali. Semoga dia tidak mendengar permintaanku tadi. Aku menatap ke Pak Badri, dia sama sekali tak mempedulikanku, kenapa Pak Badri tak mau membantuku bukannya dia teman baiknya Bapak, bukannya dia sering berkata padaku.
"Jika butuh apa-apa bilang sama Pakdhe."
Sekarang baru pertama kali aku meminta pertolongannya tapi dia seolah tak mengangapku. Apakah aku ini tembok!?
Setidaknya jawab saja permintaanku itu iya atau tidak itu lebih baik dari pada jawaban diam ambigu seperti ini. Tak terasa bulir-bulir bening berjatuhan. Aku tak ingin kelihatan lemah didepan pria biadab ini tapi naas air mataku tak bisa ditahan, pria ini yang sering dipanggil orang-orang Suhu mendekatiku lagi.
Aku ambruk terduduk lesu dihadapannya. Sudah cukup ... aku tak ingin itu terulang lagi batinku berteriak malah membuat air mataku tak terbendung.
"Berdiri! ikut aku."
Aku masih diam terduduk termangu dengan ucapannya.
"Ooii ... Berdiri!" perintah Gan Arya. Aku tak mempedulikannya sama sekali.
"Pilih mana berdiri sendiri ikuti aku atau digendong," Gertak Gan Arya. Aku tak masalah dengan gertakannya tapi caranya menyampaikan padaku membuat tubuh ini gemetaran, dia mengertak dengan cara berbisik ditelingaku seketika tubuhku terasa geli.
Tiada cara lain aku harus mengikutinya, pria itu menyuruhku masuk ke mobil 'Warngler Rubicon' yang diparkir di garasi Pak Badri. Mobil berbeda dengan yang ditumpangi oleh Sri dan Dewi.
"Duduk didepan apa kau pikir aku ini sopirmu," gumamnya.
Gan Arya menyeretku untuk masuk kemobil dia mengeluarkan sebuah kotak P3K, dia mengobatiku, aku terdiam ambigu kenapa harus pria ini yang mengobatiku, pria yang merebut ciuman pertamaku, pria yang menggores pipiku, melukai bibirku, kenapa harus dia. Mataku kupejamkan aku tak ingin terus menambah dosa dengan terus menatap yang bukan makhrom aku menolak untuk disentuhnya malah cengkaraman yang kudapatkan.
__ADS_1
"Tuan ... saya mohon bebaskan adik saya, sebagai gantinya saya mau melakukan apapun perintah Gan Arya," pintaku sekali lagi, tiada salahnya kan terus mencoba tapi reaksi Gan Arya jauh melebihi ekspetasiku.
oh ... seandainya pria yang mengobatiku adalah Pak Anwar dia tidak akan sekejam ini, dia pasti memperlakukanku dengan baik, kenapa disaat seperti ini aku malah memikirkannya. Sungguh aku sangat rindu disampingmu Anwar Danajaya...